
Setelah Ariana sedikit lebih tenang walau masih tetap di rangkul Xenon, keduanya kembali melihat kepada Elazar yang masih berlutut di depan mereka dan bertanya,
“Tapi kenapa dewi mengatakan kalau akan ada pahlawan yang datang......” Ujar Xenon.
“Aku tidak tahu soal itu yang mulia.....tapi setelah melihat tombak dan diri kalian di arena tadi, aku yakin kalian berdua adalah yang kami tunggu selama ini.” Ujar Elazar.
“Haaaah....aku tidak tahu harus berkata apa.....siapa kamu sebenarnya, kenapa kamu bisa di kurung sama 7 dewa gadungan itu...” Ujar Xenon.
“Namaku Elazar Vanslaine, aku adalah demon lord, pemimpin suku demon sewaktu berperang dengan 7 dewa gadungan itu.” Ujar Elazar.
“Baiklah, pantas kamu di kurung, kamu kuat soalnya. Tapi aku belum memaafkan mu soal kamu melukai teman ku.” Ujar Xenon.
“Aku mengerti, silahkan hukum aku yang mulia....” Balas Elazar sambil bersujud menyembah Xenon.
Xenon jongkok di depan Elazar, kemudian dia menepuk nepuk pundak nya. Elazar mendongak dan melihat wajah Xenon di hadapan nya.
“Pertama, namaku Xenon dan dia Ariana, jangan panggil kita yang mulia. Kedua, tolong kamu bersembunyi dulu di dungeon kami. Dan terakhir, tidak semua yang ada di 7 kerajaan di sini adalah musuh kamu, masih banyak orang yang percaya dengan dewi Seraphina dan menunggu terjadinya ramalan.” Ujar Xenon.
“Begitu ya, maafkan aku yang tidak tahu, yang mul...ah...Xenon sama, Ariana sama, aku baru saja terbebas tiga hari lalu. Karena di bebaskan oleh seorang dark elf wanita di reruntuhan yang ada di bawah kota. Kekuatan ku baru saja pulih hari ini." Ujar Elazar.
“Hmm mungkin yang membebaskan kamu adalah Rafalna sensei....” Ujar Ariana.
“Aku tidak tahu namanya, tapi dia dari suku demon juga sama sepertiku...” Balas Elazar.
“Ah benar juga, dark elf termasuk suku demon...” Balas Xenon.
“Silahkan hukum aku Xenon sama....” Elazar kembali menunduk.
“Kalau begitu, sebagai hukuman, boleh aku minta satu tanduk mu? aku dan Ariana harus kembali ke kota karena kamu membawa kami begitu saja....” Ujar Xenon.
“Baiklah....”
Elazar mengibaskan tangan nya dan memotong sebelah tanduk nya, kemudian dia memberikan nya kepada Xenon. Setelah mengambil tanduk nya, Xenon dan Ariana mengajak Elazar ke sebuah tebing yang ada di ujung bukit tempat mereka mendarat, Xenon membuka pintu gerbang untuk menuju dungeon dan meminta Elazar sementara masuk dulu ke sana untuk menjaga kuil dan rumah mereka. Setelah berpamitan, Elazar masuk ke dalam gerbang dan Xenon kembali menutupnya. Setelah itu,
“Sekarang kita harus kembali ke kota dan membersihkan nama kita dengan mengatakan kalau demon tadi sudah mati dengan bukti tanduk ini...” Ujar Xenon.
__ADS_1
“Aku setuju, kita harus cepat kembali, aku khawatir dengan keadaan Georg.” Balas Ariana.
Xenon membuka item boxnya dan mengeluarkan tas punggung nya, Ariana yang melihat nya menjadi bingung.
“Um...kamu kenapa keluarkan tas itu lagi ?” Tanya Ariana.
“Supaya cepat, Rui sebaiknya kamu masuk kesini, nanti kalau sudah dekat ke kota baru kamu turun.....” Jawab Xenon.
“Aku mengerti, tolong bantu aku Ayumu.” Ujar Ariana.
Dia langsung duduk dan melepaskan kakinya, kemudian menyimpan kakinya di item box. Setelah itu, Xenon menggendong Ariana dan memasukkan Ariana ke dalam tas punggung nya, setelah itu dia jongkok memakai tasnya, kemudian dia langsung berlari menuju kota yang jarak nya cukup jauh. Sepanjang perjalanan, Ariana merangkul leher Xenon yang berlari dengan kencang seperti angin.
*****
Sementara itu di kota, di sebuah balai pengobatan, Cecil, Edlan dan Lifana sedang menjaga Georg yang belum sadarkan diri. Mereka mendengar desas desus dari para prajurit yang berpatroli yang mengatakan Xenon dan Ariana bersekongkol dengan demon itu.
“Grrr....mereka seenak nya saja menuduh...” Ujar Lifina geram.
“Tapi tadi waktu di atas arena, mereka sepertinya bicara....demon itu terlihat sudah kalah oleh Xenon kun, tapi membawa pergi mereka...” Gumam Edlan.
“Tidak penting kan apa yang mereka bicarakan, yang aku lihat Xenon kun terus mengacungkan tombak nya....” Balas Lifana.
“Aduh kalian ini bagaimana sih, masa kalian curiga dengan Xenon kun dan Ariana chan sih....ingat, kita jadi seperti ini karena mereka....paham tidak kalian.” Protes Lifana.
“Iya aku tahu, jangan marah kelinci liar, aku hanya penasaran...” Ujar Edlan.
“Hehe iya maafkan aku ya Lifana chan....” Tambah Cecil.
“Huh....bagus lah kalau sudah mengerti.” Balas Lifina sambil melipat tangan nya.
Tak lama kemudian, teman teman sekelas mereka datang menjenguk Georg, semua teman sekelas tidak percaya dengan desas desus yang beredar. Mereka malah khawatir kalau Xenon dan Ariana sedang bertarung mati matian dengan demon yang menyerang tadi.
“Itu dia yang kami khawatirkan, terima kasih atas bantuan nya teman teman...” Ujar Cecil.
“Sama sama Cecil...” Balas Darlene.
__ADS_1
Setelah teman teman sekelas mereka pergi, Edlan menutup kembali pintu nya dan menguncinya,
“Hei elf gagal, kenapa pintunya di kunci.....” Ujar Lifina.
“Begini, ada yang aku mau bicarakan sama kalian....” Ujar Edlan.
Edlan melepaskan kalung yang di pakainya, kemudian kulitnya berubah menjadi kecoklatan dan matanya menjadi berwarna kuning. Cecil yang melihatnya kaget bukan kepalang, tapi Lifana biasa saja melihat nya,
“Kamu tidak kaget Lifana ?” Tanya Edlan.
“Huh...aku sudah kaget ketika aku mengintip mu sewaktu berumur 10 tahun...” Jawab Lifana.
“Ah benar juga...haha....” Balas Edlan.
“Apa maksudnya ini Edlan, kenapa kamu jadi sama seperti Rafalna sensei ?” Tanya Cecil.
“Aku dan Rafalna sensei adalah dark elf, kami masih termasuk ke dalam golongan suku yang sudah hilang, yaitu demon, melihat kemunculan demon di arena, aku jadi ingin mengatakan yang sebenarnya pada kalian.” Jawab Edlan.
“Maksudnya ? kalau yang ini aku tidak mengerti...” Balas Lifina.
“Dunia ini tidak seperti yang kalian kira. Akan aku ceritakan.” Ujar Edlan.
Edlan menceritakan kepada Cecil dan Lifina soal 7 dewa, soal dewi Seraphina, soal ramalan dalam legenda dan semua yang berkaitan dengan ramalan. Setelah itu,
“Jadi menurut mu, Xenon kun dan Ariana chan adalah pahlawan dalam ramalan ?” Tanya Cecil.
“Kalau melihat demon tadi menunduk pada mereka di arena, aku yakin begitu...” Ujar Edlan.
“Aku ikut kamu...” Balas Lifina langsung.
“Oh terima kasih Lifina....” Balas Edlan.
“Hah tumben kamu panggil nama ku...kamu gimana Cecil, kalau Georg aku yakin dia bergabung.” Balas Lifina sambil tersenyum.
“Aku.....tidak tahu, tapi aku percaya kepada kalian, aku juga percaya kepada Xenon kun dan Ariana chan, aku rasa sebaiknya aku bergabung.” Ujar Cecil.
__ADS_1
“Bagus, kita harus membantu Xenon kun dan Ariana chan setelah ini....terima kasih kalian berdua.” Ujar Edlan sambil kembali memakai kalung nya dan berubah menjadi wujud semula.
Ketiganya kemudian duduk kembali di sisi tempat tidur tempat Georg berbaring dan berharap kalau Xenon dan Ariana cepat kembali.