Solram Saga

Solram Saga
Chapter 11


__ADS_3

Malam itu, di kamar, Xenon berbaring di tempat tidur, dia memandangi sebuah kartu yang di berikan padanya oleh Marlon yang mengatakan kalau berminat sekolah di akademi tinggal datang dan tunjukkan kartu itu, Marlon juga memberikan kartu untuk Ariana. Ariana yang tidur di sebelah nya melihat Xenon yang belum tidur,


“Kenapa Ayumu ? kok belum tidur ?” Tanya Ariana.


“Aku bingung, di satu sisi aku ingin tahu apa yang terjadi di dunia ini selama kita di dalam dungeon, tapi di lain sisi aku punya pengalaman buruk dengan yang namanya sekolah di kehidupan masa lalu....” Jawab Xenon.


“Kamu tahu kan aku juga sama, aku juga punya trauma sendiri sewaktu sekolah di kehidupan lalu....tapi jujur saja, aku kaget mendengar nama pahlawan yang katanya mendirikan kerajaan ini....dan penjelmaan dewa....” Balas Ariana.


“Ya, aku juga kaget, jelas jelas itu nama jepang....dan katanya Marlon ossan punya kitab bahasa dewa yang sedang dia terjemahkan, jangan jangan isi kitab itu tulisan kanji, hiragana atau katakana lagi......” Balas Xenon.


“Kayaknya kita harus lihat deh.....” Balas Ariana yang memeluk Xenon sambil berbaring.


“Besok kita kesana deh.....” Balas Xenon yang merangkul Ariana.


“Iya...dah yu tidur....” Ujar Ariana.


“Iya, selamat malam Rui....”


“Selamat malam Ayumu....”


Keduanya pun langsung terpejam dan tidur di dalam kamar penginapan. Keesokan paginya, keduanya bangun dan bersiap untuk pergi mengunjungi akademi. Setelah bertanya kepada pemilik penginapan dan di beri arah petunjuk untuk menuju ke akademi mereka langsung berangkat. Di perjalanan, mereka melihat warga penduduk yang beraktifitas, ada sebuah gedung besar yang mereka lewati bertuliskan guild pedagang dan di sebrang nya bertuliskan guild petualang. Setelah mereka melewati distrik pasar dan alun alun, mereka masuk ke dalam distrik pendidikan yang merupakan komplek berisikan beberapa gedung akademi, gedung asrama, lapangan yang luas untuk latihan dan arena. Ketika sampai gerbang komplek tersebut, mereka di hadang oleh dua penjaga,


“Maaf, tapi di sini tidak bisa sembarangan orang masuk, kalian murid atau bukan ?” Tanya seorang penjaga yang menahan mereka.


“Kita ingin bertemu dengan Marlon ossan, kita bertemu dia semalam dan dia memberikan kita ini....” Ujar Xenon sambil memperlihatkan dan memberikan kartunya dan kartu milik Ariana pada penjaga yang bertanya.


Penjaga itu melihat kedua kartu itu dan memperlihatkan nya kepada teman di sebelah nya, kemudian dia membukakan gerbang dan mengembalikan kedua kartunya.


“Silahkan masuk, langsung saja ke gedung pusat akademi yang berada di ujung dan paling besar dari gedung yang lain....selamat bergabung ya. Kalau barang kalian sudah datang dan mau di masukkan ke kamar asrama kabari kami saja.” Ujar penjaga ramah.


“Baik, terima kasih pak....” Balas Xenon.


Keduanya berjalan masuk ke dalam distrik pendidikan, Xenon memperhatikan kartunya, ternyata kartu itu adalah tanda seseorang sudah di terima untuk mengenyam pendidikan di sana. Ariana melihat sekeliling, banyak sekali siswa dan siswi akademi yang memiliki seragam berbeda, akademi sihir mengenakan blazer hitam dan celana panjang / rok hitam, akademi petualang memakai pakaian bebas, akademi ksatria mengenakan seragam blazer putih dengan pelindung silver dan celana panjang / rok putih yang juga memiliki pelindung berwarna silver.


“Wow....sepertinya memang komplek ini khusus untuk pendidikan ya.” Ujar Ariana.


“Iya, megah sekali....” Balas Xenon.


“Masih kepikiran ?” Tanya Ariana.


“Masih....tapi aku masih bisa mengatasinya...” Jawab Xenon.


Keduanya terus berjalan menuju ke gedung pusat yang di tunjukkan oleh penjaga di depan gerbang. Selagi melewati lapangan, banyak murid yang sedang berlatih sihir, berlatih senjata dan berolah raga biasa karena hari masih pagi. Mereka juga melihat, selain manusia, ada suku elf, dwarf dan beastmen yang bersekolah di akademi. Setelah sampai di gedung yang di maksud, keduanya masuk ke dalam dan langsung menuju ke resepsionis,


“Selamat pagi ada yang bisa di bantu ?” Sapa seorang petuga resepsionis.

__ADS_1


“Aku mau bertemu dengan Marlon ossan, ini kartu kita berdua...” Jawab Xenon.


Resepsionis itu melihat Xenon dan Ariana yang berdiri di depan nya, kemudian dia berdiri,


“Baiklah, mari ikut aku....”


Keduanya langsung mengikuti petugas resepsionis masuk ke dalam gedung. Setelah menaiki tanggal dan menelusuri lorong, mereka sampai di sebuah pintu besar di ujung lorong.


“Mohon tunggu di sini sebentar....”


Petugas masuk ke dalam meninggalkan Xenon dan Ariana yang menunggu di depan pintu. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki orang yang berlari di dalam ruangan, Marlon membuka kedua pintunya,


“Selamat datang, silahkan masuk.....” Ujar nya.


“Permisi Marlon sama, saya keluar dulu....” Ujar petugas yang tadi masuk.


“Ya, silahkan.....ayo, kalian berdua masuk....” Ujar Marlon.


Xenon dan Ariana masuk ke dalam ruangan, di dalam sudah menunggu seorang wanita dari suku elf berkulit gelap yang menggunakan blazer dan kacamata, penampilannya seperti seorang guru. Dia tersenyum melihat Xenon dan Ariana masuk ke dalam. Marlon mempersilahkan keduanya duduk di sofa yang ada di tengah ruangan, kemudian dia duduk di sebrang keduanya, wanita elf itu membawakan minuman dan makanan kecil kemudian menaruh nya di meja, dia juga membawa sebuah buku yang terlihat kuno. Wanita itu duduk di sebelah Marlon,


“Nah, karena kalian sudah datang, sekalian aku perlihatkan buku yang ku singgung kemarin....” Ujar Marlon sambil memberikan buku itu.


Xenon mengambil buku itu, kemudian dia membacanya bersama dengan Ariana. Ternyata benar dugaan Xenon semalam, buku itu di tulis menggunakan huruf kanji dan jelas sekali dari cara penulisan nya, yang menulisnya berasal dari dunia lama mereka. Marlon yang melihat Xenon dan Ariana sibuk membaca buku itu, tersenyum senyum sambil menoleh kepada wanita elf di sebelah nya yang juga menoleh padanya. Kemudian,


“Bagaimana, kalian bisa membacanya ?” Tanya Marlon.


“Hmmm menarik, lalu apa isinya ?” Tanya Marlon.


“Isinya buku harian perjuangan dia selagi melawan dewi kejahatan...” Jawab Ariana.


“Tepat, aku sudah menterjemahkan separuh tulisan di buku itu, memang itu isinya.” Balas Marlon.


“Berarti seperti katamu, mereka benar benar bisa membacanya...” Tambah wanita di sebelah Marlon.


“Um...ossan, dia siapa ?” Tanya Xenon.


“Ah...maaf, namaku Rafalna.....seperti yang kalian lihat aku dari suku dark elf...” Ujar Rafalna.


“Rafalna adalah kepala akademi khusus akademi untuk petualang, aku memintanya kesini karena aku berencana memasukkan kalian ke akademi itu, selain itu, Rafalna adalah istri ku...” Ujar Marlon.


“Hah....” Teriak Xenon dan Ariana.


Rafalna terlihat jauh lebih muda dari Marlon yang sudah terlihat paruh baya, mungkin usianya sekitar 20 tahunan.


“Kaget ya, walau penampilan ku seperti ini, usia ku sudah 300 tahun loh...” Ujar Rafalna.

__ADS_1


“Oh begitu...(kita berdua lebih).” Ujar keduanya.


Xenon meneruskan membacanya, kemudian dia menemukan hal yang menarik dan memperlihatkan nya pada Ariana. Keduanya langsung berbicara menggunakan bahasa jepang,


“Rui, lihat ini.....nama dewi kejahatan nya....”


“Hah...dewi Seraphina ? dewi yang mereinkarnasi kita dan menyelamatkan kita, bahkan memberikan tangan dan kaki pada kita....” Ujar Ariana.


“Ya, ini jelas tidak beres, tidak mungkin dewi Seraphina yang mereinkarnasi kita adalah dewi kejahatan...” Ujar Xenon.


“Hmm....sepertinya kita harus cari tahu lebih dalam lagi dan tidak bisa berpatokan dari kitab ini saja...” Ujar Ariana.


“Benar, sepertinya kita harus masuk ke dalam akademi ini....” Tambah Xenon.


“Anoo....kalian berdua bicara apa ?” Celetuk Marlon.


Xenon dan Ariana langsung menoleh melihat Marlon dan Rafalna yang terlihat bingung mendengarkan percakapan mereka. Xenon dan Ariana langsung mencari seribu satu alasan supaya keduanya tidak curiga. Akhirnya,


“Baiklah, kita berdua setuju untuk bergabung di akademi ini...” Ujar Xenon.


“Jadi kalian bicara tadi itu berdiskusi soal akademi ya ?” Tanya Rafalna.


Keduanya langsung mengangguk dengan antusias, walau sebenarnya pembicaraan mereka bukan mengenai akademi sama sekali. Marlon langsung memberikan wewenang kepada Rafalna untuk memasukkan keduanya ke akademi petualang. Untuk asrama, Rafalna mengatakan kalau petualang tidak perlu menetap di asrama, mereka boleh memiliki rumah sendiri di kota atau menyewa kamar di hotel tidak seperti siswa dua akademi lainnya yang mengharuskan tinggal di asrama.


“Um...kami tidak punya uang, tapi kami punya banyak barang....boleh tidak kami jual ?” Tanya Xenon.


“Oh boleh saja, keluarkan saja di sini nanti ku nilai....” Ujar Rafalna.


“Baiklah....”


Xenon dan Ariana langsung membuka item box nya, Marlon dan Rafalna tercengang melihat nya, kemudian mereka mengeluarkan bahan bahan yang mereka dapat dari dalam dungeon tempat mereka, seperti tanduk kera, kulit kera, kaki arachne, kulit bison, mata cyclops dan lainnya yang jumlahnya tidak sedikit.


“Astaga.....Rafalna, tolong cepat kunci pintunya, jangan sampai ada yang masuk kesini....” Ujar Marlon.


Rafalna langsung melompat dan mengunci pintu nya, dia juga menutup semua jendela dan tirai nya. Setelah itu dia menggunakan sihir cahaya untuk menerangi ruang yang menjadi gelap. Sebuah tanda tanya besar muncul di benak Xenon dan Ariana,


“Um...kok langsung tertutup begini ossan ?” Tanya Xenon.


“Kalian tahu tidak, semua yang ada di meja ini adalah bahan bahan dari monster rank S....kalian dapat dimana ?” Tanya Marlon.


“Um....dari rumah...” Jawab Ariana yang sudah bingung harus jawab apa.


“Haaah, baiklah, aku tidak akan tanya kalian dapat darimana, tapi bagaimana kalian bisa mengalahkan monster monster itu ?” Tanya Marlon.


“Um......ya di lawan saja...” Jawab Xenon.

__ADS_1


Marlon dan Rafalna saling menoleh, mereka berdiskusi bisik bisik di depan Xenon dan Ariana yang semakin bingung melihat sikap keduanya.


“Ada apa ya ?” Pikir keduanya.


__ADS_2