
Malam harinya, di sebuah kediaman elit yang berada di kawasan akademi, Rafalna sedang duduk di ruang perapian nya sambil menikmati secangkir teh, setelah menyeruput teh dengan tenang dia menaruh cangkir nya di meja bundar yang ada di depannya, kemudian kembali duduk bersender,
“Jadi, kalian ada apa ke sini ?” Tanya nya.
Di belakang Rafalna ternyata Xenon dan Ariana yang memakai jubah dan kerudung berdiri di belakang nya, keduanya membuka kerudung nya dan menghampiri Rafalna, Xenon menaruh tandung milik Elazar di meja,
“Bisa jelaskan sensei.....” Ujar Xenon.
“Hmm...kamu sudah bicara dengan nya kan....berarti sudah tahu mengenai apa yang terjadi di dunia ini dulu.....” Ujar Rafalna.
“Kami sudah dengan, tapi kenapa sensei tidak jelaskan situasinya kepada Elazar, hari ini hampir saja dia membunuh semua yang ada di arena.” Balas Ariana.
“Aku tidak bisa menjelaskan apa apa kepadanya, reruntuhan di bawah kota ini di jaga ketat dan tidak memungkinkan aku menjelaskan nya, lalu, sekarang dimana dia ?” Tanya Rafalna.
“Ikut kami sensei....” Ajak Xenon.
Xenon dan Ariana memegang dinding di ruangan dan membuka gerbang, kemudian keduanya mengajak Rafalna masuk ke dalam gerbang untuk menuju dungeon. Begitu sampai, Elazar yang berada di dalam kuil dan sudah membunuh naga yang ada di sana, menyambut Xenon dan Ariana, Rafalna yang bertemu Elazar langsung berlutut,
“Salam demon lord Elazar....” Ujar Rafalna.
“Ah....Reowyn anakku.....salah satu jendral ku, terima kasih sudah membebaskan ku.” Balas Elazar.
“Maaf Elazar sama, tapi aku bukan Reowyn, dia adalah ibuku, namaku Rafalna. Anak terakhirnya.” Ujar Rafalna.
Elazar langsung menghampiri Rafalna dan meminta nya berdiri, dia menepuk nepuk pundak Rafalna.
“Kamu adalah cucuku.....Reowyn sudah aku anggap sebagai anak ku sendiri, senangnya aku masih bisa bertemu dengan keluarga ku di jaman ini...” Ujar Elazar.
“Terima kasih Elazar sama....” Balas Rafalna.
Setelah itu, ke empatnya berdiri menghadap patung besar dewi yang ada di ujung ruangan persis di belakang altar. Rafalna berlutut dengan satu kaki di depan patung dewi di temani oleh Elazar. Selesai memberi hormat pada patung dewi, ke empatnya keluar menuju rumah tempat tinggal Xenon dan Ariana. Mereka duduk di meja makan, Rafalna menjelaskan bagaimana situasinya kepada Elazar yang selama ini di kurung. Sebab walau dia mengerti apa yang terjadi, tapi situasi terakhir Elazar sama sekali tidak tahu.
“Hmmm....aku mengerti, berarti saat ini sudah ada gerakan terselubung di 7 kerajaan yang bertujuan membebaskan dewi Seraphina dan benua ini.” Gumam Elazar.
“Benar, kita bergerak diam diam sambil mengumpulkan kekuatan, akan sangat di sayangkan kalau sampai gerakan kita ketahuan oleh para dewa yang ada di benua utara Nordag.” Balas Rafalna.
__ADS_1
“Jadi mereka sekarang menguasai benua kita di utara.....” Gumam Elazar.
“Baiklah, kalau begitu langkah selanjutnya apa ?” Tanya Xenon.
“Sesuai permintaan mu, saat ini kita harus bersihkan nama kalian, aku akan mengaturnya, aku minta selama beberapa hari ini kalian di sini dulu, sampai situasi tenang. Aku memberikan ini.....” Jawab Rafalna sambil memberikan sebuah alat yang berbentuk seperti smartphone.
“Alat apa ini sensei ?” Tanya Xenon sambil mengamati alatnya.
“Ini untuk kita berkomunikasi, nanti aku akan beritahu kalian kalau kalian sudah bisa keluar menggunakan alat ini, nama alat ini adalah Magiphone.” Jawab Rafalna.
“Hmm....seperti smartphone di dunia kita dulu ya Rui.” Ujar Xenon dalam bahasa jepang.
“Iya, ternyata di dunia ini ada juga ya....aku baru tahu....” Ujar Ariana.
“Ini teknologi baru ya sensei ?” Tanya Xenon.
“Sudah sejak 400 tahun lalu....” Jawab Rafalna.
“Oh begitu rupanya......(pantas jaman ku dulu tidak ada).” Balas Xenon.
“Lalu teman teman kami bagaimana ? aku khawatir dengan kondisi Georg.” Tanya Ariana.
“Tadi siang ketika di arena, aku merasakan ada beberapa kaum ku yang ada di sana....salah satunya bersama kalian...tapi aku belum terlalu pasti.” Ujar Elazar.
“Benar, ada satu lagi yang mau aku sampaikan, putri Valia dan pengawal nya Lynx adalah anggota kita, alasan dia berada di akademi karena dia mau di bunuh oleh pangeran pertama yang berkerja sama dengan pangeran ketiga, karena raja berniat mewariskan kerajaan kepada putri Valia.” Rafalna menjelaskan.
“Hooo begitu ya....” Balas Xenon.
“Tapi kenapa mereka menantang kita untuk bertanding ?” Tanya Ariana.
“Mereka tidak berbuat apa apa, para anak buah Lynx merasa cemburu karena kalah dari kalian, itu sebab nya mereka mengajak kalian bertanding...jadi semua itu di luar kendali putri. Malah dia protes kepada ku, kenapa kalian di ijinkan bertanding.” Jawab Rafalna.
“Hmmm aku mengerti, berarti kalau dia bisa menjadi ratu negeri ini, berarti kita bisa memegang negeri ini....” Gumam Xenon.
“Tepat sekali, putri Valia bergabung dengan kita secara sukarela, dia menghampiri kita karena mengetahui yang sebenarnya terjadi di dunia ini.” Ujar Rafalna.
__ADS_1
“Xenon sama, Ariana sama, maafkan aku, karena tindakan ku, kalian menjadi susah.” Ujar Elazar menunduk di hadapan Xenon dan Ariana.
“Tidak apa apa, semua sudah terjadi, lagipula aku sudah minta tanduk mu kan, sekarang kita impas.” Ujar Xenon.
“Terima kasih......Xenon sama....” Balas Elazar.
Akhirnya untuk sementara Xenon dan Ariana berada di dalam dungeon bersama dengan Elazar. Setelah mengantar Rafalna kembali ke kediaman nya, Xenon dan Ariana duduk di tepi danau, mereka melepas lengan dan kedua kaki mereka.
“Kemana Elazar ?” Tanya Ariana.
“Oh dia mau menjelajah ke atas katanya....nanti dia kembali.” Jawab Xenon.
“Berarti saat ini kita berdua di sini....” Balas Ariana.
“Akhirnya kita berdua di sini lagi hahaha...” Ujar Xenon.
“Iya...tapi aku senang.....kehidupan ku berbeda dengan kehidupan ku yang dulu di bumi...” Ujar Ariana.
“Benar, walau keadaan di dunia ini kacau, masih lebih baik di banding kehidupan di bumi dulu....” Tambah Xenon.
“Terima kasih Ayumu.......” Ujar Ariana.
“Eh kok tiba tiba berterima kasih, ada apa ?” Tanya Xenon bingung.
Ariana bergeser dan menyenderkan tubuh nya di pundak Xenon dan merangkul pinggang nya. Xenon juga langsung merangkul pundak Ariana dengan sebelah tangan nya.
“Terima kasih kamu sudah di sini bersama ku....semoga seterusnya ya Ayumu, karena aku mau bersama mu selamanya dan aku juga tidak akan meninggalkan mu selamanya, aku janji.” Ujar Ariana.
Wajah Xenon langsung berubah menjadi sedikit merah, dia menoleh melihat ke arah danau,
“A..aku juga....terima kasih Rui....kita akan bersama selamanya.” Ujar Xenon.
“Hehe iya......selamanya...kita selalu bersama selamanya.” Balas Ariana.
“Eh....barusan....aku melamarnya ya....aku mengatakan sesuatu yang memalukan.” Pikir Xenon yang sadar dengan ucapan nya. Dia menoleh melihat Ariana yang sedang bersiul siul sambil merebahkan kepalanya di dada nya dan di rangkul nya. Wajah Xenon mendadak menjadi merah dan dia memalingkan wajah nya merah supaya tidak terlihat Ariana. Kemudian keduanya diam, mereka tetap saling berdempetan dan merangkul, sambil memandangi danau dan merasakan hembusan angin sepoi sepoi yang terasa hangat. Sementara itu, di balik gerbang menuju ke atas, Elazar mengintip keduanya yang sedang duduk bersantai di tepi danau,
__ADS_1
“Untung aku pergi.....kalau tidak aku pasti akan mengganggu suasana....baiklah, aku keliling sekali lagi....”
Elazar berjalan menaiki tangga untuk pergi ke lantai 299 dan menelusuri dungeon sampai ke atas.