Srinayu Di Bukit Randu

Srinayu Di Bukit Randu
Bab 4 | David vs Goliath


__ADS_3

"BAGAIMANA cara kau membujuk Randu?" tanya Dira Penasaran.


"Tidak ada cara khusus, aku hanya menanyakannya sekali lagi, lalu dia pun berubah pikiran...," jawab Janur sembari menata posisi lampu corong di sudut tenda.


Penerangan semacam itu dapat menimbulkan pembuangan asap hitam yang cukup mengganggu pernapasan, bahkan dapat membuat lubang hidung menjadi hitam.


"Di situ lebih baik," timpal Dira berpendapat mengenai letak lampu corong. Namun, jawaban Janur tadi masih menyisakan keraguan, ekpresi wajah Dira memperlihatkan ketidakpuasan. Ia tidak mempercayainya begitu saja, menurutnya, pasti ada yang disembunyikan.


"Tapi, dia sempat membuatku bingung... Ketika aku bertanya tentang keikutsertaannya, dia malah balik bertanya begini; 'Bukankah kalian telah berangkat satu hari yang lalu?'" lanjut Janur.


Dira tersenyum bijak. "Tidak aneh, begitulah adanya Randu." Kemudian meraih sebuah bantal mungil, dan menelentangkan tubuhnya tanpa harus merasa risih dengan keberadaan Janur. Matanya menatap langit-langit tenda dan mulai melamun ringan.


"Istirahatlah dulu, Dira," nasihat Janur. "Aku keluar dulu, ya."


 


MIE instan saja bila dinikmati di alam bebas seperti saat ini, akan menjadi sajian yang istimewa. Apalagi bila didampingi dengan hidangan lainnya, semisal daging sapi atau ayam. Diasapi, dilumuri mentega beserta racikan bebumbuan sedap. Tak terbayangkan nikmatnya. Namun tak perlu semewah itu, Randu mempunyai kejutan kecil, agar mie instan yang ia bawa menjadi lebih spesial. Yang tengah dengan susah payah ia buka cangkangnya pada sebuah kotak kaleng adalah produk kemasan makanan instan, berupa daging sapi giling, alias 'daging cornet'. Tampaknya akan ada internet—indomie telor kornet—malam ini di tengah hutan belantara.


"Kebetulan sekali," cetus Cawang begitu melihat bahan pangan yang berjejeran di hadapan Randu. Sementara di dalam genggamannya sendiri, ada sesuatu yang patut diperhitungkan untuk menambah selera menu makan malam. "Dua butir telur ayam ini akan melengkapai kebahagian kita," ujarnya dengan bangga.


"Tepat sekali," timpal Randu langsung setuju dan tanpa ekspresi.


"He he..., ada lagi, Randu... Kucabuti daun bawang beserta isinya dari pojok hutan sebelah sana...," tunjuk Cawang mengarah ke suatu tempat. "Juga brokoli, he... Dan yang lainnya masih banyak jika kau mau? Hutan ini benar-benar pasar sayur mayur terlengkap. Gratis pula."


 


"APA tidak salah kau mengajak orang aneh itu?" tanya Omix penasaran setelah puas memperhatikan tindak-tanduk Randu.


"Randu...?" tanya Janur memastikan, keningnya sedikit berkerut.


"Ya," jawab Omix singkat sambil mengangguk.


So..., tatap Janur seolah keheranan.


"Bagaimana jika nanti tiba-tiba dia kesurupan...?"


Belum sempat Janur berpikir banyak, Omix kembali melanjutkan.


"Belum lewat satu bulan ini... dia berbuat ulah di suatu tempat billyard. Seorang pemuda terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Lengannya retak akibat hantaman tongkat billyard," ujar Omix sambil mengoyang-goyang telunjuknya yang tengah menghadap ke atas.


"Kau tahu permasalahannya?"


"Tidak tahu pasti."


Janur mendekap mulut serta lubang hidungnya. Tampaknya ia sedang berpikir keras, untuk mempersiapkan penilaiannya dan..., "Itu artinya aku membawa orang yang tepat; alam liar berhadapan dengan orang yang liar pula," papar Janur tegas dan mantap.


 


OMIX dan Cawang tampak sedang berbincang-bincang serius; mengenai jebakan yang telah mereka pasang tadi siang. Malam ini tempat itu akan mereka sambangi kembali. Mie instan daging cornet telur setengah matang belum cukup memuaskan nafsu makan Cawang. Ia membujuk Omix untuk menuruti keinginannya. Dan tampaknya ia berhasil.


"...Sebenarnya aku masih kenyang dan tak begitu bersemangat. Tapi..., baiklah." Terpaksa Omix menyetujui ajakan Cawang.


"Kau panggil Janur, dan aku akan membujuk Adrian."


"Tak masalah," sahut Omix.


Omix pun segera melangkah hendak menjalankan misinya. Dan sebelumnya, masih menyempatkan diri menyapa dara manis yang sedang tampak keibuan. "Hei..., Dira!"


Dira menoleh, tapi tidak membalas. Ia sudah bisa menebak acara apa yang sedang dibahas kedua pemuda itu tadi. Acuh tak acuh, lantas kembali melanjutkan pekerjaannya; mencuci peralatan makan.


"Mana Janur? Apa sudah tidur?" tanya Omix.


Dira beranjak menuju tungku perapian, kemudian memindahkan sebagian air panas di panci ke dalam thermos.


"Belum. Bila sudah pun, tinggal kau bangunkan saja," jawab Dira asal-asalan.


"Terima kasih, atas sarannya," timpal Omix ketus. "Untukmu, kusisakan cekernya saja."

__ADS_1


"Randu...! Kau tidak ikut!?" teriak Dira dari jarak sepuluh meteran ke arah Randu.


Tidak. Tampak Randu menggeleng-gelengkan kepala, sementara matanya masih tetap terpejam. "Aku masih kenyang!" tegasnya lagi dengan berteriak keras.


Terkadang sosok sentimentil sering mengalami rasa cemas yang tak beralasan. Merasa dirinya sebagai manusia yang paling menyedihkan. Merasa kurang berbudi pekerti. Merasa hari ini tak pernah lebih baik dari hari kemarin. Merasa ini, merasa itu. Bila dihubungkan dengan kata-kata pujangga, seorang sentimentil menggemari kalimat-kalimat semacam ini; 'Biarlah aku yang mengalah', 'Damai sekali menatap rembulan di malam ini', 'Andai aku bisa memberikan segalanya..., aku rela tidak makan berhari-hari', 'Bila rindu dan kasih tak sampai, racun kuminum jadi penawar'. Biasanya dorongan itu semakin kuat akibat dari mendengarkan lantunan lagu-lagu melankolis, menyaksikan kelinci dimakan serigala, memandangi matahari yang terbenam, berpisah dengan orang tercinta di senja yang merah merana, dan sejenisnya. Lelaki di pojok dekat kumpulan batang bambu di sebelah sana dapat mewakili ciri-ciri manusia seperti tersebut di atas; Randu.


Meskipun perutnya telah cukup terisi, Randu masih saja menggigiti ilalang. Sesekali menghisap rokok, lalu menyeruputi secangkir kopi dingin. Rambutnya yang tidak kusut, sewaktu-waktu disisirnya dengan jemari kearah belakang. Terkadang ia tampak begitu sangat menghayati saat-saat sedang mengirup nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan-lahan dengan lembut. Dalam pejaman matanya, ia sedang meresapi keadaan sekitar. Ia merasa dapat mendengar nyanyian alam, dan sepertinya, batang-batang bambu yang saling bergesekan di sisi belakangnya itu, dapat memberikan sensasi nada-nada yang membuai. Perasaannya pasti sedang syahdu saat ini. Bila sudah begitu, anak-anak lainnya akan merasa segan untuk mendekat. Kecuali, satu orang ini.


"Hei sang pertapa!" sapa Dira usil. "Apa aku mengganggu...?"


Tidak. Seribu kali tidak. Randu segera membuka matanya. Dan Dira tahu itu, kapasitas dirinya.


"Aku sudah mencoba memejamkan mata, tapi tetap tak bisa tertidur. Kau sendiri..., apa belum mengantuk?" tanya Dira lagi.


Seandainya tadi mengantuk, pasti sekarang tidak. "Sama sepertimu... entahlah... mata ini sekalipun terasa berkunang-kunang tapi sulit sekali tuk terpejam..." Randu berusaha membuat suasana hatinya seirama dengan hati Dira.


"Syukurlah. Kau memang yang terbaik. Selalu ada untukku. Boleh aku duduk di sampingmu itu?" ujar Dira berbasa-basi.


Randu mengangguk. Dan diam-diam ia tengah mencubiti pahanya sendiri. Sekuat-kuatnya. Agar dadanya segera berhenti berdebar-debar.


Tidak terasa waktu telah menghanyutkan mereka dalam perbincangan hangat. Rinai akan senda gurau canda tawa. Terlebih lagi Dira, ia tampak sangat bahagia sekali.


"...Jangan-jangan ia rela menjebloskan dirinya ke tengah belantara ini, hanya karena sepotong daging unggas," ujar Randu datar dan dengan ekpresi wajah datar pula.


"Bisa aja kau Randu," timpal Dira sambil mencubiti perut Randu. Tidak puas, kemudian menampar mesra otot bahunya juga. "Tapi kan..., yang satu ini bukan unggas biasa. Itik benjut. Hewan langka dan dilindungi. Bila memang benar demikian, berarti tidak diperbolehkan untuk diburu ataupun diperjualbelikan. Termasuk menjadikannya santap malam."


"Ha... ha... ha... Aku rasa, kalau hanya untuk konsumsi pribadi, tidak terlalu menjadi persoalan."


"Hihi... Ternyata, kau mafia juga, ya."


"Itu hanya perasaan dik Dira saja."


"Bisa aja kamyu, yuach," goda Dira dengan lirikan maut. Dan sepertinya, pandangan mata Dira juga semakin 'hangat'. "Sepertinya... kau cocok menjadi pembawa acara. Ee... talkshow, MC... Ya... semacam itulah."


"Aku...?"


"Kau tak menyadari bakatmu?"


Aku...? "Kurasa..." Randu merasa tak yakin mengatakannya. Ia mencoba memikirkan jawaban lain. Dan ini yang terpetakan di dalam otaknya, "Bisa ya, bisa tidak." Jawaban diplomatis.


"Memangnya kau dulu bercita-cita ingin jadi apa?"


Randu kelihatan sedikit bingung. Lantas Dira memiringkan kepalanya, menggerakkan alisnya, pecicilan, dan tersenyum datar.


"Polisi," jawab Randu, akhirnya.


"Kau bercanda?"


"Tidak."


"Iya...!"


"Tidak."


"Ya...dunk."


"Baiklah, ya ajalah."


"Kok, ya ajalah.... Iii... iiiih... serius, akh...."


Bahagianya Randu malam ini. Sebaiknya Safril tetap tertidur pulas hingga pagi menjelang, di dalam tenda biru di ujung sana.


Tiba-tiba perasaan sepi menyelinap ke dalam relung hati Randu, menjelma menjadi laba-laba hitam, dan mulai merayapi seisi rongga dada dengan bulu-bulu kakinya yang halus menggelitik.


Rasa sepinya bertolak belakang dengan apa yang tengah dialaminya. Baginya, Dira yang tertawa-tawa riang perlahan-lahan tampak selayaknya potongan adegan dalam film bisu. Mulutnya hanya tampak berkomat-kamit tanpa suara. Randu bagai tenggelam dalam lautan air yang bening. Mata terus terbuka lebar, sedangkan telinga tersumbat. Justru rintihan bulan nun jauh di sana dapat terdengar jelas olehnya. 'Kenapa awan hitam harus menyerangku di saat masa purnama begini,' begitu tutur rembulan kepada Randu.


Lamunan bisu Randu mendadak pecah seketika, Dira melingkarkan lengannya ke balik pinggang Randu. Lalu menyandarkan tubuh serta kepalanya di sisi bahu pemuda itu. Ditatapnya Randu dalam-dalam dan penuh arti. Kemudian berangsur-angsur berubah menjadi tatapan kepasrahan. Menampilkan aura wanita yang tak berdaya, siap untuk diperlakukan apa saja.

__ADS_1


Wangi tubuh dan desah napas Dira, mengacaukan aliran sirkulasi darah Randu. Membuat dada terasa sesak. Jantungnya dengan cepat bergetar keras, merambat hingga ke sekujur tubuh.


Randu masih belum bereaksi sebagaimana mestinya, membuat Dira menaikkan level serangan. Menggerakkan telapak tangannya menuju dada Randu, kemudian mengelusnya lembut, lalu merayap turun ke bawah, hingga berakhir di atas pangkal paha kiri.


Dira menatap Randu tak mengerti, usahanya ditanggapi dingin. Lantas Dira melepaskan dekapannya, dan beringsut membuat jarak. Kecewa.


Dira menatap lurus ke depan. Memandangi dengan kosong rerumputan dan ilalang yang bergoyang lembut di antara kegelapan. Seakan penuh tanya, yang sebenarnya tidak perlu ia tanyakan. Pada dirinya sendiri maupun kepada tetumbuhan tersebut. Sementara Randu, ia hanya berani memerhatikan Dira lewat lirikan kecil yang membias dari samping pelupuk matanya. Kepalanya tertunduk lesu, disertai rasa bersalah. Dan angin malam pun berembus keras. Singkat dan cepat. Keadaan kembali hening.


 


PAGI-PAGI sekali Randu telah keluar dari tendanya. Sementara di dalamnya, Janur, Omix, dan Cawang masih tertidur pulas. Tenda yang besar untuk menampung empat orang manusia dewasa.


"Hua...," Randu menguap sambil melakukan gerak mematah-matahkan tubuh. Segenap persendian serta otot-ototnya terasa pegal dan linu. Kemudian berlari-lari kecil di tempat. Di hadapannya kabut asap putih masih menyelubungi barisan pepohonan, dan embun-embun juga belum beranjak dari naungan sementaranya pada dedaunan dan ilalang juga buah-buahan.


Jiwanya yang selalu penasaran akan sesuatu, membawa tubuhnya menembus hutan yang masih berkabut, yang merupakan salah satu suasana yang ia gemari. Suasana mistis, misterius, eksotis, dan hal-hal aneh lainnya.


Tak lama setelah tubuh Randu menghilang ke dalam barisan hutan berkabut, tampak seseorang tengah berusaha keluar dari dalam salah satu tenda lainnya, yang berukuran sedang. Begitu tubuhnya yang membungkuk berdiri tegak, sosok itu kemudian merapikan rambut sebahunya yang tampak kusam terurai. Mengusap-usap kedua matanya, lalu sejenak menghisap udara segar dalam-dalam. Setelah itu, ia langsung melangkah terburu-buru sambil merapikan pijama merah mudanya yang bermotif bunga-bunga mawar kecil. Tak lupa ia menarik-narik ringan akan sesuatu yang melingkar di balik baju pada sisi bahunya yang mulus licin. Seutas tali tipis, lentur, selebar jari kelingking, berwarna biru muda, pinggirannya berenda. Dira pun segera berpindah memasuki sebuah tenda di sebelahnya. Berukuran paling kecil, terletak diantara kedua tenda lainnya. Disusul tak lama kemudian lolongan serigala di kejauhan. Panjang dan pilu, menyayat-nyayat perasaan di hari yang masih terlalu pagi ini.


 


JANGAN coba-coba menulis surat di saat emosi sedang menguasai diri; jangan menasihati orang yang sedang kelaparan; jangan membuat keputusan di saat penuh amarah; jangan tertawa terbahak-bahak di depan orang yang sedang dirundung duka; dan jangan banyak bicara di dekat orang yang sedang lelah. Maka, mudah-mudahan, semuanya akan baik-baik saja.


"Randu...! Ambil plastik bekas itu!" perintah Omix kepada Randu. Sementara Randu sendiri memang tengah sibuk mengumpulkan sampah-sampah sisa pesta tadi malam. "Kumpulkan di sana!"


"Jangan berantakan seperti ini," protes Omix, seolah ia seorang mandor dan Randu bawahannya. Bebas memerintah serta mencaci anak buahnya. "Pindahkan dulu! Cepat!"


"Apa isi di dalam kaleng ini...?! Rand...!?" tanya Omix kasar.


"Rencana B," jawab Randu ketus dan singkat, juga tentunya membingungkan.


"Apa...?!" Omix sekilas melirik Randu. Matanya menyipit dan kedua ujung alisnya hampir bertemu. Kemudian, kembali pada kalengnya lagi.


Omix sibuk sekali pada waktu pagi menjelang siang ini. Kelabakan seolah sedang bersiap-siap untuk menyambut kunjungan seorang tamu penting terhormat. Sedangkan Randu, di sela-sela kesibukannya, ia juga tengah diserang berbagai macam beban pikiran. Suasana hatinya sedang tak menentu. Uring-uringan, bagai wanita yang tengah menerima tamu bulanan. Kerutan di keningnya tampak timbul tenggelam.


"Ada apa lagi ini...?" Omix menepuk-nepuk sebuah tape player. "Kenapa tak satu pun orang mau mengamankannya? Hooo... tadi malam kan hujan cukup lebat... Ck...ck.... Apa Janur sanggup memperbaikinya, ya...? Janur...! Bisa tolong sebentar!?" panggil Omix kepada Janur yang tengah berbincang-bincang dengan Dira.


Janur mendengar panggilan itu, tapi hanya mengangkat tangannya yang sedang memeluk secangkir kopi. Kemudian melanjutkan perbincangannya lagi dengan Dira—seolah sapaan untuknya tadi tidak pernah ada—sambil berdiri menikmati cerita pagi.


"...Randu, tolong panggilkan Janur!"


Kali ini ucapan Omix sama sekali tak didengarkan Randu. Sama sekali tidak peduli dengan masalah yang sedang diributkan. Padahal Omix telah berceloteh begitu panjang lebar.


"Ran, coba kau panggil Janur dulu! Rand...?! Randu...!" perintah Omix dengan nada kasar, keras, terdengar sok berkuasa, membuat laju pikiran Randu seketika tergelincir keluar dari sirkuit syarafnya yang berliku-liku.


Akhirnya bom waktu itu meledak.


"Kau pikir kehadiranku di sini untuk dijadikan kacung...!!?" bentak Randu sekeras-kerasnya, dan menendang tumpukan sampah yang hampir tersusun rapi hingga berhamburan ke mana-mana.


Omix langsung menegakkan tubuhnya yang tegap. Randu tak mau kalah, ia pun segera berdiri dengan sikap menantang.


Teriakan Randu menarik perhatian yang lainnya, termasuk Cawang yang tengah asyik mencabuti ubi jalar yang berada pada posisi paling jauh di ujung sana. Mereka semua memandangi kedua orang yang tengah bersitegang itu dengan cemas, karena mengira sudah pasti ada yang tidak beres antara Omix dan Randu.


Keduanya berdiri mematung dalam posisi saling berhadap-hadapan. Celakanya, yang membuat suasana semakin tegang dan mengkhawatirkan, Randu tengah memegang sebilah golok.


"Jangan lepaskan golok itu...," gumam Janur pelan, maka..., "...semuanya akan baik-bak saja."


"Apa...!?" Dira menoleh sesaat untuk menimpali ucapan Janur yang terdengar terputus-putus. Kemudian mengalihkan perhatiannya kembali pada kedua orang yang tengah dimabuk amarah. Bukan asmara.


Harapan Janur pupus dalam hitungan detik, Randu membuang goloknya ke samping. Sejauh mungkin, dan menghilang di balik sesemak.


"Ow..., baiklah bila itu maumu," cetus Omix sambil tersenyum meremehkan.


"Hei...!" Sang penegak hukum di muka belantara akhirnya terpaksa turun tangan. Janur bergegas berlarian. Dan tampaknya, berhasil menunda pergerakan Omix, walaupun mungkin untuk sementara. Namun, kedua 'pendekar' itu masih tetap saling bertatapan dengan tajam. David vs Goliath.


\=====


Glossary

__ADS_1


internet : istilah trending singkatan dari indomie telur kornet


David vs Goliath : metafora perkelahian / perseteruan / lawan tak seimbang.merujuk pada kisah David (lemah) vs Goliath (raksasa), yang terjadi di israel ribuan tahun silam.


__ADS_2