Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma

Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma
09


__ADS_3

Silvi melambaikan tangan sewaktu mereka berpisah menuju kediaman masing-masing. Sementara itu Hatma dan Reza tidak pulang, karena permintaan agar Reza menemaninya sampai malam dikabulkan oleh temannya ini. Mereka pergi ke taman bermain.


"Malam ini ada bulan purnama. Kata televisi," ucap Hatma mengawali perbincangan.


"Sebelum gue menjawab. Buat apa lu mukul gue kayak tadi di warnet? Sakit kali tau!" Keluh Reza.


"..."


"Jangan diem melulu. Jawab dong pertanyaan gue barusan," kata Reza sembari menatapnya.


Hatma mencuaikan lawan bicaranya sebelum dan terduduk di kursi dekat lampu jalanan, begitu pula Reza mengikutinya lalu duduk di sampingnya. Mereka berdua tidak berkata-kata, tidak ada yang bertutur kata satu kata sekalipun seperti dua orang ini kehabisan kalimat ataupun topik.


"Boleh Hatma cerita?" Hatma angkat bicara.


"Oh. Tentu, asalkan jangan bercerita tentang wanita atau semacamnya.." sahut Reza.


"Bukankah kau menyukai nenek-nenek?"


"Tidak. Mana mungkin Gue suka sama wanita yang udah tua," gumam Reza seraya membuang muka.


Selepas ungkapan itu Hatma bercakap tentang hal serupa buat Reza mau tak mau perlu mengikuti pembicaraan ini. Cepat lambat Reza mulai tersenyum, candaan serta lontaran perkataan jenaka Hatma menggelitiknya, menghasilkan ungkapan rasa geli senang hati dengan suara melalui alat ucap.


Tanpa terasa malam pun tiba, rembulan dengan cepat menyinari tempat mereka berdua. Sementara Reza dan Hatma tengah bercakap-cakap, perlahan-lahan langit ditutupi awan yang berarak ditiup angin dan terhenti untuk menutupi cahaya rembulan agar mencapai tempat mereka.


"Yang bener. Hahaha!"


"Ya benar. Hatma melihat orang yang merokok pada tengah malam, menjadi ..." Hatma menjeda ucapan dan menarik lengan Reza lalu mengatakan, "Rablis."


"H-Ha maksudmu itu apa? H-huh!" Ujar Reza menarik lengannya kembali. Selepas menemukan Hatma menatapnya, Reza seakan-akan kesulitan hanya tuk kontak mata dengan Hatma, Hatma pun membuang napas dan beranjak dari kursi tempat duduk mereka.


Hatma berbalik badan dan melepaskan beberapa pertanyaan pada Reza, Reza pun menjawab dengan sedikit terbata-bata disusul jarinya sibuk menggaruk-garuk hidung dan pipi. Gerak-geriknya semakin buat Hatma mengigit bibir, sewaktu Reza menelan ludah Hatma kini benar-benar menghunuskan pedang.

__ADS_1


[Skill: Bolide]


Bola api kecil sebesar tinju nyaris mengenai Reza bila dia tidak menghindar, usai bersikap demikian, ia bermaksud akan kabur. Biarpun sudah berniat begitu Reza terhenti, Hatma sudah dibelakangnya semasa dia akan lari terpontang-panting dari Hatma.


Hatma mendekatinya dan membisik, "kau kelihatan sangat teramat sungguh betul ketar-ketir, bang."


Ketika kalimat itu keluar, Reza mengangkat tangan setinggi mungkin dan mendaratkan bogem mentah pada Hatma. Dia terjungkal ke tanah dengan keadaan muka menggores jalanan, Hatma berpikir akan mudah menghindar bila dekat, justru malahan sebaliknya. Mereka saling tatap menatap.


"Gue paling benci ngeliat wajah kalem lu," ungkap Reza dengan muka penuh geram. Remaja ini tertampak mengeratkan tinju dan menggetarkan giginya yang mengeluarkan asap.


Mendadak saja setengah tubuhnya berapi-api biru membuat Hatma berdecak kesal, dirinya tau jika Rablis tingkat 5 tidak memiliki kemampuan serupa lebih-lebih Reza berada di tingkat yang lebih tinggi lagi selaku Rablis. Hatma bangkit dan tetap hidup untuk menghunuskan kedua pedangnya.


[Jantur: Pertahanan Mutlak]


Hatma menebaskan kedua pedangnya membelah batu bara yang dilempar Reza. Lawan Hatma kini bergerak lebih cepat, mata Hatma berupaya untuk mengejar pergerakan lawan, meskipun begitu dia tidak dapat melihat gerakannya. Layaknya tengah dikelilingi oleh angin-angin kencang.


Gerakan pertahanan otomatis tanpa dirancang Hatma mematahkan serangan Reza, Reza menarik kembali tangannya yang tertebas. Dia mundur ke belakang dan bermaksud akan menyerang, tetapi Hatma bersikukuh ingin menang melawannya.


Hembusan angin tajam bermunculan mencabik-cabik tubuh Reza. Hatma tidak kaget menjumpai musuhnya baik-baik saja, bagi Rablis tingkat atas luka seperti cakaran binatang tidak akan berakibat fatal padanya, pikir Hatma. Hatma berkeputusan datang terang-terangan menemuinya.


"Cepat sekali," batin Hatma.


Reza menghindari gempuran tebasan pedang Hatma dengan lancar, dalam kecepatan tinggi pun Reza terlihat bersikap santai, tapi hatinya sangat ketakutan melawan Hatma. Hatma memancarkan sebuah aura ngeri atau mengerikan sehingga Reza enggan untuk menyerang, lebih-lebih lagi jika lawan menatapnya.


[Skill: Bilah Cahaya]


Kedua bilah pedang Hatma bercahaya menyilaukan mata Reza, Reza pun berhenti tergerak. Mengambil kesempatan, Hatma memelesatkan diri dan menusukkan pedang kiri pada dada Reza, buat Reza meraung-raung kesakitan. Sementara itu Hatma lagi mendaratkan tinju memberi luka lebih.


"Cih! Menyebalkan.." kata Hatma melihat lawannya menarik langkah ke belakang. Satu senjatanya tertancap pada dadanya, buat Hatma kesal telah kehilangan satu senjatanya.


Di situasi mencekam ini Reza dan Hatma mendengar tangisan anak kecil. Ternyata ada seorang anak perempuan menyaksikan mereka, tapi karena takut, dia menangis. Hatma langsung mengeluarkan gerak tawa ekspresif tanpa suara menunjukan rasa senang, tiba-tiba saja Hatma berpindah tempat ke belakang badan anak itu dengan pedang terangkat.

__ADS_1


"Lu mau ngapain hah!?"


Dia bersicepat berpindah tempat dan kena serangan dari Hatma, menebas Reza secara miring membuat mata lawannya terluka. Sesegera mungkin Hatma menendang lawan hingga terpental jauh, mengambil tindakan cepat, Hatma membungkuk ke depan dan sembari meletakkan bilah secara sejajar dengan kaki dan menarik pedang ke belakang tubuh.


[Jantur: Penguatan Tubuh]


[Jantur: Pertahanan Mutlak]


[Jantur: Penguatan Kecepatan]


"Ucapkan selamat tinggal," batin Hatma kelihatan menahan rasa sakit.


[Skill: Bolide]


Bola api terlempar bersamaan dengan Hatma pula menyusul Bolide dan menebasnya di udara, menghasilkan bilah pedangnya diselimuti api Bolide yang membara. Setelah mencapainya yang berserah Hatma mengayunkan pedang, tebasan ke atas dari kanan, tebasan ke bawah ke kanan melukai tubuh Reza dengan sangat cukup fatal.


Selepas tumbang di tanah. Reza menaikkan mata menemukan Hatma memandangnya rendah, pakaian jubah hijau dengan pelat besi buat mahkluk setengah manusia ini tersenyum tipis. Dia tidak lagi menaikkan pandangan dan menunduk berpasrah diri seorang.


"Napa lu mau bunuh anak tadi?"


"Menjadikan darah orang lain sebagai pengorbanan untuk sihir dan jantur.. atau mungkin mengujimu apakah masih punya sisi manusia atau tidak."


"Mengapa sampai segitunya?"


"Tidak peduli apapun. Selama harapan dan hajat Hatma terkabul, menghancurkan dunia ini demi semuanya.. itu tidak masalah.." ucap Hatma dengan muka penuh geram serta amarah meluap-luap.


Hatma mengangkat pedangnya hendak bermaksud akan memenggal Reza, tapi dia terfokus pada seseorang yang lewat pada lawan mukanya bersama hawa tidak asing. Dia melirik ke samping menjumpai pria berjubah hitam berjalan dengan santainya, dirinya membawa anak gadis itu menjauh pergi.


Hatma berubah haluan dan berlari mengejar pria itu dengan muka kelewat kesal, sepanjang jalan Hatma menggunakan Bolide serta serangkaian tebasan pedang dilakukannya. Namun, pria ini selalu mampu menghindarinya dengan mudah buat Hatma kesal.


"Biarpun kesukaran menanti paduka. Adharma tetap memilih darma, selaku hamba ialah khadam Tuan.."

__ADS_1


"Tunjukkan mukamu, setan!" Teriak Hatma berupaya menyibakkan penutup kepalanya. Walaupun begitu Hatma melakukan upaya yang sia-sia, sebabnya pria tersebut sudah hilang selepas membawa anak gadis ini ke taman. Hatma pun melepaskan jubah, menyimpan pedangnya dan menemui orang tua anak kecil ini yang berterimakasih.


__ADS_2