
PAGI membangunkan kehidupan, termasuk kepada pemuda yang tengah tidur terlentang tak sadarkan diri di tengah hamparan lahan pertanian. Cuaca masih cukup dingin, tapi di atas sana matahari perlahan mulai menebar kehangatan. Matanya yang terpejam, menyipit ketika seberkas sinar menggelitik kelopak matanya, dan secara refleks lengannya berusaha menangkis serangan kecil itu. Kemudian tubuhnya perlahan bergerak. Baginya, terasa sangat kaku sekali, laksana tertindih timbunan bebatuan.
Setelah yakin akan keadaan dirinya, ia berusaha mencoba merangkak, lalu duduk tegak.
Perasaannya seperti terjaga dari tidur panjang. Oh, apa yang terjadi, di mana aku...? Lalu memperhatikan keadaan sekeliling. Di pepasiran, berceceran darah yang hampir mengering.
Ia meraba kepalanya yang terasa perih, pada telapak tangannya ia menemukan kerak-kerak berwarna merah pekat. Sepertinya, ada yang telah melakukan percobaan pembunuhan terhadapnya. Beruntung sekali ia masih selamat. Si pelaku mungkin mengira korbannya telah tewas.
Tubuhnya kini benar-benar tegak berdiri, meski sempat oleng sesaat. Tak lama kemudian penciumannya merasakan sesuatu. Semakin lama, aroma itu semakin jelas terasa. Semerbak keharuman aroma buah apel yang mengering, seperti telah menjadi serbuk yang beterbangan, menyerbu masuk memenuhi rongga dinding penciuman. Menenggelamkan sekujur tubuh, hingga tulang sumsum pun dapat merasakannya. Ada sedikit rasa manis sesampainya di pangkal tenggorokan. Kesegarannya tetap terjaga, hampir tak berbeda saat mengunyahnya selagi di tangkai. Selebihnya tersirat paduan beragam jenis wewangian bunga yang berbaur menjadi satu. Sungguh wewangian yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Dengan langkah gontai, ia berusaha mencari sumber wewangian tersebut. Langkah kakinya diseret. Menyapu pasir dan kerikil, menerbangkan debu-debu halus. Sesekali melalui tanah yang tak rata dan bergelombang. Sebagian ditumbuhi rerumputan, selebihnya hampir tertata rapi layaknya lahan pertanian. Ada wortel, semangka, cabai, ubi jalar, singkong, beberapa jenis tanaman obat, serta beragam tetumbuhan lainnnya.
Dedaunan sebagian masih tampak basah oleh sisa embun tadi malam. Namun, sebentar lagi tampaknya akan segera mengering, mengingat mentari di atas sana beranjak kian meninggi.
"Ini sebuah tanah olahan...," gumamnya saat menarik pelepah daun pisang, membuat genangan air mengalir pelan, lantas jatuh menetesi punggung kaki. Setandan buahnya berwarna kuning keemasan, tapi bukan berarti telah masak. Karena itu Pisang Emas.
Beberapa langkah kemudian, ia terkejut akan suatu pemandangan yang membuatnya terkesima. Seolah tak percaya akan apa yang di hadapannya kini.
Sesosok bertebar keindahan menari anggun dikelilingi burung-burung yang tengah asyik berputar memorosinya. Rambut panjangnya yang hitam mengkilap, nyiur melambai ditiup angin lembut pertama yang datang di pagi ini. Angin yang masih suci, dari debu atau apa pun itu. Baju antakusuma berdasar warna merah muda keorangean terombang-ambing mengikuti gerakannya yang gemulai. Sementara bawahannya berupa rok lebar berwarna merah menyala, panjang semata kaki, dengan hiasan renda cantik menyisiri tepiannya, berkibar kesana kemari seolah hendak mendahului gerak tubuh untuk terbang melayang lebih tinggi. Dan, kulitnya yang putih berseri seakan menantang tak mau kalah terang di hadapan kecerahan di atas sana. Si empunya sengaja sedang memamerkannya.
Randu sedikit menunduk untuk memastikan sesuatu. Masih menyentuh tanah, pikirnya. Kaki jenjang itu meliuk-liuk erotis, berjingkak bagai mengikuti irama. Mengagumkan, tebaran pesona yang maha indah. Hingga akhirnya, sepasang bola mata bulat indah terlempar keluar, melompat tinggi, dan tepat menerpa jantung Randu. Randu kini tengah bertatapan jelas, ia tertangkap basah. Sirkulasi darah di tubuh menjadi tak beraturan. Badai merah berkecamuk menghempaskan tarian ombak. Penglihatan berkunang, ia tak kuasa melawan semuanya. Bidadari...?! ... Aku telah mati ... Ini surga... Surga teruntuk si pendosa.
AKH.... Di mana aku? I... ini... ini kamar nenekku. Aku di... kampung halamanku. Dalam keadaan duduk, di atas sebuh ranjang sederhana Randu kebingungan mengamati sekelilingnya. Perasaannya syahdu, terasa pulang. Tapi, bukan. Ia merasa sedikit asing. Ada yang berbeda di luar sana. Melalui jendela di hadapannya, mengapa hanya menampakkan hamparan tanah luas dan perkebunan. Seharusnya terlihat dua bangunan berdiri, seperti yang ada dalam ingatannya tentang tanah kelahirannya. Ia melompat berdiri, sebelum akhirnya menyadari kepalanya yang kini dibalut sehelai kain putih. Tak terlalu dipedulikannya. Lalu bergegas melangkah keluar kamar, lupa akan keadaan dirinya yang sempat lemah tak berdaya. Dan, ternyata ia memang telah kuat kembali.
Memasuki sebuah ruangan, tak ada siapapun. Sunyi dan agak gelap remang-remang. Hanya larik-larik cahaya kecil matahari yang menerobos masuk memanfaatkan celah dinding menjadi penerangan seadanya. Di tengah-tengah ruangan terdapat satu tatanan lengkap meja dan kursi; empat kursi kayu yang mengelilingi sebuah meja. Bentuk dari salah satu kursinya berukuran tiga kali lebih panjang dari kursi lainnya. Berdasarkan pengamatannya, tiada sesuatu pun yang ia kenal di ruangan ini. Benar-benar sedang berada di tempat asing. Memberanikan diri, lantas melangkah, berjalan perlahan memeriksa keadaan.
Meski pijakannya telah berhati-hati, namun lantai kayu sesekali tetap berdecit, diiringi suara rintihan memilukan. Nafas dan langkahnya seketika terhenti sejenak.
Aman, pikirnya. Ia melangkah lagi. Mengitari seluruh ruangan.
Dan kini tampak olehnya, posisi di sebelah kanan kamarnya tadi terdapat sebuah ruangan, tapi ukurannya lebih kecil. Lalu di sebelah kirinya juga terdapat sebuah ruangan dengan ukuran yang hampir sama persis, namun tanpa dinding pembatas di bagian depannya, dan itu berarti tidak ada pintu. Kemudian ia mendekat ke sebelah kanan.
"Kamar mandi." Lalu menuju ruangan yang satunya lagi.
"Dapur..."
Ruangan memasak itu, dasar lantainya menjorok ke bawah hingga bersentuhan langsung dengan permukaan tanah, dengan lima buah anak tangga selebar ruangan tersebut sebagai pengganti dinding pembatas. Rumah panggung yang unik.
__ADS_1
Dari sudut di dekat dapur, dari belakang kursi-kursi dan meja kayu di hadapannya, ia berjalan kembali ke tengah. Melangkah pelan, semakin berhati-hati, dan kewaspadaannya ditingkatkan.
Ia teringat lagi pada bagian lainnya yang sempat dilupakannya tadi, yang tampak seperti sebuah lorong. Di kedua sisinya, masing-masing terdapat satu ruangan yang mengapitnya, dengan ukuran yang persis sama. Tanpa berpikir panjang, ia berlari ringan menembusnya.
Ia telah berada tiga langkah meninggalkan ambang pintu memasuki sebuah lorong pendek. Di samping kanan kirinya berderet pundi-pundi kecil berwarna kuning keemasan. Bisa dipastikan bahannya merupakan tembaga murni. Setiap dua pundi kecil dibatasi sebuah pundi yang ukurannya dua kali lebih besar. Di atasnya pula, pada rak dinding yang panjang, berderet lilin-lilin kecil yang tengah menyala dan menari-nari gelisah. Ia melangkah lagi, sembari terus mengamati pemandangan yang sejujurnya terkesan magis itu.
Dan kini, ia berhadapan dengan sebuah ruang tamu tampaknya. Namun ada yang berbeda, di sini tempat lesehan, tanpa kursi dan meja. Permadani berwarna merah terbentang di tengah-tengahnya. Rajutannya bercorakkan dua ekor burung raksasa yang tengah mengelilingi sebuah lingkaran berapi. Kemudian pandangannya membentur dinding papan sebelah kiri. Tampak setengah bagian atasnya berupa rajak-rajak setinggi kurang lebih satu meter, membuat udara mengalir dengan bebasnya di sini. Belum lagi dengan adanya jendela besar yang terbuka lebar. Betapa semilirnya.
Samar-samar terdengar suara tiupan seruling. Begitu menyentuh kalbu. Mengetuk jiwa yang tengah berbalutkan selimut kecemasan. Alunannya lebih mirip tiupan flute. Merdu yang memilukan. Semakin lama, terdengar semakin jelas; struktur nada dan karakter suaranya. Ia berusaha mencari-cari dari mana asalnya.
Di belakang, tempat awal ia terbangun di atas ranjang tadi, di dekat lahan pertanian itu, di situ kemungkinannya. Lantas ia memutuskan untuk keluar dari bangunan ini, melalui pintu keluar terakhir. Pintu pada ruang tamu lesehan.
Telapak kaki kanannya menyentuh permukaan tanah pertama kali begitu melewati anak tangga terakhir. Asri sekali pemandangan di luar sini. Berderetan bunga-bunga indah berwadahkan pot-pot sederhana yang mengelilingi pekarangan rumah, serta tetumbuhan hijau berukuran kecil semacam bongsai mini, palm pantai dan sebangsanya. Alunan seruling masih terus terdengar. Kemudian sayup-sayup menyusul suara untaian tawa. Terdengar lugu dan bahagia, manja nan riang, juga menyejukkan. Kadang suara-suara itu terdengar jauh sekali, timbul tenggelam, layaknya angin sedang mempermainkan arah tujuannya. Tak ingin terlambat ia pun bergegas berlari.
Ia mengitari bangunan yang berupa rumah panggung itu. Berlari memburu, menuju ke arah belakang. Di tengah langkah, pada sisi sebelah kirinya sekilas tampak sebuah kandang ayam jago, juga tumpukan berbagai macam benda, terutama khas daerah pertanian. Ada lesung, tampa, dan lain-lain. Cukup menarik perhatian.
Beberapa langkah lagi bagian belakang bangunan rumah panggung akan segera terlalui. Suara-suara itu, semuanya terdengar semakin jelas.
Langkahnya tiba-tiba terhenti, begitu juga tiupan seruling. Tak ingin membeku penasaran, ia memberanikan diri berjalan mendekat. Seorang pria tua berumur lima puluh tahunan menyambutnya dengan sebuah tatapan lembut serta tersenyum hangat. Tak lama, gelak tawa pun ikut terhenti. Randu menoleh ke kanan, terlihat seorang ibu—yang tampaknya empat lima tahun lebih muda dibandingkan dengan bapak tadi—tengah menatapnya pula, bersama seorang gadis dengan lengkung bibir sisa tawa yang hampir sirna.
Bukannya ucapan selamat siang yang seharusnya diucapkan Randu, tapi ia malah terdiam membisu. Dari kerlingan matanya tampak memohon; jelaskan semua ini. Sebelum semuanya terjawab, bayangan sesosok gadis muda sebelum ia jatuh pingsan kembali menyertai memenuhi kepalanya. Gadis itu...!?
Ada yang terlewati oleh Randu tadi siang. Di pojok kanan, sejajar dengan pintu lorong, teronggok sebuah kursi goyang. Penampilannya sangat klasik, terlihat sangat tua. Warnanya kecoklatan memudar. Pinggiran siku-siku penyangga lengan mulai tergerogoti rayap, namun masih tampak menawan, meski sedikit terkesan menyeramkan. Beralih pada kejauhan di luar sana, hanya tampak pemandangan yang gelap gulita. Tak ada kehidupan lain selain di rumah ini.
Sesekali mata Randu mencuri pandang gadis cantik yang berada hampir tepat di hadapannya. Bidadari itu dari tadi sibuk merajut, tak peduli hari telah gelap. Senyumnya sewaktu-waktu menyembul keluar, tapi tidak kepada siapapun. Mungkin kepada rajutannya, atau memang ia sering bertingkah seperti itu.
Perlengkapan makan sudah tertata rapi. Piring-piring keramik hijau jade agak kesusuan disusun bertingkat, dan sebagian lainnya telah berisi lauk pauk. Bentuknya bersembir lembut persegi delapan, layaknya kelopak bunga. Bila diletakkan di kegelapan, maka akan memantulkan cahaya terang berkilauan, dikarenakan memiliki sifat seperti mata kucing. Ada sekitar sembilan belah semuanya. Sedangkan mangkuknya terlihat sederhana. Terbuat dari tanah liat yang dibentuk sewajarnya. Kemudian gelasnya, meski terbuat dari kayu, tapi tampak lumayan berharga diri. Diukir dengan niat tulus, dengan kenikmatan saat membuatnya. Sang penciptanya pasti puas menghasilkan karya ini. Tingginya kira-kira sekilan. Bagian bawahnya mengerucut sebelum akhirnya habis terpotong menciptakan lingkaran berdiameter enam sentimeter, dikelilingi kaki-kaki kecil yang menjulur keluar.
Randu lupa mengendalikan matanya. Si bidadari tampaknya lebih mengundang selera dibandingkan aneka hidangan lauk pauk.
"Ehm...," si bapak tua mendeham. Beliau Pak Linggih, sang kepala rumah tangga. Pemilik rumah panggung ini. Bersama kedua anak istrinya, mereka bermukim di tengah belantara ini. Satu-satunya, hanya mereka. "Mari nak makanannya dicicipi," persilahkannya dengan ramah. Katakternya mengingatkan akan slogan 'pria punya selera'. Maskulin, tampan yang sangat lelaki, tua-tua keladi, dan kharismatik.
Wajah dungu Randu menyertai menanggapi tawaran itu. "Ya, terima kasih, Pak." Tanpa senyum, tapi bukan angkuh, juga bukan polos. Randu menjadi manusia linglung sekarang, hingga sebutan yang pantas untuknya kini; 'manusia tak berarah'. Kesedihan, harta kebanggaan miliknya itu entah di mana kini. Sama sekali tak terlihat. Benar-benar tengah menjalani hidup apa adanya. Semua beban seakan menghilang.
"Kami keluarga sederhana, hanya ini yang bisa kami sajikan," lanjut Pak Linggih dengan merendahkan diri, berbasa-basi.
Rasa yang selalu tak enak hati juga hilang pada diri Randu. Ia tidak menanggapi dengan serentetan ungkapan penyesalan atau ocehan salah tingkah. Lihat apa yang dilakukannya; tanpa banyak cakap, langsung mengambil piring dan memenuhinya dengan lauk pauk. Cuek sekali. Itulah tanggapannya, berperilaku seakan seperti orang yang sudah lama tidak bertemu makanan. Tak ubahnya gelandangan yang diundang untuk menghabiskan menu sisa pesta. Atau itu bentuk suatu penghormatan, tak tega menyakiti orang lain. Membuat kecewa.
__ADS_1
Setelah selesai menata sajian, Bu Srining—istrinya Pak Linggih—ikut duduk bersama untuk menikmati makan malam. "Ayo, Nayu makanlah dulu. Nanti saja dilanjutkan lagi," sambil tersenyum bijak menasihati anak gadisnya. Dalam dunia fabel, ibu tua yang masih aduhai ini pastilah seekor burung cendrawasih yang terkenal akan pesona keanggunannya itu. Randu bahkan sempat dibuatnya malu hati, saat-saat waktu kebetulan sedang bertatapan muka. Pipinya itu, pipinya merah menggemaskan.
Ah, seandainya ia masih muda, keluh Randu—dalam dunianya yang terbungkus rapi oleh gelap—tak tahan membendung gejolak hati. Dasar penyakit darah muda. Atau, hanya sejenis kelainan milik segilintir orang saja. Tertarik kepada wanita yang lebih tua.
Bibir Nayu sedikit menyunggingkan senyum, kelihatan manja. Tapi tidak melunturkan kedewasaan serta keanggunannya. Mungkin ini salah satu evolusi cara bersikap, memaksimalkan keindahan abstrak, atau kontras. Meski berlawanan, antara sifat yang satu dengan yang lainnya tidak saling membunuh, bertabrakan. Justru saling melengkapi. Maka, dengan demikian lahirlah istilah baru: 'Manja yang dewasa.'
Kemudian, sang ibu menyodorkannya sepiring nasi putih, porsi anak gadis. "Nayu... berghentilah duluuu. Takkan larghi atau hilakng benda kesayanganmu ituuu," nasihatnya sekali lagi dengan cengkok dan aksen serupa negeri di sebelah perbatasan yang terdengar amat kentara; mengalun-alun, khas huruf r, n tenggelam, penekanan gh, panjang merdu di akhir kata. Enak sekali didengar. Logat melayu yang kental. Tak jauh berbeda dengan aksen lokal penghuni pulau ini pada umumnya. Betapa tidak, hanya sekedar terpisahkan oleh garis khayal, batas negara. Yang sesungguhnya satu tanah, satu daratan, satu pulau.
Nasi itu, aromanya kental, bau wangi pandan. Begitu pula rasanya, tak kalah nikmat. Legit, ditambah tersamar rasa santan kelapa. Sungguh racikan yang sempurna. Semuanya. Lauk pauk sederhana bagi orang kota, tapi di sini bercita rasa mewah. Bu Srining jangan-jangan memiliki bubuk ajaib—seperti milik para kurcaci jago masak, penghuni jamur merang—yang telah ditaburi pada semua makanannya.
'Paghraang, kaghraang. Aku banyak hutaaaaangh, tak mampu beli kutangh...' Panjang, terus dan terus bergema di dalam kepala Randu.
RANDU menempati ruangan yang baru, kamar yang letaknya berhadap-hadapan dengan dapur. Bukan kamarnya tadi siang, yang sesungguhnya merupakan ruang tidur milik pasangan suami istri Pak Linggih dan Bu Srining. Begitu Randu tiba, kamar yang sudah lama tidak ditempati ini, langsung dibersihkan, dirapikan, ditata kembali sedemikian rupa oleh si pemilik rumah. Di dalam kamar, di atas dipan kayu, Randu dihujani beragam pikiran. Sudah lewat tengah malam ia belum juga bisa memejamkan mata. Kantuk menjauh darinya. Karena itu ia masih setia dalam duduknya, memandangi dinding papan seumpama lukisan.
Sayup kerinduan ganjil teroles laun, entah pada apa atau siapa. Ini tempat asing bersuasanakan kampung halamannya. Lalu samar-samar perasaannya diresapi denyut keresahan. Kembalinya perasaan menakutkan dari masa kecilnya, masa lampaunya. Ia takut kebahagiaannya berakhir. Selalu memikirkan hari esok. Senantiasa berharap waktu tak berputar. Karena waktu yang ia kenal, selalu merenggut kebahagiannya, agar ia meninggalkan kampung halaman yang teramat dicintainya, orang-orang dekat terkasih.
Kenangan masa kecil sangat tak terlupakan oleh Randu. Ia insan yang rindu masa lalu. Ia pemuda yang terenggut masa kecilnya. Hingga kini ia masih terjebak dalam putaran waktu masa lalu. Ia masih dahaga akan semua itu. Kegilaan itu membuatnya menjadi rapuh, lapuk, hampa, senyap, berjalan di tempat.
Sekarang, berada di tengah keluarga yang baru saja ia kenal, terbayang hal yang mengerikan tentang keluarga tersebut. Pengaruh film yang pernah ditontonnya sulit terpisahkan dalam mempengaruhinya menilai orang lain. Mungkin karena ia penikmat sejati dunia perfilman. Cipta rasanya terhadap seni melebihi hasrat manusia pada umumnya. Kerap tak sadarkan diri mendapati dirinya sedang menghayati jelmaan sesosok karakter, tokoh, aktor. Merasakan sekelilingnya berubah mengikuti alur adegan dalam film.
Mengapa bisa sampai ke tempat seperti ini...?! Keluarga yang ramah, kehidupan normal seperti pada umumnya, namun menyisipkan misteri. Seandainya mereka sekumpulan keluarga siluman; jelmaan manusia serigala atau sejenisnya...? Atau jangan-jangan Pak Linggih seorang buruonan kelas kakap? Dari mana mereka berasal? Randu tak habis pikir. Sepertinya ia akan menghabiskan semalam suntuk untuk dapat memecahkan teka-teka itu. Ia juga harus memukul-mukul kepalanya, demi memaksakan sebuah jawaban.
Mereka sama sekali belum menanyakan tentang diriku. Ini aneh...
Tak lama kemudian bau menyan merangsek masuk ke dalam kamar, menghembuskan bisikan-bisikan gaib. Lalu terdengar umpatan jangkrik dari kejauhan, berisi bait perintah agar secepatnya mengakhiri malam; nyanyian nina bobok yang merayu Randu untuk segera merebahkan tubuh dan memejamkan mata.
\=====
Glossary
antakusuma : baju dari kain berbunga-bunga, baju sakti.
bersembir : tepi atau pinggir piring, dulang, pinggan, surat dsb. yang seakan-akan merupakan lajur atau pias.
fabel : dunia hewan, hewan (yang dapat berbicara selayaknya manusia).
__ADS_1