
Cecil, Georg, Lifana dan Edlan terus berlatih di dungeon bersama dengan Xenon dan Ariana, mereka terus naik semakin ke atas sampai ke lantai 280 selama seminggu setiap hari. Setelah itu, mereka beristirahat selama dua hari untuk menyambut pertandingan yang di adakan 3 hari lagi. Selagi di dalam kelas, Ariana melihat status Cecil, Georg, Lifana dan Edlan yang duduk di sebelah nya dan Xenon,
\==================
Nama : Cecil.
Level : 510 / 999
Stats rank : SS
Skill : Healing water, water enchantment, water ball, water wall, tsunami, freeze, ice lance, ice wall.
\==================
Nama : Georg.
Level : 530 / 999
Stats rank : SS
Skill : Axe bash, power enchant, throw axe, skull splitter, speed enchant, spinning strike.
\==================
Nama : Lifana.
Level : 520 / 999
Stats rank : SS
Skill : Stealth, disarm trap, backstab, flash step, shadow strike, poison blade, combo slash.
\==================
Nama : Edlan.
Level : 500 / 999
Stats rank : SS
Skill : Fire ball, fire storm, wind cutter, wind shield, dual elemental blast, flare blast, flare tornado.
\==================
Ariana tersenyum melihat status teman temannya, dia memberitahu Xenon yang juga terlihat puas. Keduanya kembali melihat ke depan dan memperhatikan sensei yang sedang memberi penjelasan.
******
__ADS_1
Hari yang di tunggu pun tiba, akademi membuka pintu gerbang komplek nya untuk menggelar eksebisi dari setiap akademi. Dari ujung pagar sampai ke dalam, stand makanan berjejer menjajakan dagangan nya, stand ini di kelola oleh siswa siswi dari tiga akademi yang ada di dalam. Akademi sihir menampilkan pertunjukan sihirnya, selain itu mereka juga memperlihatkan alat alat sihir yang di kembangkan para siswa akademi. Akademi ksatria memperlihatkan latihan mereka, kekompakan mereka dalam latihan bela diri, jurus jurus pedang nya dan pertunjukan pertunjukan lainnya. Akademi petualang memperlihatkan cara memotong hasil buruan, cara berkemah dan bertahan hidup di luar, cara memilah tanaman tanaman obat dengan racun dan masih banyak lainnya.
Kereta kuda berdatangan, para noble (bangsawan) datang untuk melihat pertunjukkan yang di adakan oleh anak anak mereka. Tapi yang menjadi pusat perhatian semuanya adalah pertandingan yang di adakan di arena. Kursi penonton sudah terisi penuh, para bangsawan mendapat tempat duduk khusus di podium yang di buat di bawah podium raja. Xenon, Ariana dan kelompoknya sudah siap di ruang tunggu,
“Akhirnya, kita tunjukkan hasil latihan kita....” Ujar Xenon.
“Aku kok grogi ya....” Ujar Lifana sambil mengetuk kaki nya di tanah.
“Santai saja....kita pasti juara....” Ujar Ariana yang duduk di sebelah Xenon.
“Um...um....aku boleh tidak ke kamar mandi dulu....” Cecil berdiri dari tempat duduk nya.
“A..aku juga....” Georg juga ikut berdiri.
“Silahkan saja.....” Balas Xenon.
Keduanya langsung keluar dari ruang tunggu dan berjalan menuju kamar mandi. Tak lama kemudian, pintu ruang tunggu di buka, Reggy dan seluruh teman sekelas masuk ke dalam.
“Kalian jangan sampai kalah ya....” Ujar Reggy tersenyum.
“Kita semua mendukung kalian....” Tambah Darlene.
Seluruh teman sekelas bersorak sorak memberi dukungan kepada Xenon dan kelompoknya, mereka mengatakan akan menonton dari kursi penonton yang khusus bagi akademi petualang. Setelah itu, mereka semua keluar dari ruangan dan Cecil kembali bersama Georg, sementara itu di luar terdengar suara sorak sorak, Xenon dan Ariana keluar ruangan dan mengintip keluar arena. Ternyata raja dan ratu sudah datang, mereka duduk di podium paling atas, Valia juga terlihat duduk di podium dan di kawal oleh Lynx. Pembawa acara menoleh kepada raja yang mengangguk dan berteriak kalau pertandingan sudah resmi di buka. Semua kelompok yang ikut bertanding, baik dari akademi sihir, ksatria dan petualang keluar berbaris di arena. Xenon dan kelompoknya juga ikut berbaris. Setelah mendengar kata sambutan dari raja, pertandingan pertama di mulai.
“Kita masih belum ya ?” Tanya Georg.
Pertandingan pertama tim dari akademi sihir melawan tim dari akademi petualang yang berbeda kelas dengan Xenon. Arena di tutupi oleh semacam kubah untuk mencegah serangan sihir atau skill nyasar mengenai penonton. Setelah seluruh tim berkumpul, satu persatu maju dan bertarung menggunakan kemampuan mereka.
“Hmm...kalau lancar, berarti sampai juara kita ada 6 kali pertandingan...” Ujar Xenon.
“Itu kalau menang semua kan....” Balas Cecil.
“Yah, kita pasti menang, kecuali ada halangan...” Balas Ariana.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya sampai giliran kelompok Xenon melawan kelompok Inggrid. Kedua kelompok langsung naik ke arena dan saling memberi hormat, seluruh penonton menyoraki kelompok Inggrid karena mendukungnya dan menjelek jelekan kelompok Xenon. Kedua tim turun kembali dari arena meninggalkan orang yang mau bertanding, Lifana maju terlebih dulu dan musuhnya adalah seorang pria berpakaian zirah lengkap yang bersenjatakan dua buah perisai bundar.
“Hehehe kelinci duluan....jangan salahkan aku kalau aku kasar ya....” Ujar pria berperisai itu.
Ariana menggunakan analyze nya kepada musuh Lifana, dia langsung melihat status nya.
\=========================
Nama : Jerome
Level : 310 / 999
Stats rank : S+
__ADS_1
Skill : body enchantment, shield bash, shield throw, defense stance.
\=========================
“Mulai....” Teriak wasit.
Lifana langsung menghilang, Jerome yang di depan nya menjadi bingung dan bersiaga penuh sambil memasang kuda kuda bertahannya, tiba tiba “Duak..” Tubuh Jerome terpental keluar arena dan pingsan. Lifana muncul dan membersihkan tangan nya. Seluruh penonton yang medukung kelompok Inggrid menjadi diam, yang terdengar hanya sorak sorak teman teman sekelas Xenon dan kelompoknya. Setelah itu, Edlan dan Cecil juga menang melawan musuh nya. Terlihat Inggrid seperti orang salah tingkah di sebrang arena, Georg sudah siap di atas arena dengan kapak nya, seorang wanita teman sekelompok inggrid naik ke atar arena.
“Salam kenal, namaku Carol....” Ujar wanita itu.
“Aku Georg...salam kenal Carol san....” Balas Georg.
Keduanya menunduk, Carol mengeluarkan cambuk nya dan memasang kuda kuda nya, begitu juga Georg yang memasang kuda kudanya. “Mulai.” Teriak wasit, tapi ketika Carol dan Georg bersiap maju. “Bum.” Sesuatu jatuh di tengah arena, debu debu berhamburan menutupi arena, terlihat pelindung di pasang terkoyak karena jatuh nya sesuatu itu,
“Hehehe...hahahahaha.......” Terdengar suara tawa seorang pria yang menggema di arena.
Ketika debu sudah mulai menipis, terlihat lah sosok seorang pria yang memiliki sayap seekor naga, di kening nya bertaduk kecil di sebelah kiri dan kanan. Dia memakai baju zirah berwarna merah dan membawa sebilah pedang berapi. Melihat sosok yang berdiri di tengah arena, raja langsung berdiri dan memerintahkan para prajurit mengepung pria itu.
“Heeeei....mana pahlawan kalian, panggil.......akhirnya aku terbebas....hahahaha....” Teriak pria itu.
“Siapa kamu ?” Tanya Carol yang masih berdiri di atas arena.
Pria itu menoleh dan melihat Carol, kemudian dia tersenyum dan berbalik berjalan menuju Carol.
“Kamu tanya namaku siapa ?” Tanya pria itu sambil berjalan.
“Jangan mendekat.....” Teriak Carol.
“Hooo aku beritahu, namaku Elazar, aku seorang demon yang kalian kurung dahulu kala.....” Ujar Elazar.
Karena Elazar terus mendekat, akhirnya Carol menyerangnya dengan cambuk nya, tapi cambuk nya langsung di tangkap oleh Elazar dan di tarik nya sampai Carol melayang mendekat padanya. Lalu dengan cakarnya dia mengangkap leher Carol,
“Gah...le...pas....” Carol meronta.
“Hmm....kamu selemah ini berani menyerang ku ? panggil pahlawan mu kesini....aku ingin membuat perhitungan dengan nya....” Ujar Elazar.
“Le....pas.....” Ujar Carol.
“Lepaskan dia.....” Teriak Inggrid.
Inggrid langsung menusukkan pedang nya ke wajah Elazar dan dengan tangan sebelah nya dia menangkis pedang Inggrid sampai patah, kemudian menangkap lehernya.
“Oi oi....kalian ini lemah dan tidak bisa apa apa......aku bosan main main, matilah kalian....”
Elazar membenturkan kepala Inggrid dan Carol, kemudian menekannya menggunakan tangan. Kepala Inggrid dan Carol langsung hancur berantakan, kemudian kedua tubuh nya jatuh ke lantai arena. Setelah membunuh Inggrid dan Carol, Elazar menoleh dan melihat Georg yang masih berdiri di atas arena.
“Heee...ada dwarf berani menghadang ku....” Ujar Elazar sambil tersenyum.
__ADS_1