Srinayu Di Bukit Randu

Srinayu Di Bukit Randu
Bab 2 | Selamat Datang


__ADS_3

SUARA hiruk pikuk iring-iringan kendaraan roda dua semakin dalam menelusuk ke dalam hutan, hingga akhirnya tiba di penghabisan jalan. Tak ada lagi perlaluan yang dapat dilewati, rombongan segera menghentikan laju kendaraan.


"Selamat datang semuanya! Kita akan bersenang-senang! Ini tempat terbaik bagi petualang, jiwa kalian akan seliar hutan ini!" sergah seorang pemuda berambut gondrong bersemangatkan empat lima, seolah-olah hutan ini milik nenek moyangnya. Dia Omix, Si Hercules. Ia yang pertama kali bergegas melompat turun, dari motor yang belum sepenuhnya berhenti, dan langsung berlarian menghadap hutan. Dasar 'putranya Zeus', begitulah tingkahnya. Merasa jagoan. Tubuhnya kekar berotot, bahu lebar berisi, urat-urat tangan Menonjol jelas bagai kawat jemuran, dan tinggi badannya sangat mengerikan. Bicara soal tenaga, tak perlu diragukan, ia pasti mampu mengangkat sepeda motor bebek yang tadi ditumpanginya.


Rombongan ini memanfaatkan jasa ojek dadakan penduduk setempat. Kendaraan roda empat tak sanggup menghadapi medan seperti yang baru saja dilalui dengan kendaraan roda dua tadi. Tak satu pun mobil sewaan yang bersedia mengantarkan mereka hingga kemari. Jalanan sempit, berlubang, tak rata, berupa tanah kuning berdebu. Dapat dibayangkan betapa tragisnya melewati jalan itu tatkala hujan turun.


Tak jauh di sebelah selatan sana, terlihat dua sepeda tengah diparkir tanpa pengawasan. Ternyata ada orang lain juga selain mereka.


Hanya segelintir manusia yang masih berurusan dengan daerah ini, penduduk kampung terdekat yang mengunjungi perkebunan gaharu dan kapas. Itu juga jarang sekali, hanya pada saat panen dan waktu tertentu mereka terpaksa menjangkau keterpencilan ini. Sisanya perkebunan dibiarkan seolah tak terurus.


Dira melirik tajam ke arah Omix. "Tapi tidak lebih liar dari dirimu! Terutama mata jalangmu!"


Dan Omix hanya bisa mengernyitkan dahinya menerima umpatan manis itu.


Dari tujuh orang, Dira satu-satunya srikandi dalam rombongan ini. Rambut sebahunya yang lurus dan hitam mengkilat diikat ekor kuda. Ada poni di bagian depannya, seolah tirai sutra yang sengaja melindungi. Liukan tubuhnya yang padat dibalut baju kaos lengan pendek—yangmemperlihatkan belahan ketiak—berwarna coklat muda berbahan spandek, yang bersifat mengikuti lekuk tubuh. Ia memakai celana jeans pensil ketat yang dipotong selutut, di pinggirannya terdapat rumbaian yang tercipta secara tidak sengaja. Cukup memamerkan keindahan betis. Belum lagi bahunya yang memikat, tidak akan terlewatkan tatapan mata. Tingginya semampai, setidaknya begitulah istilah orang-orang menggambarkan tentang tinggi badan ideal bagi seorang gadis nusantara.


Ada sosok lainnya yang diam-diam menanggapi perbincangan Dira dan Omix. "Bersenang dengan apa? Tidak ada gadis cantik di sini. Ada, tapi..." Tidak ada yang mendengarnya, karena itu hanya sebuah gumaman. Bahkan sebenarnya lebih mirip rintihan suara hati. Kemudian Randu menjauh dari kerumunan.


Penampilan Randu terkadang sangat tidak menarik, pesonanya ia sembunyikan jauh di balik kesederhanaannya. Tubuhnya tidak seathletis anak-anak lainnya, dan tinggi badannya juga standar. Kulitnya kuning langsat sedikit gelap. Gelombang samar pada rambutnya memberikan kemashyuran pada dirinya. Ditambah, sungguh hidungnya yang terukir dengan teliti, mancung tajam dan sangat serasi dengan wajahnya yang oval sedikit persegi. Namun menatap dirinya, hampir selalu mengundang kedukaan dan kepedihan, sekaligus kebencian. Orang-orang beranggapan ia patut dikasihani sekaligus dihina. Tapi tak ada yang berani meragukan, kenyataannya ia mengagumkan. Ia berhak atas hampir semua puiian. Sesungguhnya ia telah terjebak dalam kesempurnaan yang tidak sempurna.


Salah satu tukang ojek berpamitan mewakili yang lainnya, "Baiklah anak-anak, sampai di sini bantuan kami. Jaga diri kalian baik-baik. Belum ada yang pernah bermain melewati batas..." pandangannya sejenak dialihkan mengarah ke salah satu titik kawasan hutan bebukitan nun jauh di sana, "...itu."


"Tenang saja, Bang. Sebagian dari kami sudah berpengalaman menaklukkan alam liar. Kami ini anak pecinta alam," sementara yang lainnya, yang kebetulan mendengarkan, merasa gentar, seorang pemuda berkulit gelap menanggapi dingin ucapan tukang ojek tadi.


Orang ini memiliki tipikal pecinta alam, dengan tubuh yang tidak terlalu berotot tapi nampak kokoh. Bahunya lebar berlekuk tajam, terkesan merentang keras karena tubuhnya yang juga tidak gempal. Pembawaannya yang serius, membuatnya tampak lebih dewasa dari usianya yang baru 23 tahun. Tidak salah lagi, ia Janur. Perawakan seperti itu memang melekat erat pada dirinya. Secara naluriah dipercaya menjadi pemimpin dalam petualangan ini. "O ya, nanti jangan lupa jemput kami..."


"Aku yang akan memecahkan keperwanan hutan ini. Juga...," ujar Safril, seorang pemuda tampan dengan yakin. Entah untuk menyembunyikan kekhawatiran atau ingin menampakkan kesombongannya.


Melihat penampilannya ia pemuda tajir, dan memiliki karakter ataupun persyaratan seorang playboy. Ia berwajah tampan khas anak muda perkotaan. Tubuhnya atheltis, proporsional, dan sempurna. Anugerah yang ia miliki akan membuatnya dapat dengan mudah menaklukkan para gadis.


Rupawan jenisnya, lebih pantas berada di tengah hamparan gedung-gedung bertingkat, dan semakin cemerlang di bawah pantulan kerlip-kerlip lampu diskotik. Berbeda dengan paras yang dimiliki Randu, yang serasi sekali dengan semarak warna-warni hutan belantara.


Lagi-lagi Dira menanggapi sinis semua perkataan, "Juga apa? Keperawananku!?" Matanya terus melotot sambil pergi menjauh.


Cukup pantas kekesalannya, bagi seorang gadis semata wayang di tengah alam yang belum jelas keadaaannya ini. Ia menyadari kelebihan dirinya. Fisik yang sempurna, menjadikannya incaran banyak pemuda. Termasuk Safril. Ia hampir selalu membawa tubuhnya itu dengan kecerian. Celoteh bibir tipisnya adalah suatu hal yang menggemaskan dan ditunggu-tunggu. Laksana bulan sabit yang berusaha menggoda seisi malam. Ia ulat nangka yang tak senang diam. Ia si periang centil yang dapat membangunkan seisi bumi yang tengah tertidur lelap. Langkah kancilnya akan melakukan itu. Berjingkrak-jingkrak riang, mengundang selera.


"Sebaiknya di tengah hutan nanti, kita tetap menjaga kekompakan," tiba-tiba seorang idealman berbicara. Ia bermaksud mengingatkan kepada semuanya.


Bijak. Bijak sekali. Sebijak perawakan dan parasnya, yang diam-diam tapi menghanyutkan. Ketampanannya memang tidak wah, lebih terkesan keabangan. Jenis pria yang membuat wanita merasa nyaman tentram, terlebih saat berada dalam pelukannya. Kulitnya agak sedikit gelap, mendekati warna kayu Mahoni. Dan ngomong-ngomong, ia sexy. Ia memang pria idaman.


Tapi ia mengidap sesuatu yang mencoreng keindahan fisiknya. Hatinya busuk. Sayang, sayang seribu kali sayang, orang-orang akan berpikiran begitu bila mengingat kelebihan dan kekurangannya.


Tidak lama kemudian, tiba-tiba dua orang asing melintas. Dua orang laki-laki yang tengah memanggul sekarung besar kapas di pundak masing-masing. Sebagian kecil isinya yang menyembul keluar dan berceceran di tanah menjelaskan hal itu; serat halus berwarna keputihan. Dan kebetulan, Dira yang berpapasan dengan mereka.


"Bawa apa, Pak?" tanya Dira ramah. Tapi dua orang itu berlalu begitu saja, tak memedulikan pertanyaan Dira, yang kini menjadi sedikit kesal karena diacuhkan. Padahal, setahunya, pria mana yang tak ingin mendapat perhatian dari dirinya.


"Sombong sekali," umpat Dira.


"Hush! Hati-hati bicara," Janur yang kebetulan mendengarkan buru-buru memperingatkan. "Bukannya begitu Dira, mereka sama sekali tidak mengerti ucapanmu. Bila kau ingin berbicara dengan mereka, gunakan bahasa lokal, bahasa daerahnya."


"Huh..., tukang ojek tadi mengerti...?" bela Dira.


"Hm... Aku pikir, hanya abang tukang ojek yang itu saja, yang lainnya belum tentu mengerti." Dengan sabar Janur mencoba menjelaskan. "Dan jangan kau ulangi lagi perkataan semacam itu tadi. Perkataan yang bisa membuat orang lain tersinggung. Meskipun mereka sudah jauh melangkah pergi."


"Memangnya kenapa...?" Ucapan Dira terdengar ketus.


"Begini..., kau tahu sendiri, kita sedang berada di pedalaman. Hal-hal yang berbau mistis atau magic, tentunya juga masih kental di sini." Janur mengamati wajah Dira baik-baik. "Kau pahamkan maksudku, kan...?"


Dira terdiam sesaat. "Mm... Ya, ya, aku mengerti."

__ADS_1


Ternyata yang lainnya diam-diam turut mendengarkan perbincangan Dira dan janur. Mereka saling lempar pandang. Ada yang memantulkan kecemasan, keheranan, keraguan, dan ada juga yang begitu dingin menanggapinya. Tapi yang pasti, sedikit banyak hati kecil mereka telah terpengaruhi.


"Kudengar-dengar, mereka bisa melumpuhkan seseorang hanya dengan melemparkan sehelai daun sirih yang bertuliskan nama korban ke tanah. Sama sekali tidak menyentuh sasarannya." Setelah berujar demikian, Omix melangkah pergi.


Sementara, seseorang yang bernama Cawang tengah sibuk memeriksa semua perlengkapan. Mengeluarkan barang-barang yang diperlukan. Tampaknya ia tidak tertarik dengan 'omong kosong', ia lebih menyukai melakukan hal lain yang dianggapnya lebih bermanfaat, tanpa banyak bicara.


Cawang. Tubuhnya pendek, bulat dan gempal. Wajahnya persegi empat, dengan bola mata kecil tapi bukan sipit. Keseluruhan, penampilannya mirip seorang kepala tentara Jepang yang kalah perang, yang kemudian beralih profesi menjadi seorang tauke toko kelontongan.


Ia mengetes sebuah senter. Mengguncangnya pelan, dan mengangguk puas. Kemudian sebilah parang sepanjang lengan orang dewasa ia acungkan. Matanya memicing, seakan untuk memastikan bentuknya lurus. Telapak tangannya ia rentangkan, lalu ia gesekkan dengan sisi mata parang dalam arah bersilangan. Tajam, ujarnya dalam hati. Mulutnya terlihat melengkung, seperti sedang tersenyum. Ia memang benar-benar sedang terbuai dalam kesibukannya. Lainnya, satu per satu; kompas, botol minum, hingga tali ia letakkan disekujur tubuhnya.


Sebuah langkah mendekat. "He...! Kau seperti tentara yang akan pergi berperang. Mana granatnya, apa kau lupa membawanya?" Ternyata Omix, bak setan pengganggu yang tanpa diundang.


Cawang sedikit melirik, dan pandangan matanya berhasil menangkap bagian lutut ke bawah milik orang yang sedang mendekatinya. "Sengaja aku lupakan. Aku takut membuat bocah kecil ingusan ketakutan. Jangankan granat, ledakan petasan saja bisa membuatnya menangis."


"Hekk...!" Omix tersentak mendengarnya.


Cawang yang tidak menyangka sama sekali, tak dapat menghindar ketika tiba-tiba Omix merangkul lehernya dari belakang.


"Dezik! Dezik!" Duk! Duk! Plak!


Tak lama kemudian, "Haaa...! Ha ha ha! Huaaaa...!" Cawang tertawa keras, sementara lehernya masih tercekik.


"Sialan!" umpat Omix. "Ternyata kau masih mengingatnya!"


Masih dengan sisa tawanya, Cawang membalas, "Hah...! Mana mungkin aku bisa lupa begitu saja, sobat."


Keduanya kini duduk berhadap-hadapan. Namun senyum licik masih belum menghilang juga dari bibir Cawang. Sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, Omix ikut tertawa kecil menahan malunya.


Kenangan masa kecil yang indah. Persahabatan yang amat kental, terjalin hingga mereka masing-masing menjelma menjadi pemuda dewasa. Banyak hal dilalui. Mencuri, berkelahi, hingga bersama-sama berburu wanita.


Teriakan kecil terdengar, Janur meminta semuanya bersiap-siap. Lantas Omix segera berdiri. "Aku juga ingin mengeluarkan peralatan yang diperlukan."


"Kau tidak akan sanggup kehilanganku!" balas Cawang berteriak keras.


 


PERLAHAN, tanpa terasa rombongan telah memasuki ke kedalaman hutan. Menembus barisan pepohonan, dan semak belukar yang tumbuh liar seakan tak mau ketinggalan menambah ramai suasana. Mereka berambisi mencapai bagian terdalam, rimba yang belum pernah terjamah oleh manusia. Orang-orang dengan jiwa haus akan tantangan. Haus akan sebuah pengakuan. Sebuah misteri hasrat jiwa. Hasrat yang terkadang tak membutuhkan alasan, hanya sekedar menggapai kepuasan.


Seperempat awal perjalanan mengitari sisi pebukitan, keadaan pada akhirnya nanti mereka juga terpaksa harus menaklukkan benteng-benteng alami berupa punggung-punggung bebukitan yang naik-turun berlapis-lapis. Segila itulah medan yang harus ditempuh.


Jalanan berilalang, semak belukar, dan tunas-tunas kecil yang baru tumbuh dipaksa menjadi jalan setapak.


Berbagai jenis pepohonan tumbuh subur, dari yang setinggi mata kaki hingga yang menjulang tinggi dengan daun-daunnya yang lebat, beraneka bentuk dan rupa. Terutama jenis-jenis tumbuhan berdaun lebar dari family Dipterocarpaceae seperti Meranti (Shorea spp), Kapur (Dryobalanops spp), dan Kruing (Dipterocapus spp). Keragaman flora berubah secara bertahap mengikuti tingkat ketingggian dan geografi pebukitan. Bunga-bunga indah satu demi satu juga mulai turut menghiasi sepanjang perjalanan. Ada berbagai macam varian anggrek alam, pakis, hingga flora langka Bunga Fatma Raksasa (Rafflesia tuan-mudae). Menyajikan lukisan karya warna, anggun memesona, wangi semerbak sesuai jenisnya masing-masing. Merupakan kesemrawutan yang tumpang tindih, seolah hendak saling mengalahkan, namun tetap damai dan mengesankan keserasian, tanpa ada yang tidak kebagian naungan. Tidak jauh di bawah sana, terbentuk rawa-rawa kecil menggenang liar. Airnya berwarna bening jelly jeruk. Ketenangannya sesekali pecah dengan lembut oleh hempasan tubuh kecil serangga air. Membentuk riak lingkaran yang makin lama makin membesar, dan pada akhirnya menghilang ke tepian. Sebagai salah satu tim orkestra, koloni jangkrik memekik lirih lagi mendayu-dayu demi meratapi genangan rawa. 'Menyambut ramah' kedatangan para tamu asing, seakan berharap dan memohon jangan ambil kehidupan milik kami. Lain halnya dengan para vokalis berparuh; burung-burung lebih memilih menampilkan simfoni merdu pada tempo dan oktaf yang apik nan serasi.


Sayang, terlalu gelap sekali di bawah sana, mengingat matahari tengah berada di puncak kemegahannya. Juga, meskipun tidak ada bekas hujan dan tanda akan turun hujan, namun hawa dingin semakin terasa, apalagi jika telah disusupi tarian angin penghuni pebukitan yang hampir tak pernah jenuh menemani perjalanan panjang nan melelahkan ini.


Batang air dengan ukuran rata-rata selebar bahu mengalir lembut menyusuri dataran yang menurun. Sumber mata airnya berada tepat di balik gundukan tanah menyerupai bukit kecil di sebelah barat. Serupa sendang kecil yang entah tercipta secara alami atau memang hasil karya manusia. Kebetulan rombongan saat ini sedang melewati medan yang agak tandus, yang hanya sedikit dijamuri rerumputan, permukaan bumi yang lapang cukup mudah ditemukan di bagian ini.


Dira mulai merasa kelelahan. Meskipun bukan cuaca panas yang sedang mereka hadapi. Sesekali terlihat ia menyeka wajahnya yang ditumbuhi butiran-butiran bening, menggunakan sapu tangan kecil berwarna putih. Benda itu hampir selalu dalam genggamannya, membuat sisi kewanitaannya semakin terpancar. Mengesankan kelembutan yang memesona. Tapi jauh di dalam sana, auranya yang berhampuran tak terkendali adalah kekuatan yang dapat melumpuhkan keangkuhan sosok pejantan, bertekuk lutut tak berdaya. Lututnya terasa lemas, perjalanan ini telah menguras staminanya. Rasa hausnya juga semakin menjadi saat melihat beningnya air yang mengalir di parit. Di saat yang tepat, kebetulan ia menemukan tempat yang nyaman untuk beristirahat. Lantas ia sengaja berdiam di situ untuk meminta pengertian dari teman-temannya agar sejenak menghentikan perjalanan.


"Berhenti dulu...!" pinta Dira setelah sekian detik menunggu tidak ada yang berempati akan gelagatnya. Sebagian menoleh ke arah Dira, dan yang lainnya segera memperlambat laju gerak langkah.


"Ini baru awal perjalanan anak manja," cetus Safril sambil berlalu melewati Dira.


"Apa...!? Baru awal? Kau saja yang terus melanjutkan perjalanan. Kau yang mengajakku terperangkap di...," Dira tidak melanjutkan kata-katanya, ia langsung mendudukkan dirinya di tanah. Selembar koran dijadikannya sebagai alas duduk. "Aku mau istirahat dulu. Yang mau melanjutkan..., silahkan." Tepatnya, ini sekarang merupakan sebuah ancaman lewat hak prerogatif seorang perempuan, yang manja, manis, dan menggoda lagi keras kepala.


Janur mengambil inisiatif—satu kekuatan lainnya yang memegang hak veto—demi mencegah pertengkaran, "Kita istirahat dulu. Ada seorang hawa di sini, aku menghargainya, ia bersedia bergabung bersama kita."


Safril sekilas melirik setengah sinis pada Janur. Tapi tidak berani lebih dari itu.

__ADS_1


Dan Randu yang berada paling belakang, terus melangkah maju, menghampiri Dira. Mengejutkan performanya kali ini mengingat ia seorang yang pasif pemalu; sebotol air mineral segera diberikannya pada Dira.


"Thank's, friend," balas Dira, diselingi senyum manis.


Dira tampak kelelahan. Melihatnya saat ini akan mengundang rasa mengasihi dan menyayangi. Gadis itu kemudian meminta Randu duduk di sampingnya. Permintaan yang indah, yang sanggup menggetarkan sanubari ksatria sekalipun. Apalagi bagi seorang Ksatria Baja Nestapa semacam Randu. Berguncang dan akan semakin tak beraturan, menguras habis warna darah di bibir, mengobrak-abrik kerasnya baju zirah.


Kekesalan Safril tidak dapat disembunyikan saat melihat kedekatan Randu dan Dira. Jelas sekali matanya memancarkan kebencian. Akan ada sebuah pembalasan, pikirnya. Semestinya seorang Randu tidak patut dikhawatirkan. Lalu Safril melangkah menjauh mencari tempat terbaik untuk dirinya.


Adrian mengikuti Safril. Mendekat, dan sedikit menghalangi pergerakan Safril. Ucapan yang mendesis halus terdengar, seuntai bisikan setan. "Kau punya pesaing sekarang." Itulah dia si idealman.


"Si pecundang itu...!?" timpal Safril.


Sambil tersenyum sinis Adrian semakin memanasi Safril. "Dia memang bukan tandinganmu dan juga tidak akan mampu mendapatkan Dira__"


"Lalu apa yang kucemaskan?"


Adrian tertawa kecil dengan nada mengejek. "Setidaknya dia akan memperlambat langkahmu. Menunggu bukan pekerjaan yang menyenangkan, bukan... dan tentunya juga ia menganggapmu remeh. Bayangkan! Sudah tau saingannya adalah dirimu, masih saja nekat mendekati Dira."


Safril mulai termakan perkataan Adrian, matanya kini menatap Adrian serius.


"Bisa saja ia melakukan hal rendahan. Ya..., dia tidak akan segan-segan menjelek-jelekkan namamu. Dan ada satu pertanyaan kecil yang perlu kau curigai... Kenapa ia bergabung dengan kita?" lanjut Adrian.


"Maksudmu..., kau ingin mengatakan bahwa ia yang meyakinkan Dira untuk mengajak dirinya? Sebagai pelindung Dira__"


"Berlindung darimu sobat."


"Hah... kalau memang begitu... sial! Dia anggap aku apa? Setan?!" Mata Safril berkaca-kaca, tatapannya tajam dan dalam.


Adrian mengangguk pelan, tapi meyakinkan. Ia merasa puas. Benar-benar pribadi yang sakit. Inilah moral terendah dalam sejarah umat manusia. Sayang, sayang seribu kali sayang.


Randu melirik kecil ke arah Dira, dan sepertinya gadis itu menyadari ada yang tengah memperhatikannya. Lantas, secara spontan Randu melontarkan kalimat basa-basi. "Bagaimana kalau kita semua tidak bisa keluar dari hutan ini?" Ia memulai suatu percakapan bodoh yang akan melelahkan.


Tersesat? Dira terkejut mendengar apa yang diucapkan Randu. Ia tahu Randu, pemuda yang dianggapnya memiliki kemampuan seorang cenayang.


"Terlebih aku," lanjut Randu, sementara Dira semakin menatap dalam. "Ya...! Aku__"


"Soal tersesat, aku harap itu hanya sekedar oborolan," Dira langsung memotong.


Randu mengangguk, memaksakan dirinya menyetujui apa yang dikatakan Dira. Mereka pun terdiam.


Kemudian, "Tapi bagaimana jika itu benar-benar terjadi?" Diam-diam topik tersesat masih mengganjal di dalam hati Dira. Ditatapnya Randu tak berkedip.


Randu tampak kebingungan. "Sudahlah, Dira. Takkan terjadi apapun pada kita."


Tahu-tahu Janur sudah mendekat, dan langsung mengambil posisi di samping Dira. Dengan demikian, Dira kini berada di tengah-tengah, di antara Randu dan Janur.


\=====


Glossary


idealman : pria idaman (terjemahan inggris), manusia ideal, manusia idaman


sendang : mata air, kolam air yg airnya membual dari mata air.


zirah : baju perang, baju ksatria


 


 

__ADS_1


__ADS_2