Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma

Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma
14


__ADS_3

Hatma mengusap wajah seusai menyembuhkannya dengan sihir penyembuhan, meskipun begitu dia masih kesukaran melawan balik. Mengingat bahwa selama ini Hatma berhadapan dengan lawan kuat, tidak sekalipun bertahap dan tidak membiarkan dia melawan maupun membela diri sendiri.


[Jantur: Netra Elang]


Dia mengaktifkan lagi jantur. Karena semua jantur yang aktif sebelumnya terpatahkan, remaja ini berupaya meningkatkan daya serangan, memakai jantur Penguatan. Dari tenaga hingga kecepatan, dia bermaksud akan kabur selepas memberi kerusakan.


"Hamba menghajatkan penghuni negri fana, sang danawa adiraja!"


[Panggil: Danawa Adiraja]


Hatma memukul bumi. Pukulannya menghasilkan getaran tanah, mendadak suara raungan raksasa dengan decitan keras dan nyaring muncul seusai Hatma melantunkan mantra, memanggil raksasa batu yang besarnya sungguh meraksasa.


Dia muncul dari retakan tanah yang dipukul Hatma, selagi pemanggilnya tersebut kelelahan dan berusaha bertumpu pada kedua kakinya. Golem ini menyelak mulut, mengeluarkan erangan beserta jeritan jiwa, menggetarkan badan dan memberi rasa takut pada pendengarnya.


"Biarpun kau hancur, lindungi dan ulur waktu agar tuanmu dapat lari.." titah Hatma.


Raksasa batu pun mengindahkan tuannya yang menitahkan dirinya untuk berkorban. Mahkluk ini pun mengangkat kaki, menerjang maju pada jangkauan musuh, kemudian menghantam tanah. Selaku seekor Danawa yang mengamuk seusai mewarisi perintah tuannya, Danawa adiraja akan menuntaskan tugas.


Hatma berdiri dengan kaki diseret-seret diiringi peluh mencicik dari kening. Dia merasa tidak rela, buat membuang Golem yang dimiliknya. Danawa Adiraja ialah mahkluk yang spesial, dia kan melaksanakan segala titah tuannya, selaku khadam dari rajanya.


"Hatma harap. Kau balik dengan selamat, setidaknya tetaplah berguna untuk ... Diriku ..." Batinnya.


"Lu nggak nyadar?"


"Reza, kau terluka.. istirahatkan dirimu sendiri."


"Ini bukan bumi," ungkap Reza menyadarkan Hatma bila mereka ditempat ini lagi. Tempat diwaktu mereka melawan seseorang berjubah, membuat dia sadar bahwa dirinya dan Reza tanpa sadar berpindah ke dunia ini tidak dengan keinginan datang.


Hatma melakukan pukulan kepada udara sembari mengumpulkan energi kehidupan. Namun, tindakannya barusan sebuah hal kandas, sebab tidak mengubah fakta tiada retakan apapun. Dia menghela napas paham alasan kenapa dan kesal karenanya.


"Kenapa kau tidak berguna?" Lirih Hatma mengeluh dengan nada suara pelan hampir berbisik.


"Haaah! Lu pikir gw nggak denger?"

__ADS_1


"Hatma bukan membicarakan dirimu, melainkan batu permata yang selalu memberi perintah, tetapi belum pernah membantu.."


Reza sekarang tidak mempertahankan bentuk Rablis miliknya dan kembali ke bentuk manusia, menyaksikan perubahan aneh, layaknya melihat film mengenai monster. Hatma merasa mulai menjumpai daging-daging busuk yang terpanggang itu.


Selagi Hatma melihat ke belakang. Reza memukul udara menirukan Hatma, tetapi tindakannya kandas tiada hasil. Sementara itu mata Hatma membelalak tersentak kaget, ketika Danawa Adiraja berhasil dikalahkan dengan sekali kibasan tangan musuhnya.


"Woi gimana ini?"


"Tampaknya kita ke tempat ini dengan rasa amarah hilang, lenyap tidak tersisa."


"Ya bener. Entah napa gw langsung nggak marah lagi kayak tadi," ucap Reza.


Setelah mencerna kata-kata Alpa atau kakaknya, dia tau jikalau sumber kekuatan mereka ialah kebencian beserta kemarahan. Walaupun itu hanyalah sebuah dugaan, Hatma merasa itu benar, adakalanya dirinya juga merasa begitu. Membuatnya hilang akal.


Saat dipikir-pikir mereka tengah ada dalam situasi genting, keduanya sama-sama bersikap melawan ketimbang diam berpasrah diri. Tiba-tiba tanpa sedikitpun peringatan, mirah keluar dari dada Hatma dan bersinar terang membuat retakan pada ruang.


Selepas suara kaca pecah lenyap, sebuah asap biru bercampur ungu menelan mereka dan memindahkan keduanya ke tempat asal. Hatma dan Reza pun membuka mata, menemukan bahwa gudang serta tempat ini aman, tiada kerusakan parah.


"Dari dulu gw bingung. Kenapa nggak ada bekas pertarungan Rablis atau semacamnya?"


"Sepertinya.. mayat-mayat Rablis akan menjadi debu dan bekas pertarungan akan kembali seperti semula, layaknya ada yang memainkan waktu," jawab Hatma.


Reza menghela napas, kemudian pergi seusai dia ingat kekesalan serta amarahnya. Begitu pula Hatma merasa sama. Namun, dia tidak lama-lama berpikir dan angkat kaki dari tempat ini, untuk balik ke rumah sesudah melakukan kegiatan berat nan lama.


***


"Pindah ke ponsel?" Batin Hatma melihat aplikasi yang terpasang tanpa sepengetahuannya.


Begitu membuka program dalam ponsel pintarnya, ada beberapa hal yang tidak ada pada layar di penglihatannya. Seperti fitur pertanyaan, buku Sahir, dan berbagai perihal yang membuat Hatma senang menggeser layar ponsel. Seperti remaja laki-laki yang kegirangan di kirimi pesan dari pacar pertama.


Hatma bertujuan untuk menunda. Bukannya untuk menyerah pada keadaan, cepat atau lambat kematian pasti datang, tetapi yang pastinya Hatma enggan tewas di tangan kakaknya. Dia membulatkan tekad dengan campuran amarah mengotori otaknya.


Dari bulan datang hingga pergi, Hatma membaca keterangan dan semua petunjuk bermain-main dengan pikirannya sepanjang malam, tidak sekali jua melirik tujuan lain dan tetap menconcong ketika dia berjalan di sisi jurang para Sahir.

__ADS_1


"Hatma," panggil bibi setelah mengetuk berkata, "ada Silvi loh mau ketemu."


"Biarkan saja, Hatma lagi sibuk!" Sahutnya.


Seseorang menyingkapkan pintu mengintip kegiatan Hatma. Hatma sadar dan mengerti, tapi seusai mengingat bahwa Silvi tiada pernah kan menyerah untuk merengkuh dirinya layaknya kekasih. Gadis itu masuk ke dalam dan memeluk Hatma dari belakang.


"Ngapain sih liatin layar ponsel mulu, kamu lagi bales surel siapa? Coba aku liat, kamu selingkuh nggak.."


Tangan Silvi merebut ponsel Hatma dengan sedikit pemaksaan. Dia menanap, terlihat teliti memandang layar ponselnya dengan mata terbeliak. Lekas saja Hatma merampas balik ponsel pintarnya. Tapi Silvi kekuatan kesal, kaki kanannya menekan lantai seolah tengah marah pada Hatma, dengan muka cemberut.


"Kau kenapa melihat wajah Hatma begitu?"


"Bukan gitu. Tolol!"


"Ha? Tidak jelas. Memangnya apa yang kau lihat di ponselku."


"Wallpaper hp kamu kok gambar cewek!"


"Ini karakter 2D, kau cemburu melihatnya?" Tanyanya menyipitkan mata dengan sebelah mata terpejam.


Begitu melihat si gadis merebahkan tubuh di ranjang miliknya, raut wajah Hatma bermuram. Ekspresi tak peduli itu sudah berakar. Dia hendak bermaksud kan kembali mempelajari dunia Sahir dan Rablis, tetapi Silvi bersimpuh di sanding Hatma seperti tengah lagi memuja dirinya, membuat laki-laki ini bingung.


Silvi memberikan secarik kertas. Hatma mengambil sepucuk kertas, yang awalnya dikira ungkapan perasaan, melainkan kertas kosong tanpa tulisan apapun. Dia memberikannya kembali pada Silvi serta tidak menolehkan wajahnya lagi padanya.


"Jangan menganggu Hatma! Itu tidak ada tulisan apapun," ujar Hatma sedikit memerintah.


"Jangan-jangan kamu udah kebablasan nggak waras karena tuh cewek 2D sampai gak bisa baca tulisan di kertas?" Ucapnya ringan beserta senyum masam.


"Lalu, apa tulisannya kalo ada?" Tanya Hatma sambil melirik dan membentak, "bacakan!"


"Gusti pangeran. Abdi lekas bertandang terhadap mahligai istana paduka," lisannya dengan berekspresi bingung.


Sesudah Silvi melisankan apa yang tertulis. Hatma perlahan-lahan membelalakkan mata, waktu menoleh pada gadis ini, di belakang punggungnya terdapat asap ungu dan biru saling berbagi tempat membuat Hatma menelan ludah. Dia bertumpu pada kedua kakinya dan merangkul Silvi dalam pelukan.

__ADS_1


__ADS_2