
HUJAN mereda, tinggal menyisakan rintik-rintik yang sayu. Namun, suasana tetap masih kelam. Dan cuaca, sangat dingin, merasuk hingga ke tulang sumsum. Pohon dan dedaunan terdiam kaku. Hanya angin malam yang lelah muram, tidak mampu mengajaknya nyiur melambai. Hembusannya terlampau lembut, hampir tanpa desir desau suara.
Seisi alam belantara seakan sedang serentak mengheningkan cipta. Jangkrik pun tidak berani melantunkan suaranya. Hanya sisa-sisa hujan dan rabas yang terdengar halus dan malu-malu menerpa atap pondok yang terbuat dari daun simpur. Suasana semacam ini membangunkan lukisan mistis dalam khayalan manusia. Menggoda tubuh dan jiwa terperangkap dalam kegundahan. Apalagi hawa magis juga begitu kental terasa di sini. Randu, pasti tengah merasakannya. Ini seperti berada di dunia lain, dunia entah di mana. Dunia yang bukan berada di atas bumi. Namun, jika ini memang benar dunia lain, bagaimana dirinya bisa sampai ke tempat ini? Atau ini hanya sekedar tempat di balik hutan rimba belaka, yang dikelilingi bukit berlapis-lapis serta pegunungan, yang memang tak pernah tersentuh manusia, selain keluarga misterius ini, tentunya? Lalu, siapa mereka? Mengapa ada di sini?
Mereka bercocoktanam, memancing, mencari kayu bakar, juga memasak. Semuanya normal, tidak ada yang aneh. Apa semua ini tidak cukup menjelaskan bahwa keluarga ini juga manusia biasa? Bukan siluman, seperti prasangka yang selalu menghantui pikirannya. Ataupun berhubungan dengan cerita tentang bidadari yang kehilangan selendangnya saat sedang mandi di sungai, karena dicuri seorang pemuda sehingga tidak dapat lagi kembali ke khayangan. Pak Linggihkah pemuda itu? Jika itu benar, tak lain Bu Srining adalah bidadari. Lalu, Nayu? Apa Randu sedang beruntung? Bakal mendapatkan keturunan bidadari. Itu hanya ada di dalam film... Randu tersenyum malu.
Sesekali kilat melintas cepat menoreh wajah udara yang hampa. Terasa begitu dekat sekali. Sedekat detak jantung, seolah dapat menyentuh dan menyayat-nyayat muka. Tampaknya hujan susulan akan turun lagi. Tatapan Randu kembali kosong.
Pak Linggih mendekati Randu yang dari tadi sudah lebih dulu duduk di sebuah bangku kayu. Ukurannya lumayan panjang. "Nak...," ucapnya ragu, "...apa tak terpikirkan untuk pulang? Bagaimana orangtuamu...? Pasti mereka memikirkanmu."
Randu tertegun mendengar pertanyaan itu. Pandangannya kemudian menyapu seputaran pondok. Menelusuri tiang saka—terbuat dari pohon enau—pondok yang mulai digerogoti rayap, terus hingga ke atas menggerayangi tekstur atap daun simpur, lalu tatapannya menukik ke bawah mengikuti laju tetesan air hujan, yang berakhir pada genangan air di tanah. Genangan air memecah, Randu bicara, "Aku tidak tahu, Pak... Di sini aku merasa aman...," jawab Randu sekenanya.
"Hm. Sebenarnya kami sama sekali tidak keberatan akan keberadaanmu di sini. Kehadiranmu justru menghangatkan kehidupan kami yang terkucil ini."
"Aku senang sekali jika memang begitu...," timpal Randu. Terdiam sesaat, merenungkan sesuatu. Raut wajahnya seperti sedang menanggung beban yang berat. "Maka, ijinkan aku tinggal lebih lama di sini."
Pak Linggih manggut-manggut, lalu menepuk bahu pemuda di sebelahnya itu, yang jiwanya—Pak Linggih tahu betul—sedang rapuh. "Tidak menjadi masalah bagi kami... Sebaliknya, kami merasa senang...," balas Pak Linggih yakin.
Atap pondok yang bocor menelurkan setetes air, hinggap dan pecah tepat di batang hidung Randu. Namun ia tidak peduli. Ia tidak berusaha menyeka wajahnya, juga tidak beranjak dari tempatnya. Begitu telah jatuh cintanya ia pada belantara terasing ini.
"Bila nanti kau ingin pulang..., berubah pikiran, aku bisa membantumu, nak..." Pak Linggih menarik nafas panjang. "Bapak memikirkan kedua orangtuamu yang pasti khawatir tentang keadaanmu... Dan, kau juga begitu Bapak pikir."
Randu menoleh, kemudian berpaling. "Entahlah...," jawabnya tak bersemangat.
"Kami tidak bisa meninggalkan tempat ini___\," tukas Pak Linggih tiba-tiba dan\, terhenti seketika.
"Mengapa tidak bisa?" kejar Randu yang terlanjur dibuat penasaran.
Kemudian, diluar dugaan, sangat mengejutkan, "Nayu bisa... dan kami ingin ia keluar dari tempat ini."
Oh... Nayu lagi... Nayu lagi..., pikir Randu resah. Setiap kali nama itu terdengar, terucapkan, selalu menimbulkan rasa yang lain. Rasa yang tidak mudah untuk dimengerti. Dan ia yakin, rasa itu bukan hanya sekedar rasa yang disebabkan karena aksi reaksi antara dua insan berlainan jenis. Tapi lebih dari itu. Walaupun ia tidak menafikan dirinya, bahwa ia memang menaruh hati pada Nayu. Sungguh seorang gadis yang sangat cantik jelita lagi ayu memesona. Dan sepertinya pula, bukan seorang gadis biasa. Lebih dari itu, Nayu mendekati sesosok bidadari. Atau jangan-jangan, memang benar-benar bidadari.
Di wajah Nayu menyiratkan kata-kata yang ingin segera keluar bercerita. Kalimat-kalimat yang tertahan oleh karena sesuatu hal. Ratapan yang telah lama terpendam, menunggu waktu yang tepat untuk diungkapkan. Curahan perasaan yang telah lama terbendung yang segera ingin gadis itu tumpahkan, kepada seseorang yang benar-benar mampu menolongnya. Randu bisa merasakannya. Jeritan, tangisan, keluh kesah suara hatinya, dalam ruang hampa yang gelap gulita. Apa itu berarti Nayu tidak merasakan kebahagiaan di sini. Tapi sepertinya, penyebabnya bukan semata karena tempat ini sendiri; terpencil di tengah-tengah hutan, sepi, menyeramkan. Ada hal lain yang membuatnya menderita. Apa karena kedua orangtuanya-atau salah satu dari mereka-suka menyiksa dan memperlakukan Nayu dengan buruk, keji, kejam? Tapi tetap saja meragukan, semuanya tak mungkin. Orangtua mana yang tega sedemikian rupa pada anak kandungnya sendiri.
Ada sesuatu yang membahayakan diri Nayu sewaktu-waktu. Semacam kengerian, rasa takut, gundah gulana yang selalu membayang-bayangi hidupnya. Seolah bom waktu yang siap meledak kapan saja, di mana saja, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Dan yang tengah ia alami, mungkin lebih menakutkan dari bom yang sesungguhnya.
Di sisi lain, Randulah yang membutuhkan pertolongan dari seorang Nayu di tempat ini. Seperti kejadian beberapa saat yang lalu, di saat keberangkatan Randu dan Pak Linggih ke sungai, tatapan Randu mengharapkan sebuah kejujuran dari Nayu. Ia tahu 'Srinayu' itu menyembunyikan sesuatu. Nayu sendirilah yang mengatakan lewat pandangan matanya kepada Randu. Selama ini, ia tidak dan belum pernah mendapatkan kesempatan yang tepat untuk berbicara panjang lebar dengan Nayu. Kata-kata yang keluar dari mulut Nayu untuknya, tak lebih dari kalimat pengantar di saat menyiapkan hidangan, kecuali saat pertama kali Bu Srining memperkenalkan mereka berdua. Itu pun tak banyak memberi arti. Bukan pembicaraan yang lebih serius, lebih dalam, lebih menyentuh.
Nayu__ ucap Randu tak bersuara.
"Kita ke tepi sungai dulu sebentar!" ajak Pak Linggih.
Dipandanginya lekat-lekat oleh Randu, rembulan yang tampak tak lagi sempurna masa purnamanya. Bulan berselaput biru kelam itu terlihat begitu menyeramkan. Bulan yang bisu itu juga membuat suasana semakin terasa sunyi saja. Seakan benda bulat itu merupakan sebuah lorong waktu sumber kejahatan berasal, tempat keluarnya aura iblis.
SAAT hampir mendekati bibir sungai, Randu mendengar suara lonceng, berasal tak jauh dari arah tempat Pak Linggih memancing tadi.
"Bunyi lonceng...?" Randu tercekat, dan menatap tajam langkah Pak Linggih yang langsung berlarian menuju asal bebunyian tersebut. Nyi Roro Kidul...?! Bukannya di lautan ...?! Ini ... ini kan hanya sungai...!
Randu tidak berani mengikuti, sebaliknya ia malah melangkah mundur hingga empat lima langkah.
__ADS_1
Kini tinggallah bayangan Pak Linggih yang terlihat samar-samar dari kejauhan. Kedua tangannya bergerak ke atas. Naik turun, seperti mencakar. Sementara wajahnya menengadah ke atas, menghadap rembulan. Kemudian tubuhnya membungkuk, merangkak, lalu merayap di tepian sungai. Dan tiba-tiba, punggungnya nampak membesar.
"Ss... si.. siluman... serigalaaaaa...! Naayuuuu...!" Randu berteriak sekeras-kerasnya. Mata terbelalak tajam, bibir membiru. Jantung berdebar keras, serasa hampir lepas saja. Cepat dan semakin cepat, membuatnya kepayahan bernafas.
Siluet bayangan serigala tersebut menoleh ke arahnya. Tampaknya sosok itu marah sekali.
Tamat riwayatku! Percuma berlari, buang-buang tenaga. Huh! Akan kuhadapi... lalu..., setelah mengalahkannya, segera kuselamatkan Nayu. Kubawa pergi sejauh-jauhnya dari hutan biadab ini.
Pasti ini yang ingin dikatakan Nayu. Memang bukan salahmu... Aku mengerti, kau tidak memiliki keberanian utnuk mengatakannya. Apalagi bagi gadis lemah seperti dirimu...
Oh... tidak, seharusnya aku segera meninggalkan sungai ini... Nayu pasti sedang berada dalam bahaya. Bu Srining pasti tak jauh berbeda dari suaminya. Nayu sendiri...? Aku yakin sekali ia bukan siluman....
Terlambat, jarak Pak Linggih darinya tinggal beberapa langkah lagi. Dengan satu lompatan besar, makhluk jadi-jadian itu tentu dapat menggapainya. Mencabik-cabik tubuhnya, dan berakhir sebagai santapan lezat.
"Hei...! Randu...! Nak, mau ke mana?!"
Namun, suara itu mengubah segalanya dalam sekejap. Langkah Randu terhenti seketika. Tunggu dulu! Mana ada serigala bisa berbicara... berkata seperti itu...!? Terlebih suaranya terdengar biasa-biasa saja. Bodoh! hentaknya dalam hati.
"Pak Linggih...!?" tanya Randu untuk memastikan.
"Ada apa, nak...!? Serigala!?"
"Mm... ma maaf, Pak Linggih! Aku salah lihat...," Randu tergagap-gagap menjawabnya.
"Memangnya kau lihat apa tadi? Di mana...!?" suara Pak Linggih meninggi. Orangtua itu ikut menjadi panik dibuatnya, disertai rasa kasihan terhadap Randu. Sebenarnya Pak Linggih ingin memeluknya. Namun, kenyataannya Randu bukan lagi anak kecil.
Randu tertegun kosong. Membisu sesaat. Kalimatnya menemui kebuntuan. Ia hanya terpaku menatap Pak Linggih yang juga tengah memandanginya dengan keheranan. Randu merasa sangat menyesal, merasa bersalah, atas kebodohannya itu.
Baru beberapa langkah berjalan, tanpa sebab yang jelas Pak Linggih tiba-tiba tertawa seperti orang sakit jiwa. "Ha ha ha... haha..." Ia menarik sesuatu dari dalam keranjang di punggungnya. Seekor ikan bergelantungan sambil menggelepar-gelepar ringan, seolah meronta minta dilepaskan. Sungutnya masih menyangkut pada mata kail yang masih terhubung dengan seutas nilon putih bening, dan di ujung joran tampak sepasang lonceng kecil keemasan. Bentuk kepalanya agak bulat, ekornya kecil kemerahan. Dan sisiknya berwarna keabu-abuan. Mungkin ikan ini yang dimaksudkan Pak Linggih tadi
"Ikan yang besar sekali, Pak."
"Sangat besar... Ha ha ha..." Ikan itu lalu dimasukkan kembali ke dalam keranjang panggul. "Ayo kita percepat langkah kita. Nayu pasti senang, dan sedang menunggu-nunggu."
Nama itu kembali membuatnya terasa damai. Sepertinya cinta mulai bersemi.
"Ikannya harus segera mati sebelum sampai di rumah. Bila tidak..., Nayu tak tega memasaknya, apalagi memakannya..." Pak Linggih memperhatikan mata Randu yang tampak memantulkan cahaya.
Tentu saja, ikan itu pasti mati sebelum tiba di rumah..., timpal Randu sinis dalam hati.
"Nayu gadis yang lembut... sifatnya sangatlah penyayang," lanjut Pak Linggih, "Bukankah kau juga ingin cepat-cepat bersua Nayu...?"
Muka Randu memerah. Tapi untung saja keadaanya temaram.
"Hayo... Percepat langkah kita... Daripada berlama-lama di sini, nanti kau makin mengkhawatirkan Nayu... takut di makan serigala."
Randu semakin nanar dan salah tingkah. Ia tidak mampu melindungi dirinya. Malunya bukan kepalang. Bagaikan tengah ditelanjangi di depan orang ramai.
"Hm... di rumah aman. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Tidak ada serigala atau apapun yang membahayakan."
Randu tak tahan terus diserang. "Eee... tadi.. begini...," ia berusaha membela diri, tapi tak kuasa merangkai kalimat.
__ADS_1
"Ha ha...," Pak Linggih semakin senang mempermainkan Randu. "Sudah enam hari kau di rumahku, tapi belum pernah bapak lihat kau berbicara panjang lebar dengan Nayu. Apa kau seorang yang pemalu? Ehm... Bapakkan tidak pernah melarangmu atau Nayu untuk saling berbicara. Dasar anak muda kemarin sore."
Bodoh...! Bodoh!?! Enak saja! Aku hampir mati ketakutan tadi, Randu protes dalam hati. Tapi aku memang suka Nayu. Anakmu sangat sempurna di mataku. Bagi pemuda lain pun aku kira sama saja penilaian mereka. Pantas saja kau kurung dia di tengah belantara. Mahal sekali anakmu kau hargai, Pak Tua... heee... he he... Ach Nayu lagi...
NAYU masih berduduk di atas tangga. Pandangannya terlempar jauh, berusaha keras menembus kegelapan malam, menyusuri semak belukar dan pepohonan. Sinar rembulan menyibak wajah resahnya. Matanya berbinar, membiaskan kecemasan yang amat sangat.
Bu Srining datang kembali menemani. Setidaknya, ia berharap dapat membuat kegelisahan anaknya sedikit mereda. "Nayu...," namun sapanya terhenti. Keraguan mencegah apa yang hendak ia utarakan. Ada sesuatu yang tabu untuk dibicarakan. Yang akan membangunkan kembali kenangan mencekam. Menjaga perasaan saat ini lebih penting.
"Sebentar lagi mereka pasti pulang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan...," lanjut Bu Srining mengubah arah pembicaraan.
Nayu sedikit tenang mendengar pernyataan ibunya, namun pandangannya tetap tak berpaling, sebaliknya bertambah jauh menelusuk ke dalam pelukan hutan.
Tatapannya yang penuh harap membuahkan hasil, hutan seolah mengabulkan do'a-nya. Samar-samar terlihat bayangan dua sosok manusia di kegelapan yang perlahan mendekat.
Nayu berdiri, dan membalikkan badannya. "Karena memang belum saatnya...," ujarnya sinis, lalu masuk ke dalam rumah. Dan Bu Srining hanya terdiam mendengarnya.
"Dapat ikannya?" tanya Bu Srining begitu suaminya dan Randu sudah berada di depan tangga.
"Satu," Randu yang buru-buru menjawab.
Bu Srining mengernyitkan dahinya. Seakan bingung atas usaha dua orang itu seharian ini. Dari siang hingga malam, hanya dapat satu, pikirnya tak mengerti.
"Tapi besar. Lebih dari cukup untuk kita berempat," hibur Pak Linggih sembari menurunkan keranjang dari punggungnya. Tampak seekor ikan besar terkapar. Panjang dan besarnya hampir sebetis orang dewasa .
"Tentu, lebih dari cukup."
Bu Srining membawa ikan itu ke dalam rumah. Sementara Pak Linggih langsung menuju ke belakang, mengitari rumahnya, hingga akhirnya menghilang dalam kegelapan.
Randu segera menaiki anak tangga. Saat menapaki ruang depan, langkahnya terhenti. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Matanya tertuju pada sebuah kursi goyang kecil. Lantas, ia berjalan perlahan untuk menghampiri benda itu.
Kursi goyang itu terlalu kecil, bahkan untuk seorang Nayu sekalipun. Lalu ia duduk bersila di samping kursi goyang tersebut. Kini benda itu nampak lebih tinggi dari tubuhnya. Randu terus mengamati; tersirat aura ganjil, aroma mistis, jeritan masa lampau, saksi bisu. Lantas, ia mulai bertanya-tanya. Siapa yang menggunakannya dan untuk apa? Tidak seorang anak kecil pun di tempat ini? Kenapa masih disimpan—kondisinya sudah sangat memprihatinkan—sekalipun mungkin dulu merupakan benda kesayangan Nayu di masa kecil?
Randu menyandarkan tubuhnya pada sandaran lengan kursi. Matanya menerawang, memikirkan semua keganjilan di tempat ini. Ada sesuatu yang lain, yang cepat atau lambat pasti akan segera menyeruak keluar, menampakkan wujudnya. Namun ia tidak tahu persis. Entah apa itu.
Bu Srining kembali ke teras, dengan membawa secangkir teh hangat manis yang masih menguapkan asap, dan sepiring pisang goreng. "Makanlah ini dulu, Randu."
Randu mencuri tatap Bu Srining dalam-dalam. Kenapa tidak Nayu saja yang membawakannya...? Keluhnya kecewa.
\=====
Glossary
rabas : air yang jatuh dari daun sesudah hujan.
saka : tiang rumah; tiang seri, tiang ibu rumah; sesuatu yg menjadi penegak.
__ADS_1