Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma

Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma
11


__ADS_3

Hatma menelan ludah. Dia mengerutkan keningnya seraya keringat mencicik dari dahi, darah yang mengalir sudah seperti air keran. Darah merah segar ini buat Hatma mengigit bibir, dengan ekspresi akan kehilangan kesadaran dia menggeser layar pada penglihatan dan mencari-cari jantur atau sihir yang dapat membantunya pada situasi ini.


[Sihir: penyembuhan]


"Hatma sudi selaku khadam. Menukarkan durasi hidup hamba pada gusti Sangkala.." ucap lelaki ini melantunkan mantra sihirnya.


Dia mengaktifkan jantur untuk menyembuhkan luka, bola-bola cahaya kecil hijau muncul dan mengitari daerah tubuh yang terluka. Meskipun bayaran mahal menjadi alat tukar, Hatma tidak peduli bila energi kehidupannya diambil, asalkan dia sembuh Hatma tidak mengindahkannya. Reza pula disembuhkan.


"Hatma sudah tidak kuat lagi.." lirihnya berupaya bangkit kembali. Pandangannya naik ke atas menemukan langit ungu beserta tiada satupun tanda kehidupan, seolah-olah mereka berada di dunia lain.


"Hatma. Lu masih kuat jalan?" Tanya rekannya yang tengah mencoba bertumpu pada kedua kakinya.


Hatma menggeleng. Dia menampakkan bekas luka beserta darah, darah yang hilang telah digantikan, namun bayarannya ialah umur. Lelaki ini tidak tahu-menahu mengenai tukar-menukar, tapi yang pasti dia tahu bahwa umurnya telah berkurang satu menit.


Kurang tepat menyebutnya sihir penyembuhan. Pada akhirnya Hatma sadar, bila ia mengembalikan kondisi tubuhnya saat semasih belum terluka atau memainkan waktu. Dia bersama Reza berkeliling di tempat antah-berantah. Seluruh dunia tidak diketahui oleh mereka, seakan mereka ialah entitas dunia.


"Hatma. Gue pikir ini kayak dimensi yang berbeda atau semacamnya.."


"Reza. Jangan buat ini makin runyam."


"Dengerin.. tadi, gue nyaris mukul musuh. Tapi malah memukul dinding.. padahal jelas-jelas nggak ada tembok di depan gue dan temboknya juga sekilas munculnya," jelas Reza.


Mendengar cerita Reza, Hatma melihat ke sekitaran tempat dan memukul udara secara sengaja. Tidak lama seusainya keajaiban terjadi. Seolah-olah ada retakan, pukulan Hatma meretakkan ruang, membuat Reza keheranan dan mereka membesarkan retakan tersebut menjadi lubang dan menjadikannya pintu.


Mereka keluar dari tempat aneh. Menemukan bahwa mereka sedang terkapar di jalan, seketika Reza terkesiap kaget semasa dia bangun dan begitu pula Hatma terkaget juga. Mereka berdiri, lalu cepat-cepat pergi memasuki kafe didekat mereka.


"Fiuh.. gua sama Hatma bisa balik," gumam Reza.


"Kealpaan dan kemalasan. Itu yang kau bilang, tadi Reza?" Tanya Hatma membuka topik sebelum.

__ADS_1


Reza mengangguk pelan. Hatma tidak mengatakan sepatah kata, dia meminta Reza menunggu dan memesan minuman. Waktu membeli minuman, dia berpikir, mengapa mereka tiba-tiba masuk ke dalam kafe? Padahal Hatma berkeinginan pulang.


Melupakan hal yang menganggu pikirannya. Dia kini datang dan berhadap-hadapan dengan Reza, buat lawan bicaranya agak gemetar dan tak lama usainya Hatma menanyakan ulang pertanyaannya. Selagi Reza mengingat-ingat, Hatma membaca daftar skill yang berguna untuk kedepannya.


"Biar Hatma tebak. Kau seringkali bolos dan alpa hingga titik si Apla itu... Menjadikanmu Rablis?"


"A-Ah.. ya benar ..." Reza menutupi kedua mata dan mengatakan, "jangan bilang ke siapapun."


Hatma meneguk seteguk kopi hitam. Dia menatap air minumnya, Hatma berada di tempat itu, tetapi pikirannya melayang bebas. Segala kemungkinan beserta perkara, ditimbang oleh Hatma, meskipun dia merasa tak mampu mengalahkan Sahir jikalau langsung bertemu seperti tadi.


"Tunggu.. jika pria berjubah tadi Sahir, maka akan ada notifikasi memberitahukannya.." batin Hatma.


"Hatma? N-Ngapain lu kelihatan marah gitu."


"Tidak, jangan pedulikan Hatma," jawabnya.


Mereka berdua berada dalam keheningan yang dilatarbelakangi suara-suara bisingnya kedai kafe ini. Selagi Reza meneguk minuman, Hatma berusaha keras mencari ide agar orang di hadapannya dapat mengingat kejadian-kejadian yang dilupakannya dan pastinya akan sulit, karena ini sihir, pikir Hatma.


"Tadi. Kita kayak bangun tidur," ucapnya mendahului Hatma yang bermaksud berkata demikian.


Hatma memelas seusai Reza mengatakannya. Dia sekarang menjeling ke samping, bahwa pelanggan kafe ini membicarakan mereka. Hatma menghela napas dan meneguk minumannya, setegukan menghabiskan secangkir kopi, mulutnya pun mulai terbuka mengeluarkan berbagai kata-kata.


"H-Ha? Apa yang lu bucarain..."


"Udah dibilangin. Reza terlalu banyak membicarakan tentang cerita film itu, padahal film nggak populer."


"Halah soal film ternyata," bisik seseorang tengah mengobrol dengan temannya. Mendengar bisikannya tersebut Reza mengangguk-angguk dan tersenyum.


Helaan napas Hatma digunakan untuk mengungkap keresahannya. Dia menatap wajah Reza yang tengah berpikir keras, semakin lama Hatma membuka pikirannya untuk menyerah, tapi sebelum itu ternyata Reza saling menamparkan telapak tangan. Dengan muka percaya diri dia membuka mulut.

__ADS_1


"Muka si Apla tuh kayak zombi. Bener-bener lesu gak kayak punya nyawa!" Ungkap Reza.


"Sudahlah.." Hatma menutup matanya dan meneguk minuman lalu berkata, "andaikan Hatma tahu tempatnya para pembolos dan ..."


Mata Hatma membelalak tersentak menyadari satu hal sederhana. Dia menghela napas dan menarik keluar Reza dari kafe, seusai membayar kemudian pergi menuju tempat berkumpulnya orang semacam Reza. Hatma berpikir bila perubahan Reza menuju Rablis berada di tempat dimana, dia seringkali selalu menghabiskan waktu pada tempat tersebut.


Begitu menginjakkan kaki. Tempat yang terlantar dan penuh sampah. Benar-benar Hatma melihat tontonan menarik, seperti mabuk-mabukan dan sekelompok remaja menggunakan seragam sekolah. Dengan cuai Hatma membuang pandangan dari mereka semua.


[Jantur: Netra Elang]


"Gw selalu nongkrong di sini," ucap Reza.


"Reza. Belilah dua topeng dan jangan sampai orang lain melihat topengnya," ujar Hatma tampak begitu memerintah. Wajahnya yang seakan melihat marabahaya buat Reza mengangguk tanpa bertanya.


Dari jarak yang sangat jauh Hatma menjumpai satu segerombolan Rablis seperti Reza. Namun, entah mengapa mereka tidak memiliki kesadaran layaknya Reza dan buat Hatma mengigit bibir. Setelah dapat sebuah kantong plastik berisi dua topeng, kini Hatma menelan ludah sadar akan ada pertarungan sengit.


"Ini urusanku," cakap Hatma.


Cahaya menelan dirinya. Bersicepat Hatma pindah tempat menuju segerombolan musuh. Semasa hendak menghunus pedang, sebuah cahaya serupa peluru menuju tempatnya. Dengan gesit nan tangkas Hatma menghindar serta menangkis, meskipun begitu dia terhenti berlari dan bertahan.


[Skill: Cenangkas Pawana]


Berulang-ulang Hatma menggunakan pisau angin menangkis serangan, biarpun hujan peluru mengamuk dan semakin menghujani, Hatma tetap bersikukuh. Dia mengayunkan kedua pedangnya membelah dua setiap peluru yang datang.


"Celaka!"


Satu peluru menembus pertahanannya. Dia mulai kehilangan fokus, akhirnya skill Netra Elang nonaktif buat Hatma tidak bisa membelah tiap-tiap peluru yang mendatanginya. Seusai mendapatkan hitungan serangan menebus tubuhnya, api biru tiba-tiba ada menyembul keluar dari tangan seseorang.


Hatma menjeling ke samping, menemukan bahwa Reza dengan penampilan setengah Rablis menentang semua manusia rasukan iblis. Keduanya menjejak tanah. Mereka berlari menerobos masuk memasuki kandang lawan, bersama-sama dengan tinju dan pedang merambah Rablis.

__ADS_1


Cipratan darah beserta keringat memercik. Mereka saling berayun tangan, tanpa pandang bulu menganggap mereka dapat kembali menjadi manusia atau tidak.


__ADS_2