Srinayu Di Bukit Randu

Srinayu Di Bukit Randu
Bab 24 | Sang Kreator


__ADS_3

SYAHDU sekali perasaan Randu pagi ini. Perasaan itu muncul begitu saja ketika terbangun dari tidurnya sejak tadi malam. Ia berusaha mengingat kembali dengan siapa saja kemarin ia berbincang, dari terbitnya waktu pagi hingga ke penutupan peraduan. Ada kata-kata yang membuatnya gelisah, yang entah bagian mana, darimana, dan dari siapa. Ucapan yang terngiang-ngiang tersebut akan membimbingnya melalui hari ini.


Randu beranjak dari ranjang, dan segera bergerak menuju jendela tatkala menyadari seberkas sinar matahari telah berhasil menyelinap masuk ke dalam kamar. Membuka daun jendela, dan menyempatkan diri barang sesaat demi menghirup udara segar yang dingin nan sejuk. Setelah meyakini organ-organ tubuhnya telah dapat bekerja cukup baik, kemudian ia melangkah mundur.


Juga kenapa, kata air yang biasanya terdengar begitu menciutkan di pagi hari, kini terasa indah menyapa di telinga. Tubuhnya yang masih kaku telah meminta untuk segera dimandikan, merasa tak cukup hanya dengan udara segar, lantas ia pun segera menuju kamar mandi.


 


DENGAN bangga randu melangkah keluar rumah. Lihatlah aku, siapa yang lebih dulu menyambut pagi dalam keadaan tubuh bersih suci. Satu per satu langkah kakinya menikmati pijakan di atas bumi. Laksana da Vinci yang tengah berjalan anggun di tengah pasar tradisional. Ia tersenyum terhadap apa saja: 'Selamat pagi pepohonan, selamat pagi kerikil serta pepasiran, selamat pagi embun, selamat pagi ini, selamat pagi itu.' Semuanya ia sapa. Tidak ada yang terlewatkan, kecuali manusia.


Randu menghentikan langkahnya, tepat di tengah jarak antara rumah Pak Linggih dan batas perbukitan nun jauh di sana.


Telah berapa lama kau berada di sini, Randu? tanyanya pada diri sendiri, Apa yang kau harapkan dan engkau tunggu-tunggu? Kenapa tak pulang saja? Tak ada kebahagiaan di sini. Yakinlah...!


Pelajari apa yang telah terjadi...!


Apa yang telah dan akan engkau dapatkan...?


Pertanyaan dalam hati saling berlomba-lomba dengan gelombang cahaya matahari dalam menuju pagi yang lebih cerah. Ketika terangnya mulai terasa menyilaukan, Randu pun tersadar; berapa lama ia terlibat baku tanya dengan dirinya sendiri.


"Mungkin rasa itu tidak pernah ada... Benarkah, Nayu...?"


Aku tetap di sini! Aku hanya ingin menjalani... Aku harus menjalani! yakinnya untuk yang keterakhir kali, sebelum akhirnya pandangan matanya tak sengaja membentur suatu tempat, di dekat tepian kaki bukit, di balik ladang jagung.


Saat posisi matahari seperti inilah, Randu mendapati dirinya tengah terdampar di sekitar pemukiman Pak Linggih. Tersadarkan sendiri tanpa sesiapa pun yang membangunkannya dari tidur. Tidur yang ia sendiri tidak tahu entah berapa lama, dan mengapa bisa terjadi.


"Di samping kanan itu...," ucap Randu mendesah, Nayu membuatnya dirinya terkejut tak alang kepalang. Sulit mempercayai pertunjukan yang tengah berlangsung di hadapannya saat itu. Merasa tak jelas, antara bumi ataukah akhirat. Nayu begitu memesona laksana bidadari.


Kilatan bayangan Nayu di kala itu masih terasa jelas menari-menari di pelupuk mata hingga saat ini. Begitu juga bola mata indah yang sempat membentur jantungnya, yang membuat diri Randu terhenyak hingga kembali tak sadarkan diri.


"Tepatnya di sini," ujar Randu setengah berbisik. "Setidaknya, semalaman aku terkapar tak sadarkan diri di sini... Tak ada yang menemukanku, aku yang menemukan... mereka dan tanah ini."


Randu memutar tubuhnya demi merasakan dan menyelidiki kembali sensasi kilas balik. Apa yang sebenarnya terjadi sebelum, sedang, dan sesudah saat itu. Sepertinya, dari atas bukit itulah tubuhnya menggelinding bebas layaknya bola salju namun, bisa juga kemungkinan lain, ada sekelompok orang yang mengangkat lau menggeletakkan jasadnya begitu saja, dalam keadaan setengah mati, kemudian pergi meninggalkannya. Demikian, pikir Randu tak begitu yakin. "Apakah aku sendiri yang membawa tubuhku... Berjalan gontai setengah sadar, saat anemia tahap awal telah menyerang syaraf-syarafku?"


Randu tergoda melakukan sesuatu yang konyol. Ia akan membaringkan tubuhnya, persis seperti kala itu, tergeletak tak berdaya, dalam posisi dan waktu yang kurang lebih serupa seperti saat ini. Dengan demikian, ia berharap mendapatkan suatu petunjuk.


"Randu!"


Tubuhnya baru saja akan merunduk ketika tiba-tiba seseorang memanggilnya. Dari kejauhan terlihat Kori berjalan mendekat, terburu-buru, sambil terus berteriak-teriak kecil kepada Randu, seolah ingin menyampaikan kabar penting. Ocehannya tidak begitu jelas.


"Kau sudah bangun lebih dulu rupanya," ujar Kori saat jaraknya tinggal empat langkah lagi dari hadapan Randu. Kini suaranya dapat terdengar jelas. "Kami punya rencana kecil hari ini," lanjut Kori lagi.


"Rencana...?" Mungkin anak-anak kota itu beserta Nayu, ingin bertamasya ke kedalaman hutan, tebak Randu. Takkan jauh dari itu, di awal-awal hari seperti ini. Lalu terbayangkan olehnya; rantang berisi makanan, kendi kecil berisi air minum, beserta makanan ringan lainnya pasti akan dibawa serta. Kemudian, ia teringat kembali akan kata-kata yang terngiang-ngiang dalam kepalanya ketika terjaga dari tidur tadi.


"Kita akan berkeliling ria hari ini," jelas Kori. Sinar matanya menyala-nyala. "Mencari buah-buahan segar tentunya. Dan, mencari bibit tanaman baru. Lumayan menambah ragam pertanian untuk Pak Linggih. Juga bila sempat, kita akan mencari tambahan koleksi ikan peliharaanmu di kolam." Lalu Kori melemparkan pandangannya ke arah kolam.


"Apa akan mengunjungi tempat yang juga ingin aku tuju... Di sana juga menyenangkan." Randu berpikir sejenak. "Usulku itu... masih ingatkan? Yang tadi malam...?"

__ADS_1


"Apa...? Usul..." balas Kori balik bertanya. Bingung. "Ya, baiklah... Tidak masalah. Kita punya banyak waktu untuk hal itu?" Lanjut Kori tak mau ambil pusing, walaupun sebetulnya ia tak paham maksud Randu.


"Di sana kita bermain petak umpet atau... permainan si kancil anak nakal. Bukan begitu...?"


"Boleh... boleh...," timpal Kori asal jawab.


"Lalu mana yang lainnya?"


Kori menoleh ke belakang, seakan-akan anak-anak yang lainnya sedang berada tak jauh dari situ. "Mereka di sana." Tunjuknya kemudian. Arahnya menembus ke bagian depan rumah.


 


"SEBAIKNYA kita bermain petak umpet," tukas randu tiba-tiba.


Betapa ia pernah tersesat dan hampir tak dapat ditemukan. Randu lupa, hutan ini tak selebar daun kelor. Jiwanya sedang egois sekali hari ini. Ia memperalat teman-temannya, demi eksperimen dari laboratorium kecil dalam otaknnya. Demi bisikan-bisikan yang tak jelas asal muasalnya. Sakit!


Nayu yang akhir-akhir ini semakin sulit terpisahkan dari sisi Menon, lantas mendekati Randu dan berbisik pelan, "Itu berbahaya, Randu..."


Randu balas berbisik. Entah apa yang diucapkannya, namun yang pasti Nayu terlihat mengangguk-angguk setuju. Ucapannya laksana mantra penakluk jiwa, Nayu menurut begitu saja.


Randu melangkah tenang, mengambil posisi menengahi semuanya. Ia bak seorang komandan sepasukan tentara. Kedua tangannya di balik punggung. Posisi istirahat.


Mulailah Randu berkata. Keras, lantang. Namun, tetap terlihat terlalu memaksakan dirinya untuk tampak berwibawa. "Saudara-saudara... Siapa yang dapat mengumpulkan buah-buahan segar paling banyak, maka akan mendapatkan hadiah istimewa. Ikan bakar ala alam liar, dilumuri ramuan bumbu masakan rahasia... Buatan saya sendiri." Begitu percaya dirinya Randu akan kualitas cita rasa masakannya. "Tapi, tidak sembarangan buah. Hanya buah-buahan yang semua orang setuju, pendapat orang kebanyakan, bahwa yang dimaksud buah yang enak."


Rei cekikan dibuat tingkah pulah Randu. Nayu berusaha keras mencegahnya. Beberapa cubitan kecil mampir di bagian perut Rei yang halus semlohai, membuatnya meliuk-liuk kegelian dan sedikit nyeri, menyebabkan Kori terperangah tanpa berkedip menyaksikan pemandangan yang dianggapnya lumayan erotis itu. Dan Zillian, tersenyum-senyum kecil memperhatikan ulah dua kembang belantara tersebut. Sementara, pidato Randu sendiri siang ini tak cukup menarik bagi mereka, sekalipun berjungkir balik ala badut. Hanya Menon yang terlihat mendengarkan dengan serius.


Dan, tak lama kemudian Kori pun mengalihkan perhatiannya kembali ke arah Randu. Berusaha mencoba mendengarkan dengan serius. Fokusnya sempat terganggu. Kori takkan berubah titik perhatian, jika saja Zillian tidak mengerling nakal, memainkan kelopak matanya dengan genit kepadanya.


Suasana hening sesaat.


"Wahai penghuni belantara... Satu lagi. Dari buah-buahan itu, dengan senang hati akan kubuatkan jus... Itu bonus tambahan, untuk kalian semua yang saya cintai... Semoga kalian selalu dirahmati sang pencipta," lanjut Randu.


Zillian terus tersenyum-senyum kecil, dan sesekali terlihat sebagian gigi-giginya yang putih. Di saat yang sama, ia juga sedang memikirkan tentang sakit jiwa, membayangkan seorang selebritis yang gila sensasi dan pujian, tukang pengkhayal kelas berat dan lain-lain. Dengan begitu, pertunjukan Randu menjadi tidak membosankan. Sebaliknya menghibur.


Salah seorang pendengar berteriak lantang, layaknya seorang pendukung kampanye politik. Memprovokasi yang lain, agar mendukung ide sang pembawa pidato. "Setuju! Tak salah lagi, kita membutuhkan permainan. Itu akan memberikan kebahagiaan bagi kita semua. Mengurangi rasa jenuh dan mengendurkan urat syaraf." Setelah berkata, kemudian Zillian memandangi Kori. Tatapannya bernada bujukan bercampur paksaan. Setengah giginya diperlihatkan, mulutnya dimiring-miringkan, dan matanya bolak-balik mengerling ke arah Nayu dan Rei tanpa diketahui oleh keduanya.


Kori pun terpengaruh. "Setuju! Aku juga setuju! Permainan! Hidup permainaa....an!" Teriakannya membara. Tangannya dikepal, mengacung-acung ke atas. Semangatnya berapi-api, matanya mendelik-delik bagaikan mata penari kecak, memutari satu titik yang berporos pada Rei. Fokus sekali. Lantas dua tiga detik kemudian yang lainnya juga ikut berteriak. Zillian tampak puas, dan ikut berteriak kembali.


"Yea...! Hidup Pak Calon Walikota...! Coblos Randu!" Celetuk Rei. " Gayamu itu lho, Ran... berasa kampanye! Ha ha ha..."


Sontak khalayak tertawa bersamaan. Namun, Randu tetap serius, tak bereaksi. Dingin, dingin sekali.


Zillian mendekati Kori.


"Ayolah... Jangan malu-malu. Tidak usah berpura-pura lagi," bisik Zillian, "Lomba itu pasti berpasang-pasangan, dan aku akan membantumu agar berpasangan dengan Rei. Bagaimana...? Mau tidak?"


Kori memandangi Ziliian dengan tatapan penuh selidik. Rasa was-was terpantul jelas dari bola matanya. Transaksi ini, sedikit banyak pasti mengandung tipu muslihat, pikirnya. Setidaknya, pasti ada udang di balik batu. Minimal di balik bakwan.

__ADS_1


Selanjutnya Zillian mendekati Randu.


Kori terus mengawasi Zillian. Dan, tidak hanya Kori yang curiga, Rei pun demikian.


"Hei...! Kau...! Zillian! Jangan coba-coba berkolusi ya?" pekik Rei karena khawatir akan suatu kecurangan.


Zillian segera berkelit, "Tenang, tenang...! Ini masalah lain. Tidak ada hubungannya dengan permainan kita nanti. Mohonlah percaya, wahai, saudara-saudaraku!" Setelah membisikkan sesuatu pada Randu, Zillian beranjak menjauh.


Lalu... "Karena saya sang pemberi hadiah, maka sayalah yang akan membagi kelompok!" lanjut Randu semakin jumawa. "Saya yakin tidak ada yang keberatan!" Terkesan arogan, diktator, kolonialisme. Mungkin ia sedang merasa sebagai penguasa rimba, si raja singa bersurai lebat keemasan.


Tanpa dikomandoi, khalayak serentak berteriak menyetujui. "Setujuuuuu...!"


"Setujuuuuuuhuhu hu hu hukz hikz hikz..." Itu suara Rei.


"Baiklah hadirin-hadirin sekalian... Untuk mempersingkat waktu, langsung saja saya akan membagi kelompok... Ada tiga kelompok, termasuk diriku ikut dalam permainan__"


Namun tiba-tiba ada yang memotong perkataan Randu. "Maaf...!" Sepertinya orang ini ingin mengajukan keberatan.


Tidak terlalu masalah. Lagi pula ini saatnya bagi sang raja mengayomi masyarakatnya. Selayaknya mencari perhatian publik, demi mendapatkan simpati serta dukungan sebanyak-banyaknya.


"Bagaimana jika kau yang menang? Apa kami harus memberikan sesuatu padamu?" Ternyata bukan protes, Rei hanya merasa sedikit bingung.


Randu manggut-manggut, seperti seorang sepuh yang banyak beban pikiran. Namun, kali ini ia sungguhan terlihat berwibawa. Setelah beberapa saat kemudian, ia berkata dengan santai, "Tidak. Tidak perlu memberikan hadiah pada saya. Saya yakin saya menang... Kan jadi tidak perlu bersusah payah menyajikan ikan bakar dan membuat juz buah-buahan kalau saya yang menang."


Khalayak terdiam mendengar penjelasan Randu. Mereka hanya saling melempar pandang. Ada juga yang mengangkat bahu, dan ada pula yang menaikkan alis.


Rei belum selesai. Ia masih menyimpan satu pertanyaan. "Satu lagi, Pak Randu...! Apa kita tidak akan tersesat? Selain kau dan Nayu, kami belum pernah berpergian jauh hingga kemari."


"Oo... itu... Tenang! Tenang saudara-saudara! Semua bisa diatur.


"Kalian lihat pohon Akasia yang menjulang tinggi itu... Jangan sampai kehilangan puncaknya. Beradalah dalam radius yang kalian masih mampu melihatnya. Dijamin pasti aman untuk kita semua, dan... lagipula kalian tidak bodoh-bodoh amat, bukan? Kalian kan sekumpul makhluk pecinta alam.


"Sejujurnya, saya juga belum pernah berkelana hingga kemari. Sementara Nayu, saya pikir juga begitu. Dan andai kata Nayu pernah, pasti sudah lama sekali." Seusai memberikan penjelasan berpanjang lebar, Randu terdiam.


Khalayak berdiskusi, terdengar ramai dan menggumam. Ada yang masih bingung, saling bantah, bertanya satu sama lain. Namun tak berlangsung lama, beberapa saat kemudian bertahap suasana riuh mereda.


Zillian berkata mewakili yang lainnya, "Baiklah baiklah kami setuju, Pak Ketua. Masuk diakal, bisa diterima. Laksanakan!"


Setelah yakin semua aman dan terkendali, Randu memulai lagi, "Jika tidak ada lagi yang ditanyakan, saya akan melanjutkan pembagian kelompok. Yang pertama; Menon dan Nayu... Kelompok kedua..."


Terdengar lagi nada-nada sengau di antara khalayak, seperti kerumunan suara lebah. Berisik, lumayan mengganggu, hingga Randu terpaksa menghentikan pidatonya.


Keadaan kembali tenang, Randu melanjutkan lagi, "Kelompok kedua; Rei dan Zillian."


Mendengarnya Zillian nyengir kegirangan, matanya melirik penuh kemenangan ke arah Kori. Kori terhenyak dalam kekecewaan. Merasa tertipu mentah-mentah, namun ia berusaha keras menahan amarah. Matanya tampak merah murka.


"Dan kelompok yang ketiga... tentu saja, tinggal saya dan kamu, saudara Kori," ujar Randu mengakhiri pembagian kelompok sambil menunjuk ke arah Kori yang saat itu juga langsung tersentak menatap Randu.

__ADS_1


 


 


__ADS_2