Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma

Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma
36


__ADS_3

Pada pekan ini, Hatma menghabiskan sebagian besar waktu untuk mencari-cari informasi mengenai Rablis bermodalkan pengetahuan Mirah dan sosial media, ia telah menyelidiki akun milik para korban-korban dari kejahatan kakaknya. Kebanyakan mereka seorang pengangguran dengan kerjaan paruh waktu.


"Ini perkiraan saya aja, Tuan. Mereka kayaknya main game, makan, tidur, dan mengulangi kejadian setiap harinya.. oh tentu mereka juga membuang air be--"


"Jangan katakan hal tak pantas!" Hatma memotong kata Mirah dengan sedikit hentakkan. Dia menghela napas dan berkata, "seperti katamu mereka memang memiliki kemalasan kebanyakan. Tetapi.. beberapa diantara mereka ada yang ialah pekerja keras juga."


Mirah menggelengkan kepala. Dia memberi tatapan sorot mata tajam, bagaikan tengah memendam perasaan tidak enak hati nan berat. Ia menglisankan


jikalau kemalasan bukan dihitung dari sebanyak apa kegiatan atau aktivitas sehari-hari, kekuatan Alpa, salah satunya mengukur bagaimana seseorang yang akan menjadi targetnya semalas apa di pikirannya.


"T-Tunggu! Apa maksudmu?.." Hatma membelalakan kedua mata dan bergumam, "jadi, jikalau Reza pula berpikir ingin malas atau semacamnya.."


"Benar. Maka dari itu, Anda harus bisa membulatkan tekad bila harus membunuhnya suatu saat." Mirah berdecak kesal sembari membuang muka amarah.


Hatma menarik napas panjang bertepatan sewaktu alarm mengingatkan jam pemburuan Rablis. Lelaki ini pun langsung menutup buku serta laptopnya, dia bergegas memanggil Reza dan pergi ke lokasi para tempat Rablis muncul pertamakali di kota ini.


Walau mereka tahu bila Rablis banyak muncul lebih dari tiga sehari. Proritas mereka ialah membunuh Rablis yang diketahui publik, pada akhirnya, banyak masyarakat mengetahui keberadaan makhluk sekitar mereka yang mengancam kehidupan damai orang.


Tanpa mengetahui lewat kompas khusus, Hatma dan Mirah menonton sebuah live streaming seseorang tengah heboh merekam seekor mahkluk semacam monster dan dia menyebutnya zombi. Memang betul jikalau dilihat-lihat Rablis itu mirip mayat hidup, apalagi mahkluk itu sedang memakan bangkai tikus.


"Capek!" ujar Reza.


"Bagaimana keadaan orang itu?" Hatma menyeka keringat. Melihat satu orang merekam menggunakan ponsel, ketiga orang ini bingung hendak melakukan apa untuk wajah mereka tidak tersorot oleh kamera.


Mirah mengambil sebuah batu, dia melempar benda tersebut mengarah pada ponsel miliknya. Lama kelamaan Rablis menyadari bunyi hancurnya ponsel milik orang itu, sehingga mau tak mau, dia musti lari menyelamatkan nyawanya sendiri dan meninggalkan tempat ini dengan terpontang-panting menjauh.

__ADS_1


Hatma menghunuskan pedang. Dia meminta untuk Reza mengikuti dari belakang, memberi serangan jarak dekat dengan cakupan luas, sementara Mirah ditugaskan jikalau situasi mulai gawat. Laki-laki ini mengelukkan bagian belakang tubuh sembari kedua matanya fokus hanya untuk menentang musuh.


Dalam keadaan tubuh berposisi rendah, tebasan dari pedang Hatma tiba-tiba tercipta menggores dan memotong tangan lengan Rablis. Dampak serangan kejutan memberi dorongan lewat hembusan angin, angin Rablis segera terkikis-kikis begitu menyentuh setiap embusan seperti terkena garitan pisau tajam.


[Sihir: Bolide]


[Sihir: Pawana Kencang]


Bola api memelesat seusai bola kecil menembakkan diri menarget lawan, diikuti angin kencang memukul Rablis, kemudian dia memijak tanah menghancurkan hitungan beda di sekeliling. Serpihan-serpihan kecil dari benda sekitar, yakni tempat sampah dan kaleng seperti diremas udara menjadi bulatan kecil.


"Tidak hanya kecepatan, Tuan, memiliki kemampuan membaca pergerakan lawan.." Mirah menelan ludah sebelum berlanjut, "bisa saja dia memenggal musuh sekali tebas, tapi tuan sadar bila Rablis memiliki satu ataupun dua kemampuan khusus."


"Dia kayak lagi menakut-nakuti Rablis deh," komentar Reza menyaksikan Hatma diam bersama sekumpulan benda-benda melayang di sekelilingnya.


[Jantur: Pertahanan Mutlak]


"Begitu.." Hatma menghela napas. Dia mengayunkan pedangnya sekuat tenaga sewaktu Rablis tiba-tiba muncul di sampingnya dan bermaksud menusuknya.


Rablis biasanya langsung meraung-raung maupun menyerang secara agresif, berbeda dengan tingkatan tertentu, mereka lebih memilih menerima serangan lawan dan mengambil tindakan seusainya secepat mungkin. Biarpun begitu mereka tiada guna di hadapan Hatma, selama Hatma tak berleha-leha.


Rablis ini menyerang dengan kecepatan tinggi, tetapi terdapat maksimal pemakaian atau semacamnya, semenjak live streaming dimulai pun Rablis ini diam tanpa pergerakan dan menunggu tikus lewat. Dirinya pun membunuh, memakan bangkai pengerat, selaku bahan bakar maupun energi tubuhnya.


"Jiwa manusia iya.. daging juga," batin Hatma. Selagi Reza kebingungan yang terjadi Mirah justru girang mengetahui bila Hatma sangatlah cepat mengambil tindakan-tindakan dadakan pada saat pertempuran.


"Andai gue punya kekuatan kayak git---!" Reza tampak kesakitan sembari memukul-mukul dada. Memburu napas merasa sesak yang sangat amat menyakitkan.

__ADS_1


Hatma refleks menggerakkan pedangnya menangkis sambaran Reza tiba-tiba. Sehingga Pertahanan Mutlak patah, tanpa disadari olehnya, Reza berubah menjadi Rablis dan tampak kesulitan mengendalikan dirinya sendiri akhir-akhir ini. Dalam momen tertentu Reza akan terdiam mengingat-ingat siapa dirinya.


"Hei Reza, mau upah kerjamu Hatma potong?" Tanya remaja ini menunjukkan dompet. Sesudah api sekeliling tubuh Reza tak ganas seperti sebelumnya.


Mengambil kesempatan ini, Hatma mengeluarkan busur dan menembakkan sebuah anak panah menarget pundak. Usai benda itu tertancap. Kelopak mata Reza terbuka, Reza langsung terduduk setelah melihat ke arah Hatma dan Mirah sedang waspada.


"Mau gak mau, elu harus bisa kendaliin gue maupun bunuh gue sebelum lengan ini membunuh manusia kagak berdosa.. terus memakannya.." Reza menatap kedua telapak tangannya dengan wajah bermuram.


"Mirah. Apa kau ada saran masukan?" Tanya Hatma menoleh pada gadis itu. Mirah hanya menggeleng sambil memberikan minuman kaleng kepada Reza.


"Yang kita ketahui itu, Alpa penyebab Reza begini, ia akan kesulitan mengendalikan diri. Kita tidak bisa memprediksi isi pikiran seseorang, Tuan. Terkecuali memungkinkan itu saudara sedarah.." Mirah menatap dua tangan Reza yang bergetar didepan senyuman.


"Mungkin saja Hatma akan mendapatkan petunjuk atau semacamnya bila berinteraksi dengan orang-orang yang mengenal Reza.." gumam Hatma menggaruk-garuk kepala mencoba menerka-nerka tindakan serta perbuatan kakaknya, Alpa kedepan.


Hatma mendekat kepada rekannya, dengan bersama Mirah, Reza dibantu berdiri dan mereka berjalan bertiga. Canda tawa lepas sebelumnya pudar lenyap ditelan ketiadaan. Yang menyadari hal itu, pertama ialah Hatma, dia tak membenci maupun tidak suka suasana semacam itu justru menyukainya.


Melihat situasi, dimana kedua orang ini tak berlagak seperti sok asik dengan Hatma cukup hanya untuk memotivasinya tuk mencari jalan keluar. Pada saat yang sama, dia menyadari perubahan besar, terutama cara berpikirnya agak lain dari Hatma masa lalu ketika bersama kedua orang ini.


***


"Siapa nama orang ini? Kenapa dia memberi alamat yang sulit ditemukan!" Batin Hatma tampak kesal membaca daftar orang-orang yang dikenali olehnya.


Hatma mendatangi serta mengintai kegiatan mereka usai mendatangi secara langsung, kali ini, ada seorang teman sekelas Reza yang adakalanya sikap aneh ditunjukan olehnya. Dia merasa jikalau dirinya mungkin ada sangkut paut dengan Alpa, kata Reza.


Begitu dia menghela napas, menaikkan penglihatan menjumpai kakaknya sedang berbincang-bincang dengan seseorang. Hatma mengambil gambar yang diberikan Reza, terdapat orang yang tengah bercakap dengan Alpa, membuat Hatma terkesiap kaget dan langsung berlari menuju ke arah keduanya.

__ADS_1


"Hatma terlambat ya.." lirih Hatma memberhentikan langkah memperoleh orang itu sedia dijadikan Rablis oleh Alpa sebelum tangannya mencapai mereka.


__ADS_2