
"KALIAN siap?!" Janur menyapa rombongannya, tanpa disadari waktu istirahat telah habis.
Randu dan Dira menoleh, yang dari tadi seolah sengaja tidak menanggapi kehadiran Janur.
"Aku... eh... kita siap, boss," jawab Dira sambil tersenyum.
"Sejak dari tadi aku selalu siap," timpal Omix juga.
Janur menatap ke arah Randu, ia seperti menunggu sebuah pendapat. Dan, Randu pun mengangguk. Tanda setuju.
Dira kembali resah. Ia merasa ada yang disembunyikan oleh dua orang pemuda yang tengah duduk mengapitnya itu. Bukan sekedar tamasya biasa.
Randu berdiri, dan melangkahkan kakinya. Janur mengikuti. Mereka berdua seperti sengaja menjauh dari Dira. Samar-samar terdengar kata-kata setengah berbisik. Dira dapat menangkap isinya, kecuali dua orang bodoh lainnya yang berada tidak jauh dari mereka.
"Seharusnya kau jadi penasihat kerajaan, Randu," ucap Dira pelan sambil terus memandangi kepergian dua temannya itu. Ia tetap duduk manis. Kedua telapak tangan mengapit dagu. Di sela jemarinya menyembul kain keputihan. Kepalanya tertunduk. Pupil matanya nampak sibuk mengamati gerak-gerik para semut di tanah.
PERJALANAN menanjak, menuju ke arah punggung bukit. Pohon-pohon besar dan kecil semakin menggila menghiasi pebukitan, terutama Cemara Gunung (Casuarina junghuniana) dan beragam jenis Pelawan (Tristania sp). Layaknya tiang pancang raksasa; seumpama jeruji alam yang maha kokoh. Beserta semak belukar yang semakin menambah sesak belantara saja. Jauh di bawah sana, di seputaran cekungan yang terbentuk oleh pertemuan kaki-kaki bebukitan, sudah tidak terdapat lagi genangan rawa-rawa sebagaimana diawal perjalanan tadi. Tapi, tetumbuhan liar dan akar-akar jalar yang menjalar ke sembarangan arah tetap setia menghiasi hutan. Ada yang merambat di bumi, ada juga yang melilit dan bergelantungan menjuntai pada dahan serta ranting pepohonan. Bebatuan tampak lapuk dan berlumut, sebagaimana lantai hutan: hutan lumut. Dan sepanjang permukaan badan bukit yang bergelombang tersebut, tergeletak beberapa batang pohon yang bertumbangan karena tak kuasa mencegah datangnya usia. Patahannya yang terbentuk secara alami menciptakan ruas-ruas panjang pendek yang kasar dan lancip. Sementara, cahaya sore semakin meredup, semakin mendekati ciri khas keperkasaan belantara pada malam hari.
SISI pebukitan yang terjal dan menanjak tampaknya akan segera habis, daratan perlahan mulai mendatar. Barisan hutan lebat perlahan menghilang, tergantikan rerumputan kecil yang berdiri gontai, seakan kelelahan sehabis menanti lama akan sesuatu. Sebagian lagi hanya tanah kering yang tak ditumbuhi rerumputan ataupun semak belukar, dan di beberapa titik banyak terdapat patahan-patahan ranting disertai serak dedaunan yang berguguran. Inilah dataran tertinggi yang menghampar luas. Semilirnya angin kembara yang berkeliaran bebas semakin terasa jelas sekali di sini.
"Huaaa...!" seseorang berteriak kegirangan. Berlari bersemangat mendahului yang lainnya. "Kita telah sampai, ini tujuan kita, bukan?! Sebaiknya sampai di sini saja." Ternyata Cawang. Tubuhnya sepantaran Randu, tapi lebih berisi. Gempal. Dengan rambut botaknya, ia semakin terkesan badung. Selintas orang melihat dirinya akan beranggapan seperti itu. Ia mengenakan celana pendek. Cuek
"Dasar kekanak-kanakan," umpat Dira pelan. "Hei! Cawang, biasa aja donk!"
Cawang hanya nyengir menanggapinya.
Tiba-tiba Dira berlari menghampiri. Lengan kirinya dipapahkan pada pundak Cawang, dan mencekik lehernya, "Ha... ha... aku juga senang. He..."
"Hek...!" Cawang meringis menahan cekikan Dira. Terasa tonjolan benda lembut menekan bagian punggungnya. Tubuh cawang bergidik, ia buru-buru mengendalikan naluri laki-lakinya.
"Dewasa itu membosankan...," hentak Dira manja.
"Hu... ," keluh Cawang, dan nyengir lagi. "Kukira... kau mulai dewasa. Aku harap jangan pernah."
"Cawang...! Sayangnya tidak. Terimalah kenyataan, perjalanan kita masih jauh. Tujuan akhir kita pebukitan sebelah sana. Ini hanya sebagai syok terapi saja," sergah Janur yang sejak dari tadi sudah tidak sabar untuk bicara.
Randu melintas, berjalan dengan santainya dan tersenyum dingin. "Rembulan tertawa menatap kalian."
Dira dan Cawang saling berpandangan kebingungan. "Dasar penyair," ucap Dira. Keduanya pun tertawa tertahan cekikikan.
Omix menurunkan tas ranselnya, dan langsung mengeluarkan berbagai peralatan. Sejatinya ia orang yang mandiri. Pintar dalam mengambil keputusan. Bertindak apa yang harus diperbuat, itulah mengapa Janur mengajaknya bergabung ke dalam rombongan ini, selain karena tenaganya yang luar biasa. Ia yang memiliki tubuh terbesar di sini. Tegap tinggi dan berotot, kulitnya berwarna bubuk coklat. Rambut panjang lurusnya telah menenggelamkan lebih dari setengah bagian punggungnya. Diamat-amati lebih jauh lagi, perawakannya juga mirip seorang tokoh super hero tahun 90-an dari Jepang; Megaloman, si rambut panjang berapi.
__ADS_1
Sementara, Safril terus melangkah hingga pandangannya dapat menjangkau lereng bukit. Mengamati sekelilingnya, lalu mengitari tempat itu dalam radius beberapa belas meter. Lagaknya seperti pimpro (pimpinan proyek), pantau sana pantau sini. Sesampainya di suatu titik, ditatapnya Randu dari kejauhan, dengan sorot mata tajam. Apa gunanya Janur mengajak Randu? Sungguh menyebalkan manusia satu itu.
Bagi seseorang yang diperhatikan terus menerus akan membuatnya merasa tidak nyaman, terlebih dengan pandangan yang mengintimidasi. Meskipun gelap tak kelihatan, instingnya mengatakan begitu. Terlebih lagi bagi seorang perasa. Randu mengambil sebilah golok, yang masih terbungkus rapi kertas koran dari dalam tas ranselnya. Kemudian, membuka gulungan kertasnya. Serius sekali ia mengamati golok itu, seakan benda yang sangat indah memesona; mengingatkannya akan zaman para pendekar, dunia persilatan, dengan jurus-jurus mematikan. Pertarungan di puncak bukit, dua orang berilmu tinggi sedang mengadu kesaktian, berlatarkan lukisan senja yang disaputi warna merah berbercak-bercak hitam. Dentingan senjata tajam yang saling beradu. Trang! Trang! Trang! Menimbulkan kibasan angin yang mampu membuat daun terbelah dua. Alam mayapada menjadi saksi bisu kehebatan dua orang itu. Randu termangu, betapa hebatnya, ingin sekali rasanya ia mencoba gerak-gerakan memukau seperti itu. Di sini, di atas puncak bukit, dengan seseorang.
Safril masih menatapnya. Lantas Randu beranjak berdiri, dan melangkahkan kakinya.
Awalnya Safril sempat tak yakin akan penglihatannya. Namun, kini ia dapat melihat dengan jelas, benda apa yang sedang berada dalam genggaman Randu. Sebilah golok. Segera tubuhnya mulai bergemetaran. Apa yang akan dilakukan Randu, pikirnya cemas.
Lima langkah terakhir semakin menambah ketegangan. Tubuh Safril kian bergetar keras, seiring detak jantung yang juga mulai tak beraturan. Lututnya terasa lemas. Dan, akhirnya...
"Mari kita mencari kayu kering. Api anggun sangat bermanfaat bagi kita semua," ujar Randu setibanya di hadapan Safril.
Safril menghela nafas panjang berkali-kali, rasa bebas dari suatu perasaan menakutkan yang baru saja mencengkramnya.
"Kutemani kau," jawab Safril singkat. Jadi ramah.
API unggun telah rampung, cukup untuk membuyarkan kegelapan malam serta menghangatkan badan. Lidah-lidah api menari gelisah, bagai ketakutan oleh karena tatapan mata manusia; seperti menunjukkan gelagat yang sedang menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang sangat dirahasiakan, menakutkan atau bahkan sakral. Andai saja seseorang dapat memahami rintihannya, ia pasti kan segera pulang. Keluar dari hutan ini.
Seseorang terpaku menatap benderangnya api dari kejauhan, dan memperhatikan mereka yang sedang mengerumuninya, seperti semut terhadap gula; seperti sekumpulan penggemar mengelukan panutannya; seperti kekasih yang mengagumi pesona sang pujaan hati. Giginya bergemeretak, telah terjadi sesuatu yang membuatnya begitu kesal. Sesuatu yang pernah dirasakan sebagaimana pecundang-pecundang lainnya. Sayup gelak tawa yang terdengar bagaikan serangkaian umpatan terhadap dirinya. 'Lihat si pecundang itu! Ia tadi hampir mati ketakutan!'
Janur dan Dira duduk berdekatan di atas rebahan batang pohon mati. Permukaan luarnya telah menghitam, dan mulai ditumbuhi jamur-jamur liar berwarna keputihan. Di samping kanan Dira, Cawang duduk di tanah beralaskan sepotong kecil tikar anyaman, dengan kaki berselonjor santai. Sementara punggungnya disandarkan pada batang pohon tempat Janur dan Dira berduduk.
Randu tepat berada di hadapan Dira, terpisahkan oleh maraknya api unggun, dalam keadaan duduk bersila. Baginya, wajah gadis itu terkadang tampak membias seperti karet yang meleleh. Di ujung kirinya, Adrian berbaring terlentang. Tubuhnya sepenuhnya di papah bumi. Dan di tengah-tengah mereka berdua, Omix juga tengah duduk bersila. Lebih dan amat dekat dengan Adrian, seperti seorang kekasih menjaga belahan jiwanya.
Satu per satu Randu mengeluarkan sebagian barang-barangnya. "...kopi, senter, minyak tanah, panci..."
Dira terheran-heran melihat ulah Randu. Wajah polosnya semakin merajalela muncul ke permukaan. Nampak imut menggoda, tapi sayang Randu tengah sibuk dengan urusannya.
"...mie instant, juga thermos," tambah Randu.
Dira semakin keheran-heranan hingga terpaksa harus menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali sebagai pelampiasan agar tidak membuat dadanya sesak oleh bibit tawa.
Sementara Cawang, menatap kosong hamparan langit gelap. Ia tengah melamunkan sesuatu, sebuah penyesalan konyol. "Kenapa kau hanya membawa satu wanita," celetuknya menggebrak suasana.
"Hah...!" Janur langsung reflek menoleh ke arah Cawang. Tatapan matanya menyiratkan sebuah pertanyaan, meminta sebuah penjelasan.
Dira mengernyitkan keningnya. Menatap Cawang polos, dan pecicilan.
Cawang mempertegas kembali perkataannya sambil mengangguk santai, "Iya... satu wanita."
"Kau kira aku germo?" sahut Janur.
"Aku saja masih utuh," timpal Dira tiba-tiba
__ADS_1
Cawang nyengir kepada Dira, lalu kepada Janur. "Kuharap kau memang seorang germo, pasti aku tidak akan kesepian." Kembali ditatapnya langit yang kelam.
"Ya, dan aku pelacurnya," tambah Dira sinis.
"Kenapa kau tidak pesan saja sendiri kepada Lady Amy. Ia punya banyak persediaan untukmu...," umpat Janur. Lady Amy adalah seorang mucikari terkenal di kota mereka. Ia pria berganti kelamin wanita. "Atau bila tidak satupun 'anak-anaknya' yang memenuhi seleramu, kau boleh membawa Lady Amy-nya saja."
Cawang semakin senang atas ulahnya, ia menikmati pertengkaran ini. "Seandainya Lady Amy itu engkau, mungkin aku akan dengan senang hati melakukannya. Ha ha... ha...!" Tawanya semakin keras. Ia puas. Benar-benar orang sakit.
"Sinting!" maki Janur.
Dira menahan tawa. "Kau baru seperti kenal Cawang saja," gumamnya geli hati.
Adrian yang tidur, terbangun karena mendengar pertengkaran bodoh itu. Jiwanya perlahan tersadar seraya mengamati teman-temannya. Sesaat kemudian pandangannya terlempar jauh. Dilihatnya Safril masih—menyendiri—belum beranjak dari tempat semula.
Adrian bangkit berdiri, dan melangkah di tengah lingkaran manusia, hendak menuju seseorang yang jauh di ujung sana.
"...Bola matanya seperti hendak keluar saat memandangi Dira. Aku berani bertaruh... anak kampungan itu pasti belum pernah sekalipun menyentuh tubuh wanita. Dan tampaknya sekarang ia mulai jenuh sendirian. Ia ingin segera merasakannya juga."
"Semakin hari nafsunya semakin membludak. Pasti ia merasa tersiksa sekali dengan keadaan dirinya selama ini. Seumur hidupnya aku yakin sekali ia belum pernah punya kekasih. Hari-harinya harus menghadapi gejolak asmara yang tak tertahankan." Usai menimpali, Adrian mengelus-elus dagunya.
Safril semakin bersemangat. "He... wanita mana yang tertarik padanya. Seorang idiot pun akan berpikir dua kali menerima cintanya. Mana seleranya tinggi pula. Benar-benar tak tahu diri. Apa ia tidak sadar dengan keadaan dirinya? Menjijikkan, norak, sok tahu. Orang yang mau berteman dengannya pun tak sampai hitungan jumlah kedua jari tangan."
Sebuah topik baru dipaparkan Adrian, "Tak mengherankan. Kenyataannya ia adalah pribadi yang abnormal..."
"Oo... itu... tertarik pada sesama jenis," pikiran Safril menangkap tentang hal yang demikian.
"Benar."
Mata Safril berbinar cerah. "Lalu perasaan sebenarnya terhadap Dira...? Hanya topeng...?"
"Hm..., ia sama bernafsunya, baik terhadap laki-laki maupun perempuan. Tepatnya ia biseksual." Sayang sekali.
"Serakah!"
Melihat kemarahan Safril yang kian memuncak, Adrian segera bertindak. Setelah terlebih dahulu puas mempermainkan emosinya. "Bersikap baiklah untuk sementara ini, kau ingin rencana kita gagal...?" nasihat Adrian.
Safril hanya terdiam menerima saran dari malaikat pengiringnya itu. Peran berat yang mau tidak mau harus ia mainkan. Membalut wajahnya dengan topeng persahabatan untuk sementara waktu terhadap Randu, sementara api di dadanya tak rela untuk tidak membakar wajahnya. Ia kemudian berjalan satu langkah ke depan.
"Sebaiknya kau segera bergabung bersama yang lainnya, itu akan lebih baik," yakin Adrian.
"Akan kulakukan," jawab Safril kesal.
Dan akhirnya, mereka berdua pun bergabung bersama yang lainnya. Safril benar-benar menuruti saran dari Adrian.
Saat semuanya tertidur, tinggallah Randu sendirian. Duduk bermenung menatap api unggun yang perlahan-lahan semakin melemah.
__ADS_1