
GARA-GARA seekor katak hijau, Randu dan Rei menjadi akrab. Dan sepertinya mereka cocok. Mereka telah bercakap-cakap panjang lebar. Membicarakan apa saja. Terkadang topik obrolannya melompat-lompat tak menentu. Mereka tertawa, mereka tersenyum.
"Oh jadi Nayu bukan adikmu?" Rei sedikit terkejut mendengar kenyataan itu.
"Ya begitulah."
Tidak heran jika Randu betah berlama-lama di hutan ini, pikir Rei. "Apa tidak pernah terpikirkan untuk pulang? Kau masih punya orang tua bukan, dan tentunya juga sanak saudara? Kau tidak merindukan mereka? Kenapa tidak pulang saja?"
Pertanyaan beruntun yang cukup membuat Randu kebingungan. Menjawab semuanya dengan kejujuran, itu tidak mungkin, salah satunya; 'Aku adalah manusia sial'.
"Kau tidak perlu menjawabnya." Tukas Rei. Membuat Randu lega.
Randu menjadi tidak enak hati. Perasaan itu memang sudah menjadi bagian terpenting dalam dirinya. Namun, memiliki sebuah penjelasan setidaknya itu lebih baik, pikirnya khawatir. "Aku sengaja mengasingkan diri. Semua di luar sana kuanggap sesuatu yang gagal. Tidak berarti lagi bagiku, dan aku juga tidak berarti bagi semua itu."
"Maksudnya...?" kejar Rei.
"Aku ini laksana matahari yang bersinar di malam hari. Siapa yang membutuhkannya?" ujar Randu hati-hati. Kemudian menyelelidiki mimik wajah Rei. Gadis itu masih belum mengerti bahasa yang digunakan Randu.
"Paham maksudku...?" kejar Randu seakan sangat peduli, seakan itu hal yang sangat penting. Masih seperti dulu selalu berharap ada seseorang yang mengerti akan dirinya, menerimanya apa adanya. "Rei...? Mengerti...?"
"Ya... ya... lumayan mengerti," jawab Rei berpura-pura memahami. Sepanjang perbincangan, Rei sering mendengar bahasa-bahasa aneh yang terasa amat sulit dimengerti. Gaya bahasanya terkadang terdengar seperti bahasa filsafat. Kata-kata kiasan pun tak luput meramaikan, laksana tutur seorang pujangga. Orang ini membuat kepalaku pusing, keluh Rei.
"Oh ya, Rei… berapa umurmu?" tanya Randu tiba-tiba.
"Aku...? Sembilan belas tahun. Mm... Nayu...?" Rei balik bertanya.
"Sama denganmu," jawab Randu sambil mengulum senyum. Entah apa maksudnya.
Berbicara dengan seorang Randu memang harus memaksa otak bekerja lebih keras lagi. Gadis berpembawaan ringan seperti Rei akan merasakan kelelahan tentunya. Pasangan seperti ini akan sulit sekali untuk bersatu. Rei yang sama sekali jauh dari tipe melankolis puitis romantis, sementara Randu maha melankolis puitis romantis level sadis. Terlebih Randu juga rada berkepribadian bercabang. Mereka akan saling merasakan ketidaknyamanan ketika masing-masing mulai menyadarinya. Tidak akan ada cinta yang tumbuh subur diantara mereka berdua. Namun ini belum berakhir, waktu masih berputar, dan Randu tetaplah Randu, dengan segala keajaiban di dalam dirinya.
"Ke mana yang lainnnya? Sepertinya mereka punya acara sendiri," tanya Rei.
"Itu pasti," jawab Randu singkat dan yakin.
Kori berjalan cepat, dan sesekali berlari kecil. Di belakangnya Zillian terus mengikuti, kata-kata penjelasan terus diucapkannya, namun Kori benar-benar sudah tidak percaya.
"Kau kan sudah lama mengenalku, berpikirlah jernih!" Zillian terus memaksakan pembelaannya.
"Hei lihat, itu Kori dan Zillian!" sergah Rei sambil menunjuk ke arah yang dimaksud.
Randu menoleh. "Darimana mereka...!?" Ada kekhawatiran terbersit di dalam dirinya. Randu telah semakin mengenal hutan ini.
Penjelajahan tanpa bantuan seorang petunjuk jalan yang menguasai medan belantara, sama sama saja mempertaruhkan hidup. Seseorang tidak akan pernah tahu pasti apa yang akan terjadi selanjutnya. Dapat sampai ke tempat kediaman Pak Linggih adalah suatu mukjizat. Bila tidak, sisi lain keramahan belantara ini yang akan dengan senang hati menyambut kehadiran tetamunya. Penuh dengan tipu muslihat, peleburan antara kenyataan dan ilusi.
Kori segera mengubah arahnya begitu mengetahui ada orang lain yang sedang memperhatikan dirinya. Langkahnya semakin dipercepat, sementara Zillian semakin jauh tertinggal.
Melihat Kori yang menjauh, Rei tidak ingin kehilangan Zillian juga. Langsung saja Rei berlarian hendak memotong laju langkah Zillian. "Zill...! Zillian...!" teriaknya sekeras mungkin.
Teriakan Rei berhasil membuat Zillian mengalihkan perhatiannya dari Kori. Dengan agak terpaksa ia membalas panggilan Rei. Tangannya melambai tinggi.
Rei dan Zillian berusaha saling mendekat. Sementara dari belakang Randu mengikuti dengan tidak bersemangat.
Sebelum Randu juga berhasil mendekat, Rei segera bertanya pada Zillian yang hanya berjarak dua langkah di hadapannya. "Ada apa? Aku yakin sekali tadi Kori melihat kami. Tapi kenapa dia segera menjauh?" Matanya penuh selidik. Segenap kemampuan panca inderanya ditingkatkan semaksimal mungkin.
Sebelum menjawab, Zillian terlebih dahulu memastikan jarak posisi Randu. "Ia cemburu akan kedekatanmu dengan Randu."
__ADS_1
Hampir saja Rei terkena serangan jantung dadakan mendengarnya. Nafasnya sempat terhenti seketika. Lantas ia menghela nafas panjang. Setelah berhasil menguasai diri, barulah ia bertanya tentang kebenarannya. "Kau tidak serius kan?!"
Zillian memang benar-benar si usil tingkat wahid. Terutama ketika ia sedang banyak pikiran dan masalah. Tapi kali ini sama sekali tidak terlihat senyuman liciknya.
Mimik wajah Zillian tiba-tiba mendadak berubah mencurigakan. "Huaa... Kau tegang sekali! Ha ha ha..."
"Sialan...! Kau mengerjaiku ternyata..." Hentak Rei cemberut.
"Hm... Apa kau berharap apa yang kukatakan tadi bukanlah gurauan?" sambil tersenyum jahat Zillian menggoda Rei.
"Kau__" Rei yang berniat memaki Zillian terpaksa berhenti ketika menyadari Randu sudah berada empat langkah di belakangnya.
INI malam yang penuh kehangatan. Sebagaimana tampak oleh mata telanjang, semua ada di sini, di ruang tamu terdepan. Tidak terkecuali sepasang suami istri; Pak Linggih dan Bu Srining. Betapa rembulan di atas sana merasa iri menyaksikan pemandangan di bawah sini. Angin malam yang dingin pun tak berdaya merusak susana kekeluargaan yang mendamaikan ini. Hanya tinggal lolongan makhluk yang tak begitu jelas jati dirinya yang masih mengumandangkan caci maki jauh di luar sana.
Bu Srining dan Nayu tengah sibuk menata berbagai macam hidangan.
Nayu, si bunga belantara menjadi pengharum ruangan. Cukuplah dengan kehadirannya saja udara pun mewangi semerbak. Pantas jika khalayak kini terdiam sejenak. Mengheningkan cipta melantunkan pujian di serambi hati masing-masing.
Nayu, bunga dengan kelopak yang tetap mekar indah dan memantulkan cahaya, sekalipun di malam hari. Tak perlu kiranya mendatangkan serombongan penari molek. Tergantikan hanya dengan seorang Nayu. Ia penghibur terbaik bagi siapa pun. Bersimpuh di atas lutut dan kaki yang terlipat rapat sejajar, gemulai ia merundukkan tubuhnya saat menata sajian. Untaian rambutnya berjatuhan. Jemari lentiknya menurunkan hidangan satu persatu; sepiring buah pir segar, sepiring mangga hijau menggiurkan, setandan pisang emas yang menggoda, dua piring kue basah dan beberapa gelas minuman. Semua yang ada lebih dari cukup. Semuanya. Rasa, aroma, jiwa, dan raga bahkan impian.
Zillian dan Kori sepertinya sudah akur. Mereka duduk berdekatan. Kesalahpahaman kecil tadi siang tampaknya telah diselesaikan dengan baik-baik.
"Kendalikan hormon di tubuhmu, lelaki tulen," bisik Zillian sadis, yang berada dekat di sisi kiri Kori. Suaranya nyaris tak terdengar, kecuali oleh orang yang ditujunya.
Tanpa menoleh sedikit pun Kori mendengus. "Setidaknya itu normal."
"Aku juga masih normal," balas Zillian. "Tapi tidak berlebihan seperti itu. Dasar kucing garong!"
Pembicaraan mereka hampir saja terdengar oleh Rei, jika saja Zillian tidak segera menyadari Rei yang tengah memasang telinganya sedemikan rupa. "Hm... Rei." Tubuhnya sedikit dibenturkan pada Kori.
"Mencurigakan," gumam Rei.
Celingukan Rei segera menanggapi tawaran Bu Srining. "Oh ya, Bu. Terima kasih." Lalu tangan langsingnya segera saja meraih sebutir kue berwarna kecoklatan dan langsung memakannya. "Mm..."
"Itu memang coklat," celetuk Randu. Dan semua orang mendengarnya.
Nayu mengalihkan pandangannya ke arah Randu, samar-samar ia tersenyum simpul. Tatapannya membuat pemuda itu tak nyaman hati. Randu, bathinnya bergumam. Ada getar halus di hatinya begitu nama itu terlintas. Hanya orang yang benar-benar mengerti Randu yang mendapatkan perasaan semacam itu. Kemudian pandangannya kembali beralih pada Rei.
Nayu meraih segelas minuman. "Rei, minumlah dulu... Kuenya akan menjadi lebih nikmat bila dipadukan."
Kebetulan Randu yang berada paling dekat dengan Rei. "Randu tolong berikan ini," pinta Nayu dengan gayanya yang ayu dan lembut, kemudian melirik ke arah Rei sembari tersenyum menggoda kepada Randu.
Apa-apaan ini. Ini tidak baik..., hati Randu menjadi gelisah. Mohon jangan salah sangka Nayu, kedekatanku dengan Rei akhir-akhir ini hanya...
"Kenapa, Randu?" tanya Nayu begitu melihat perubahan mimik wajah Randu. Sebagian khalayak lainnya tidak terlalu mendengar perkataan Nayu.
Akibatnya Rei pun ikut-ikutan menjadi kikuk. Dengan malu-malu yang tidak dibuat-buat terpaksa ia meraih gelas di tangan Randu. "Ma kasih." Lembut sekali nada serta suaranya.
Penantianku adalah dirimu, Nayu, protes Randu dalam hati.
Seakan dapat mendengar sebaris kalimat terpendam itu, Nayu membalas suara hati Randu dengan senyuman termanisnya. Dipandanginya laki-laki unik itu lekat-lekat sejenak.
Di sudut sebelah kanan pintu tengah, Pak Linggih tak mampu bereaksi apa pun. Orang tua itu terdiam takzim. Hati Randu bak berada di dalam dadanya. Malam ini benda kenyal itu seakan menjadi miliknya juga.
Khalayak larut dalam perbincangan bebas. Banyak senyum dan tawa yang dihabiskan malam ini.
__ADS_1
Randu hendak beranjak keluar. Saat tiba di ambang pintu, dengan kekuatan mata bathinnya, ia mencoba meraba-raba siapa tahu ada yang sedang memperhatikannya.
Terlihat keengganan saat kakinya menginjak tanah. Ia tak tahu pasti ke mana harus melangkah. Mungkin duduk termenung di ujung sana, sambil menatap taman langit, dan melayangkan segala khayal, dari yang masuk akal hingga tak terdefinisi.
Suara dari dalam rumah sudah hampir nyaris tak terdengar. Hanya sesekali terdengar rinai tawa. Pikiran Randu telah berpaling pada sesuatu yang lain. Tanya jawab pada dirinya sendiri. Tentang segala hal. Tentang sesuatu yang berada di luar jangkauan kekuasaannya. Bermain-main dengan logika, bahkan imannya. Seakan ia sedang menjadi Sang Maha Pencipta itu sendiri.
SEMENJAK kedatangan Rei, Kori, Zillian dan Menon, dinding rajak-rajak telah dipasangi gordin. Kain halus lembut seumpama sutera berwarna merah hati itu tampak nyiur melambai diterpa angin. Melahirkan perasaan tersendiri saat menyaksikannya bergerak gemulai seperti itu dalam kebisuan malam. Di pojok bagian bawah, terlihat asap putih tipis keabu-abuan mengepul betebaran seisi ruangan. Benda itu tak lain adalah sebagai pengganti obat nyamuk komersil. Cara penggunaannya masih sama, yaitu sama-sama dibakar. Terbuat dari sabut kelapa kering yang dibubuhi serbuk kayu pelawan, minyak kelapa dan bunga lavender. Aromanya tidak perlu dikhawatirkan, cukup harum. Bahkan, layaknya wewangian aroma terapi mewah.
"Jam berapa sekarang?" tanya Kori entah kepada siapa. Ia baru saja kembali dari belakang. Sementara teman-temannya tengah bersiap-siap untuk beranjak ke peraduan.
Beberapa saat lamanya pertanyaan Kori mengambang.
"Jam kita tak berfungsi," jawab Menon.
"Kenapa... habis baterai?" Tanya Kori lagi.
"Tak tahulah, Kori. Aku tidak mengerti, mengapa jam dan kompas kita mendadak tak berfungsi setibanya di sini."
Di sudut kanan dinding, sejajar dengan pintu tengah menuju lorong, Rei tengah mengaduk-aduk isi sebuah tas ransel kecil berwarna coklat muda. Akhirnya, ia menemukan arloji yang dicari-carinya. Mengguncang-guncangnya ringan, mengamatinya sejenak, kemudian ditempelkan pada seputaran daun telinganya yang nampak manis nan ranum.
Melihat Rei melakukan hal yang sia-sia, Zillian berkomentar pahit, "Percuma saja, Rei." Dan kembali mengelus-elus senjata pusakanya—sebilah pedang kayu—menggunakan sepotong handuk kecil bertuliskan: 'good morning.'
Lama Kori mengamati posisi teman-temannya. Ia masih berdiri tegak, merasa enggan menempati satu tempat yang tersisa di sisi kanan Zillian. "Menon, sebaiknya kita bertukar tempat," pintanya kepada Menon. Dan Rei mendelik keheranan mendengar perkataannya.
"Kenapa? Bukannya posisi tidur kita biasanya memang seperti ini?" terang Menon heran.
"Aku mimpi buruk semalam. Kurasa karena tidur di dekat pintu," balas Kori sambil menggaruk telinga.
"Ya terserah kau saja," balas Menon.
Ada baiknya Menon mengalah malam ini. Tidak adil bila selalu Menon yang selalu diuntungkan. Tidur di samping seorang wanita memang lebih menyenangkan. Mungkin juga itu salah satu pertimbangan Kori.
"Silahkan," ujar Menon sambil beranjak pergi dari tempatnya.
Namun sayang, Rei tidak terima begitu saja. Ucapan Zillian tadi siang teringat kembali olehnya; 'Kori cemburu'. "Hei...! Tidak... Tidak bisa begitu!"
"Kenapa?" sahut Kori. Mata burung hantunya melotot tajam. Sudah bulat dan besar, bertambah besar lagi. "Apa yang salah dengan diriku? Kau pikir aku makhluk berbahaya?"
"Bisa saja kau punya maksud tertentu," balas Rei ketus.
"Aku hanya ingin tidur," hentak Kori pelan. "Itu saja."
"Di samping Zillian kan bisa. Mimpi bisa terjadi di mana saja."
"Kau pikir kau adalah tipeku?" Kori membalas sengit.
Menon yang ingin segera memejamkan mata, terpaksa bangun duduk. "Ada apa lagi ini?"
Zillian yang dari tadi hanya mendengar sambil tersenyum-senyum aneh, kini lebih parah lagi, ia tertawa cekikikan, hingga tak sadar mendapati dirinya sedang terbahak-bahak.
"Zill, pelankan suaramu." Menon khawatir dengan suara Zillian. Penghuni yang lain bisa saja terbangun. Lagipula mereka di sini hanyalah tamu.
Zillian tersadar kembali. Tawa setannya mendadak lenyap, hanya tersisa khas senyum yang terpaksa ditahan.
"Kori sebaiknya kau di tengah saja. Di antara aku dan Zillian." Menon berusaha membujuk.
__ADS_1
Kembali Zillian lupa mengendalikan diri. Ia cekikikan lagi.
Rei yang mulai kesal mendadak berdiri. Pertengkaran bodoh ini harus segera diakhiri, pikirnya. Tanpa berkata-kata lagi ia langsung menuju lorong. Terus ke belakang, lalu belok kanan. Kamar Nayu.