Srinayu Di Bukit Randu

Srinayu Di Bukit Randu
Bab 18 | Cinta Baru Cinta Lama


__ADS_3

DUA hari berlalu. Keempat orang tamu semakin merasa betah tinggal di balik hutan ini. Tak ada tanda-tanda kapan mereka akan pergi.


Belum juga diketahui dengan pasti tujuan empat petualang muda nan modis ini sesungguhnya. Barangkali memang tengah menghabiskan waktu liburan sebelum kembali ke hiruk pikuknya suasana perkotaan. Tapi apa mau dikata nasib telah membawa mereka semua tersesat di hutan. Lagi pula di sini memang tidak menjemukan bagi mereka, bahkan bagi siapa pun. Ada getar-getar candu yang menggoda hati untuk terus menikmati daya tarik alam liar di sini.


Alih-alih menanyakan maksud kedatangan Menon dan kawan-kawan. Justru sebaliknya-sama seperti saat kedatangan Randu dahulu-tuan rumah semakin menunjukkan keramahannya. Terlebih lagi dari seorang Nayu__yang kini bak bintang pujaan di langit megah.


"APA kau sudah menanyakan rencana mereka selanjutnya?" Akhirnya Bu Srining tidak dapat menahan rasa penasarannya.


Suaminya juga tidak tahu harus berbuat apa. Lagi pula, sepertinya kehadiran mereka membuat suasana menjadi hidup. "Nayu tak lagi kesepian. Satu orang Randu saja sepertinya masih kurang. Apa kau merasa terganggu dengan kehadiran mereka?"


Bu Linggih berpikir sejenak. Mencari tahu apa benar-benar yakin dengan apa yang dirasakannya saat ini. Wanita paruh baya ini merasakan kekhawatiran, kecemasan dan kegalauan. Tidak seperti saat kehadiran Randu, tak terlalu terbersit kegelisahan di hatinya. Ia bisa merasakan pemuda itu tidak punya keinginan. Randu, bahkan, dimata Bu Srining mengesankan mati asa dan rasa. Tidak memiliki rencana. Tujuan hidup. Apalagi niat bejat. Baginya Randu hanya insan yang menjalani apa yang dianggapnya telah menentramkan dirinya; menemukan kehidupan baru.


"Bagaimana nanti setelah empat orang itu pergi...? Bagaimana kau bisa yakin mereka tidak akan banyak bicara?" Pikiran Bu Srining semakin berkelana tak karuan. Sudah sewajarnya jika ia menjadi semakin cemas. Lalu mengungkit kembali salah satu kesalahan suaminya, "Lihat sekarang! Hutan ini tak lagi melindungi kita dengan baik. Itu karena keegoisanmu! Kau telah menyakiti pelindung kita sendiri. Layaknya kau menggulung tirai yang masih dibutuhkan untuk menutupi jendela kamar kita dari teriknya sinar matahari dan debu. Bagaimana jika tanaman itu tidak benar-benar ingin menyakiti Randu? Ada hal lain yang ingin disampaikan melalui 'peringatan' kecilnya itu.


“Hidup itu harus saling menghargai, perhatikan rambu-rambunya, sekalipun dengan alam. Alam itu hidup, mereka dapat merasakan…”


“Kau terlalu menggantungkan keselamatanmu pada sesuatu yang belum pasti melindungi,” bela Pak Linggih. Seolah ia lupa bahwa ia sendiri yang pernah mendengung-dengungkan dengan lantang tentang betapa mulianya persahabatan antar manusia dan alam. “Belantara ini tidak selamanya mampu melindungi kita. Bahkan, aku mulai bisa merasakan... justru seisi hutan dan bebukitan inilah yang sewaktu-waktu dapat mengancam keselamatan kita semua.”


"Oo... Begitu!? Kau baru sadar sekarang... Setelah sekian lama? Kau membantah keyakinanmu sendiri yang selama ini kau anggap benar...; merupakan jalan terbaik bagi kita semua. Berarti kau ingin meralat penilaianmu. Kita telah mengambil jalan yang salah selama ini! Begitu...?!" Mimik wajah Bu Linggih seperti ingin menangis. "Kau membuat...."


Pak Linggih meraih kedua bahu istrinya. Dengan pelukan dan pandangan hangatnya ia mencoba menenangkan. "Bu, tenanglah... Kau hanya terbawa perasaan. Kau mengkhawatirkan sesuatu yang belum pasti. Pikirkan... Cobalah... Yakinlah itu masih sebatas perasaanmu saja."


Bu Linggih memeluk suaminya. Berharap semuanya memang akan baik-baik saja.


TERIK matahari tak membuat Randu beranjak dari tempatnya. Bilamana angin bertiup, tak ayal debu-debu kering yang beterbangan tak tentu arah menerpa dirinya. Di pinggiran kolam, setidaknya ia telah menghabiskan waktu tidak kurang dari setengah jam. Sewaktu-waktu terlihat tatapannya kosong. Hanya sesekali perhatiannya teralihkan pada suatu gerakan kecil di permukaan air kolam, yang membuatnya kembali ke alam sadar.


Ketika tangannya sedikit bergeser, tak sengaja menyentuh sebongkah kerikil. Mengambilnya, dan kemudian mencari lagi yang lain. Kini, dalam genggamannya terdapat beberapa butir kerikil dan bongkahan batu kecil. Sambil terus menatap lurus ke depan, satu per satu benda padat keras dalam genggamannya itu sengaja dilemparkan ke kolam. Ada yang langsung menerobos masuk ke balik permukaan air dan ada pula yang terlebih dahulu berselancar, melompat beberapa kali lalu tenggelam. Pertunjukan sederhana itu begitu amat dinikmatinya. Tapi itu tak membuatnya melupakan begitu saja dari apa yang tengah bertahta dibenaknya.


Syahdu sekali perasaanku saat ini. Teramat sunyi, kembali seperti aku yang dulu, hingga aku kini menggigil kedinginan.


Tanpa sepengetahuan Randu tiba-tiba seseorang menyentuh pundaknya, kontan saja membuat dirinya terkejut. Nafasnya sempat mendadak tertahan-barangkali-menahan amarah. Dipandanginya tamu tak diundang tersebut lekat-lekat.


Lambat laun tercium aroma parfume, yang sejujurnya teramat menyenangkan. Aromanya lembut, tapi berkuasa. Mencengkram denyut nadi dan memaksa paru-paru merangsek habis semuanya. Lalu terlintas sepercik pengakuan diri, Aku memang tidak ada apa-apanya dibanding orang ini..., bisik Randu lirih pada dirinya sendiri.


Menon tersenyum lembut. "Sebagian besar orang akan menghindari sengatan matahari di tengah siang bolong begini," tukasnya sambil mengambil posisi duduk di samping kanan Randu."


Berangsur-angsur keterkejutan Randu memudar. Begitu pula lamunanannya, segera terhentikan. Sebenarnya, ia lebih suka jika saat ini dibiarkan sendiri. Kecuali, orang itu dapat memberikan suatu pencerahan, bagi dirinya yang tengah diremas gundah.

__ADS_1


"Oh... Engkau..." Randu tersenyum ramah, dan tampaknya tidak seperti sedang dibuat-buat. "Engkau sendiri, tidak khawatir benda di atas sana akan membakar kulitmu...?"


"Tidak..." Menon menggeleng pelan. "Tak masalah bagiku."


"Kulitmu terawat, sayang sekali bila harus rusak," lanjut Randu.


Menon mengalihkan pandangan, menyapu ketinggian pucuk-pucuk pepohonan kemudian, kembali menatap hangat Randu. "Sebaliknya... kulitku masih terlalu putih, aku ingin agak menggelapkan warnanya."


Menon hampir selalu menatap lawan bicaranya. Tatapannya lembut dan bersahabat. Tak heran siapa pun akan merasa nyaman berada di dekatnya, dan tentu juga merasa sangat dihargai. Terlebih lagi bagi seorang wanita.


"Bagaimana... betah tinggal di sini...?" tanya Randu kemudian.


Angin berhembus pelan menyapa kedua pemuda yang tengah terlibat percakapan tersebut, namun cukup kuat membuat rambut keduanya bergoyang, lembut. Angin berhenti bertiup, keadaan kembali hening, dedaunan tak lagi bergemerisik. Merasa mendapat kesempatan, para jangkrik kemudian mengisi udara, dengan pekikan khasnya yang lirih.


"Mm... Lumayan. Di sini tenang sekali, aku sekali suasana seperti ini."


"Tidakkah menyeramkan keadaan di hutan ini bagi kalian...?"


"Menyeramkan...?" Menon mengangguk-angguk pelan. "Mmm... Tidak... tidak juga."


Menon mengernyitkan dahi mendengar perkataan Randu.


"Makhluk itu... campuran tiga ras; manusia, binatang dan jua iblis!" lanjut Randu.


Menon terdiam kaku. Sepertinya Randu berhasil mempengaruhi Menon.


"Hmm... Ngomong-ngomong, apa kau yakin... kami benar-benar manusia...?" Randu semakin menggila. Ia berharap lawan bicaranya seorang pengkhayal. Seperti dirinya.


"Ha... ha...," Menon tertawa. "Aku bukan pecandu cerita horor."


"Sesuatu perlu dibuktikan... terkadang!" Randu tak ingin menyerah.


"Berarti aku harus tinggal lebih lama lagi di sini untuk sekedar membuktikannya."


Randu memandangi Menon serius.


"Kau keberatan aku tinggal lebih lama di sini...?!" Akhirnya, Menon tak tahan lagi dengan sikap Randu. Tatapannya serius dan dingin.

__ADS_1


"Aku__" Ucapan Randu terhenti seketika, Nayu datang tiba-tiba. Dan saat ini, siapa pun dapat melihat dengan jelas, bahwa gadis itu nampak sedang riang gembira.


"Hei...! Kelihatannya kalian sudah akrab," sapa Nayu riang.


Menon membalas dengan senyuman, sementara Randu disesaki perkataan yang tertahan di tenggorokan.


"Randu orang yang sangat ramah," puji Menon di depan Nayu.


Randu menggigit bibir.


"Apa kalian membicarakan diriku?" tanya Nayu, dan sepertinya bukan sedang berbasa-basi.


Menon mengangguk pelan. "Kami baru saja hendak memulainya," kemudian menoleh ke arah Randu, "Bukan begitu, tuan Randu?"


"Ee..." Malas sekali bagi Randu menjawabnya. Tapi kemudian, ia merasa menemukan perkataan yang tepat, "Tenang saja Nayu, takkan kubiarkan siapa pun membicarakan kejelekanmu."


Nayu mengernyitkan dahinya, dan kemudian tersenyum tawar.


"Namamu akan selalu harum dan seindah bunga kesturi. Seperti hari-hari yang lalu, seperti saat ini, bahkan akan terus mewangi. Kau adalah bunga bagi kami semua," puji Menon tiba-tiba.


Mendengarnya Nayu menjadi tersanjung. Membawa angan-angannya terbang melayang melampaui langit ke tujuh. Tanpa disadari, tangannya menyeka rambutnya yang terurai tipis menutupi di seputaran daun telinga.


"Oh ya, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," pinta Nayu kepada Menon. Matanya kemudian tertuju pada sesuatu nun jauh di sana, dan langsung beranjak pergi. "Ayo...! Menon! Jangan diam saja!"


Menon buru-buru mengikuti Nayu yang semakin cepat melangkah. Dan... selamat tinggal, Randu.


Sesampainya di tujuan, Nayu membentangkan sejajar kedua lengannya ke depan, sementara telapak tangannya terbuka lebar.


Entah apa yang dilakukan Nayu, Menon bingung menyaksikannya.


Tak berapa lama kemudian, dua ekor burung Srinayu terbang mendekati Nayu. Tanpa malu-malu hinggap di tangannya. Kemudian disusul yang lainnya, hingga belasan ekor. Pemandangan yang begitu menakjubkan. Nayu layaknya seorang dewi; peri; bidadari; atau malaikat. Pesonanya bertebaran ke mana-mana, memancarkan aura keindahan.


Menon tertegun menyaksikannya. Hampir tidak percaya dengan apa yang terjadi di hadapannya; mimpi ataukah kenyataan. Belum lagi ketika angin menerpa tubuh Nayu yang berlekuk indah serta padat langsing, semerbak wewangian berhamburan menerobos masuk ke celah lubang hidung Menon.


Sekelebat siluet berwarna-warni berbentuk manusia menyeruak keluar dari tubuh molek Nayu. Menari gemulai bagai menyerupai roh yang terbebas bahagia, melayang-layang ringan. Partikel-partikel yang berbau harum tersebut begitu pandai mewakili sosok Nayu. Mata Menon terpejam pasrah, membiarkan semua ini merambat masuk menjalari seluruh tubuhnya, menggoda urat-urat syaraf. Terasa kesegaran yang luar biasa, yang akan membuat seseorang ingin hidup seribu tahun lagi.


Sepasang muda-mudi yang di mabuk asmara tersebut melupakan Randu begitu saja. Ini baru sekedarsengatan arus kecil saja di hati Randu, namun sudah demikian dahsyat.

__ADS_1


__ADS_2