
TANGAN kanan Bu Srining memegang sebilah golok kecil, sementara tangan kirinya mencengkram erat sepasang kaki seekor ayam betina. Masih muda, usia yang sudah pantas untuk dijadikan menu santapan. Dan, ngomong-ngomong, pembawaannya, wanita tua itu tampak seperti tukang jagal saja.
Pak Linggih mengangguk kepada Bu Srining yang menatapnya meminta penilaian mengenai seekor ayam di tangannya tersebut. "Sudah waktunya!" tukas Pak Linggih setengah berteriak. Dan cukup keras untuk dapat terdengar oleh Randu dan Nayu di ujung sana.
"Akan ada menu ayam spesial tampaknya hari ini." Randu menyempatkan diri melirik sejenak ke arah Pak Linggih dan Bu Srining.
Nayu menegakkan tubuhnya, membuat Bu Srining dari kejauhan dapat melihat anak gadisnya itu tengah tersenyum. Sementara Randu, untuk ke sekian kalinya ia terpukau menyaksikan lengkung sabit di siang hari itu.
Indah sekali di sini. Semuanya. Kehidupan seperti ini hanya pernah kutemukan dalam khayalku... Dunia imajinasiku sekarang menjadi nyata... Keinginan Randu untuk pulang tak terpikirkan lagi, kisah alam di sini begitu membuainya dalam angan-angan kebahagiaan.
Menakjubkan..., bisik Nayu pada dirinya sendiri, ...pemuda kota itu mengerjakannya dengan baik. Bibit padi tertanam rapi. Randu bahkan melakukannya dengan bersemangat.
Tiba-tiba Randu berdiri, seolah-olah karena ia dapat mendengar pujian samar-samar tersebut. Ditatapnya Nayu dengan raut wajah menyiratkan rasa penasaran.
"Lelah...?" tanya Nayu segera.
Randu memalingkan wajahnya, kemudian pandangannya menyebar ke segala arah, sambil memikirkan sesuatu. "Ada yang kurang," ungkapnya yakin, hingga akhirnya tatapannya terpaku pada sebuah bangunan kecil di sebelah timur sana, hampir berhadapan dengan bagian belakang rumah. Sebuah WC.
WC itu sengaja di bangun di luar, tidak menyatu dengan kamar mandi. Jaraknya cukup jauh. Lumayan merepotkan bila ingin buang hajat di malam hari. Terlebih lagi penerangan hanya mengandalkan lampu corong.
"Apa itu?" timpal Nayu penasaran.
Sawah, hewan ternak, ladang, semua ada, lalu apalagi yang dipikirkan Randu. "WC pun sudah ada." Ia melipat tangan di dada. "Hm... Aku ingin membuat danau," cetusnya mengejutkan Nayu.
"Kau...?" tegas Nayu kepada Randu.
"Selebar bukit itu, Nayu!" tunjuk Randu kepada salah satu bukit. Luasnya hampir menyamai ukuran lapangan sepak bola.
Mata Nayu terbelalak dan mulutnya tak sengaja ternganga. Lantas ia buru-buru langsung menutupinya.
Randu nyengir. "Kenapa tidak," balasnya yakin.
Seorang pemuda tampak sedang mengawasi ratusan jin yang tengah mengangkati bebatuan, menyusun dan menatanya sedemikian rupa untuk mendirikan suatu bangunan yang megah. Selang beberapa lama, setelah pekerjaan mereka rampung, para jin berkumpul. Makhuk-makhluk gaib itu bersimpuh penuh hormat pada pemuda tersebut. Memohon restu, penilaian, pujian, dan menanti perintah selanjutnya dari sang majikan yang sakti mandraguna. Sementara sang majikan berdiri tegak dengan gagahnya, memandangi pasukan jin. Tak satu pun yang berani berbicara tanpa seizinnya. Batuk pun sedapat mungkin ditahan. Semuanya menundukkan kepala dalam-dalam. Randu manggut-manggut melamunkan adegan berbau mitos tersebut. Ia tampak serius. Sama sekali tidak terlihat tanda-tanda senyuman. "Tentunya jika ayahmu mengijinkan," lanjutnya angkuh kemudian.
"Sebaliknya, ia justru akan memerintahkan...," canda Nayu. "Tapi siapa yang akan membantumu?"
Randu sengaja menampakkan giginya, dan memperlihatkan cara tertawa yang aneh, "He... he..." Ia mengedipkan matanya. "Tentu saja ayahmu. Kami berdua. Dan sebaiknya kau juga ikut membantu. Mm... tapi sepertinya aku yakin mampu melakukannya sendiri. Setelah itu kita bisa berternak ikan. Tidak perlu lagi jauh-jauh pergi ke sungai."
Nayu menutup bibir, ia sungguh sedang menahan tawa. Saat ia menurunkankan jemarinya pun masih tersisa senyum simpul. Sejurus kemudian Nayu pun berlarian meninggalkan Randu.
Apa salahku! Randu tersentak menyaksikannya. Segera ia merasa telah melakukan suatu kesalahan Gawat!
Kekhawatiran itu segera berakhir. Nayu berlarian sambil tertawa. Kedua orang tuanya dipanggil-panggil. "Ibu! Bapak! Pak! Paaaak! Ha...! Ha....! Randu ingin membuat danau... sendirian! Seluas bukit itu!"
Celaka tiga belas. Laksanakan Randu. Buat bidadarimu bahagia. Terbangkan dirinya ke langit-langit terindah. Randu celingukan.
Pak Linggih tertegun mendengarnya, teriakan Nayu begitu jelas untuk segera tertangkap telinga. Pak Linggih menanggapi serius keinginan Randu, karakter seorang Randu dapat dipahami oleh orang tua sebijak Pak Linggih. "He...! Aku yakin tidak salah mendengar ucapanmu Nayu. Suruh ia segera melakukannya."
__ADS_1
SEMUA bekerja hari ini, tak terkecuali Randu yang sudah menjadi seperti tuan rumah selayaknya kini. Banyaknya energi yang terkuras semasa bekerja tadi, membuat makan siang disantap lebih bersemangat. Randu dan Pak Linggih seolah sedang berlomba untuk menghabiskan makanan lebih cepat. Nayu dan Bu Srining sesekali mengamati timgkah mereka berdua.
Pak Linggih memandang sekeliling, sementara di dalam mulutnya masih penuh makanan. "Ada yang kurang..."
Sebagai juru masak, orang yang paling tersentuh adalah Bu Srining. Ia memelototi suaminya.
Sedikit nyengir Pak Linggih melanjutkan, "...ikan."
"Kan memang tidak ada... Bapak tidak memancing hari ini...? Terang Bu Srining.
"Kalau ada kolam di dekat rumah, kan kita bisa beternak ikan...," sambung Nayu datar.
"Danau, Nayu...," balas Pak Linggih.
Sepertinya ada yang merasa tersindir, Randu tertunduk menahan malu. Berlagak seperti tak mendengarkan, ia berpura-pura semakin lahap menyantap makanan.
"Bapak juga telah lama ingin membuat sebuah kolam. Tapi, bukan danau," sambung Pak Linggih. Tangannya kemudian menjangkau irisan mentimun, menggigitnya setengah. Ranum sekali. "Dengan begitu, tidak usah bersusah payah lagi jauh-jauh memancing."
Randu mendongak, tubuhnya ditegakkan. Namun, ia berusaha seolah tampak tidak tersindir. "Ide yang bagus. Aku juga berpikiran demikian."
"Benarkah?" timpal Pak Linggih.
"Lalu kapan...?" tambah Nayu bersemangat.
Bu Srining tak mau ketinggalan, "Setelah makan siang ini... Bagaimana..., Randu?" godanya.
Setelah selesai makan siang, semua anggota keluarga beristirahat dan bersantai, termasuk Randu. Ia bersandar malas di tiang pintu yang menghadap anak tangga. Semilir angin lembut menggoda mata untuk terpejam. Dan langit nampak teduh memayungi hunian ini. Sesekali dedaunan beterbangan di hembus angin.
Hari berganti hari, Randu seakan melupakan keinginannya untuk pulang. Terbersit harapan akan kebahagian di dalam dirinya pada tempat ini. Mungkin karena seorang Nayu, atau sesuatu yang lain. Suatu ketakjuban.
Di tempat entah di mana ini, ia dapat melupakan segala permasalahan hidupnya. Jauh dari segala hal yang mengancamnya, meresahkan ketentraman jiwanya.
DUNIA luar! Entah seperti apa!? Jangankan untuk mengingatnya, aku bahkan tidak pernah merasakannya. Apa benar, dipenuhi manusia-manusia jahat..? Saling bunuh, menyakiti, serakah... Itukah alasannya aku berada di sini... kami sekeluarga? Bersembunyi. Tapi, Randu...? Sosoknya membuatku meragukan semuanya... Ia manusia baik budi. Aku pikir, masih banyak manusia baik di luar sana. Akh, entahlah...
Perlahan pelbagai pertanyaan yang memenuhi kepala Nayu mulai terdengar samar-samar. Terdengar jauh dekat, kabur, tak jelas. Ruangan belakang rumahnya ini juga perlahan-lahan serasa menjadi semakin gelap. Mata Nayu mulai sayup, kepalanya terangguk-angguk ringan, tubuhnya berayun-ayun santai, hingga akhirnya tak sadarkan diri rebah dan tertidur pada lengan kursi. Posisi tubuhnya duduk membungkuk, kepalanya tertelungkup, sementara kakinya menjuntai ke lantai. Secara naluriah kedua tangannya berusaha menutupi sebagian wajahnya.
PERASAAN gamang ini muncul kembali dalam diri Randu. Di saat semua orang tertidur, seperti masa lalu...
Randu kecil berjalan mondar-mandir dikejar gelisah. Kesana-kemari terbentur dinding putih rumahnya. Ayahnya tertidur, begitu pula ibu dan adik kecilnya. Sementara di luar rumah, hujan turun lebat. Dari balik jendela kaca ia mengamati sekumpulan anak kecil berlarian. Kebebasan yang sebetulnya juga ia dambakan. Wajahnya mendekat pada kaca, dari mulutnya mengembuskan uap nafas. Menimbulkan selingkaran embun di permukaan kaca. Ia akan menyekanya, hingga kaca itu bening kembali. Diam-diam, sebetulnya air mata semu telah mengalir.
Aku terpenjara! Akankah seumur hidup...? Tidak! Itu takkan terjadi lagi. Diriku milikku sepenuhnya. Hati Randu menggeram. Aku manusia bebas!.
Randu bergegas melangkah keluar kamar. Saat melintasi ruang tengah bagian belakang, ia melihat Nayu tengah tertidur pulas di atas kursi.
Wajah gadis itu baginya tampak damai sekali. Bertolak belakang sekali dengan keadaan di luar sana, yang tengah hujan lebat dan petir kilat menyambar-nyambar disertai suara geledek yang menggelegar.
"Sedang bermimpikah ia...?" gumam Randu sambil terus berlalu.
__ADS_1
Ternyata, Randu kembali lagi menghampiri Nayu. Ditebarkannya selimut tebal di atas tubuh Nayu yang tampak menggigil kedinginan. Setelah itu melangkah pergi.
Setibanya di ambang pintu, di ruangan depan, tak ada pikiran yang menghalangi niatnya. Tanpa perasaan, lantas ia menerobos terpaan hujan.
"Pacul, sekop, dan parang... Ini saja cukup," hentak Randu pada diri sendiri.
Kemudian, wajahnya menengadah ke langit, menyambut terpaan air hujan. Ia bagai merasakan serentetan belaian, curahan limpahan kasih sayang dari sang alam. Lewat benang kristal yang terbentang dari langit menuju bumi; garis yang menghubungkan Sang Pencipta dan hamba-Nya. Beginilah seharusnya hidup, begitu menurutnya.
Sesosok manusia tanpa baju, seperti sedang kerasukan makhluk halus tengah menggila mencangkuli tanah membabi buta. Bila tidak kerasukan, pastilah seorang yang tidak waras. Entah apa yang dapat membuatnya sangat bersemangat. Ada sesuatu yang menuntut untuk segera terselesaikan.
Akan lebih muda mencangkul tanah di saat hujan turun. Tanah menjadi teramat gembur. Tentunya jika tidak bermasalah dengan dinginnya guyuran air dari langit, ditambah semilirnya angin menusuk daging dan tulang. Petir yang mengintai baginya hanyalah tentang masalah keyakinan. Hidup dan mati ada di tangan-Nya.
Rambut yang tergerai ke bawah menutupi kening hingga ke mata tidak terlalu dihiraukan. Sesekali helaian rambut itu mencoba menerobos masuk ke dalam kelopak mata mengganggu pandangan dan konsentrasi. Sementara, mulai dari mata kaki hingga betis dipenuhi tanah basah yang tampak telah berubah menjadi cipratan lumpur, dan sebagian menghinggapi sekujur anggota tubuh lainnya.
Bu Linggih menatap ke luar jendela, matanya masih terlihat kusam. Ia baru saja terbangun dari tidurnya. Belum sempat ia menatap habis halaman kiri rumahnya, tiba-tiba pandangannya tak sengaja membentur sesosok manusia. Di tengah hujan yang mulai mereda, ia melihat Randu sedang melakukan sesuatu. Setengah betis pemuda itu sudah tak terlihat, menunjukkan seberapa dalam tanah yang telah dikeruknya.
Mata Bu Linggih berbinar, ia seakan sedang mengagumi. Bisa dirasakannya sebuah luapan tekat yang membaja di luar sana. Ada juga rasa haru menghinggapi hatinya tentang sosok Randu. Ia sebenarnya memahami sisi yang tersembunyi dalam seorang Randu. Ada harapan besar lainnya yang sebenarnya ingin digapai pemuda itu. Menurut penilaiannya saat ini Randu sedang melakoni pelarian atau pelampiasan. Usaha pembuktian diri yang bakal tanpa henti, sesungguhnya. Tapi, tepatnya, pelarian macam apa itu, mimpi atau cita-cita, ia sendiri tidak tahu pasti.
Tanpa disadari Bu Linggih, ternyata dirinya sendiri pun sedang ada yang memperhatikannya. Pak Linggih mendapatinya tengah tertegun kaku di tepian jendela. Lantas, suaminya itu mendekat.
Bu Linggih menangkap gerakan kecil di samping kanannya. Ia hanya menoleh sejenak, lalu kembali berpaling pada Randu.
Tidak lama Pak Linggih berada di sisi istrinya itu. Begitu menyadari apa yang sebenarnya terjadi di luar sana, kemudian ia bergegas pergi.
Bu Linggih belum beranjak dari tempatnya. Pikirannya semakin keras berusaha menembus ruang terdalam milik Randu. Kalbu pemuda itu. Ia menyiangi bagian-bagian yang buram, dan memilah-milahnya, berharap menemukan sesuatu yang lebih berarti. Nihil. Ada bagian terselubung yang terlindungi rapat dalam dinding kenyal itu. Tak lama kemudian ia melihat suaminya telah berada di luar rumah, tengah berjalan tergopoh-gopoh hendak menghampiri Randu.
"Apa yang akan kau lakukan, Pak Tua...? Huuh..." desah Bu Srining.
MELIHAT kedatangan Pak Linggih, Randu sengaja menghentikan pekerjaaannya. Lalu menyambutnya dengan tawa kecil. Sepertinya ia bangga atas apa yang telah dan sedang dilakukannya, dan bahasa tubuhnya menunjukkan ia ingin segera mendapat penilaian.
Pak Linggih tidak menangkap hal itu. Orangtua ini lebih tertarik pada hal lain yang menurutnya mungkin akan lebih bermanfaat. Pak Linggih langsung meraih sekop yang tergeletak, terabaikan di sisi tanah yang belum digali.
"Tentunya aku akan ikut serta bila dari awal mengetahui kau benar-benar akan melakukannya." Sambil menghujamkan sekop dalam posisi tegak, Pak Linggih menyunggingkan sisi kiri bibirnya. Sepertinya itu sebuah senyuman. Kedua lengannya kemudian bersangga pada gagang sekop. "Tak kusangka kau sudah sejauh ini!"
Tanpa menoleh ke arah Pak Linggih, Randu menanggapi, "Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Tapi, walau begitu, sejujurnya ini mendadak... aku tidak berencana memulainya hari ini."
"Setan apa yang merasukimu?" balas Pak Linggih sembari mulai menggali. Sementara hatinya tak henti-hentinya mengagumi cekungan yang hampir seluas setengah lapangan basket. Tempatnya berpijak dan menenggelamkan separuh kakinya ini.
Tampak butiran-butiran halus rintik hujan menjamuri wajah mereka berdua.
"Aku mendengar bisikan," jawab Randu sambil menyeka kotoran di pipinya, "Hujan memanggilku. Mereka 'memanas-manasi'-ku."
"Tentu Randu...." Pak Linggih mengerti sesuatu. "Ada hujan yang memang berasal dari masa lalu. Seolah menuntut dendam kesumat terbalaskan... atas kekalahan-kekalahan kita di masa lampau...."
"Itu sebuah peribahasa atau mitos?" timpal Randu. Sebetulnya ia cukup paham apa yang dimaksudkan Pak Linggih, tapi berharap kemungkinan akan penjelasan lain yang sama sekali berbeda.
"Mitos atau apapun, semuanya berakhir pada makna yang sama. Hakikat yang tak jauh berbeda." Pak Linggih berhenti sejenak menggali. "Lampiaskan dendammu di tanah ini!"
__ADS_1
Hujan yang lebat mulai mereda, langit kini hanya menyisakan rintik-rintik kecil. Ketika tidak ada lagi yang dapat dibicarakan, mereka pun sibuk dengan galiannya masing-masing. Bernafsu, terburu-buru. Tak ubahnya kuli yang dipaksa bekerja rodi mengejar tenggat waktu pesanan kompeni seperti zaman penjajahan dahulu kala.