
Hatma membuka pintu kelas, memperoleh jikalau Reza menanti dirinya. Silvi pun pindah ke kelas tempat mereka berada, ayahnya telah memaafkan anak gadisnya, meski dia jengkel disebabkan anak kandungnya sendiri memilih tinggal di kediaman orang lain ketimbang rumah orang-tua asli sendiri.
Mereka duduk di bangku masing-masing, selagi itu Silvi dan Reza bercakap-cakap dengan teman sekelas. Hanya Hatma yang diam tanpa lisan keluar, hampir semua murid mengecap dirinya penjahat di sekolah ini yang membuat seseorang masuk UGD.
"Yo Hatma. Diem-diem bae, ngobrol gih!" Kata Reza menyapanya dengan memukul kedua pundaknya.
Guru menyelamatkan Hatma dari pertanyaan rekan setimnya itu. Sesudah melakukan salam dan segera mengecek murid, ada beberapa murid absen, tetapi guru tidaklah kaget. Kemalasan seringkali dijadikan senjata oleh pemikiran labil remaja, pikir Hatma.
Suasana kelas secuil pun tidak bertukar, keadaan kelas masih sama saja. Hatma membuka bukunya dan memulai belajar, dengan murid yang lagi bermain-main disekelilingnya, seperti tanpa sedikit pun mengetahui sekolah ialah tempat belajar.
"Ya. Hatma tidak bisa menyalahkan mereka, kadangkala guru memberikan metode belajar yang salah dan kami terkadang juga tak bisa mengutarakan komentar.." batin Hatma dalam hati.
Mengingat tentang kemalasan, kakaknya yaitu Alpa memiliki kemalasan sebagai agar pemicu kekuatan. Seperti dirinya, Hatma dan Reza juga mampu untuk memperkuat kekuatan ketika marah. Seminggu sudah berlalu, tiada satupun Rablis kuat, buat Hatma sedikit heran dan cemas jika Alpa tiba-tiba muncul.
Hatma menguap menunjukan rasa lelah, meskipun lawan menghambatnya memakai Rablis lemah, itu tetap membuatnya sulit memperoleh waktu istirahat yang cukup. Dia mengangkat tangan dan menjawab pertanyaan guru sebelum murid lain.
"Benar," ucap guru. Guru tersenyum dan berlanjut, "ia tetap berpikir meski seperti mengantuk. Sedangkan kalian yang kesiangan karena tidur tak mau jawab."
"Kenapa dia memperalat Hatma untuk menyindir seorang siswa? Menjengkelkan. Nanti sepulang sekolah yang dituju marah-marah," batinnya Hatma.
Sesudah belasan menit berlalu, waktu pelajaran pun berakhir, para murid di kelas tidak tinggal diam dan berhamburan keluar kelas. Sementara Hatma serta Reza tengah bercakap-cakap, dengan uang yang kini mempertahankan Reza tetap diam mendengarkan.
Mereka berdua telah saling sepakat untuk Hatma membayar Reza, dikarenakan kekuatan Rablis mulai setiap minggunya meluap-luap. Dia kurang percaya kalau dirinya mampu menahan diri, dikarenakan hal itu Reza meminta Hatma membunuhnya jikalau dia kehilangan akal dan sepenuhnya menjadi Rablis.
"Hatma takkan berkata, akan Hatma usahakan. Melainkan akan berujar, pasti kan Hatma lakukan!"
"Makasih," jawab Reza. Reza menarik napas panjang-panjang sembari melihat sekelilingnya dan mengatakan, "kalo gitu gue bakalan tinggal di rumah lu buat sementara."
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Kau bebas sesukamu," balas Hatma seraya beranjak dari tempat duduknya.
Mereka berdua pulang bersama-sama menuju rumah Hatma. Dalam perjalanan menuju kediaman, mereka terhenti dekat tempat rental vidio gim, suasana serta hawa keberadaan Rablis tingkat tinggi terasa sangat pekat lebih dari biasanya buat mereka waspada.
Hatma memberikan sebuah koin dan batu permata putih, Reza hanya bereaksi datar, dia memasuki tempat hiburan dan rekannya pergi menuju sebuah gang kecil. Dia menggunakan Netra Elang yang telah dilekatkan pada batu permata itu, agar Hatma dapat melihat dari benda itu serupa kamera pengintai.
"Hei bang, lagi maen apaan? Asik banget kayaknya tuh game.." Reza tersenyum sambil duduk dan bertanya, "gue boleh nggak gabung main? Tenang aja gue bawa duit kok!"
Ketika pria ini tidak merespon apapun, Reza berniat untuk mempertahankan ini dan memaksanya membalas perkataannya. Sesudah Reza memanas-manasi pria ini, dia menerima tantangan dari Reza untuk melawannya, mereka pun bermain.
Sementara Hatma sedang mengawasi dari kejauhan memakai sihir. Tingkah lakunya sebagai manusia perlu ditanyakan, sebab Hatma sedari tadi belum merasai kehidupan dikarenakan pria disampingnya Reza saat ini tubuh tanpa jiwa. Membuat akal Hatma hilang sesaat mengingat kelakukan kakaknya.
[Jantur: Terlelap]
[Target: pria yang dituju penguna]
Sementara di dalam ruangan, Reza membawa pria ini karena secara kebetulan dia mengenalnya sejak lama ditempat ini. Sesudah menyeretnya kepada Hatma, Reza hendak mendudukkan tubuhnya, tetapi mendadak tubuhnya memberontak.
"Seperti cacing kepanasan," cakap Hatma.
"Lu nggak sopan. Nih orang kayak ayam yang baru digorok.." kata Reza.
"Sopan dari mana tuh, bang?" Hatma melirik lawan bicaranya sebelum mundur ke belakang.
Hatma mencoba memanggil Gapura Loka, gapura itu tidak muncul, disebabkan Silvi tidak berada di dekat mereka membuat keduanya kerepotan. Ia menunggu Hatma memberi perintah. Selagi mereka menanti pergerakan Rablis, wujud yang keluar hanya manusia biasa yang memiliki satu tangan normal, sedangkan tangan yang lainnya berupa pedang tajam.
Reza melihat Hatma melempar kerikil dari belakang, bersicepat dia menyelimuti tangan dengan api dan terpelesat dengan kecepatan menyilaukan. Sesudah Reza mendekat, Rablis mengayunkan pedangnya, tapi kerikil mengenai pedangnya hingga terdorong ke belakang memberikan Reza kesempatan menyerang.
__ADS_1
"Alot banget sih anjir," batin Reza.
Pukulan Reza membuatnya terpental. Meski mahkluk ini bangkit kembali, bahkan luka bakar di dadanya sembuh dengan cepat. Hatma menjentikkan jarinya bertepatan saat Rablis ingin membuka mulut, sihir pengikat muncul dan rantai mengikat kedua kakinya.
"Hancurkan dia dengan durasi singkat. Bayarannya akan tiga kali lipat lebih banyak," titah Hatma.
"Yang bener dek! Lu nggak bohong, kan?" Tanyanya memastikan ucapan Hatma.
Hatma mengangguk, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang menunjukannya pada remaja laki-laki yang kini lagi tersenyum lebar nan senang. Dia bersikap tinggi, api yang awalnya merah, sekarang bertukar menjadi biru terang menyinari sekeliling mengalahkan cahaya dari matahari.
Hatma menarik pedang dan memberikannya pada Reza. Dia berdiri tegak, tidak tinggal diam menunggu undangan kematian, Rablis mengibaskan pedangnya mengirim pisau angin. Walaupun serangan itu sangat cepat, Reza melakukan beberapa tebasan berliku melindunginya dari serangan yang datang.
"Mau sampai kapan lu charge energimu?" Tanyanya Hatma melihatnya terus menerus mengumpulkan panas api. Sampai Hatma merasa gerah dikarenakan ulahnya yang membakar udara.
"Ya. Hatma pikir tak apa, asalkan masih bisa bernafas saja.." batinnya.
Reza bergerak maju. Dia mengayunkan pedangnya dengan tebasan miring berulang-ulang, menciptakan puluhan tebasan api meruak dan menyebar memicu kehancuran disekitar. Tujuannya untuk mencegah lawan lari, karena Reza tahu jikalau Rablis ini punya akal, mereka akan memilih lari bila terdesak.
Ketika tepat berada di depan Rablis, ia mengayunkan pedang dan Rablis pun ikut menggerakkan senjata membuat mereka beradu pedang. Pada momen yang tepat, Reza menolak serangan menyediakan celah, lekas Reza membalikan cengkraman pedang.
Dia menyentak tanah dengan kuat dan melakukan tebasan penuh kekuatan. Walaupun Rablis bertahan memakai pedangnya, dia tidak mampu menahan kekuatan Reza hingga pertahanannya diterobos Reza dan badannya terbelah menjadi dua bagian.
Belum cukup dengan hal itu, Reza menyalurkan api lebih melimpah ke ujung pedang membuat rentetan tebasan yang membakar. Sampai level dimana tubuh Rablis berubah menjadi abu, saking panasnya kekuatan api yang dihadiahkan Reza pada Rablis.
"Reza, ini belum berakhir.."
"Eh?"
__ADS_1
Reza terkesiap kaget menjumpai sesuatu yang nyaris membuatnya ingin muntah. Bersicepat dia mundur ke belakang, menuju sisi Hatma, mereka berdua siap melakukan perlawanan kembali. Sebelum mereka menghadapi Rablis itu lagi, Hatma memberikan uang yang dijanjikannya kepada Reza.