Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma

Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma
23


__ADS_3

Silvi buru-buru menghapus air matanya. Dia sekarang masih wajahnya, gadis yang memeluk lututnya dan merangkul kesepian dalam diri. Sekalipun kehidupan kedua diberikan kepada dirinya, Hatma tidak dapat berani jikalau bertugas memahami wanita, pikirnya.


"Kenapa kau menangis ditempat ini?" Tanya Hatma seraya melangkah maju menghampirinya.


"Nggak ada, aku cuma pengin nangis aja di tempat kayak gini doang.." jawabnya.


"Alasan yang bagus. Meskipun kau menangis sampai tak menyadari Hatma di sini, perlukah buat bunyi agar kau menyadari?" Kata Hatma melirik ke telinga Silvi yang agak memerah.


Hatma yang tengah duduk disampingnya memicu Pesona Silvi muncul. Lelaki ini memeluk, senyuman kecil Hatma dilihat gadis ini ketika dia menaikkan pandangan, lalu sewaktu Silvi berniat balik memeluk Hatma tiba-tiba berdiri dan mengangkat kaki.


Bagaikan menyepak bola, Hatma menendang Silvi sampai gadis itu terguling dua meter dari tempatnya duduk. Dengan lirikan acuh tak acuh Hatma datang ke hadapannya. Dia berjongkok menatap wajah Silvi yang membuang lirikan, berbeda dengan dugaannya.


"Kukira kau akan menatapku dengan tajam dan marah serupa pasangan yang kan cerai," ucap Hatma membuat Silvi sontak menatap mukanya.


"Aku? Barusan.. kamu.." lirih Silvi berkata.


"Meskipun aku tida--"


Mendadak ucapan Hatma terhenti serta waktu pula ikut terjeda. Silvi melihat sebuah tangan menembus tubuh Hatma, tangan itu menarik dan mencabut sesuatu, berwujud asap dan partikel aneh sekeliling membuat Silvi hilang akal. Dia tak mampu bergerak melindungi Hatma yang lagi mati.


"Jiwa. Nggak salah lagi itu tangan..! Ugh!" Silvi yang terlepas dari perhentian waktu tersentak dan kaget.


"Hatma kira kau akan menatap Hatma dengan tajam dan marah serupa pasangan yang akan cerai.."


"Eh?"


"Meskipun Hatma tidak peduli sebenarnya," ujarnya Hatma melanjutkan kalimat.


Silvi menangis kembali. Pelupuk mata menitikkan air mengalir, pipinya basah dengan muka merona merah, dia mendekap Hatma dan menjerit-jerit pada dada laki-laki ini. Tubuhnya gemetar ketakutan rasa ngeri yang didapatkannya seakan-akan mencekiknya.


Hatma masih kebingungan. Dia tak dapat berkata-kata lagi, pada akhirnya, ia mengesampingkan Silvi dengan pesonanya dan menganggapnya sebagai seorang gadis biasa. Walaupun jauh dalam lubuk hatinya merasa ditekan tuk beranggapan seperti itu.

__ADS_1


***


"Kau udah baikan?"


"Ya, makasih."


Satu jam yang serasa lebih dari sehari. Hatma cukup lelah menenangkan gadis berambut abu-abu ini, kulit putih bersih dan kecantikan lainnya sangat terjaga, membuat Hatma yakin jika keluarganya melakukan suatu adat atau budaya turun temurun. Tak terekspos dunia luar sama sekali.


Informasi lebih detail mengenai keluarga Silvi sama sekali tidak ada. Internet tak memiliki data tentang semua itu, ketimbang informasi nyata, Hatma justru mendapatkan hasil berkenaan terhadap cerita fiksi saja yang mirip.


"Lu napa?" Tanya Reza seraya memasuki ruangan tengah menemui kedua remaja ini.


Ketika Hatma bermaksud berdiri mengambil minum, Silvi semakin menggenggam tangannya. Menautkan tangan berat hati ditinggalkannya. Reza terduduk di sofa dan menatap Hatma dengan tatapan jengkel, ia tiba-tiba menggebrak meja buat Hatma bingung.


"Gue udah nungguin lu di lokasi yang lu kirimin tadi sore. Maksud lu apaan, Hatma?!"


"Tidak... Tidak, apa maksudnya ...?"


"Program peta hanya mengirim tempat terakhir kali ponsel lu hidup!" Kata Hatma agak membentak.


Bibi yang memperoleh dua remaja ini lagi menyeduh kopi serta teh hangat berdua, wanita paruh baya kelihatan tak ingin menganggu dan memilih pergi, dengan muka keheranan. Sedangkan Hatma merasai jika bibi takkan komentar apapun terhadap Silvi.


"Bibi nggak masalah aku tinggal di sini," kata Silvi mencoba mengawali percakapan.


"Tidak, awalnya dia tak setuju karena takutnya ada gosip.. tapi karena ini rumah Hatma, dia tak peduli."


"Rumah kamu?"


"Ya. Hatma yang punya hak ini rumah, meskipun belum cukup umur.. sementara hak tanah beserta ini rumah ada di tangannya.." ujar Hatma.


"Kamu nggak takut bibi ambil semuanya dan buang kamu gitu aja?" Silvimelontarkan pertanyaan kembali membuat dia termangu serupa hilang akal secara tiba-tiba sesudah mendengar kalimat Silvi barusan.

__ADS_1


Silvi memeluk Hatma dengan ketakutan lagi. Dirinya semakin kehilangan jiwa, gadis ini dalam pikirannya tengah mencari cara dan akal sembari bertanya-tanya. Yang diketahuinya hanyalah Hatma keturunan dari entitas terkuat ke-satu sesudah kehampaan.


Setiap detik, pasti ada mahkluk yang mati di dunia, jiwa mereka bukan langsung menuju alam kematian melainkan memasuki Hatma. Jiwa-jiwa itu dijadikan sebagai kekuatan dan sumber energi sihir, memicu dia secara alam bawah sadar, tidak mampu berkata maupun kata yang bermaksud diri sendiri.


"Engkau bagaikan pencegat pintu alam kematian, lalu.. aku yang bukan apa-apa ini mencoba memiliki dirimu? Betapa hinanya diriku ini.." batin Silvi.


***


Hatma membuka pintu menjumpai Reza bermain depan layar laptopnya, dia tengah memainkan vidio gim. Melihat Hatma kembali, Reza menutup laptop dan bermaksud akan memulai percakapan, matanya terlebih dahulu menatap Silvi dengan tajam.


"Napa lu kemari? Dan apa maksudnya gandeng lengan si Hatma segitunya, gue nggak akan debut ia dari lu!" Kata Reza diiringi kemarahan.


"Hmph. Toh, aku nggak peduliin Hatma ngelakuin apa ke aku.." kata Silvi membalas. Dia melepaskan Hatma dan mulai adu mulut dengan Reza.


Hatma menghilangkan interaksi mereka saat ia buka jendela, membiarkan semilir angin masuk, menyiah rambut Hatma. Semasa rambut menyibak karena si angin, laki-laki yang berada depan jendela tampak gelisah. Berharap menyibakkan misterinya semudah angin menyuak rambut abu panjangnya.


Ketika mulut Reza hendak berkata kembali bunyi ketukan pintu menyela, menambah jengkel Reza, dia pun bergeming tak peduli lagi. Bibi membuka pintu dan melihat ke-tiga remaja ini tengah berkumpul.


"Hatma. Kamu nggak lupa besok ada acara apa di panti asuhan, bukan?" Tanya bibi sesudah menutup balik pintu kamarnya.


"Eh! Besok kamu mau ke panti?"


"Ya. Pengasuh Hatma sejak kecil besok ulang tahun dan kami berniat merayakannya."


"Kami? ..." Reza terdiam sejenak dan berlanjut, "ah mantan-mantan anaknya."


"Kau sangat tidak sopan," ucap Hatma.


Silvi buru-buru mendekati Hatma dan merangkulnya lagi, seperti sebelumnya gadis ini menempel erat bagaikan lem. Dalam pikiran Silvi merasa akan jadi kesulitan dan berat hati jauh darinya, para Sahir tidak punya tujuan membunuhnya, tapi lebih buruk.


"Usahaku tadi sia-sia dong... Ya impas. Aku dapet alasan biar lebih dekat sama Hatma," katanya dalam hati selagi senyum kecil menempel di mukanya.

__ADS_1


Hatma duduk di ranjangnya. Dia kesulitan bergerak karena dikekang seorang gadis, sementara Reza pura-pura menghiraukan, meski pikirannya melayang tak karuan. Pada saat yang tepat dan Hatma lengah mengurusi Silvi pada dekapan.


Reza segera berdiri, menangkap anak panah tersebut tanpa sepengetahuan Silvi. Hatma mulai hilang akal dan mengambil tindakan. Ia menggunakan Sangkala Laun, membuat Reza dan dirinya mampu bergerak, walaupun Silvi sebenarnya bisa mendengar melihat dengan jelas.


__ADS_2