Srinayu Di Bukit Randu

Srinayu Di Bukit Randu
Bab 16 | Empat Sekawan


__ADS_3

AKHIR-AKHIR ini Nayu menjadi pendiam. Bidadari ini tampaknya tengah diselimuti kegundahan, seperti mengalami duka yang teramat dalam. Hari-harinya kini lebih banyak melamun. Mungkin, karena terkurung terlalu lama di hutan ini. Atau bisa saja karena Randu mulai membosankan. Entahlah. Ia tidak lagi peduli dengan para srinayu yang mengajaknya bermain, tangan lentiknya tak lagi membelai lahan pertanian. Pembawaannya berubah menjadi sosok yang pemalas; muram, kelam, dan sejenisnya. Layaknya keceriaan bintang-bintang yang dilahap habis awan gelap. Akan sangat buruk bagi alam semesta bila keadaan sang dewi terus seperti ini.


Nayu bangun dari duduknya, dari atas timbunan antah jerami kering. Namun, ketika sesuatu yang mengejutkan tampak di kejauhan pelupuk matanya, tubuhnya yang hendak beranjak pergi mendadak terdiam kaku. Randu yang sejak dari tadi memperhatikan Nayu, juga tak ayal ikut terkejut atas sesuatu yang sangat tidak disangka-sangkanya sama sekali itu. Seketika, ia segera berhenti memutar otaknya-yang sedang memikirkan cara mengembalikan keceriaan Nayu. Mungkin, memang sudah saatnya Randu tidak perlu lagi bersusah payah, seseorang yang lain akan melakukannya.


Tampak empat sosok bayangan manusia di kejauhan melangkah semakin mendekat. Tidak ingin menunggu sampai menghampiri dirinya, Nayu bergegas menuju rumah. Tinggallah Randu yang kini terpaksa harus memberikan sambutan. Setidaknya sebuah kata: 'Selamat datang!'


Salah satu dari mereka tersenyum. Sebuah wajah yang sering digunakan malaikat sebagai topeng untuk menghampiri manusia yang berbudi luhur; hidung mancung, mata indah menatap hangat, dan seonggok tubuh sempurna. Sungguh tak ada yang cacat darinya. Pesona yang menakjubkan, yang dapat membuat wanita seketika luluh lunglai. Pemuda itu sangat tampan rupawan. Ia laksana purnama sempurna yang gagah perkasa. Tapi, bagi Randu, itu tidak menimbulkan kesan mendalam. Lain halnya jika Nayu yang berhadapan.


"Maafkan atas kedatangan kami ini.... Kelancangan kami memasuki pekarangan kalian, tanpa meminta izin terlebih dahulu... tiba-tiba dan tanpa diundang." Si tampan mulai berbicara dengan nada yang begitu santun. Tidak lupa tersenyum, begitu serasi dengan dagunya yang tirus persegi lembut.


Sementara Randu masih terdiam. Masih belum dapat mempercayai apa yang di hadapannya. Tempat ini bukan lagi seperti yang ia kira selama ini. Bukan hanya dirinya yang mendapat kesempatan menemukannya.


"Boleh dibilang kami ini tersesat...," sambung seseorang lagi ikut berbicara. Rambutnya cepak, disisir ke arah depan, dan matanya bulat seperti mata burung hantu, begitu pula bentuk wajahnya; bulat.


...Kisanak, lanjut Randu melengkapi perkataan orang itu dalam hati. Dan, akhirnya Randu berbicara, "Ya sudah pasti... tersesat."


Tiba-tiba seorang gadis berambut tanggung di atas bahu mendekati Randu. Berbuah dada kecil, tapi tampak matang kenyal, dan membusung indah dalam balutan tanktop hijau pudar berpadu kemeja kotak-kotak. Bawahannya mengenakan celana loreng tentara. Ia lalu mengulurkan tangannya yang langsing mulus. Kuku-kukunya tampak mengkilap oleh polesan kotek ungu tua. "Sebaiknya kita berkenalan terlebih dahulu. Aku Rei." Sambil mengedipkan matanya dengan genit, yang disaputi maku-up biru gelap di sekeliling pelupuk matanya. Barangkali celak arab. Ia mirip sekali dengan sosok vokalis band The Cranberries.


Kemudian disusul yang lainnya masing-masing memperkenalkan diri. Menon, Kori, dan, "Zillian," ujar yang terakhir, seorang pria berparas unik, mata sipit, berkulit putih, rambut panjang hamper sebahu. Tubuhnya jangkung, mirip boneka kayu yang kurus kerempeng. Kepalanya kecil, dan berwajah sempit, berdagu lancip, semacam berbentuk segitiga sama sisi terbalik. Mengingatkan akan corong minyak. Gaya berpakaiannya terobsesi pada sosok samurai; celana cubrai gombrang, warna kelabu, baju semi kemeja longgar berkerah lebar berwarna biru muda, berlengan panjang kancing terbuka, bermotifkan corak Jepang berupa pohon mati tak berdaun, bunga-bunga sakura berguguran, dan seekor burung kolibri yang tengah mengambang di atas kain berbahan satin tersebut. Untuk melengkapi penampilannya, tak ketinggalan sebilah pedang-kayu-mainan terselip di sisi pinggangnya. Samurai tersesat.


Randu tersenyum geli sendiri. "Ada yang bisa kubantu?" Ia mencoba berusaha untuk tetap ramah. Berpegang teguh pada asas praduga tak bersalah untuk sementara waktu ini. Namun, diam-diam kerisauan menyelinap ke dalam hati kecilnya. Terlebih saat ia menatap Menon. Firasatnya mengatakan semua ini bukan pertanda baik. Tentu. Pemuda mana pun yang berada diposisi Randu akan berpikiran begitu. Pelari amatiran mana yang tak gentar menghadapi seorang atlit Olyimpiade. Randu dapat saingan kelas berat.


Tak lama Nayu kembali lagi. Tidak sendirian. Ia bersama Pak Linggih. Sementara, di kejauhan terlihat Bu Srining berdiri di depan rumah, tengah memperhatikan tamu-tamu tak diundang, sambil melipat kedua belah tangannya di dada, seolah sebagai benteng pertahanan pertama.


Pak Linggih menyapa sopan, "Apa kalian tersesat?"


"Kami pikir begitu," seorang dari mereka yang bernama Menon menjawab pertanyaan Pak Linggih. Pemuda yang tadi pertama kali menyapa Randu.


Dari belakang Pak Linggih, Nayu mencuri lihat orang-orang asing ini satu persatu. Tatapannnya agak lama begitu membentur Menon yang apik. Dadanya bergetar. Wajar saja jika hal itu terjadi, termasuk jika tersirat rasa kagum. Diam-diam pemuda ini juga merasakan ketertarikannya pada Nayu, dan mungkin akan terus tumbuh. Dalam peribahasa, mungkin inilah yang disebut 'gayung bersambut' dan perpaduan; 'cinta pada pandangan pertama'. Menjijikan, tentu saja bagi Randu.


"Sebaiknya mampir dulu ke gubuk kami. Saya rasa kalian... nampaknya sangat kelelahan," ujar Pak Linggih menawarkan kebaikan. Kebaikan yang memang sangat diharapkan orang-orang tersesat ini. Lagipula tak ada pilihan lain yang lebih baik, melanjutkan perjalan sama saja 'bermain judi'.

__ADS_1


Menon menoleh ke arah teman-temannya. Semuanya mengangguk.


Kisah baru akan segera dimulai, lautan pun tidak akan menjadi lebih tenang dari sebelumnya.


BUMI di balik bukit, kehidupan terselubung, dunia lain, atau apapun sebutan sejenis lainnya, kenyataannya di sini tidak dapat lagi disebut sebagai tempat rahasia. Bahkan, mungkin kemisteriusannya juga akan ikut memudar. Lama kelamaan akan berubah menjadi pemukiman transmigran. Akan melintang jalan-jalan perlaluan, dan berdiri pasar tempat bagi orang-orang berkumpul dan berjual beli. Tempat ini menjadi tidak lagi menentramkan. Di mana akan menjamur kebencian, kebengisan, kerakusan, kelicikan dan pelbagai penyakit manusia lainnya. Hilanglah kesucian tempat ini.


Bu Srining menatap tajam suaminya. Ia tidak dapat menyembunyikan kegeramannya. Pak Linggih dianggapnya telah melakukan suatu kesalahan. Melanggar apa yang dipercayainya sendiri selama ini. "Sekalian saja kau ratakan hutan ini dengan tanah." Pandangannya semakin tajam. "Kau sendiri yang mengatakan hutan ini hidup. Mereka bisa merasakan kesakitan. Kita harus bisa saling menghargai dengan alam.


Bunga Jeruji Wungu merupakan tempat bersemayamnya makhluk astral penjaga hutan ini, mereka membutakan pandangan manusia dari melihat kediaman kita. Sekarang mereka tidak lagi memberi tirai pelindung itu, siapapun dapat menemukan kita. Aku pikir, anak-anak itu bukan yang terakhir, kita masih akan kedatangan tamu lainnya."


Pak Linggih mendongakkan kepalanya, kemudian tegak berdiri bangun dari duduknya, lantas menjauh dari tepian ranjang. Perkataan istrinya memang ada benarnya tapi, "Aku tidak ingin tanaman itu kembali membahayakan hidup kita. Terpaksa...."


Yang telah Pak Linggih lakukan sebenarnya ungkapan kekesalannya terhadap tanaman berbahaya tempo lalu. Ia menganggap keberadaan tumbuhan itu lebih banyak mendatangkan malapetaka. Hampir saja nyawa seorang Randu dapat direnggutnya. Setelah kejadian itu ia memutuskan untuk memusnahkan tanaman tersebut. Membumihanguskannya hingga berdebu. Meskipun yang bersalah sebenarnya Randu, menerobos masuk ke dalam kerumunan tanaman yang menebarkan aroma mematikan itu. Tapi apakah benar itu semua kesalahan Randu? Bukankah aromanya yang membujuk Randu untuk terus dan terus mengikutinya, hingga menemukan keberadaan mereka. Atau ini adalah kelalaian Pak Linggih, seseorang luput dari pengawasannya. Terlepas dari semua itu, mungkin Pak Linggih telah amat menyayangi Randu. Kalau begitu, cukup wajar apa yang dilakukan Pak Linggih. Tidak ada yang boleh menyakiti Randu.


"Mulai sekarang kau harus benar-benar melindungi kami." Bu Linggih memeluk suaminya. Ia tetap berusaha untuk tidak menangis, meskipun matanya telah berkaca-kaca.


Tiba-tiba saja, "Apa kau menyalahkan Randu?" Pak Linggih menatap dalam-dalam mata istrinya.


Bu Srining balas menatap dengan lebih dalam lagi. "Tidak," jawabnya seolah penuh keyakinan. Kau telah menyakiti salah satu dari penghuni belantara ini, suamiku. Bagian dari 'keluarga' tempat kau berlindung...


Ini pagi yang cerah. Secerah hati Nayu.


Tiga helai baju terpapar di atas ranjang. Dan ini baju kelima yang mencoba membalut tubuh Nayu. Ia tersenyum kecil. Wajahnya berseri-seri. Bahkan nampak kemalu-maluan. Memang begitulah tingkah seorang gadis perawan, apabila merasa mendapat perhatian dari sang kumbang jantan, sebagaimana terjadi pada akhir-akhir ini diri Nayu. Dikibasnya pelan rambutnya bagian depan ke sisi kiri, sementara tubuh rampingnya berputar-putar dengan tumit berjinjit, membuat rok selututnya yang lebar bersusah payah mengikuti arah gerakan tubuh. Aduhai... akan ke mana ia memamerkan kaki jenjangnya itu.


Nayu yang sempat menjadi pemurung, kini ceria kembali.


Sedikitnya ia telah mondar-mandir sebanyak tiga kali di tengah rumah. Entah kesibukan macam apa yang membuatnya hingga demikian. Sepertinya salah tingkah.


Nayu kembali hendak keluar. Langkahnya menuju pintu depan rumah sambil membawa cerek berukuran sedang. Bentuk ujungnya bersungut, selangnya berbentuk seperti leher angsa, dan tangkainya seperti bingkai harpa. Keseluruhannya terbuat dari alumunium. Tampak permukaannya masih mengkilap, seperti baru saja dibersihkan.


Keempat orang tamu baru, duduk bersantai di ruangan depan. Menikmati keramahan dari tuan rumah sambil berbincang-bincang ringan. Sajian berupa teh manis hangat dan sepiring gorengan beraneka cita rasa, bentuk, dan selera. Sesekali perhatian mereka teralihkan oleh gerakan seseorang yang melintas entah beberapa kali. Di saat itu juga selalu disertai aroma wewangian. Keharuman khas seorang wanita muda.

__ADS_1


Rei beranjak berdiri. Sesuatu yang menarik, terlintas di dalam pikirannya.


"Mau ke mana, Rei?" melihat temannya yang tiba-tiba beranjak pergi, Kori segera bertanya ringan. Sementara, tatapan Menon, juga sepertinya menyiratkan sebuah keingintahuan.


Rei tidak menjawab, malah membetulkan bagian bawah letak baju kaos putih ketat lengan super pendek yang terangkat ke atas, agar kembali dapat menutupi pangkal belahan pantat. Kemudian langsung melangkah pergi sambil bersiul-siul riang bergaya seorang anak penggembala sapi. Domba juga boleh.


"Biarkan saja," ujar Menon kepada Kori berusaha menenangkan, "Lebih baik kau juga tidur lagi," lanjut Menon sambil menunjuk Zillian yang masih belum terjaga dari tidurnya hingga sesiang ini.


Kori melongok ke arah Zillian. "Ha... ha... Kasihan. Sepertinya ia sangat kelelahan."


Menon mengangguk pelan. "Dia sendiri yang menginginkan. Aku telah menawarkan untuk berbagi beban, tapi ia bersikeras memanggulnya sendiri."


"Dia ini terobsesi menjadi manusia terkuat," ucap Kori tertahan sambil mendorong-dorong tangan Zillian yang usil ingin memeluk pinggangnya. "Sudah lanjutkan saja tidurmu."


"Aku bermimpi bertemu bidadari," ujar Zillian tiba-tiba. Sementara, matanya masih tetap terpejam. Suaranya terdengar memelas, seakan ia masih ingin melanjutkan tidurnya. Berharap tidak ada lagi yang berbicara keras-keras. Baginya mimpi seperti itu sangat berharga sekali.


"Sebenarnya kau tidak bermimpi," tambah Menon.


"Aku rasa demikian," Kori pun berpendapat sama. "Bahkan wangi tubuhnya dapat kucium."


Plak!


Menon meninju lengan kanan teman di sampingnya itu.


"Aw! Itu keras sekali bodoh!" hentak Korimenjerit kesakitan.


\=\=\=\=\=\=


Glossary


kisanak : kurang lebih sama seperti anda, kamu, kawan, rekan dan sebagainya. Kisanak ini adalah kata ganti dan tergolong sebagai kata lawas, sering menjadi kata sapaan dalam berbagai drama / film kolosal.

__ADS_1


astral : roh atau makhluk halus, dan sejenisnya.


The Cranberries : adalah band Irlandia yang didirikan di Limerick tahun 1989. Dolores O'Riordan (Vokalis).


__ADS_2