Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma

Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma
bab 06


__ADS_3

Hatma membuka pintu sembari menguap dengan mulut yang terbuka kecil, pada pagi Kamis Hatma sangatlah lesu dan menambah kelesuan lelaki ini ialah Reza menunggu depan pintu. Seolah-olah dia telah menunggu, membuat Hatma berpikir jikalau membiarkannya berbuat suka hati lebih baik.


"Gua punya kenalan dukun," ucapnya mendadak angkat bicara tanpa peringatan apapun.


"Ha?"


Reaksi wajar Hatma menciptakan rasa malu yang tertampak di muka merah Reza, Reza pun tetap berupaya tenang dan mengajak berangkat sekolah bersama-sama. Meskipun Hatma membuang napas, dia tidak bersikukuh berkeinginan sendiri. Dia kali ini mengangguk mengiyakan pinta Reza.


Dalam perjalanan Reza tampak terseok-seok dengan terhuyung-huyung lebih-lebih pemabuk, membuat Hatma sadar ada yang salah. Tetapi dia mencuaikan hal tersebut dan tetap melangkah. Sesampai di depan gerbang sekolah, mereka masuk melewati gerbang dan Hatma terhenti seketika mendadak.


"Bukankah kau berada di sekolah lain?" Tanyanya.


"Apa maksudmu? ..." Reza menjeda ucapan sebelum berlanjut, "ah ya aku mulai dari sekarang pindah!"


"Haahhhh!" Teriak seseorang dari belakang begitu menampak mereka bersama. Gadis itu datang kepada mereka dengan tergesa-gesa.


Enggan mendengar ocehan Silvi, Hatma masuk ke kelas duluan diikuti mereka yang tengah adu mulut membuat Hatma berdecak kesal. Dia terus saja mengayunkan kaki tanpa membuka mata, mendadak karenanya dia menabrak seseorang.


Refleks spontan Hatma meminta maaf dan hendak pergi, begitu selangkah dia berjalan ke samping menangkap suara meludah, bersamaan pada pundak bajunya terasa basah. Hatma mengeritkan geraham gigi melakukan pukulan menggunakan buku tangan, alhasil siswa yang meludahinya tersungkur.


"Pagi-pagi kau sudah menyulut api Hatma!" Teriak Hatma sembari menginjak-injak kepala seseorang depan para siswa-siswi yang hanya menonton saja.


Yang pertama bertindak ialah Reza, meskipun dia kesulitan mengendalikan pemberontakan Hatma, setelah dibantu beberapa guru lelaki ini berhasil ditahan. Serupa binatang buas bagaikan harimau ganas Hatma terus memberontak, mencakar dan mengigit lengan guru yang menahannya.


"Lepaskan aku, aku ingin membunuhnya!" Batin Hatma jelas-jelas disulut api.


[Jantur: Pengendalian Api Interal, awal]

__ADS_1


Semakin Hatma diseret menjauh dari target kedua mata beringasnya, tangan guru yang menahan Hatma berdarah-darah dan hanya Reza yang tidak melepaskannya. Akibat dari itu Hatma memulai perkara yang akan membuahkan kekosongan.


Dia mencampakkan Reza ke lantai dan menghajar perundung yang meludahinya, tentunya bersama senyum seringai tipis melekat kuat pada durja marahnya. Apa yang dipikirkan penonton? Tentunya kekejaman penjahat, seluruh murid berpikir begitu.


Teman-teman sekelasnya menyaksikannya bahwa yang belum sekalipun berekspresi, yang baru kali ini tersenyum, ekspresi luapan amarahnya mengintimidasi sekeliling. Bahkan guru nyaris angkat tangan jika Reza tidak bangkit, lalu mengulang.


Sore harinya,


seusai menghabiskan 2 jam untuk memisahkan Hatma para guru dan Reza sangat teramat lejar. Api telah padam setelah perjuangan yang panjang. Walau sekalinya tersulut emosi, luapan itu akan tambah melebihi tadi, pikir Reza melihatnya diikat.


"Ihh butuh guru lima sama satu murid. Kamu nggak apa-apa? Padahal murid pindahan ... Udah ngalamin hal kayak begini," kata siswi memberi botol minum.


"Kagak usah bicara kayak begitu, jangan buat Hatma marah lagi gua tau tentangnya sejak lama," balasnya.


Reza mengingat waktu-waktu SD dan SMP, kala itu semasih belum dia menunjukkan taring serta menyingkapkan topeng, Hatma bagaikan monster yang lagi tertidur dan belum terusik. Reza beserta teman-temannya merundung Hatma, sampai waktu itu terjadi, dimana Hatma memasukan mereka ke rumah sakit terkecuali Reza.


Kejadian itu menjadi pertunjukan akhir di perayaan kelulusan sekolah dasar, memasuki sekolah menengah pertama Hatma menjadi sasaran para perundung. Karena hanya mencuaikan peringatan dan tidak peduli, berpikir jika teman-temannya pada waktu itu dihajar Hatma ialah karena takut.


Dia sungguh brutal menghajar orang itu hingga perlu sesegera mungkin dibawa ke UKS, mata Reza seperti melihat remaja yang dihantui kesepian, tapi nyatanya tidak. Hatma berlari dan mengejar angin, membawa impian beriringan dengan lantunan jeritan jiwa menjerit-jerit kesakitan merangkul serpih tiap-tiap kenangan yang sukar diraih tangannya.


Seorang remaja yang bertumpu pada kedua kakinya sendiri, tanpa tiada peduli rintangan ataupun hambatan. Sejak kerlingan mata kakaknya itu Hatma mendapat sebuah kutukan, seringkali menghantui jiwa dan memadamkan api dalam hatinya, entah itu luapan dari amarah maupun semangat.


Dari kehilangan segalanya, pikir Hatma, Hatma lagi dan lagi berlari demi mencari sebuah makna arti namanya. Tidak dengan menemani siapapun, akhir perjuangan Hatma berpikir takkan menjumpai teman yang rela menghabiskan waktu bersamanya.


"Gue nggak tau lu kenapa, tapi seenggaknya gue bisa jadi pendengar.. walaupun kagak bisa beri solusi, gue bakalan senantiasa disini menemani lo hingga akhir perjuangan Hatma.." kata Reza sambil tersenyum.


"Kau barusan meledek Hatma yang belum pernah pakai kata ganti orang yang bicara, kah?" Tanya Hatma meladeni senyuman Reza dengan senyuman.

__ADS_1


[Jantur: Pengendalian Api Internal, akhir]


Suara degup jantung tidak dikutuk Hatma lagi, sebab bunyi itu tidak keluar secara cepat dan mulai normal seperti sediakala. Walaupun begitu, murid yang melakukan tindak kekerasan ini diskors beberapa hari hingga dapat kembali ke sekolah, seperti biasa.


Kecaman yang seperti celaan diterima Hatma tanpa melawan begitu melihat bibinya bergeming, enggan melihat wanita yang mengurusnya dari kecil menangis, Hatma mengangguk menerimakan segala tuduhan tidak masuk di akal.


***


"Hatma mau main ke luar," pinta Hatma depan bibi dengan wajah memelas.


"Tumben, tak apa-apa.. tapi pulanglah sebelum menjelang malam!" perintah bibi.


Hatma tersenyum kecut semasih belum membuka pintu Reza hendak mengetuk, bersicepat remaja lelaki ini betul-betul merasa hilang akal. Silvi pula ada di lawan mukanya, pada akhirnya, ketiga pergi bersama-sama mengikuti Hatma.


"Geh!"


Begitu sampai depan perpustakaan umum Silvi siap pergi, selagi Reza dan Silvi terlihat memelas sesaat Hatma ingin masuk malah kompas Rablis berputar ke arah utara. Dia membuang napas, kerlingan tajam Hatma menakut-nakuti Silvi dan Reza, menciptakan kesan serta hawa berbeda ketika di dekatnya.


[Jantur: Pertahanan Mutlak]


[Jantur: Resistansi Fisik]


Hatma menaruh tangan di belakang punggung saat mereka sibuk mengamati buku-buku, tiba-tiba belakang Hatma terlihat cahaya. Api membakar telah membakar tangannya perlahan-lahan, melukai telapak tangan dengan sengaja, buatnya merintih.


"Ah ya Hatma lupa, tadi pagi masak tangan terbakar mau pergi ke kamar mandi dulu.." pintanya.


Kedua orang ini percaya setelah melihat luka bakar Hatma, Hatma angkat kaki setelah menuju pintu keluar berpura-pura ke toilet umum. Dia mengikuti arahan Kompas Rablis, bahkan tempat targetnya tidaklah jauh. Namun, wajahnya bermuram melekat kuat ketika tahu jika Rablis berada di warnet.

__ADS_1


Karena berat kaki masuk ke dalam warung internet Hatma mengelilingi tempat itu, belakang bangunan hanya sebuah gang yang kotor dan penuh sampah yang luar biasa menumpuk. Dia tidak menemukan apa-apa dan kembali ke depan muka bangunan.


Karena melihat seseorang Hatma bersembunyi dibalik tong sampah, menggunakan ponselnya, Hatma melihat mereka menggunakan kamera depan ponsel. Reza dan salah satu perundungnya datang ke tempat semacam ini, membuat Hatma berdecak kesal seolah-olah mereka ingin menganggu setiap kegiatannya setiap saat, walau kebetulan sekalipun.


__ADS_2