Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma

Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma
35


__ADS_3

Hatma keluar dari gerbang sekolah, pandangan dia tertuju pada sebuah kedai kudapan dan bukan kepada makanan, melainkan Reza sedang membeli banyak camilan. Dengan raut muka agak kesal, dia menghampiri laki-laki itu dan merampas beberapa camilan manis yang paling banyak gula-gula.


Ekspresi wajah yang seakan-akan berkata, mengapa kau melakukan ini padaku? Terpampang jelas sekali Reza sedikit kesal. Hatma mengembalikan lima bungkus permen. Lalu, membayar semua kudapan dengan uangnya sehingga Reza tidak lagi cemberut.


"Kurangi konsumsi yang manis-manis dan jangan bermalas-malasan.. bisa saja ada celah, apakah otakmu masih ingat apa yang Hatma kata ..." Ujaran kalimat Hatma terhenti waktu Reza menepuk bahu.


"Yosh. Saatnya kerja, mana manusia yang harus gue bunuh?" Reza saling memukulkan kedua tinjunya sembari menunjukkan ekspresi penuh kan semangat.


"Anak sekolah zaman sekarang ngeri," penjaga toko bergumam sendiri tanpa berpura-pura tidak menghiraukan keberadaan mereka Hatma dan Reza.


Hatma menghela napas. Kedua kaki Hatma bergerak bersama Reza mendampinginya, selama perjalanan, keduanya bercakap-cakap mengenai dunia sekolahan, begitu pula setelah kelulusan. Saat Reza mengajukan pertanyaan bagaimana seterusnya, dia tertampak bingung musti memberikan jawaban apa.


Semasa kehilangan akal menimbang-nimbang jawab atas pertanyaan Reza, tiba-tiba Mirah datang muncul pada saat sekeliling sepi. Gadis ini mengecup pipi Hatma, dalam pikiran Hatma, dia berpikir jikalau dia seorang manusia murni mungkin saja sambutan mau pun pamitan dengan kecupan cukup ekstrem.


"Tuan. Sebaiknya Anda menjawab soalan saudara Reza.." Mirah memeluk Hatma dan tersenyum manis.


"Menjawab?" Hatma memiringkan kepala.


"Tuh.. kata Mirah bener, elu harus jawab pertanyaan dari gue!" Reza menendang pantat Hatma.


Sesudah dipojokan keduanya, dia mengangguk, saat melihat ke sisi kanannya terdapat Reza tengah berharap dan sisi kiri Mirah sedang menatap sambil merangkul tangannya. Hatma melanjutkan langkah sembari memikirkan hal-hal semacam rencana dari masa depan, dengan muka agak gelisah dan marah.


"Kenapa kalian mempertanyakan?" Hatma melepas rangkulan Mirah dan berkata, "pasti ada cara membuatmu menjadi manusia biasa.. jikalau tidak, jangan khawatir, selama Hatma sanggup, kau pasti takkan memiliki kehidupan yang sangatlah sulit!"


"Janji?" Reza mengangkat jari kelingking. Mirah pun ikut-ikutan dengan meniru atau melakukan serupa.


Hatma menautkan kedua jari kelingkingnya kepada mereka berdua, sesudah beberapa detik, dia melepaskan dan mengulurkan tangannya ke depan dengan helaan napas setelahnya. Selama hitungan detik api hitam menyembul keluar dari lima jari membentuk bulatan seukuran genggaman tangan.

__ADS_1


[Jantur: Penguatan Kekuatan]


[Jantur: Penguatan Kecepatan]


[Sihir: Sangkala Laun]


[Panggil: Puaka Naungan]


[Sihir: Bolide]


"Hamba meminta Sangkala melaun-laun jarum jam waktu. Sangkala Laun.." Hatma menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Lindungilah tuanmu.. mengayomi tuanmu.. berkat serata jahat dan kebajikan, sahutlah seruan tuanmu, Puaka Naungan!"


"What the hell... Elu bisa kagak jangan ngelakuin hal yang ngebuat kami bingung setengah mati?" Tanya Reza sembari dalam proses perubahan wujud Rablis.


"Kali ini saya sepakat sama Reza," ujar Mirah sedang mencabut senjatanya. Alasan Hatma mengaktifkan banyak Jantur dan melemparkan bola api, sebabkan satu ekor Rablis sedang melahap bangkai pengerat.


Majikan Mirah mengangkat tangannya, tiba-tiba saja Puaka Naungan bersikap siap siaga. Sewaktu Rablis berniat menyerang, Puaka bersicepat berpindah ke belakang Rablis, lalu Reza dari belakang memelesat dan memukul mereka hingga sampai mengangkasa.


"Bagus seperti yang Hatma inginkan," ujar Hatma. Dia tidak menurunkan tangannya. Justru melantunkan mantra lain, "Gusti pangeran. Abdi lekas bertandang terhadap mahligai istana paduka.."


[Panggil: Gapura Loka]


Gapura besar muncul, Puaka tak melepaskan Rablis, dia mengangkasa hingga masuk ke dalam dunia cermin dan Hatma menitah dia untuk mengalahkan manusia rasukan iblis itu. Sebelum mendapat kabar bila Puaka belum usai, Hatma meminta mereka tuk menunggu dan mereka duduk sambil bermain kartu.


"Ini kemenangan kamu, Tuanku. Mengapa kau selalu dapat itu?" Mirah berdecak kesal menatap Reza.


"Udah keroyokan. Puaka malah nyampah," ucap Reza menatap Hatma di sampingnya.

__ADS_1


"Kalian sejak kapan bawa kartu? Lalu, entah kenapa begitu cepatnya kalian mendadak ..." Hatma lagi bicara tiba-tiba terhenti dan terdiam usai Puaka telah memenangkan pertarungan dalam waktu singkat.


Begitu Hatma ingin pulang ke kediaman, Mirah tidak berdiri, justru menepuk-nepuk tanah di samping secara tak langsung meminta Hatma ikut duduk. Dan karena merasa Mirah ingin menyampaikan sesuatu, Hatma duduk, lalu membuka plastik berisi kudapan.


"Anda menunggu Sahir menyerang, bukan? Gembira tuanku.. mungkin saja Sahir Perusak ke-dua yang akan menyerang adalah Darma. Mungkin Anda lagi bertanya-tanya, darimana aku mengetahuinya, lebih baik lihatlah ke selingkungan kita berada."


"Hatma sedari dulu sudah sadar. Tapi belum pernah menemukannya," jawab Hatma melihat ke atas. Sekelebat bayangan baru saja lewat dengan cepat.


"Silvi penguntit kalian sejak pertamakali tuan jadi Sahir... Tidak, bahkan lebih lama. Mungkin saja saat pertama kalian bertemu.." cakap Mirah.


"Elu gampang banget. Ganti monopoli aja yuk!" Ajak Reza mengambil mainan tersebut. Hatma cukup terganggu, tapi dia membiarkan Mirah dan Reza tuk bermain agar mereka bisa akrab.


Sembari bermain dengan Reza, Mirah menceritakan mengenai Sahir Perusak Darma. Dia pengguna boneka, mirip dengan Alpa, perbedaan antara kedua Sahir ini hanyalah cara kerja kekuatan. Dimana Alpa mengubah seseorang menjadi Rablis, sementara itu Darma menggunakan keturunan di keluarga sendiri.


Silvi seakan-akan boneka, dia akan menjalani hidup seusai keinginan Hatma dengan alasan kebaikan, tetapi kekuatannya tidak senantiasa dapat dibilang untuk kebaikan. Bisa saja Darma melakukan sesuatu hal kejahatan dengan alasan kebajikan, bahkan Silvi bisa termasuk dalam kategori musuh sangat kuat.


"Lalu, alasan Silvi tidak menyerang tuah.. adalah.."


"Hatma tau dia mencintai Hatma.." kata Hatma buat Mirah terkesiap kaget tuannya bisa mengatakan perkataan itu secara tiba-tiba dan terang-terangan.


Pada akhirnya, Mirah memberitahu jikalau mau tidak mau boneka Darma musti melakukan perintahnya cepat maupun lambat. Penjelasan dari Mirah pun kini membuat Hatma cukup kaget. Dia menghela napas dan menarik atau menyeret keduanya untuk pulang.


Sejak awal Hatma sudah merasakan aura seseorang mengintai mereka, tetapi karena Hatma tidak ingin menerima kenyataan bahwa Silvi musuh, alhasil selalu dia mencari keberadaan gadis tersebut tanpa keterlibatan dari kesungguhan. Namun, dia berniat untuk dengan sungguh-sungguh menguak identitas.


"Reza. Kita akan mulai sibuk," ungkap Hatma buat remaja laki-laki ini cemberut. Sembari berjalan keduanya melahap kudapan membuat Hatma sedikit menghela napas berat nan agak panjang.


"Tentu. Asalkan elu beri gue upah sama makan tiga kali sehari," kata Reza. Hatma mengangguk-angguk mengiyakan tawaran dari rekannya tersebut.

__ADS_1


Ketiganya terlihat sangat dekat. Di lain sisi, Silvi lagi memperhatikan mereka mengigit bibir dan tetap menyedot cairan merah. Sewaktu Mirah lagi dan lagi memeluk Hatma, kesabaran Silvi cepat membludak, ia bersicepat menghabiskan semua minuman sekali tegukan. Dia berdiri dengan mata merah dan kantung mata seakan-akan belum tidur dalam waktu lama.


__ADS_2