
"HMM... baunya mulai tercium." Pak Linggih berlari memburu.
Beberapa ratus langkah kemudian ia berhenti. Semakin menyengat.
Sepotong syal abu-abu_yang sedari tadi dililitkan dileher_dibentangkan di atas telapak tangan. Dari dalam celah kantung baju, Pak Linggih mengeluarkan sebuah botol kecil. Terlihat serbuk halus berwarna magenta mengocor keluar lewat moncong botol menaburi syal. Bubuk racikan yang terdiri dari semacam senyawa sendawa campuran mesiu (KNO), sadir dan eter. Penetralisir efek merusak dari berbagai racun, termasuk hawa jahat bunga Jerujui Wungu. Ada persiapan lain lagi, Pak Linggih meraih kendi kecil di sisi pinggang kanan, lalu menengguk air di dalamnya. Dari kedipan mata dan kerutan keningnya, rasa dari air itu sudah pasti sangat tidak mengenakkan. Asam cuka, rempah-rempah, dan samsu digabungkan menjadi satu, rasanya bukan lagi lumayan 'nikmat'. Salah aturan pakai bisa-bisa terserang sembelit berhari-hari. "Aaargh! Panas sekali!" Juga saat akan menutupi setengah wajahnya dengan syal, terlihat keengganan melakukannya. Hidungnya bergerak-gerak seakan ingin melompat kabur. Tapi tidak ada pilihan lain baginya kali ini.
Pemandangan sama, seperti yang dihadapi Randu, kini berada tepat di hadapan Pak Linggih. Namun, tekadnya sudah bulat. Pria tua itu langkah demi langkah menerobos barisan tanaman berbunga jingga.
"Sialan," hentak Pak Linggih tiba-tiba. Lengan kirinya mengenai tangkai yang patah. Getah bening menempel di kulit. Cairan ini dapat menyebabkan kerusakan jaringan kulit, berupa luka bakar disertai rasa gatal dan pedas.
Tujuannya ke sini menemukan Randu, rasa tidak nyaman akibat getah beracun tidak dihiraukannya. Rasa cinta terkadang memang dapat mengalahkan segalanya.
Seisi taman telah dijelajahi, namun Randu belum jua ditemukan. Pak Linggih hanya menemukan jejak-jejak yang memberikan harapan yang tak pasti. Keputusasaan mulai menghampiri, Pak Linggih sangat frustasi. "Raaanduuu...! Randuuuuuuu...!!!" Teriakannya keras sekali. Seekor harimaupun mungkin akan mundur bila berhadapan dengan orang ini. "Oh tidak! Ia memang menemukan tempat ini. Aku tahu persis akibat yang bisa ditimbulkannya..."
"Randu, semoga keinginananmu bukan hal yang buruk. Imajinasi yang timbul sebagaimana hasratmu, nak...," ucap Pak Linggih berbisik seolah berharap dan dapat didengarkan oleh Randu.
"KEMARILAH, tampan! Masuk kemari!" Bujuk salah satu dari bidadari-bidadari. Ia berpenampilan serba jingga. Pakaian serupa dressnya penuh dengan renda-renda brukat yang terajut apik. Bermotif lengkungan-lengkungan panjang pendek yang menjulur-julur lentik. Antara satu dengan lainnya dalam jarak tertentu dibatasi untaian gulungan-gulungan halus. Menciptakan corak yang manis dan feminim. Sedangkan pinggirannya berkelopak dan bergelombang-gelombang kecil. Dan tampaknya, ia yang paling memesona di antara tujuh lainnya, yang juga sama-sama tengah duduk bermanja, bermalas-malasan di atas peterana beralaskan safrah putih mewah. Langit-langit kubah bangunan yang menaunginya juga tak kalah indahnya. Megah, tampak luas sekali, menjulang ke atas hingga puluhan meter. Bernilai seni tinggi. Hampir setiap incinya dirayapi ukiran bergaya klasik nan artistik, layaknya istana pada zaman kerajaan Alexander Agung.
Randu masih belum beranjak. Matanya tercekat demi keindahan dan kecantikan yang maha dahsyat. Kemolekan yang hanya terdapat pada patung lilin—lekukan-lekukan tubuh sempurna di atas sempurna—begitu nyata sekali di sini. Kulit-kulit yang halus dan putih bening madu. Rambut-rambut berkilauan dan lembut laksana sutra; masing-masing berwarna hitam, hijau muda, putih, ungu, merah muda, jingga dan biru laut, seirama warna baju yang mereka kenakan. Bola-bola mata ikan mas koki yang berkaca-kaca, bulat indah. Bibir-bibir basah segar aneka warna yang tampak alami. Belum lagi segala macam jenis perhiasan yang bergelantungan di tubuh menggiurkan mereka serta keharuman berjuta jenis aroma.
Melihat gelagat Randu yang masih diliputi keraguan, bidadari berbusana ungu membisikkan sesuatu pada bidadari berbusana jingga.
"Kemarilah Randu!" bujuk si biang jingga lagi.
Randu terkejut. "Dari mana ia tahu namaku?" gumamnya pelan.
Randu menjadi bulan-bulanan kejutan demi kejutan. Bagi yang tak kuat jantung, akan tak tersadarkan diri sebelum sempat menikmati segala macam rupa sensasi.
DI BAWAH tatapan rembulan, sesosok manusia bergerak gemulai tengah bermandikan cahaya alam yang keperakan. Pada masa purnama seperti sekarang ini, terangnya begitu perkasa, namun tetap menyejukkan. Tarian ini sudah lama sekali tidak diperagakan sebagai persembahan kepada dewa. Tarian yang dipercaya dapat menenangkan amukan badai, luapan kemarahan gunung berapi, bahkan sebagai tameng pelindung kelicikan alam gaib. Merupakan ritual yang diyakini dapat mengembalikan orang yang hilang, dan juga sebaliknya, dapat membuat orang menghilang. Beserta tempat tinggalnya, kampung halamannya akan tidak terlihat sama sekali. Bagai raib ditelan udara.
Nayu bergerak gemulai dengan mata terpejam, di atas ayunan langkah-langkah kecil yang sesekali menyentak garang. Ia mengenakan sampur merah muda-menjadikannya tampak lebih menawan, manis semanis-manisnya, menjadi wanita dua kali, membuat mulut lelaki tak tahan untuk tidak mengucapkan: 'aduhai'. Jari-jari lentiknya melengkung seakan hendak patah. Dibimbing merdunya seruan seruling, tubuh molek itu patuh mengikuti irama. Sementara, Bu Linggih melantunkan dendang memilukan. Terdengar kalimat-kalimat aneh, bahasa yang sulit dimengerti. Semacam merapalkan serangkaian mantra bersyair tinggi. Terkadang ada bagian yang terdengar seperti hanya sekedar gumaman, racauan. Seolah senandung hati.
"...Lengkung sabit nanarkan prahara, jingga lara takdirkan luruh, lembayung nan lembayung, sepuh bumiku... umm... rargwrararmm... ssshh...." Lalu menghambur-hamburkan butiran padi ke tanah. "Wahai..., Sang Dewa..."
__ADS_1
"AYOLAH, Randu. Apalagi yang kau tunggu?" bujuk beberapa bidadari hampir bersamaan.
Kemayu-kemayu itu begitu genit manja. Randu bagaikan pujaan maha dahsyat. Dielu-elukan dan idam-idamkan. Seperti layaknya pangeran tampan nan berkuasa. Semua bertekuk lutut di hadapannya. Menghambakan diri padanya. Semua daya tarik yang mereka miliki, semua dikerahkan demi mendapatkan perhatian seorang Randu.
Tiba-tiba terdengar suara memanggilnya, diikuti penampakan kabut asap dan lembayung putih berkilau. Suara seorang perempuan, yang bening jernih dan masih muda. Tapi terdengar lirih dan penuh harap. "Randu..., jangan kau biarkan dirimu jatuh ke dalam pelukan mereka. Kau akan celaka nantinya..."
Para bidadari sempat terkejut dibuatnya. Dan hampir saja membuat mereka semua melompat mundur.
"Hei...! Apa urusanmu!?" sergah bidadari berambut merah muda dan berpakaian serba merah muda. Yang paling Menonjol pada dirinya adalah bibirnya yang berlekuk manis, ranum, merah muda yang kalem dan tampak basah mengkilap.
"Randu! Cepat kemari! Sebelum ia menghancurkan kebahagiaanmu yang sudah ada di depan matamu ini." Bidadari berambut hijau tampak mulai khawatir. Sepertinya sosok berselimutkan cahaya itu, bukanlah sesuatu yang sembarangan. Ia pasti sakti mandraguna, berilmu tinggi. Pantaslah para bidadari merasa cemas dan gentar.
Merasa situasi semakin gawat, bidadari berambut ungu segera melancarkan aksinya. Ia menyingkapkan dress ungu yang menutupi kedua belah pahanya yang sangat sangat begitu teramat mulus tanpa cacat sedikit pun.
Randu menelan ludah. Matanya jelalatan. Darahnya berdesir, berkecamuk. Ia tak kuat lagi membendung hasrat bercinta lebih lama lagi. Lantas melangkah mendekat.
"Randu...!" cegah sosok yang diselimuti kabut asap putih dan bercahaya, "Jangan, Randu! Jangan...!"
Sosok kabut asap putih tampaknya marah besar. Cahaya yang menyelubunginya semakin berkilauan, memutihkan mata dan seisi ruangan. Asap putihnya bertambah tebal dan segera berhamburan menyerbu para bidadari disertai hembusan angin yang sangat besar, membuat benda-benda beterbangan ke mana-mana. Dan gaun yang dikenakan para bidadari melayang-layang tinggi, naik turun, berkibar kesana kemari tertiup angin puyuh. Mereka mencoba berpaling dari kekuatan yang menakutkan itu, sambil menutupi mata, tubuh, lubang hidung serta telinga. Di antaranya, ada yang tampak hendak menangis.
Keadaan perlahan hening. Tak satu suara pun terdengar. Hingga tiba-tiba, terdengar sebuah gelas tembaga yang terjatuh ke lantai.
Seisi ruangan tampak kacau balau. Pelbagai benda berserakan tak karuan di lantai keramik putih bening. Gelas, piring, kendi, cerek, tumpahan air, serbet sutra, dan beraneka sajian yang mulanya tertata rapi, kini tampak seperti baru saja dihantam topan badai. Para bidadari menghilang, menyisakan Randu Seorang.
SELAIN binatang malam, masih ada juga seorang manusia yang berkeliaran di tengah belantara. Langkah demi langkah menembus kegelapan, mencari jalan pulang. Tubuh kurusnya nampak lunglai. Seakan perjalanan jauh baru saja ditempuhnya. Besar kemungkinan, sebelum sempat tiba di tempat tujuan, tidak lama lagi dirinya akan terkapar bebas, di antara semak belukar, bebatuan kerikil, tanah atau pepasiran. Hingga kemungkinan terburuk; beristirahat dengan damai dalam perut binatang buas.
GELORA tarian Nayu semakin menggila. Ia tampak meringis, lelah, namun berusaha tetap bertahan. Entah berapa lama lagi, peragaan sesuatu yang nampak seperti upacara ritual ini berakhir. Pak Linggih maupun istrinya kelihatan tidak peduli, mereka masing-masing sibuk dengan perannya masing-masing.
DALAM keadaan yang semakin sekarat, pendengaran manusia yang satu ini masih dapat mendengar sesuatu memanggilnya dari kejahuan. Ia mempercepat langkahnya. Menguras sisa-sisa tenaga yang masih tersisa. Malam yang kering menerbangkan dedebuan yang terbentur sepasang kaki lelahnya. Tetumbuhan kecil hingga sesemak yang tak luput dari terjangan, patah dan terbaring pasrah.
Nafas tersengal. Kini sepenuhnya tubuhnya tak mampu lagi berjalan. Namun ia telah terlebih dahulu menemukan sesuatu. Mungkinkah ini tempat tujuannya? Tampak pemandangan dan suara-suara yang tak asing baginya; tiupan seruling, lantunan nyanyian, dua orang berumur paruh baya dan seorang penari wanita muda. Randu tersenyum lemah. Ada nada kesinisan terlukis di bibirnya. "Hmm... aku benar-benar telah tersesat kembali... di tengah para siluman!"
Nayu terhempas ke tanah. Seketika, saat itu juga diikuti berakhirnya pula pertunjukan Pak Linggih dan Bu Srining.
__ADS_1
Tubuh Nayu terduduk lemas dengan gaya manis khas seorang wanita. Kedua tungkai kaki merapat sejajar, lutut terlipat. Segera ia menopang tubuhnya yang miring dengan satu tangan sebelah kiri yang setengah tertekuk. Di antara celah-celah rambutnya yang terurai ke depan, pandangan matanya mengintip menatap lurus ke arah Randu dengan tajam.
Bu Srining mengangguk pelan, Pak Linggih membalasnya dengan senyuman. Kemudian wanita tua anggun itu berjalan mendekati Randu. "Selamat pulang, Randu... anakku."
"Aa apa yang kalian lakukan di sini...?" tanya Randu sambil tersenyum lemah. Wajahnya kelihatan sangat letih. Nyala matanya tampak akan segera padam. "Sepertinya aku akan menjadi menu spesial malam ini." Dan akhirnya terbaring tak sadarkan diri.
***
"AKU kira kau tidak mau lagi berbicara denganku..." Mata Randu sedikit mencuri pandang, lalu mengalihkan perhatiannya tepat di saat Nayu meliriknya.
Nayu masih juga belum berkomentar.
"Say artinya sayang," lanjut Randu. "Mohon jangan salah sangka... Sayang di sini bermakna lebih umum, juga lebih kepada kata bantu dalam pergaulan."
Nayu kemudian tersenyum, tapi tidak ke arah Randu, ia menatap lurus ke depan. Senyuman yang membuat Randu merasa malu. "Apa yang salah dengan sayang, sehingga berat sekali kau menjelaskan padaku," ujar Nayu tenang.
Kali ini Randu menjadi bingung, kembali memperlihatkan wajah polosnya.
"Menyayangi itu hak semua orang, Randu...." Nayu terdiam sejenak. Teduh pandangannya kini, menatap syahdu langit di ujung senja. Apa salahnya pula bila kau benar sayang padaku...
\=\=\=\=\=
Glossary
sadir : garam amoniak.
samsu : arak air tebu.
safrah : hamparan kain putih dsb. utk alas makanan, dsb.
sampur : kain sutera dsb. untuk selendang, sabuk dsb.pada ketika menari.
eter : suatu senyawa organik
__ADS_1