
Mereka menuju sebuah rumah kosong yang berada di dekat pintu gerbang di belakang kota. Para pengawal yang mendampingi perjalanan mereka, sudah menunggu. Xenon dan Ariana turun dari kereta bersama dengan Valia dan Lynx, mereka cepat cepat masuk ke dalam. Sampai di dalam, seorang pengawal mengajak mereka ke sebuah kamar yang sudah kosong dan hanya ada selembar karpet yang menutupi lantai di bagian tengah. Pengawal yang mengantar mereka, membuka karpet itu, ternyata di bawah karpet ada pintu rahasia, pengawal menarik pintunya dan membuka nya, di balik pintu ada sebuah tangga yang cukup tinggi menuju ke lorong di bawah tanah, kemudian dia meminta Xenon, Ariana, Valia dan Lynx masuk. Ke empatnya menuruni tangga dan berjalan menelusuri lorong yang terang karena ada obor yang tertancap di dinding kanan kiri nya. Setelah cukup lama berjalan, akhirnya mereka sampai di pintu yang berada di ujung lorong. Lynx membuka pintunya,
“Aku pulang papa....” Teriak nya.
Di dalam sudah menunggu seorang pria paruh baya yang bertubuh kekar berambut pirang panjang di ikat, berjanggut dan memakai pakaian pelindung sedang duduk di balik meja kerja. Melihat Lynx masuk ke dalam,
“Ah kamu sudah kembali.....putri Valia bersama mu ?” Tanya pria itu.
“Iya beliau bersamaku, kemudian kita juga bersama sepasang juru selamat yang tertulis di ramalan.” Jawab Lynx.
“Ah.....masuklah.”
Pria itu berdiri menyambut putri Valia, Xenon dan Ariana. Kemudian dia meminta ketiganya duduk di sofa yang berada di depan meja kerja. Seorang pelayan perempuan masuk ke dalam membawa kereta berisi teh dan cemilan dari ruang sebelah. Pria itu duduk di depan Valia, Xenon dan Ariana.
“Perkenalkan, namaku Safron, aku pemimpin pasukan pemberontak di ibukota dan ayah dari Lynx. Tentunya Valia sama sudah mengenal ku....” Ujar Safron menoleh melihat Valia.
“Sudah, komandan tertinggi ksatria kerajaan, Safron Huges.” Balas Valia.
“Benar, kalau boleh tahu, nama kalian ?” Tanya Safron menoleh melihat Xenon dan Ariana.
“Namaku Xenon dan di sebelah ku Ariana.” Jawab Xenon.
“Bukan, nama asli kalian....” Balas Safron.
Xenon dan Ariana langsung saling melihat satu sama lain, kemudian keduanya berdiri di depan Safron.
“Nama ku Xenon von Solarice....”
“Dan aku Ariana Julias Ramona....”
__ADS_1
Safron langsung berdiri dan berlutut dengan satu kaki di depan Xenon dan Ariana dengan menundukkan kepala.
“Salam yang mulia, selamat datang di markas kami yang sederhana ini...” Ujar Safron.
“Haaah begini lagi....tolong berdiri Safron san....” Ujar Xenon.
“Iya, jangan membuat kita menjadi risih seperti ini....” Tambah Ariana.
Safron berdiri dan kembali duduk atas permintaan Xenon dan Ariana, kemudian keduanya juga duduk, Xenon menyerahkan surat yang di berikan Marlon kepada Safron. Setelah Safron membaca suratnya,
“Baiklah, aku mengerti, Xenon sama dan Ariana sama bergerak sendiri tanpa bergabung dan menjadi pimpinan kami.....” Ujar Safron.
“Benar, makanya tidak perlu menyembah segala....” Balas Ariana.
“Safron san, gimana kondisi istana ?” Tanya Valia.
Safron menjelaskan, pangeran pertama akan mengadakan penobatan dirinya menjadi raja secepatnya, ibukota sekarang sedang bersiap siap mengadakan festival untuk menyambut raja baru. Selagi Safron menjelaskan, seorang prajurit masuk ke dalam dan langsung membisiki nya,
“Ada apa papa ?” Tanya Lynx.
Safron memberitahu semua yang ada di ruangan, kalau pangeran mengutus lima ksatria terbaiknya untuk masuk ke dalam dungeon dan naik sampai ke lantai 50, tujuan nya adalah mengambil batu permata berwarna merah darah yang berisi bagian jiwa dari dewi Seraphina untuk di tanam di dalam tubuh pangeran dan menjadikan nya kuat serta abadi.
“Oh tidak....kakak ku keterlaluan....” Ujar Valia.
“Aku masih tidak mengerti maksudnya...” Balas Ariana.
Valia menjelaskan kalau batu permata yang di sebut batu segel itu memiliki kekuatan luar biasa yang bisa menghancurkan seluruh kota, juga keabadian bagi yang menggunakan nya. Tujuan pangeran pertama sudah jelas, dia mau berkuasa selama lama nya di kerajaan.
“Jadi begitu niat nya....” Ujar Xenon.
__ADS_1
“Xenon sama, Ariana sama, maukah kalian masuk ke dalam dungeon terlebih dulu dan mencegah mereka ? sekaligus menghancurkan permata yang mengurung sebagian jiwa dari dewi Seraphina ?” Tanya Safron.
Xenon dan Ariana berpikir, sebenarnya mereka memang mau memasuki ke 7 dungeon yang ada di Estrina untuk membebaskan dewi Seraphina.
“Hmm...baiklah, kita berdua akan masuk ke dungeon, tapi bagaimana dengan ijin nya ?” Tanya Xenon.
“Tenang saja, penjaga yang menjaga pintu masuk dungeon ada beberapa anak buah kita, kalian bisa ku susupkan masuk ke dalam. Tunggu sebentar, aku akan mengaturnya.” Jawab Safron.
Kemudian dia berdiri dan keluar dari ruangan, sementara Xenon dan Ariana menunggu di dalam ruangan. Valia menunduk, dia terlihat sedih dan kesal karena tidak bisa berbuat apa apa, Lynx yang berdiri di sebelah nya hanya bisa menunduk dan memegang pundak nya.
“Tenang saja Valia sama, tujuan kita memang mau kesana juga suatu hari nanti, lebih cepat lebih baik kan....” Ujar Xenon.
“Iya benar, santai saja Valia sama.” Tambah Ariana.
“Tapi, setelah ini, kalian pasti akan jadi sasaran kemarahan 7 dewa yang mengamati dari benua utara dan kalau batu permata itu di hancurkan, aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepada kerajaan ini....” Ujar Valia.
“Aku yakin tidak akan terjadi apa apa Valia sama, tenang saja...” Balas Xenon.
“Dan memang kami juga mau memancing 7 dewa gadungan itu, mereka berasal dari dunia yang sama dengan kami sebelum nya.” Ujar Ariana.
Valia melihat wajah Xenon dan Ariana yang tersenyum santai di depan nya, kemudian dia menoleh melihat Lynx yang mengangguk, Valia berdiri dan langsung memeluk Xenon dan Ariana.
“Mohon selamatkan kerajaan ini.....walau aku tidak suka dengan kakak ku, aku mencintai rakyat kerajaan ini sepenuh hati ku.....dan aku janji, setelah ini, aku akan sekuat tenaga membantu kalian menghadapi dewa dewa gadungan itu.” Ujar Valia.
Xenon dan Ariana membalas pelukan Valia sambil tersenyum. Tak lama kemudian, Safron kembali bersama dengan seorang anak buahnya yang di beri tugas untuk mengantar Xenon dan Ariana ke dungeon. Setelah Safron menjelaskan bagaimana kondisi di dalam dungeo, Xenon dan Ariana pamit kepada Valia dan Lynx yang ada di ruangan, mereka keluar dari ruangan bersama dengan anak buah Safron untuk naik ke atas dan menuju pintu masuk dungeon. Xenon dan Ariana menggunakan jubah berkerudung untuk menyembunyikan wajah mereka selagi berjalan menuju dungeon. Ketika di depan dungeon, Xenon dan Ariana melihat ke atas, mereka melihat menara besar yang menjulang tinggi di depan mereka.
“Baiklah, Rui, kamu siap ?” Tanya Xenon.
“Siap Ayumu....ayo kita masuk.” Jawab Ariana.
__ADS_1
“Ok, kita masuk...” Balas Xenon.
Keduanya melangkah masuk ke dalam area dungeon dan menuju gerbang untuk masuk ke dalam dungeon.