Srinayu Di Bukit Randu

Srinayu Di Bukit Randu
Bab 8 | Memancing


__ADS_3

SEPERTI tampak olehnya tak ada lagi yang perlu diragukan. Keadaannya tak jauh berbeda seperti suasana kehidupan manusia kebanyakan. Hanya ada rasa ganjil yang sedikit dirasakan semenjak kedatangannya yang tiba-tiba. Di sini terlalu damai. Ya! Terlalu damai! Mungkin karena jauh dari orang-orang yang mengenal dirinya.


"Tapi perasaan damai ini..., selalu disertai rasa aneh...," Randu mencoba menjelaskan rasa apa itu pada dirinya sendiri. Suatu rasa yang sulit dimengerti. "He... rasa menyeramkan. Kedamaian nuansa pemakaman..."


"Randu!"


Randu terkejut. Panggilan itu membuyarkan pikiran gilanya. Mukanya langsung pucat. Ia merasa seakan pikirannya dapat dibaca oleh orang itu, pria paruh baya yang baru dikenalnya belum genap seminggu. Bicaranya kikuk, "Oh... a ada apa..., Pak?"


Dan Randu semakin gugup, lantaran Pak Linggih tidak langsung menjawab pertanyaan. Hanya menatap tanpa ekspresi, membuatnya semakin salah tingkah.


"Melihatku, kau seperti melihat siluman, nak." Tentu saja.


Kata-kata itu membuat Randu terbelalak. Wajahnya memelas, seolah memohon agar ia tidak dimakan hidup-hidup. Pak Linggih makhluk jadi-jadian. Seorang manusia harimau atau sejenis makhluk menyeramkan, itu pikirnya.


"Ee... anu..., Pak. A aku__"


"Sudahlah, mari ikut Bapak!" potong Pak Linggih, tidak ingin membuat Randu semakin ketakutan.


"Ke mana, Pak Linggih?" pertanyaan yang sebenarnya tidak ingin Randu tanyakan.


"Ikut saja!" Pak Linggih membalikkan badan dan langsung meninggalkan Randu. "Temani Bapak!"


Randu bergegas berdiri dan segera mengikuti, tanpa banyak bicara. Itu lebih baik, pikirnya.


Belum sempat ia mengikuti sampai ke belakang rumah, Pak Linggih sudah berbalik lagi. Tengah menuju ke arahnya sambil membawa seperangkat alat memancing.


"Kita ke arah sana, nak," tunjuk Pak Linggih ke arah bebukitan di sebelah timur.


"Memancing Pak?" tanya Randu penasaran.


Tiba-tiba Nayu menyembul keluar dari balik pintu. Ia tampak putih bersih sekali siang ini. Bahkan, tampak sedikit pucat. Dan lehernya yang jenjang itu, kelihatan jelas sekali, karena rambutnya yang panjang disimpulkan setengah terurai ke belakang, membentuk lilitan cangkang siput. Bagai memiliki radar canggih yang tertanam di dalam tubuhnya, Randu menyadari kehadiran diam-diam sosok memesona itu. Mereka pun saling beradu pandang.


Tatapanmu? Ah...! Mengapa tatapanmu begitu? Kau menatapku malang, tak ubahnya seperti suasana saat perpisahan. Nayu apa yang hendak kau katakan? Cepat katakan! Jika kau ingin menyelamatkanku, ini saatnya. Apa ayahmu ingin memakanku? Aku tahu arti tatapanmu itu, Nayu. Aku yakin, ada yang tidak beres dengan nasibku kali ini. Cepat! Aku mohon...! Mohon Randu dalam hati sembari memperlambat langkahnya.


Di mata Randu, Nayu-lah satu-satunya orang yang tidak berbahaya di tempat ini. Sekalipun Nayu memang seorang manusia siluman, pasti Nayu bukan siluman jahat, yang haus darah segar atau daging manusia. Begitulah gambaran yang ia tangkap mengenai Nayu. Pemikirannya itu, didapatnya dari film-film yang pernah ia tonton. Dari sekian orang-orang jahat, penjajah, anggota perampok, mafia, selalu ada peran yang baik hati. Tak terkecuali pada gerombolan monster. Setidaknya, pasti ada satu monster yang berhati lembut. Biasanya, diperankan oleh sosok yang mengundang iba atau lemah gemulai seperti Nayu.


Randu terus berjalan mengikuti Pak Linggih dari belakang, tapi pandangannya, masih tetap tertuju ke arah Nayu, yang juga tengah menatapnya syahdu. Ia baru mau berpaling, ketika lehernya tak mampu lagi untuk berputar lebih dari sembilan puluh derajat.


Oh! Kau terlambat jika memang ada yang ingin kau katakan tadi... Tapi, tidak Nayu, cepat lari kemari, beritahu aku. Jika engkau juga merasa ketakutan di tempat ini, aku akan membawamu pergi. Kabur bersamaku. Lalu aku menikahimu. Ha... pikiran macam apa ini. Ibu bapaknya siluman, itu berarti Nayu sendiri juga siluman. Mudah-mudahan kau bukan anak kandung mereka berdua; Pak Linggih dan Bu Srining.


 


RANDU dan Pak Linggih sudah berjalan cukup jauh menelusuk ke kedalaman rimba belantara. Sementara, hingga saat ini Randu sendiri belum tahu dengan pasti ke mana berakhirnya perjalanan mereka nanti. Sambil berjalan ia mengamati keadaan hutan yang semrawut. Ada bagian yang gelap, remang-remang, ada juga sisi yang lumayan terang oleh pantulan cahaya dari dedaunan. Sewaktu-waktu melintas di hadapan mereka hewan melata yang tampak berlari ketakutan, terburu-buru, grasak-grusuk. Ada kadal hijau, ular derik, serta galing. Dan yang satu ini jalannya lambat; bekicot.


"Kenapa kau diam saja?" Pak Linggih memulai percakapan.


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam membisu. Tapi, diam-diam orangtua itu terus memperhatikan Randu yang acapkali tertangkap basah terlelap dalam lamunan. Kaki dan pikirannya melangkah ke arah yang berbeda.


"Randu...!"


Hentakan itu membangunkan Randu dari karangan indah dalam kepalanya. "Ee... aku menikmati perjalanan ini," buru-buru Randu menjawab. Ceria tapi asal. Ia sedang mencoba menutupi keadaan dalam dirinya. Yang cemas, takut, dan gelisah. Tatapan ganjil Nayu saat kepergiannya tadi masih terpikirkan olehnya.


"Ha... ha...," Pak Linggih tertawa mendengarnya, "Menikmati perjalanan...? Aneh sekali kamu ini."


"Aneh bagaimana? Maksud Pak Linggih...?"


"Aku kira kau merasa tidak bahagia, bosan... jenuh." Pak Linggih memalingkan wajahnya ke arah Randu, kemudian tersenyum. Dingin menakutkan. Seringai senyuman seekor serigala. "Mm... Benar, kau merasa senang?"

__ADS_1


"Ya, begitulah," jawab Randu sambil mengangguk terpaksa.


"Tapi sebentar lagi perjalananmu berakhir. Ha ha ha..."


Apa maksudnya?! hentak Randu membathin. Langkahnya terhenti, dan mulai berpikiran yang tidak-tidak lagi. Oh... Tuhan tamat riwayatku! Nayu.... Tega sekali dirimu!


 


PAK LINGGIH menurunkan peralatan memancingnya ke tanah. "Sungai di depan kita ini banyak sekali ikannya. Dan aku yakin sekali, di sini pasti ada jenis ikan yang belum pernah kau cicipi saat kau berada di kota sana. Pasti kau suka. Dagingnya kenyal, seperti daging sapi. Tentu saja rasanya juga... wuenaaak tenan."


Randu menghela nafas panjang, lalu berjalan mendekat. Memancing dan ikan, kata-kata itu sedikit membuat kekhawatirannya akan sesuatu yang menakutkan sejenak menghilang.


Dasar orang sinting aku ini! Mana ada siluman yang memancing. Randu tersenyum malu pada dirinya sendiri.


"Lihat sungainya, Randu. Menggiurkan bukan?" sambung Pak Linggih lagi.


Randu berjalan menuju tepian sungai.


"Oo..., iya, Pak Linggih...," jawab Randu buru-buru sembari menengadahkan wajahnya menghadap langit. "Mm.... Harumnya udara di sini, begitu menyegarkan."


"Hey! Nak! Ini joranmu!"


"Apa umpannya, Pak!?" tanya Randu sambil berjalan menghampiri Pak Linggih.


"Ini kubawa ulat-ulat yang sangat disukai pemangsa air. Lebih baik dari cacing tanah." Pak Linggih menggelontorkan sesuatu dari dalam sebuah kantung kain kecil. Beberapa gelondong gulungan daun pisang. Di dalam gulungan itu masih bercokol sang penghuninya; ulat pisang. Hewan itu membuat rumahnya sendiri dengan cara membungkus diri menggunakan daun pisang.


"Nayu...," tiba-tiba Pak Linggih melafalkan nama seseorang.


Randu bersemangat sekali mendengar nama itu "Ada apa dengan Nayu...!?" Dan bergegas memalingkan wajahnya dari memandangi potongan kayu yang tengah mengalir pasrah terombang-ambingkan arus di sungai.


Nama itu, terasa seperti mata air yang menyeruak tiba-tiba di sisi jantungnya. Sejuk menentramkan, sekaligus mengejutkan. Menimbulkan getar-getar halus di dalam dada.


"Nayu tak mau memakan ikannya jika aku memakai cacing tanah. Karena itu ia rela mengumpulkan ulat-ulat ini, sebelum aku pulang dari hutan mencari kayu."


Randu mengangguk puas mendengar penjelasan itu. Kilasan wajahnya menampakkan kelegaan akan lepasnya dari belenggu suatu beban pikiran.


Wusssh!


Seekor burung melintas di hadapan Randu. Ia sempat terkejut dibuatnya. "Hah...!"


Pak Linggih memperhatikan Randu, dengan sebuah tatapan kasih sayang. Mungkinkah Pak Linggih mulai menganggap cowboy badung ini anaknya sendiri. Atau anggapan lain; seorang calon mantu.


"Burung apa itu, Pak?" tanya Randu sembari melambaikan tangan melepas kepergian sang burung.


"Srinayu namanya," jawab Pak Linggih. "Kau suka?"


Randu tampak kegirangan seperti anak kecil. Ia semakin bersemangat berbincang-bincang. "Oh, iya. Tentu saja aku suka. Dia sangat cantik sekali. Aku dulu hobi memelihara burung, waktu masih kecil... sebelum kami sekeluarga meninggalkan tanah kelahiranku." Randu menoleh ke arah Pak Linggih. "Seperti nama..." Nayu.


"Nayu." Angguk Pak Linggih. "Itu pasti maksudmu...? Begitu saja kau tidak ingat... ehm...."


"Iya, itu," jawab Randu singkat dan malu-malu.


"Mana yang lebih cantik... kau sukai..., burung itu atau Nayu?" tanya Pak Linggih terang-terangan sambil tersenyum menggoda. Dan, tentu saja membuat Randu merasa dikuliti hidup-hidup.


Randu tidak dapat menjawab. Wajahnya terasa panas dan mulai memerah.


"Haha... ha... ha...," Pak Linggih tertawa puas. "Sudahlah! Lupakan pertanyaanku itu!" Tak ingin terlalu menuntut sebuah jawaban, daripada membuat anak itu menangis, pikirnya.

__ADS_1


"Randu, aku ke sana. Tidak jauh... Kau memancing di sini saja. Nanti aku kembali lagi."


"Ee... iya? Silahkan, Pak Linggih."


"Ada satu jenis ikan yang ingin aku dapatkan di sebelah sana."


 


BAGI yang menunggu akan terasa lama. Apalagi jika menanti orang yang disayangi. Di teras depan rumah di atas tangga, di bawah kucuran sinar bulan, Nayu duduk memandikan tubuh moleknya. Terkadang ia memang sering melakukannya. Terdiam membeku, setia mendengarkan ratapan rembulan; mengenai angkasa tempatnya bernaung, bahwa benda bulat besar bercahaya itu juga kesepian mengambang sendirian di atas sana. Tanpa sandaran serta pijakan, dituntut tetap tegar mengawal malam hingga fajar menggiringnya ke peraduan. Bintang-bintang memang hampir selalu bertaburan, tapi tetap saja kesepian. Karena bintang tetaplah bintang. Bukan pasangannya rembulan. Sekalipun akan berhadapan dengan awan gelap, rembulan harus tetap menghadapinya. Di saat tertentu, dari atas ketinggian langit, benda itu terpaksa harus menyaksikan serentetan peristiwa memilukan. Pembunuhan, pengkhianatan, bencana alam dan berbagai tragedi lainnya. Nayu mengangguk, tepat di saat sebuah meteor melintas di hamparan langit yang muram. Dan biasanya ia akan memanjatkan sepenggal do'a tatkala menyaksikan bintang berekor yang tersesat ke bumi tersebut.


Nayu juga percaya, bahwa percikan sinar bulan akan menambah kilauan rambutnya serta, membuat kulitnya semakin putih berseri. Ketika saatnya lelah dan bosan, ia kan segera melangkah masuk ke dalam rumah. Atau, di saat mulai terdengar raungan 'serigala', yang merampas malam miliknya.


Di atas lantai kayu, tubuh gemulainya berjalan mondar-mandir diperbudak gelisah. Sesekali menatap dalam-dalam kegelapan nun jauh di sana. Ia berdoa, mulutnya tampak mengutip sesuatu.


"Mereka akan baik-baik saja, Nayu," cetus Bu Srining yang tiba-tiba sudah mendekat.


"Ibu... Aku mencemaskan ayah. Bisa kurasakan hujan lebat pasti akan segera turun." Nayu sedikit protes.


Kekhawatiran Nayu terasa sedikit janggal. Perasaan semacam itu muncul justru di saat kepergian ayahnya kali ini ada yang menemani. Tidak seperti biasanya, berkeliaran seorang diri dalam kegelapan dan rimbunnya belantara.


Jauh di lubuk hatinya, ia merasa senang ada nyawa baru bertambah di tengah kehidupan sunyi mereka. Ia mulai berat menerima kenyataan, bila seseorang yang datang—yang diam-diam, tanpa disadari, telah berkenan di hati—hilang kembali.


"Hujan tak setajam anak panah. Ayahmu sudah menjadi bagian dari alam, Nayu. Bebatuan, air, pepohonan justru menghidupinya. Bahkan hewan buas sekalipun menghormatinya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," tukas Bu Srining berusaha menenangkan.


Bukan itu sebenarnya kecemasan Nayu. Kehadiran Randu menandakan bahwa kehadiran yang lainnya juga bukan mustahil akan ada lagi. Tempat ini tidak lagi seperti nirwana di atas permadani langit, yang burung-burung pun tidak bisa menjangkaunya. Kecemasannya seakan bukan sekedar gundah hati belaka. Nuraninya menasihati, bahwa ia harus bisa mengutarakan maksud hati, "Kita dan hewan hampir tak ada bedanya. Ada yang baik... juga ada yang haus membunuh. Alam dan seisinya tidak dapat untuk dipercayai sepenuhnya, ibu... Meskipun ayah sudah terbiasa dengan itu semua... Hari takkan selalu sama..."


Bu Srining terkejut, anak gadisnya kini bertambah pintar. Ia sengaja menunggu Nayu berbicara lagi, ia bisa merasakan akan ada kalimat lainnya, yang akan keluar dari mulut kecil si dara tempaan alam itu.


Nayu menggigit bibir bawahnya. "Randu dapat tiba di sini, bagaimana dengan yang lainnya?" Matanya mondar-mandir mengamati Bu Linggih, harap-harap kalimatnya dibenarkan.


Ucapan Nayu cukup dapat dimengerti Bu Srining. Lalu ia meraih lengan anak gadisnya itu, dan meremas lembut jemarinya. Dengan penuh kasih sayang ia menatap mata Nayu dalam-dalam, kemudian merapatkan tubuhnya, dan sembari memeluk ia membisikkan sesuatu, "Semuanya akan-akan baik saja. Seperti hari kemarin dan... selanjutnya pun akan tetap demikian. Hanya yang ditakdirkan dapat sampai ke sini."


 


LAMA mereka menunggu, namun belum seekor ikan pun yang tergoda menelan mata kail. Tampaknya hari ini mereka sedang tidak beruntung, atau karena salah satu julukan Randu; 'manusia pembawa sial'. Sementara, malam tampak semakin gelap. Di atas sana, kedatangan mendung yang merayap perlahan tapi pasti tak dapat dicegah. Membawa endapan jutaan butiran air yang siap ditumpahruahkan ke bumi.


"Ada yang kau dapatkan?" tanya Pak Linggih.


Randu tak menjawab, ia terlalu sibuk meladeni nyamuk-nyamuk liar. Melihat tingkahnya Pak Linggih menggeleng-geleng kepala.


"Tidak, Pak," jawab Randu kemudian sedikit terlambat.


"Sudahlah mari kita pulang saja...," timpal Pak Linggih putus asa. "Sebentar lagi turun hujan."


"Pulang...?" Randu kecewa mendengarnya. Ia tidak pernah pulang tanpa hasil. Seharian pun, jika itu perlu, akan ia jalani. Tak peduli hujan, terik matahari, atau dinginnya bulan.


"Iya, nak."


Randu menarik nafas panjang. "Yah... baiklah kalau begitu."


Lantas mereka pun berkemas-kemas. Dengan berat hati terpaksa harus pulang ke rumah tanpa hasil. Tapi, di saat bersiap-siap akan melangkah, hujan lebat tiba-tiba turun dari langit.


"Ayo! Cepat...! Kita ke sana!"


"Ke mana Pak...?"


"Ikuti aku...!" Pak Linggih segera berlari meninggalkan Randu. "Di sana ada pondok kecil yang sengaja kubangun dulu, "teriaknya sambil mempercepat langkah.

__ADS_1


 


 


__ADS_2