Srinayu Di Bukit Randu

Srinayu Di Bukit Randu
Bab 26 | Semua Tentang Randu


__ADS_3

RANDU menjadi sosok yang tenang. Gaya berbicaranya datar, hampir tidak ada gejolak intonasi. Ia juga menjadi sosok yang ramah dan santun, menatap dalam mata lawan bicaranya. Tidak tajam. Tapi sebaliknya, sinar matanya memancarkan cahaya kedamaian, kehangatan, aura persahabatan. Ia tidak lagi ingin menggurui, sok tahu, dan tidak lagi berbicara terburu-terburu.


Kesehariannya semakin membuat orang-orang di sekelilingnya bingung. Ia sering menghilang tiba-tiba, lalu kemunculannya kembali pun dengan tiba-tiba, tanpa ucapan salam ataupun basa-basi. Ia kini menjadi gila bekerja, tanpa diajari dan tanpa diminta.


Perihal rajin bekerja, Pak Linggih tentu saja senang dengan keadaan Randu ini. Bu Srining juga kecipratan efek positif atas perubahan itu. Pernah pada beberapa kesempatan, mendapati meja makan telah tersaji beragam lauk pauk dan sebakul nasi. Memang tidak setiap hari Randu menyajikannya, tapi sudah cukup membahagiakan. Namun, sisi positif itu, tak dapat menghilangkan kekhawatiran kedua orang tua tersebut atas perubahan sikap dan sifat Randu.


Ia layaknya sedang membangun sebuah taman. Kelakuannya, laksana seorang bangsawan penggila keromantisan. Seperti pecandu cinta yang tengah memendam hasrat asmara terpendam. Bagai si pesakit yang merasa nyaman akan penderitaan dan sakit hati, merasa bangga dengan syair-syair melankolis dan sentimentilnya. Menyerupai kelakukan seorang pangeran yang tengah dilanda asmara nan dahsyat bergelora pada seorang gadis kampung cantik, dalam kurungan kungkungan ketidaksetujuan orangtua—raja dan permaisuri—untuk merestui hubungan beda kasta sang putra mahkota tersebut.


Ruang tamu memiliki empat jendela. Besar-besar lagi. Keempat-empatnya tengah terbuka lebar. Dan memang selalu seperti itu setiap hari, terbuka lebar. Bahkan terkadang, tak terkecuali saat hujan petir kilat datang bertamu. Angin bebas keluar masuk hilir mudik menyapu seluruh ruangan, menebarkan hawa sejuk dan mengusir keringat jauh-jauh dari pori-pori. Nikmat sekali bersantai di siang hari dalam keadaan seperti ini. Semakin lengkap saja dengan hadirnya beberapa jenis makanan yang boleh disantap sesuka hati. Sambil menyeruput teh hangat, rasanya tiada habis-habisnya mensyukuri semua ini. Saat ini, di ruangan ini, hanya ada Nayu dan Menon. Kebetulan mereka sedang mendapat tugas kecil dari Bu Srining, membuat ketupat ketan. Nayu yang membuat sarang ketupatnya dari janur kelapa muda, sedangkan Menon mengisinya dengan beras ketan.


"Randu ke mana? Telah pergi berkelana?" tanya Nayu sedikit bercanda. Senyumnya manis sekali.


Menon mengernyitkan dahinya, dan mengangkat kedua telapak tangannya ke atas. "Seperti biasa...," timpalnya datar, tidak heran lagi dengan kelakuan Randu.


Mereka terus berbincang, bercanda mesra, saling lempar senyum, tertawa gembira. Ikatan tali kasih mereka semakin erat. Hari-hari yang dilalui selalu penuh keceriaan. Sulit sekali menemukan lengkung cemberut, raut kesedihan, wajah murung. Semuanya tentang kebahagiaan. Bila telah demikian, akibatnya hati tak lagi mendapatkan kesempatan berbicara. Cukup dengan kulit luar saja, guratan-guratan di wajah yang mewakili. Hal itulah yang justru tanpa disadari dapat membuat manusia tidak bisa merasakan lagi kebahagian, hingga akhirnya mereka bertanya-tanya pada diri masing-masing, 'Kenapa hatiku hambar? Perasaanku tak bergairah?' Kebahagiaan menjadi barang murah, barang obralan, seperti sampah yang dengan mudah dapat ditemukan di mana saja. Maka, suatu waktu tertentu akan merindukan kembali rasa yang sempat hilang.


"...Kau berpikiran begitu...?" kejar Menon. Ia begitu bersemangat sekali menggoda Nayu. Maka semakin memerahlah pipi Nayu, semakin merona-ronalah wajahnya. Memandangi wajah kekasih memang merupakan keasyikan yang tiada terkira nikmatnya. Tak terkecuali di siang hari bolong.


"...Sepertinya..."


"Nayu... Sst...!"


"Auw! Menon...! Jaga sikapmu, ya!"


Lantas Nayu dan Menon tertawa terbahak-bahak. Cekakak cekikik. Cengar cengir tak tentu arah. Namanya juga orang lagi kasmaran.


 


SETIAP perbincangan hampir selalu mengenai Randu. Semua tentang Randu. Ia menjadi topik pembicaraaan hangat. Menjadi bahan tertawaan. Bahan baku serta tempat awal mula segala gosip, baik yang murahan maupun mewah beredar. Membuat orang-orang betah bertahan berlama-lama berbincang-bincang. Apalagi saat berada di ruangan favorit; ruang tamu.


"... jiwa sosialnya membludak ..."


"... paling juga cari perhatian, cari muka ..."


"... sok suci ..."


"... ia menjadi kemayu ... menyukai bunga ..."


"... aku melihat setangkai bunga diselipkan di daun telinganya ... mengerikan ..."


'... juga memasak ... ia menikmatinya ...'


'... dengarkan ini ... ternyata ia juga telah menjadi pesolek ...'


'... tidur di mana malam ini kau, Kori...? ..."


'... malam ini aku akan kembali tidur di depan ...'


'... hua... ha... ha..., apa ia sedang menganggap dirinya sebagai seorang arjuna ...'


'... si sakti yang sedang mendapat tugas membangun seribu candi ... aku yakin perasaannya sedang demikian ... atau ...'


'... di mana jin-jin patuh dibawah perintahnya ...'


'... ia seorang pengkhayal sejati ...'


'... tak salah lagi, ia sedang jatuh cinta berat ...'


'... padamu, Rei ...'


'... aku rasa pada Nayu ...'


'... yang pasti, kewarasannya mulai terganggu... berhati-hatilah ...'


Rei yang lebih banyak diam kembali bersuara, "...Mungkin ia ingin menjadi pedagang bunga. Menjualnya ke kota."


"Kenapa ia menanamnya di dekat kolam?" tanya Kori sambil hendak mengunyah sepotong kue.


"Itu hal yang masuk akal, tidak perlu jauh-jauh mencari air untuk menyiram bunga," jawab Menon sok tahu.

__ADS_1


"Bukan... Aku rasa... Randu menyukai keindahan. Dekat kolam kan akan tampak menjadi lebih menarik, nampak eksotis. Darah seorang seniman mengalir di dalam dirinya," sergah Zillian mengemukakan pendapat.


"Ternyata ia romantis juga ya," seloroh Rei tanpa malu-malu.


"Ha... ha...," Ziliian tertawa, ia punya pendapat lain tentang keromantisan Randu ini, berbeda dengan bayangan dalam kepala Rei, "Jangan terlalu berharap Rei, Randu menyukai Kori. Dan Kori pun..."


Kontan saja Kori langsung memelototi Zillian tajam. Makanan yang berada di dalam mulut, ingin rasanya segera disemburkan keluar, agar dapat lebih cepat memaki Zillian.


"Persetan kau," umpat Kori. Terdengar tak jelas seperti sedang berkumur-kumur. Dan matanya terbelalak, oleh makanan yang tersangkut di tenggorokan. Seketika tangannya kalang kabut berusaha meraih segelas air yang letaknya masih terlalu jauh dalam jangkauannya.


"Nih, silahkan," tukas Zillian, sambil menyodorkan segelas air kepada Kori.


Rei dan Menon tersenyum tersipu-sipu. "Hm... Benarkah Kori?" celetuk Rei. Dan Kori pun semakin deras menenggak air. Matanya berair, memerah, menderita tercekik.


 


SUASANA serupa, juga melanda sepasang suami istri ini. Randu menjadi selebriti dadakan. Selalu saja ada yang menarik untuk dibicarakan tentang dirinya.


"...Menjadi lemah lembut, menolongku memasak, membantu pekerjaanmu habis-habisan. Dari kolam, sawah, ladang, hingga taman bunga," umbar Bu Srining lagi. "Apa yang telah menimpanya? Membolak-balikkan susunan urat syarafnya sedemikian rupa... dalam sekejap, mendadak, dan tanpa sebab yang pasti... Seperti tersengat listrik..."


Pak Linggih terus mendengarkan. Manggut-manggut pelan, dan menyeka hidungnya.


"Mungkin karena benturan di kepalanya itu... karena sengatan listrik berdaya tinggi tidak mungkin menimpanya di sini," lanjut Bu Srining.


Pak Linggih masih terdiam. Ia merasa belum memiliki tanggapan yang tepat. Lalu tanpa sepengetahuan istrinya, Pak Linggih tersenyum-senyum sendiri seperti orang sakit jiwa. Gelombang listrik berkekuatan cinta bermega-mega watt.


"Setelah ini apa lagi...," lanjut Bu Srining.


Pak Linggih masih juga belum berkomentar. Kemudian ia menyisir rambutnya dengan tangan ke arah belakang. Tampaknya ia mulai merasa cemas dan gusar.


"Bicaranya juga tak jelas. Denganku saja ia kini lebih sering menggunakan prosa-prosa aneh nan rumit...," Bu Srining terus berceloteh. Ulah Randu telah menyeretnya ke dalam lembah kepanikan. Membuatnya merinding, karena hampir saja menganggap Randu sudah tidak waras. Ibu paruh baya ini benar-benar tidak bisa menutup mata atas perubahan gila-gilaan dalam diri Randu. Ia ingin menunjukkan kepeduliannya, memberikan pertolongan bagi Randu. Bila memungkinkan. Tapi ia sendiri tidak tahu bagaimana caranya. Penyebabnya saja ia tidak tahu. "Ia juga sering kudapat sedang berpuisi ria... melantunkan syair-syair... Ia bak seorang pujangga."


Melihat istrinya yang sedemikian khawatir, akhirnya Pak Linggih angkat bicara, "Tenang saja, Bu... Randu baik-baik saja. Bila kau ingin khawatir, seharusnya sejak kedatangannya pertama kali ke tempat kita ini. Ia memang aneh, tapi tak berbahaya. Ia belum melukai siapa pun... setidaknya hingga saat ini."


"Aku tidak khawatir... Bukan pula tentang itu kekhawatiranku, Randu memang takkan mungkin melukai siap__" balas Bu Srining namun langsung terhenti sendiri, lalu menghela nafas panjang. Randu... Randu...


 


Di sisi bukit yang menanjak, Randu berdiri mematung menatap langit. Di antara ilalang, disaksikan bebatuan, di atas rerumputan dan pepasiran, di situ ia sedang mencaci maki nasib, dengan diiringi air mata yang mengalir pelan di pipi. Tentang dirinya, dirinya, dan dirinya, dalam naungan penuh luka di atas luka. Seakan dirinyalah yang memapah bumi, bukan sebaliknya. Betapa beratnya.


"Cinta... Mengapa sulit sekali cinta kudapatkan...? Apa karena aku terlambat memberikan cinta nafsu... Apakah sebuah keniscayaan cinta harus diikat dengan birahi...?"


Dipandanginya sang surya yang perlahan mulai tenggelam. Getir rasanya menunggu masa-masa fenomena itu berakhir. Lantas terbersit di hatinya sebuah kerinduan. Kerinduan yang seharusnya, kerinduan yang abadi, yang sering kali terlupakan bagi insan seperti dirinya. Maghrib pun tiba, Randu mengangkat telapak tangan dan kemudian menutup daun telinga kanannya.


Mulut Randu tampak bergetar pelan. Ia berniat mengucapkan serangkaian 'salam pertemuan' pada senja. Lantas, kalimat yang pertama pun segera berkumandang...


"Allaahu akbar, Allaahu akbar..."


Sunyi. Sunyi yang tenang ia rasakan. Bahkan nafasnya pun tak berani berkeluh kesah. "...Allaahu akbar, Allaahu akbar..."


"Asy__hadu allaa ilaaha illallaah.... Asy__hadu allaa ilaaha illallaah...."


Dadanya bergetar keras. Dan terasa hawa dingin seolah sedang merasuki sekujur tubuhnya. Sejuk sekali.


"Asy__hadu anna Muhammadar rasuulullaah... Asy__hadu anna Muhammadar rasuulullaah..."


Timbul dari dalam dirinya perasaan gembira yang meluap-luap. Kesedihan, kepedihan, menghilang entah ke mana. Nama itu menenggelamkan jiwa dan raganya dalam kedamaian yang amat sangat.


"Hayya 'alash shalaah... Hayya 'alash shalaah..."


Melintas di atasnya ratusan kawanan burung walet dalam keadaan terburu-buru seakan sedang dikejar waktu darurat. Disusul gerombolan kelelawar yang berarak-arak resah. Kemudian bermunculan ribuan serangga beragam jenis yang sibuk beterbangan ke sana kian kemari. Begitulah, angkasa mendadak ramai oleh makhluk bersayap yang berlalu lalang.


"Hayya 'alal falaah... Hayya 'alal falaah..."


Pepohonan seketika nyiur melambai disertai gemuruh deru angin, ilalang merundukkan diri lebih rendah lagi, dan debu-debu yang beterbangan segera berjatuhan ke bumi.


"Allaahu akbar, Allahu akbar..."


Keadaan kembali hening dan sunyi.

__ADS_1


"Laa ilaaha illallaah..."


Randu memejamkan mata. Terasa tubuhnya bagai melayang-layang ringan tanpa beban. Tubuhnya yang kurus seakan mampu menampung seisi bumi; samudera, air, api, tanah, gunung, magma, pedang, nuklir, macan, monyet, semut, perampok, pengkhianat, bebatuan. Semuanya. Ia yakin itu. Ia merasa mampu melakukan apa pun saat ini. Tak ada yang memberatkan bagi dirinya. Hidup itu anugerah.


 


"MANA Randu?" tanya Pak Linggih kepada Nayu.


"Ia di luar sana, masih sibuk dengan pekerjaannya... Soal taman di tepi kolam. Seakan sedang diburu waktu, harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum fajar tiba," jawab Nayu lugas.


"Apa tidak bisa dilanjutkan besok saja?" tanya Pak Linggih, seolah menganggap Nayu dapat mewakili hati Randu. "Hari telah malam, senja telah terlewati."


Nayu tertawa kecil. Manis sekali. "He he... Besok...? Bisa saja semangatnya tak sedahsyat malam ini. Ia menyadari hal itu, mungkin. Atau ia takut diserang oleh pemikiran lain... Masih banyak ide-ide yang tengah mengantri di dalam kepalanya, salah satunya mendirikan sebuah istana... di tepian kolamnya. Ya, salah satunya itu."


"Itu bagus," sergah Pak Linggih seakan membela Randu.


Wajah Nayu sedikit cemberut. "Pikiran Randu suka berubah-ubah... Ia seperti tak punya pendirian. Ia sukar ditebak. Kepribadiannya tak hanya satu. Ia bisa menjadi sosok lain dengan tiba-tiba."


Pak Linggih terkejut mendengarnya, walaupun ia sendiri menyadari hal itu. Randu memang seakan memiliki kepribadian ganda.


Di mata Nayu, saat ini Randu seperti orang kesurupan. Bercocok tanam di malam hari yang gelap, hanya mengandalkan sinar rembulan yang remang-remang, dengan hawa dingin yang menusuk. Sama sekali tak memperdulikan longlongan anjing hutan. Mengerikan, membayangkan apa yang ada di enak Randu. Entah ruh macam apa yang bersemayam dalam tubuh Randu.


Nayu memejamkan mata. Berusaha menyelami perasaan Randu. Jauh, jauh sekali, hingga dasar terdalam; muara hati. Kedalaman yang tanpa cahaya, senyap dan mencekam. Hanya suara-suara gelembung air yang terdengar, yang berduyun-duyun bergerombol berlomba-lomba melesat ke permukaan, yang lalu akan pecah, sebelum sempat merangkaikan kata-kata. Berulang kali Nayu mencoba dan mencoba. Tak ada petunjuk sama sekali. Isi hati randu benar-benar tak dapat terbaca. Nayu frustasi, lelah, terhempas tak berdaya. Tinggallah ia terbaring lemah sembari menyaksikan rembulan perlahan merayap, seolah hendak meninggalkannya dalam kesendirian. Sunyi sekali.


 


TADI malam pun begitu, di siang hari ini juga masih demikian adanya Randu.


Meski sudah tahu apa yang sedang dikerjakan Randu, tetap saja membuat Nayu merasa penasaran. Ia tak tahan untuk tidak mendekat dan menghampiri.


Semakin mendekat, langkahnya semakin berhati-hati. Tidak begitu yakin dengan tindakannya kali ini, seolah Randu adalah pengidap darah tinggi yang mudah naik pitam.


Diperhatikannya pemuda itu, benar-benar terlihat sedang serius dengan pekerjaannya.


Tapi sesungguhnya, kerinduan yang tersirat lemahlah yang menggerakkan Nayu, demi mendapatkan kesempatan untuk berduaan. Mereka pernah merasakannya, dan ingin merasakan kembali. Bayang-bayang asa yang mendebarkan, detak jantung yang membingungkan, kedamaian ganjil yang merambat di tengah kesunyian.


"Kapan kau akan memperluas ukuran kolam, menjadikannya sebuah danau...?" tanya Nayu memberanikan diri. Sementara Randu tetap sibuk menata tanamannya.


"Apa kau sudah tidak berminat...?" lanjut Nayu ragu-ragu. Sejenak detak jantungnya terhenti. Diperhatikannya lagi pemuda itu baik-baik. "Atau memang karena tidak mudah mewujudkannya. Terbayangkan betapa beratnya... Hm... Setidaknya lima enam kali lebih luas dari kolam ini." Nayu menarik nafas panjang, ditahan, lalu dihembuskannya selembut mungkin. Aman.


Pertanyaan-pertanyaan Nayu berhasil membuat Randu merasa terusik. Ia menegakkan badannya, memandangi karyanya sejenak, lalu menatap Nayu penuh selidik.


Nayu merasa tidak nyaman dipandangi seperti itu. Ia meremas-remas ujung bajunya.


"Kau lihat sepanjang tepian kolam ini...," Randu mencoba merangkai kata-kata terbaik, "...telah terlanjur ditanami bunga-bunga indah..." Sementara wajahnya terlihat miris.


"Kau tinggal memindahkan bunga-bunganya, dan kembali melanjutkan danaumu. Bila kau tak sanggup sendirian, kami bersedia mem__"


"Tidak mungkin...," potong Randu. "Lagi pula, kolam kecil dikelilingi taman bunga tampaknya lebih indah dibandingkan danau." Randu kemudian diam tertegun. Pikirannya melayang jauh, meninggalkan Nayu yang ada di dekatnya. Jauh... jauh mengembara.


Saat kembali dari pengembaraannya, Randu berujar, nadanya lemas tak bersemangat, "Semua ada batasnya. Waktunya telah habis, sudah saatnya aku menghentikan impian konyolku itu."


"Waktu...?" Nayu menjadi semakin tak mengerti dengan penjelasan Randu. "Sebenarnya kau tidak harus menyerah. Apa kau tidak sadar, ada begitu banyak tenaga manusia yang bisa dimanfaatkan sekarang ini. Dan yang paling pasti, ayahku pasti akan selalu setia mengikuti setiap idemu. Diakan salah satu pemujamu. Bahkan, bila kau meminta, aku juga bersedia turun tangan."


"Ha ha ha...," Randu tertawa mendengarnya. Sementara, tak terasa pekerjaannya telah selesai. Namun, Randu sengaja menyisakan sepetak tanah, sebagai satu-satunya jalan masuk menuju kolam, kemudian ia duduk bersila di situ.


"Kelelahan?" tanya Nayu sambil hendak mengambil posisi duduk juga.


"Lumayan," balas Randu sekenanya. Bergeser sedikit dan memperbaiki duduknya


Randu dan Nayu duduk berdampingan. Hampir tak ada jarak yang memisahkan. Dekat sekali.


Dalam kepungan bunga-bunga indah, ditutupi daun-daun, sisi tubuh mereka mereka saling bersentuhan. Tak lama kemudian datang kawanan kumbang membawakan paduan suara; sumbang dan mendengung-dengung seumpama kaset kusut. Sangat tak menghibur. Setelah serangga penghasil madu itu pergi, muncul tiga empat ekor ikan yang timbul tenggelam di permukaan air. Sungutnya berkomat kamit, seolah sedang menggoda sepasang insan manusia di hadapan mereka itu, lalu pergi tanpa rasa bersalah.


Hati masing-masing menjadi setenang air kolam. Sejuk damai, sekaligus menimbulkan rasa yang berlawanan; menggelisahkan. Tak ada kata yang dapat diucapkan, saatnya berbicara dari hati ke hati.


Kecil, kecil sekali, hampir tak terdengar, hampir tak terjangkau, jauh menggema, tapi terus berusaha untuk tetap saling sahut menyahut. Silih berganti antara keraguan, keyakinan, dan kosong. Hingga tiba di penghujung hari pun hanya senja kelabu yang mereka dapatkan. Sekiranya, cukuplah warna kelam tersebut menjadi kenang-kenangan untuk menghadapi malam nanti.


 

__ADS_1


 


__ADS_2