Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma

Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma
30


__ADS_3

Sesudah jeda yang agak lama, Hatma sampai di atas gedung dan menggunakan busur menarik anak panah sembari menargetkan Rablis. Selagi Rablis lagi melahap seorang pria, Hatma melepaskan anak panah, tembakannya itu diikuti api memutari senjata yang dilontarkan Hatma.


[Pesan: apakah Anda mengindahkan perkataan saya sebelumnya?]


"Hatma tau. Jangan menghalangi pandangan Hatma dan carilah cara!" Perintah Hatma.


Serangannya sama sekali tidak mempan. Ketimbang meraung-raung kesakitan, kini dia berteriak sembari melihat ke tempat Hatma berada. Semilir sang angin menyibakkan rambut lelaki ini, tiba-tiba saja, awan-awan berkumpul di satu tempat saat dia melompat.


"Sanggupilah seruan hamba.. balaslah nan bersua.. Gegana!"


[Sihir: Gegana]


[Jantur: Penguatan Kekuatan]


Hatma melemparkan pedangnya ke atas langit, selagi dia turun, lalu cepat menendang Rablis sekuat tenaga hingga melantingkan jauh-jauh musuhnya itu hingga puluhan meter. Dengan harapan Rablis mati sehingga warga dapat berhenti kepanikan, justru hal itu membuat Rablis meraung-raung lebih kencang.


"Kuat sekali," batin Hatma.


[Melepaskan pembatas, pembatas akan diaktifkan kembali selepas 5 menit berlalu]


Karena dia melepaskan pembatas, Hatma sekarang tidak mengaktifkan sihir untuk menyembunyikan dirinya dari orang lain. Dia layaknya pahlawan yang bertopeng tengah terpelesat kencang, bersicepat dia menghadiahkan sebuah pukulan lebih kuat padanya.


Hatma mengangkat tangan, pedangnya dia dapatkan kembali dan segera ayunan penuh berkekuatan segenap penuh tenaga dihantamkan oleh remaja laki -laki ini membuat tangan Rablis putus. Dia terkesiap kaget begitu tahu lawannya bertahan walau tangan jadi korbannya dan dia menjaga jarak dari Hatma.


"Apakah dia berhasil menahan sihir Gegana yang telah difokuskan pada ujung pedang?" Tanya Hatma berdecak kesal setelah melihat kenyataan.


"Bunuh diriku.." pinta Rablis itu membuka mulutnya seperti lagi tersiksa. Menangkap suara tersebut Hatma terperanjat, bersicepat dia waspada padanya.


Rablis mengibaskan tangan, lengan yang dimilikinya terbelah menjadi dua dan melebar berubah seperti sayap kelelawar. Tidak lama seusai perubahan itu dia melemparkan tombak es, Hatma menolak tombak, pedangnya pun patah karena menangkis serangan.


Hatma menukar senjatanya menggunakan pedang katana, dia sadar belum terbiasa menggunakan senjata ini. Disisi lain semua pedang hanya tersisa sedikit. Hatma bersikap hendak menerjang, dia kini mengedepankan para warga ketimbang menang.


"Saat itu Hatma menggunakan cara ini tangan terasa putus. Bagaimana sekarang?" Tanyanya dalam hati.

__ADS_1


[Jantur: Penguatan Kecepatan 10x]


[Jantur: Penguatan Kekuatan -0]


Hatma membuka mulut, keluar hembusan napas dan kedua tangannya bergetar menggenggam senjata sembari sela-sela jarinya mengeluarkan darah, beban akibat Jantur yang melebihi batas nyaris merusak tubuhnya. Tapi Hatma cukup mampu meminimalisir kerusakan pada tubuhnya dengan baik.


Dia mengelukkan bagian belakang tubuh semasa matanya mengawasi lawan, seberapa banyak luka-luka maupun cedera yang diterimanya Hatma pun tidak mengetahui. Hatma hanya dapat berharap di kemudian hari, dia bisa menggenggam pedangnya kembali dan berdiri menentang musuh.


"Kan Hatma wujudkan keinginanmu.."


Hatma menghunus pedang, sebelum benar-benar dia berlari menuju musuh dia menargetkan bagian mana yang akan ditebas. Sesudah memutuskan, dia berlari ke depan menggunakan kecepatan yang sungguh menyilaukan dan lebih cepat hingga manusia tak menyaksikan sebelum dia menyarungkan pedang.


Rablis bergeming tanpa suara, begitu Hatma melirik ke belakang targetnya hancur menjadi beberapa bagian. Begitu pula radius serangan menghancurkan segalanya. Hatma memburu napas, dia menikmati semilir angin dan warga yang menontonnya sekarat.


"Mungkin efeknya tidak separah yang dulu. Apakah mungkin sebaliknya?"


[Sebaiknya Anda segera pergi sebelum para warga mendekat.]


Hatma menggunakan Teleport, tetapi dia hanya kuat untuk memasuki gang sempit terdekat. Begitu juga bertepatan ketika hitung mundur pembatas akan dinonaktifkan, lelaki ini terduduk, menyender dekat tempat sampah seraya melepas lejar.


"Ugh!"


Sontak Hatma memukul dinding di samping begitu rasa sakit menjumpainya, penglihatan terganggu seperti banyak kabut menghalangi, bahkan telinga tidak bisa mendengar. Suaranya pun tidak sanggup untuk melontarkan kata-kata sehuruf sekalipun.


Hatma memutuskan untuk beristirahat di tempat ini sejenak semasih belum kuat berdiri. Walaupun dia tidak dapat melihat, layar pada penglihatan masihlah jelas dan Hatma melihat sihir-sihir menyembuhkan kerusakan pada tubuhnya.


[Energi yang dihabiskan untuk serangan sebelumnya bernilai 10 jiwa manusia pria dewasa]


[Pemanggilan didapatkan!]


[Anda dapat memanggil Puaka Keserakahan dengan mengorbankan 1 jiwa]


"..!"

__ADS_1


Hatma terperanjat kaget menjumpa notifikasi bahwa dirinya sekarang bisa memanggil Puaka, meskipun Puaka yang dimiliknya bukan tipe penunggu. Buatnya bingung sebentar. Jikalau dia dapat bicara sekarang dia merasa ingin berteriak kaget, nyatanya satu huruf saja Hatma tidak kuat melisankannya.


Hal teraneh yang dipikirkannya mengenai sebuah jiwa, Hatma menyadari jikalau dia memakai jiwa untuk menciptakan sihir. Perlahan-lahan pikirannya terbuka dan dia hanya tersenyum, memikirkan bila bayangan dalam otaknya itu benar adanya.


"Ha..." Hatma mencoba bercakap. Walaupun mulut hanya mengucapkan dua huruf, dia berupaya untuk berdiri dan kembali ke kediaman mengingat Reza sedang di atas ranjangnya pingsan.


"Tuan. Menyingkirlah dari situ!" Teriaknya seseorang perempuan bergema dalam pikiran Hatma.


Suara ledakan didengar Hatma samar-samar, dia menengok ke belakang memperoleh seekor Rablis dan seorang gadis. Meskipun agak kabur gelap, Hatma mencoba untuk terus melihat dan mendengar bila ada suara pertarungan didekatnya.


[Tuan, bisakah Anda segera pergi? Jangan melamun berusaha melihat kami. Anda tak bisa melihat!]


"Kau Mirah yang kubawa?" Tanya Hatma. Hatma yang mulai mendapatkan penglihatannya memperoleh Silvi sedang menolak serangan bola api, walau Hatma yakin yang melindunginya kini bukanlah Silvi, melainkan orang lain yang mirip.


[Saya suka nama yang Anda berikan itu, walaupun artinya hanya batu permata]


[Tugas opsional: lari]


[Hadiah: kepemimpinan penuh terhadap Mirah]


Tergesa-gesa Hatma bermaksud akan melarikan diri tetapi dia terjatuh usai menciptakan langkah. Mirah tertampak kebingungan. Dia menumbuk musuhnya tanpa ampun, hingga Rablis tumbang, meskipun dia bangkit dan kabur seusai meraung-raung.


Mirah mendekati Hatma. Dia berusaha untuk Hatma bangun dan sadar, kesadarannya telah hilang, jiwa yang bocor begitu banyak. Hatma yang selaku satu wadah membuka pintu keluar, sehingga jiwa-jiwa lain berebutan ingin keluar walaupun pintu tertutup lagi.


"Tuan..." Lirih Mirah.


Sementara itu Rablis yang menghadiahi Hatma serangan kejutan merintih kesakitan di jalanan, buat para warga ketakutan. Dia adalah seorang rekannya Hatma, dalam fase ini, Reza telah mencapai puncak kekuatan sejatinya para Rablis tipe panas.


Teriakannya tidak sampai pada Hatma, justru perihal itu memanggil seseorang yang tak seharusnya muncul pada dunia ini. Secara tidak langsung, yang sudah terlibat di peristiwa ini sudah mengubah satu sejarah yang tidak dikenali durasi waktu tanpa tidak kesinambungan sekelumit pun dalam warita.


"Ah, gawat.. alam Puaka dan jiwa-jiwa manusia telah acak-acakan karena tindakanku.." ucap seseorang.


"Kau..!" Reza menengok ke belakang. Cakar di lengan dia keluar dari kantong, bertepatan ketika api cepat menyelimuti keseluruhan pergelangan kanan Reza.

__ADS_1


Gadis berambut abu-abu ini mengangkat tangan, dia menepis pukulan Reza sebelum sampai dan memberi jawaban atas perlakuannya. Silvi langsung menusukkan tombak es ke kepala Reza, walau Reza masih sadar, dia melihat jikalau Silvi lagi jengkel.


__ADS_2