Srinayu Di Bukit Randu

Srinayu Di Bukit Randu
Bab 30 | Cinta Lama Bersemi Kembali


__ADS_3

DI SAAT Randu membuka mata, pandangannya yang menunduk menangkap sepasang kaki manusia. Dari mata kaki hingga ke pangkal lutut.


"Pak Linggih," gumam Randu pelan saat menatap sosok di hadapannya itu.


Di sebatang pohon kapas raksasa, Randu duduk menyandarkan tubuhnya hingga tak sengaja tertidur pulas. Ketika terbangun, ia mendapati Pak Linggih telah berada di hadapannya.


Kelihatannya dia tidak sedang dalam keadaan cidera, keadannya baik-baik saja. Ia hanya sekedar mengistirahatkan tubuhnya, yang kini sangat kotor, basah dan berlumpur. Wajahnya lusuh tiada bersemangat. Memang melelahkan, tiga hari berkelana sebatang kara di tengah belantara. Lelah hati, lelah raga.


Pak Linggih menggeleng-geleng kepala. "Apa yang sampean lakukan di sini?"


Mata Randu tampak masih lusuh dan kemerahan. Pelan-pelan ia menggosok kedua belah matanya, berusaha mengembalikan kesadarannya dari pengaruh sisa tidur.


"Apa kau sedang mencari jalan pulang... Pulang ke kotamu?"


Randu terkejut mendengar Pak Linggih menanyakan hal itu. Ia menjadi salah tingkah. Dan apa yang akan dikatakan Pak Linggih selanjutnya akan membuatnya lebih terkejut lagi, entah karena bahagia atau sedih. "Semuanya telah pulang. Aku sendiri yang mengantarnya."


Menon, Rei..., bathin Randu. Tak salah lagi Menon, Zilian, Kori, dan Rei yang dimaksud Pak Linggih.


"Mengapa tidak membicarakan terlebih dahulu dengan kami bila ingin pulang... Setidaknya, kau ada teman seperjalanan," lanjut Pak Linggih. "Bersama-sama jauh lebih aman, nak."


"Maafkan aku tidak berpamitan," tukas Randu merasa bersalah. "Pasti kalian semua mengkhawatirkanku."


"Tentu saja!" jawab Pak Linggih tegas. "Terlebih Nayu..."


Randu menatap serius Pak Linggih, dan bergegas bangun dari duduknya. Ia penasaran sekali tentang keadaan Nayu.


Pak Linggih seakan mengerti arti tatapan Randu tersebut, tanpa Randu harus bertanya ia menjawabnya, "Nayu jatuh sakit... tepat sehari setelah kepergianmu."


Kepala Randu tertunduk. Merasa bersalah. Merasa sebagai sosok yang sangat egois, hanya mementingkan diri sendiri, tidak mempedulikan keadaan orang lain demi tujuannya sendiri. Namun, apa benar demikian? Atau memang inilah yang diharapkannya. Hasil buah karyanya. Ia yang mengarsiteki skenario ini.


"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Bila kau tetap ingin melanjutkan niatmu untuk pulang, aku bisa membantu," tawar Pak Linggih yang berhasil membuat Randu menjadi semakin tak enak hati. "Tapi sebelumnya, kau harus tahu, bahwa kami sebenarnya sangat membutuhkan kehadiranmu lagi. Setidaknya untuk beberapa hitungan hari lagi, sampai semuanya kembali baik-baik saja. Demi permintaan seorang ibu di tengah hutan sana, dan demi Nayu yang tengah merasa sangat kehilangan. Hari-harinya setelah ini tidak akan menjadi lebih baik..." Pak Linggih menghentikan perkataannya, gelagat Randu menunjukkan bahwa ia dapat diajak bekerjasama. Tidak sesulit seperti yang dibayangkannya untuk membujuk Randu 'pulang'.


Namun, Randu masih terdiam. Cukup lama. Sepertinya ia berubah pikiran. Menangkap keraguan ini, Pak Linggih segera mengambil keputusan sepihak.


"Ikuti asal air yang mengalir di sebelah barat sana, temukan hulunya. Lalu, amati ke mana arah angin berhembus dari tempat kawanan anjing hutan biasa berkumpul. Dan ingat baik-baik ke mana arahnya. Tanpa sepengetahuan binatang-binatang kejam itu, kau tinggal mengikuti arah angin. Bayangkan sebuah garis lurus panjang. Setelah itu kau akan menemukan padang seduduk, posisi matahari dapat terlihat kembali. Pergilah ke arah barat lagi, di sana kau akan berpapasan dengan kawasan hutan pepohonan Engkaras. Itulah medan sulit terakhir. Terus turuni lereng bukit hingga menemukan sebuah sempadan para pendaki, dan kau pun takkan tersesat lagi." Setelah memaparkan panjang lebar, Pak Linggih meninggalkan Randu yang mungkin sedang berusaha keras mencerna petunjuknya dalam ketermanguan.


Randu menoleh ke belakang, menebak-nebak arah yang dimaksud. Tepat di saat itu ia melihat ada bayangan yang bergerak-gerak mencurigakan di balik dedauan. Dan terdengar suara menggeram.


Tunggu aku, Pak Linggih...!


 


DI DALAM kamar, Nayu terbaring lemah di malam yang hening. Dengan keadaan dirinya yang memprihatinkan, jatuh sakit, harus lagi menghadapi suatu kenyataan yang berbalik seratus delapan puluh derajat begitu cepat. Keramaian yang mendadak berubah menjadi lengang. Keadaan kembali seperti sedia kala. Ia akan menjalani hari-hari tanpa teman, hanya ada dirinya dan kedua orangtuanya. Kebiasaannya berbincang-bicang dengan rembulan, akan lebih sering dilakukannya lagi. Juga, berbicara dengan burung Srinayu kesayangannya. Perlahan alam bawah sadarnya meraba sesuatu, terdengar suasana ramai, ibunya bagaikan sedang menyambut kedatangan seseorang. Di luar sana bersuasanakan riuh rendah tutur kata.


"Jangan menghiburku seperti itu," ujar Nayu lirih pada dirinya sendiri hampir tak bersuara.


Bu Srining tergopoh-gopoh menghampiri Randu, tak henti-hentinya ia berucap syukur terlepas dari sedikit belenggu cobaan hidup. "Oh syukurlah, kau akhirnya pulang juga. Kami sangat mengkhawatirkanmu." Bu Srining mengusap-ngusap kepala Randu. Bagaikan seorang ibu yang lama tak pernah bersua dengan buah hati kesayangan, sepulang dari perantauan yang jauh sekali.


Pak Linggih tersenyum-senyum menyaksikan kebahagiaan ini. Sudah kukatakan dia akan baik-baik saja. Dasar anak ajaib.


"Siapkan makanannya dulu," saran Pak Linggih kepada istrinya, "Setelah itu, kau boleh menimangnya jika mau. Bila perlu kau rantai kakinya agar ia tak berulah lagi."


Diperlakukan seperti itu, membuat Randu tersipu-sipu malu. Dirinya pun ikut larut dalam suasana bahagia ini. Ia merasa benar-benar telah pulang. Kediaman Pak Linggih sekeluarga bagaikan kampung halamannya yang sebenarnya. Tak merasa asing. Sebaliknya, merasa nyaman.


"Buatkan juga ia secangkir coklat hangat," tambah Pak Linggih lagi. Seorang ayah ini, ingin sekali rasanya segera menyambangi anak gadisnya yang masih memingit diri sendiri di dalam kamar. Mengabarkan padanya, orang yang dirindukannya telah kembali. Bila tak mengingat umur, ia akan berlari dan melompat kegirangan seperti anak kecil.


Kegaduhan di luar kamar belum juga mereda. Nayu semakin dapat mendengarnya dengan jelas, percakapan dan suara barang-barang dibereskan. Tapi suara sang tamu belum juga terdengar olehnya.

__ADS_1


Pak Linggih menyeret kotak kayu ke pinggir. Berbagai peralatan terdapat di dalamnya, sebagian masih berserakan di lantai; paku, kayu, dan palu. Sisa-sisa dari pekerjaannya meninggalkan ampas kayu, potongan kain bekas, dan tampak cairan berminyak yang baru hendak mengering di lantai. Di sebelah kiri sisi pintu, teronggok secangkir gelas bambu. Berisikan air kopi gula aren, minuman kesukaan Pak Linggih.


"Oooh... lelah sekali rasanya," ujar Pak Linggih berkeluh kesah ringan. "Duduklah bersantai dulu, baru membersihkan tubuhmu. Sebaiknya dengan air panas. Mintalah kepada ibumu itu."


Randu mengurungkan niatnya ketika hendak menuju ke belakang, karena pengaruh saran Pak Linggih untuk duduk bersantai. Namun, dalam sekejap pula ia berubah pikiran lagi, "Mm... tapi aku ingin buang air kecil dulu," ujarnya mengemukakan alasan.


Di ruang belakang, Randu berpapasan dengan Bu Srining, yang sedang sibuk mempersiapkan sajian. Lantas ibu paruh baya itu melirik ke arah Randu, bibirnya mengulum senyum. Senyum yang 'mencurigakan'. Randu baru dapat mengerti arti dari senyuman itu ketika Bu Srining tiba-tiba mengarahkan pandangannya ke kamar Nayu. Sengaja ingin mengingatkan tentang seseorang di dalamnya. Randu mengikuti lirikan yang mengajak itu.


Apa yang harus kulakukan, desah Randu dalam hati.


Nayu berharap tamu itu adalah Randu. Jika saja dapat berdiri tegar, ia akan melesat berlari keluar. Ah..., tapi itu memalukan, bantahnya kemudian. Sekarang ia memohon pada waktu, agar secepat mungkin menyeret Randu untuk menghampiri dirinya, meruntuhkan keraguan-keraguan, atau mungkin harga diri yang menghalang-halangi pemuda itu. 'Bawakan padaku'; senyumnya, kehangatannya, kerinduannya. Tapi tunggu dulu, jangan, biarkan. Biarkan rasa itu terus memuncak. Nayu telah mengetahui itu Randu, dan takkan pergi lagi.


Malam kian melarut, menenggelamkan pikiran Nayu dalam kedamaian. Kedamaian yang mendayu-dayu; ketenangan air sungai yang menghanyutkan selembar daun. Membelainya hingga terbuai, membawanya beranjak ke dunia alam bawah sadar. Terpejam.


 


TATKALA pagi memanggilnya, Nayu merasa seakan baru saja terbangun dari mimpi. Ia mencoba mengingat kembali apa yang telah terjadi tadi malam. Awalnya memang terasa bagai mimpi, lalu perlahan terbersit cahaya petunjuk di dalam kepalanya, membimbing ingatannya menemukan sesuatu yang dicari-carinya. Terselip di balik lipatan-lipatan otaknya, bersembunyi di antara kusutnya urat syaraf, dan masih terbungkus sisa-sisa selaput malam. Seulas senyum malu-malu tersipu-tersipu membentuk di wajahnya. Namun, terpaksa harus segera dilenyapkan ketika tirai pintu kamarnya mulai terbuka.


Bu Srining melangkah masuk sambil bersenandung, dengan raut wajah yang tampak ingin mengabarkan kabar gembira. Senyumnya, mimik wajahnya, serta langkahnya seperti telah direncanakan dengan baik. Di kedua tangannya, masing-masing membawa semangkuk bubur nasi dan segelas air putih. Berjalan menuju meja, dan meletakkan bawaannya di sana. Lalu menarik tuas jendela, dan membukanya lebar-lebar. Debu-debu halus yang sudah mengantri di luar sana berduyun-duyun menyerbu masuk, dengan menggebu-gebu, dalam kawalan cahaya, seperti hendak mengantarkan secerca harapan.


"Sudah pagi, sayang," sapa Bu Srining lembut.


Nayu terus mengamati ibunya dengan hati-hati. Pandangannya penuh curiga. Kehadiran Bu Srining ini bagaikan seorang suster yang menakutkan, walaupun hadir dengan senyum ramah. Laksana membawa perintah yang tak menyenangkan dari sang dokter, berbekal seperangkat alat suntik yang siap digunakan pada si pasien.


"Apa perlu bimbingan ibu jika kau ingin ke belakang?" Tanya Bu Srining, meski ia yakin kondisi kesehatan anaknya telah lebih baik di pagi hari ini.


Nayu beranjak bangun mendudukkan diri. Terlihat kilasan rona wajahnya menyimpan pertanyaan. Gerak-gerik bola matanya ikut bercerita tentang maksud hatinya. Sebuah rasa penasaran.


"Tenang saja. Ibu takkan mengerjaimu hari ini. Tidak ada secuil daging pun di dalam bubur nasi itu. Hanya protein tumbuh-tumbuhan, seperti yang kau minta. Kacang polong, kacang panjang, jamur merang dan wortel. Dan aromanya yang seperti daging panggang berasal dari keajaiban hasil perpaduan minyak zaitun, daun bangek dan bubuk daun salem." Terang Bu Srining seolah mengerti apa isi hati Nayu. Setelah itu ia beranjak pergi, meninggalkan Nayu sendirian dalam keadaan tak puas hati, maksud tak sampai. Menyisakan sepotong kaca bening yang mengganjal saluran lorong hati.


 


"Masuk!" sambar Nayu cepat, seperti tingkah halilintar yang tak ingin menyia-nyiakan kesempatan saat melihat benda besi terpampang tanpa pelindung di tengah tanah lapang. Dan semangatnya laksana ledakan geledek menyambut musim semi. Meski belum menampakkan batang hidung, ia tahu siapa gerangan orang tersebut, karenanya; rambut, baju, dan lainnya yang dapat dibuat menjadi lebih indah, segera ia perbaiki bentuk dan wujudnya. Wajahnya yang sudah halus bersih pun, tak luput dari sekaan lembut sapu tangan yang setiap saat hampir selalu menemaninya. Aduhai, betapa cantiknya. Nayu yang ayu, dengan wajahnya yang natural.


Pertama-tama Randu menampakkan kepalanya, seakan ingin memastikan terlebih dahulu bahwa semuanya aman terkendali. Bebas gangguan dan hambatan. Selanjutnya, Randu segera memberikan isyarat salam pertama; kedua alisnya dinaikkan. Pandangannya celingak celinguk. Tingkahnya seperti orang yang tersasar; niat mencari kamar kecil, tapi malah menemukan kamar rias. Atau jangan-jangan saat ini ia tengah merasa sebagai pasangan pengantin pria. Mengerikan, memikirkan ia membayangkan hal itu. Tapi cukuplah saat ini diibaratkan sebagai lelaki yang sedang melakukan usaha mendapatkan cinta sang gadis pujaan, di malam minggu yang lugu, meski ini di siang hari.


Tangan kanan disanggakan di tiang pintu, sementara tangan kiri sibuk merapikan belahan rambut sambil bersiul-siul genit memeriksa 'suasana' di bawah lipatan pangkal lengannya. Cukup meyakinkan, tak tercium aroma tidak menyenangkan. Lalu langsung melangkah masuk menyerahkan wajah, yang saat ini dirasa-rasakannya tengah tampan rupawan. Dengan berkacamata hitam tebal, mengenakan baju kemeja kotak-kotak warna merah lengan panjang. Serasi pula dengan celana katun begi kebesaran sebagai bawahannya. Tak lupa setangkai bunga tulip terselip di belakang pinggang.


"Randu...!?" ujar Nayu, "Masuklah, tidak apa-apa!"


Lamunan Randu buyar seketika oleh seruan yang mengalun lembut dan merdu, dengan dialek khas melayu.


Iya sayangku! balas, Randu.


"Nayu... oh Nayu..." Randu mendekat perlahan, seirama dengan detak jantungnya. Imajinasi berkembang. 'Mau apa kau?' Randu memukul-mukul kepalanya dan mengoyang-goyangnya beberapa kali. Sepersekian detik saja, hampir saja ia beralih ke dunia khayalannya.


"Randu!? Kau tidak apa-apa!?" tanya Nayu melihat tingkah Randu yang ganjil.


"Ti tidak. Apa? Haduuh maksudku aku apa-apa... Alaah... Maksudku, aku baik baik saja!" jawab Randu secepatnya, terbata-bata, terseok-seok lidah.


Nayu sengaja lebih menampakkan aura dirinya yang sedang sakit, meskipun kenyataannya telah jauh lebih baik. Bahkan hanya dalam waktu semalam kesehatannya hampir pulih sedia kala. Sungguh luar biasa mu'jizat yang terkandung dalam diri Randu. Ia bersandar malas pada bantalnya, menunggu Randu mendekat. Ke mana orang ini menghilang beberapa hari yang lalu? Apa yang ia perbuat selama itu? Tersesatkah? Atau sekedar berjalan-jalan, yang tak aneh bagi Randu? Pertanyaan semacam itu muncul bertubi-tubi dalam kepalanya. Tapi semua pertanyaan itu tak terlalu penting baginya kini, mendadak terlupakan begitu saja, saat jiwa dan raga telah menyerahkan semuanya pada penglihatan; Randu kini tengah berada di hadapannya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Randu yang tiba-tiba telah berdiri tegak di samping Nayu.


"Sudah agak baikan."


Nayu curiga bahwa ayah atau ibunya telah bercerita banyak tentang dirinya yang jatuh sakit. Ia merasa sedikit malu, memikirkan penyebab dirinya jatuh sakit. Cukuplah dengan menuding hujan dan panaslah yang menjadi biang keroknya.

__ADS_1


Perasaan Nayu sekilas terganggu mengingat 'kejadian tempo lalu'. Ia merasa sangat bersalah, menyesali semua yang telah terjadi. Apalagi setiap bertatapan dengan Randu seperti saat ini, beban hati itu semakin kuat menderanya. Memasung jiwanya dalam kehinaan. Ia ingin sekali jujur, mengungkapkan rahasia yang tersimpan, tapi ia takut justru akan memperburuk keadaan. Namun, di sisi lain, ia ingin menutupi kecurangannya, selamanya, membuat segala sesuatu tetap berjalan lancar, tapi ia merasa itu membodohi dirinya sendiri dan juga Randu. Sebodoh saat ia menutup mata, dan sengaja berpura-pura lupa akan keyakinan perasaannya; setelah Randu mengucapkan kalimat yang membuat hari-hari sunyinya yang telah lalu dan akan datang bergetar, saat ia tahu dirinya takkan pernah sendiri lagi: "Aku ingin memiliki sebuah danau, dan tinggal di sana seumur hidupku." Saat itu Nayu bahagia sekali mendengarnya, dan ia percaya Randu akan mewujudkannya. Di tempat kediamannya. Ia yakin, seyakin-yakinnya.


Meskipun mata bukan mulut, yang dapat menjelaskan sesuatu secara harfiah, tapi Nayu merasa gelisah dengan tingkah matanya sendiri. Ia khawatir Randu dapat mengetahui isi hatinya.


Mereka berdua terdiam seribu bahasa, memendam asa. Masing-masing sibuk memilah-milah, pikiran apa yang layak dan lebih dulu diungkapkan. Randu merasa bimbang untuk menjelaskan kepergiannya, sementara Nayu merasa canggung utnuk menanyakan tentang taman bunga dan kolam.


Sementara, waktu terus berputar, cukup untuk membuat menu sarapan bubur nasi berubah dari hangat menjadi dingin, cukup untuk sedikit membawa perubahan suasana yang sempat membelenggu tutur kata dan tingkah laku menjadi jinak nan lunak.


Randu tampak sedang mencari-cari sesuatu, melihatnya Nayu berspekulasi menebak, "Kursinya di dekat meja." Lalu melemparkan pandangannya ke tepian jendela.


Randu menoleh ke sesuatu yang telah diketahuinya, lantas berjalan mendekat. Terlihat di atas meja semangkuk bubur nasi, membuatnya selintas bergidik. Bubur atau makanan lembek lainnya merupakan menu yang menjijikkan bagi Randu. Tapi ia tak berani menafikan bahwa bagi sebagian orang menu ini sangat mengundang selera; di taburi bawang goreng, kacang-kacangan, irisan sayur mayur segar yang di tata rapi membentuk lingkaran, dan tak lupa secuil saus penggoda lidah di bagian tengah. "Mmm..." Randu mengerling kecil pada Nayu. "Kau sama sekali belum menyentuh sumber energimu."


Lezatnya bubur nasi melintas dalam pikiran Nayu, yang entah kenapa tiba-tiba memancing dadanya bergetar tenang. Ada permintaan naif yang tercekat di ulu harga dirinya, yang diam-diam ia mengharapkannya, membayangkannya. Ia ingin Randu menyuapinya. Dan bersamaan dengan khayalan yang terus berlanjut itu, sementara kejadian di dunia nyata sedang mengalami hal yang ia bayangkan. Randu membawa semangkuk bubur nasi, dan sebelahnya lagi mengangkat kursi.


Randu duduk di sisi ranjang, sambil mengaduk pelan bubur nasinya.


Nayu mulai bisa menebak maksud hati Randu, persis seperti apa yang ia bayangkan. Ia ingin menyuapiku!


Nayu mencemaskan kedatangan ibu atau ayahnya. Seandainya itu benar-benar terjadi, tidak ada alasan untuk melindungi diri. Dari rasa malu, serba salah, salah tingkah, yang akan menyisakan kekikukan sepanjang hari atau mungkin berhari-hari. Timbul tenggelam, membuatnya tersenyum sendiri, salah tingkah sendiri, malu sendiri, menggigiti bibir sendiri. Akan menjadi teman dalam melalui malam, buah kenangan di kesendirian lamunan, di ketenangan saat-saat senja, di penantian saat menjelang fajar, di dalam rasa makanan saat menyantap makan malam ataupun siang.


Mendebarkan, itu yang Nayu rasakan saat Randu mengulurkan tangannya. Aku seperti anak burung, oh tidak... Nayu menurut saja. Ia menyodorkan kepalanya, membuka mulutnya, memberikan bibirnya yang basah, ranum dan segar, yang membuat siapa pun akan menjadi iri hanya kepada sebilah sendok. Dagunya semakin melonjong, indah menukik bak tikungan maut. Hidungnya menjulang tinggi, setinggi awan putih yang menampakkan keindahan di ambang langit cerah. Matanya melukiskan pelangi, memancarkan warna-warna kebahagian.


Randu menarik mundur sendok dari mulut Nayu, tangannya gemetaran. Mendadak kepala terasa berat. Sementara darah mengalir deras, dan berkecamuk hebat begitu bermuara di dada.


"Kenapa Randu," tanya Nayu polos. Randu kelabakan mencari jawaban. "Kau kurang sehat...? Kalau begitu biar aku menyuapi sendiri."


Menyuapi mutiara rimba itu merupakan kejadian langka. Bagaimana mungkin Randu rela melepaskan kesempatan ini begitu saja. Sekalipun di dalam lautan api, alasan yang tepat, bertekad harus ia temukan. Bubur ... lembek ... daun salem, kacang polong, gunung, sawah ..., jangan tatap..., phobia... Konsentrasi ke hal yang lain... Aha itu dia..! "Aku phobia... Hm... maksudku, makanan lembek itu menakutkan bagiku. Perutku berontak menerimanya."


Mulut Nayu setengah ternganga mendengarnya.


"Hingga membuat tangan gemetaran...?" celetuk Nayu tak percaya. "Kau kan tidak menelannya... Hanya melihatnya saja, menyuapiku... Tapi kau tampak begitu ketakutan." Nayu menggeleng-geleng tragis. "Benarkah begitu? Kau tidak sedang mengada-ada...?"


Randu beranggapan Nayu mulai mengerti apa yang terjadi. Randu mulai salah tingkah. Ditatapnya Nayu penuh selidik.


"Bayangkan, jaraknya tidak sampai sejengkal dengan tanganku." Randu mengangkat tinggi sendok dalam jepitan jemarinya. Tapi Nayu lebih tertarik pada tangan kiri Randu yang sedang mengangkat mangkuk. Randu memperhatikan lirikan Nayu, ia berkilah lagi, "Apa lagi yang ini, hanya terpisahkan oleh mangkuk setebal... setengah lebar jari kelingking." Lantas ia sengaja membuat tangannya yang satu itu turut bergemetaran.


Nayu mengangguk-angguk pelan, dan membuatnya merasa harus segera berbaik hati untuk tidak merepotkan Randu. "Kasihan kau Randu. Sini biar aku menyuapi diriku sendiri," kali ini Nayu memaksa. Ia menegakkan badannya, dan langsung berusaha merebut sendok dari tangan Randu. Membuat pemuda itu terpaksa menjauhkan tangannya dari serangan secepat mungkin.


"Sini biar aku saja." Nayu lebih mencondongkan tubuhnya lagi, dan tangannya segera melancarkan serangan kedua.


Randu salah perkiraan, Nayu ternyata mengincar baju di bagian perut. Menariknya dengan cukup kuat dan tinggi, tak ayal pusar Randu pun kelihatan. Tapi Nayu tak peduli, ia terus menarik-narik ujung baju tersebut. Sedangkan cengkraman tangan kirinya juga telah berhasil memegangi pergelangan tangan kanan Randu. Dan, terjadilah tarik menarik.


"Aku berjanji tidak akan gemetaran, beri aku kesempatan. Percayalah kepadaku...!? Aku mohon Nayu!" Randu bersikeras, memelas memohon, seakan menyuapi orang makan itu hal yang amat penting.


"Aku tidak percaya...! Kau berlebihan... Sama bubur nasi aja begitu!" hentak Nayu tak mau kalah.


Randu dan Nayu akhirnya dapat akrab kembali. Seperti dulu, saat hanya ada mereka berdua.


\=====


Glossary


seduduk : tumbuhan belukar: Melastoma Polyanthum; akar seduduk: Marunia Muscoca.


sempadan : batas: negeri, daerah, sawah, jalan dsb.: tandabatas, spt pancang, garis dsb.


 

__ADS_1


 


__ADS_2