Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma

Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma
28


__ADS_3

"Oh makasih upahnya, bos!" Ujar Reza menyabet duit pada tangan Hatma.


Muncul sebuah kristal ungu dan tidak terjadi apapun sesudah mereka waspada, Hatma menghampiri dan mengambil kristal. Dia mengamatinya lebih dekat, energi sihir besar terkumpul di dalamnya, dia tidak heran bila Rablis barusan cukup kuat untuk mereka.


Dia dapat menyerang terus-menerus, berbeda dengan Rablis biasa yang kadangkala bertahan dan memilih untuk lari jika keadaan memaksa. Memicu Hatma berpikir bahwa mereka lemah, pada akhirnya, ia tahu bila para Sahir melakukan ini secara sengaja.


"Hatma akan membawa benda ini," ucapnya. Hatma memasukan kristal ke dalam kantongnya.


Reza dan Hatma dalam perjalanan balik ke rumah diiringi percakapan serta candaan. Bagi seseorang yang jarang menampilkan emosi, Hatma pikir takkan ada mau menerima kehadiran didekatnya, biarpun begitu dia berbeda dengan remaja yang ditemuinya.


"Hatma, ada yang pengin aku bicarakan.." cakap Reza agak sedikit tersenyum kecut.


"Apa?" Sahut Hatma sebelum menghela napasnya dan berkata, "jangan tanyakan hal yang tidak ada gunanya sama sekali."


"Napa lu bisa bunuh Rablis gitu aja kayak nggak berpikir kalo dia pernah jadi manusia," ungkap Reza.


"Mengapa kau bertanya seperti itu?" Tanya Hatma sebelum melihat ke angkasa lepas dan menghela napasnya panjang.


Hatma tidak berniat untuk membalas. Perasaan aneh bercampur aduk, bagaikan sebuah permen karet hambar meskipun berwarna. Dia tahu sejak lama hati itu seperti tertutup oleh sesuatu, kadangkala dirinya bagaikan anak kecil yang egois dan sebaliknya juga.


Bahkan sekarang ini, Hatma bertanya-tanya, kenapa dia menolong orang lain yang tidak mengetahui keberadaan dirinya. Belasan hingga puluhan saran serta kata-kata diterima, tapi belum tentu orang itu menempelkan kata-katanya dalam kegiatannya.


"Mungkin karena Hatma tidak dapat berekspresi secara alami. Selama itu bisa membuat keinginan terbesar menjadi kenyataan, apapun itu.. akan.."


"Hatma!" Teriak seseorang menyela lisan Hatma yang belum usai. Reza dan Hatma melihat ke lawan muka menjumpai Silvi berlari, lalu menangkap laki-laki disamping Reza dan merangkulnya depan publik.


Silvi menarik tangan Hatma, memaksanya untuk ikut ke kafe dan bersenang-senang sejenak. Dikarenakan Reza mengangguk-angguk, dia melihat pemilihan ini sudah kalah nan tidak adil, Hatma ikut mengangguk dan ikut mereka berdua ke pusat perbelanjaan.

__ADS_1


Sementara ke-tiga penonton lagi menyaksikan tiga remaja itu, yang memiliki sangkut paut dengan dunia Sahir dan hal-hal lainnya. Kausa dan Alpa terlihat menilik lebih jauh, target utama mereka, Hatma telah menyibukkan diri dengan Rablis dan Silvi.


"Kita bisa mengambil pedang itu," ucap Kausa.


"Darma, kau memang hebat. Mengubah sejarah dan memperlambat kehancuran kita," ujar Alpa menoleh seorang pria berjubah putih bergaris-garis biru cerah sedang menghisap rokok sembari ia menatap langit.


Keempat orang ini bersikap layaknya pengatur dunia, melakukan apapun tanpa pandang bulu, asalkan keinginan mereka terpenuhi dunia jadi korban pun tidak apa. Serupa Hatma, mereka yang telah menjadi Sahir akan mempunyai sifat serupa.


Darma membuang sisa gulungan tembakau, membakar rokok di udara dan membekukan benda itu. Ketika bongkahan kecil es tersebut menghantam tanah, benda itu hancur, kepingannya meruak ke segala penjuru tempat itu dan hancur lagi jadi debu.


"Nah.. mari kulihat, apakah adikmu sanggup untuk melawan cobaan itu? Tak sabar buat pertunjukan berdarah Minggu depan.." ujar Darma melekatkan senyum tipis penuh kesombongan tersebut.


Besok pada pagi buta,


Hatma melompat dari ranjangnya dan berpindah ke halaman belakang memakai Teleport. Sesegera mungkin dia mengulurkan tangan, lalu menggunakan sihir Pengikat dan rantai mengikat Rablis menyeret dirinya keluar ruangan meskipun jendelanya pecah.


[Sihir: Pengikat]


"Ada apa Hatma?" Tanya Reza muncul tiba-tiba di sampingnya membawa gunting kebun.


Hatma melainkan mengucapkan sambutan selamat pagi, justru mengeluarkan sihir angin yang segera mengelilingi kepalan tangan. Lalu, segenap tenaga Hatma mendaratkan pukulan keras menarget muka Reza, hingga mahkluk itu memperlihatkan wujudnya.


"Anjing. Lu lari ke sini, biadab? Rablis gila peniru cowok ganteng!" Teriak Reza.


"Dih menjijikan. Cepat bunuh dia!" Serunya Hatma menitahnya.


Sesudah melihat Rablis peniru lenyap, Hatma melirik mayat Rablis yang dibunuh olehnya menggumpal seperti proses kertas diremasnya sampai berbuah bentuk menjadi kecil. Seusainya muncul kristal ungu seperti kemarin hari, buat Hatma tahu jikalau Sahir Perusak selain Alpa sedang merencanakan sesuatu.

__ADS_1


[Pemberitahuan: kristal jiwa terkumpul empat]


[Sisa: 4/7 buah]


"Dan apa maksudnya ini? Sebelumnya, Hatma tidak pernah merasa ada tugas mengumpulkan hal semacam ini.." batinnya kebingungan mencerna ini semua dan merangkainya menjadi kesimpulan.


Mereka kembali masuk ke dalam rumah, selagi bibi memperhatikan kaca jendela kamar Hatma pecah, dia kelihatan kebingungan. Pada akhirnya, wanita ini pura-pura tidak peduli dan melangkah menuju dapur mempersiapkan sarapan untuk ketiga pelajar.


Mereka berempat duduk di meja makan. Silvi buru-buru mendekati Hatma, dengan berupaya untuk menyuapinya, tapi Hatma menolak dan mengambil piringnya. Dia pindah ke ruang tamu untuk melahap sarapannya sendirian tanpa gangguan.


"Nih Bi, uang untuk bulan ini. Aku bakalan bayar kok tinggal di sini, nggak kayak remaja berpenampilan preman tapi punya prestasi di sekolah.." ujarnya Silvi.


"Lu itu nyindir apa muji sih?" Tanya Reza menghela napas berat. Tanpa mengharapkan jawaban remaja laki-laki ini meneguk minuman sekali teguk dan pamit ke sekolah duluan sembari terburu-buru pergi.


Setelah Reza pergi, Hatma kembali ke ruang makan dan membersihkan piring bekasnya sebelum pergi menyusul Reza diikuti Silvi yang langsung menghabiskan makannya. Karena Hatma sudah meninggalkannya, Silvi tergesa-gesa menyelesaikan sarapannya berniat mengejar Hatma sebelum jauh.


[Jantur: Netra Elang]


Hatma memakai Netra Elang untuk mengawasi Reza sebelum Silvi datang. Dia tahu semua Rablis yang mengeluarkan kristal ungu sesudah dibunuh, semua memiliki hubungan dengan Reza, entah kenalan atau apapun itu. Membuat Hatma tahu jika ada sesuatu.


"Hatma pikir ini waktu yang tepat. Mungkin kakak dan rekan-rekannya ingin melenyapkan seseorang yang bertarung bersama Hatma," gumam Hatma.


Langkah Hatma semakin cepat ketika Reza tergesa-gesa. Sempat Hatma bermaksud akan memakai Teleport, tapi langsung mengurungkan niat, ketika dia berhenti untuk menolong seseorang yang butuh bantuan. Dia terlihat ramah, seperti laki-laki bertipe yang akan menjadi idaman seorang gadis.


Hatma menghela napas, dia kini berjalan kembali saat Reza melanjutkan perjalanan. Semasa hitungan langkah terlewati dia menghentikan langkah lagi. Kali ini seseorang mendorongnya, sontak Hatma bergegas berlari sekuat tenaga untuk menemuinya.


Hatma langsung menghunuskan pedang dan berniat menyerang lelaki itu. Bermaksud hendak menyerang, Reza menghentikannya dengan gerakan tangannya seolah-olah meminta Hatma berhenti. Waktu senyum tipis itu dipasang olehnya Hatma tak habis pikir.

__ADS_1


"Apakah selama ini aku telah salah?" Gumam Hatma.


Dia memasukan senjata masuk ke sarungnya lagi sembari terus memperhatikan dan mendengarkan percakapan mereka berdua. Hatma menghela napasnya, sembari berjalan pelan, mereka saling melihat dan tersenyum kecil seraya bersiul.


__ADS_2