
"DI SINI kami menghidupi diri kami sendiri. Untuk itu kami harus berjuang keras. Tidak ada kata bermalas-malasan," papar Pak Linggih, yang tengah memanggul gabah kering dengan langkah tertatih-tatih. Sebagian butirannya ada yang tercecer ke tanah. Randu melihatnya, namun ia menatap tak peduli, dan terus mengiringi gerak langkah Pak Linggih.
Diselingi obrolan ringan mereka berdua terus melangkah, hingga beberapa meter kemudian, memasuki sebuah gubuk kecil.
Di dalam gubuk terdapat berbagai macam perabotan rumah tangga dan peralatan penunjang kebutuhan sehari-hari. Diantaranya, ada cemeti, tali lasso, gergaji, dan jala, yang digantung dengan rapi di dinding, dipajang layaknya sebuah lukisan mewah. Memang, kelihatan indah. Di pojok kanan sejajar dengan pintu, terdapat sebuah gentong yang besar. Tingginya hampir menutupi dada pria dewasa, semisal Randu. Bagian atasnya ditutup dengan lempengan kayu bulat pipih, dengan penyekat berupa sehelai kain putih lusuh. Demikian, sengaja untuk mencegah udara agar tidak masuk atau keluar. Randu memperhatikannya dengan seksama.
Pak Linggih menurunkan gabah di bahunya, lalu menggabungkannya pada tumpukan yang lainnya. Ada lebih dari satu tumpukan gabah disitu.
"Apa ini anggur...?" tanya Randu sembari menunjuk sebuah benda bulat besar dari kayu.
Pak Linggih melangkah mendekati benda yang dimaksud Randu. "Kami tak menanam anggur, nak."
"Pasti buah-buahan," kejar Randu sok tahu.
Gentong itu lalu diusap-usap oleh kedua telapak tangan kekar kasar Pak Linggih, bagai memperlakukan seseorang dengan kasih sayang. "Sama sekali bukan jenis buah-buahan. Tapi masih tetumbuhan juga."
Dahi Randu berkerut. "A__"
Sebelum Randu hendak menebak lagi, Pak Linggih melanjutkan, "Ini beras, Randu."
Cukup masuk akal, ujar Randu dalam hati. Itu untuk melindunginya dari kutu atau rayap. Penting menjaga beras untuk tetap bersih, agar rasanya tetap enak dan tentunya sehat.
Beras! Mengingatkan Randu tentang nasi yang mereka makan. "Apa si ibu selalu memasak nasi dengan mencampurkan santan kelapa?" tanya Randu penasaran.
Pak Linggih mengerti apa yang hendak dimaksudkan Randu. Ia tersenyum, lantas berkata, "Nasi yang kita makan berasal dari gentong ini. Nasi itu memang memiliki rasa dan aroma yang khas, rasa santan kelapa. Tidak seperti yang kau kira, adanya campuran santan kelapa di dalamnya, tapi bukan, ini beras istemewa. Yang kau cicipi itu murni nasi tanpa campuran apa pun, kecuali berapa helai daun pandan."
Perangainya yang sok tahu membuat Randu memberanikan diri mengoceh, "Ini pasti beras pulen. Tapi terjadi persilangan lagi. Ya, mungkin setidaknya ada dua atau tiga persilangan bibit unggul. Memadukan yang terbaik dengan yang terbaik, agar menjadi yang terbaik. Beras pulen terbaik yang pernah kurasakan pun tak ada yang menyamai seperti ini, sekalipun beras unggulan dari Thailand. Em... apalagi beras vietnam." Belum berhenti sampai di situ, masih ada lagi yang mengantri di kepalanya, dan entah apa maksudnya kini, "Konon di Bangkok, Thailand, ada cerita tentang raja yang ingin memenggal kepala semua petani di negeri itu. Hingga kemudian niatnya urung karena bertemu petani hebat ini.
"Seperti yang lainnya, ia juga akan menerima hukuman yang sama bila tidak sanggup memanen beras yang dapat memuaskan selera sang raja. Siang dan malam ia bekerja keras melakukan penelitian, untuk dapat menghasilkan bibit padi dengan rasa yang luar biasa.
"Waktu semakin berkurang seiring berlalunya hari demi hari. Hingga terpaksa ia memutuskan untuk segera menyemai bibit yang ia hasilkan, apapun keadaannya, siap atau tidak siap. Maksudku ia melakukan penelitian, tapi belum sempurna."
Pak Linggih mengangguk, menjaga Randu merasa terhormat akan ceritanya.
"Akhirnya ketika waktu panen tiba... ha ha... keajaiban terjadi. Ternyata ia berhasil. Dengan demikian, semua petani dapat terselamatkan dan segera dibebaskan dari kurungan. Lantas ia pun diangkat... ee... kita sebut saja menjadi menteri pertanian, pada saat itu. He he he...." Tutup Randu dengan cengengesan.
Pak Linggih manggut-manggut, dan mulutnya bersungut-sungut. "Cerita yang hebat," pujinya.
Hanya begitu saja tanggapan Pak Linggih, dan Randu tampak kecewa.
"Oh ya Pak Linggih, raja itu mendapatkan seleranya dari dalam mimpinya. Baginya yang ia rasakan terasa begitu nyata. Ia benar-benar terobsesi dengan beras dalam mimpinya." Randu belum menyerah, orangtua itu harus dapat dibuatnya terkagum-kagum, itu harapannya.
Cukup, Randu! Cukup! Akan membuatmu semakin tampak bodoh, dan merasa resah tanpa sebab. Entah apa yang ia harapkan. Barangkali, agar Pak Linggih bertepuk tangan, dan terbahak-bahak hingga berguling-gulingan di tanah. Namun, hasilnya bisa ditebak lewat wajah Randu yang cemberut. Memang, tak terlalu ditampakkannya, tapi ingin diketahui. Sinting.
Pak Linggih beralih ke sudut lainnya. Sementara Randu, seakan berpura-pura serius sedang mengamati setangkup gabah hijau dalam genggamannya.
Begitu menyadari pak tua itu mulai bergerak, penasaran, ia pun segera bereaksi. Sifat ingin tahunya hampir tak pernah lelah.
Pak Linggih menjangkau sebuah kantung kain kecil, mirip bungkusan uang logam milik pendekar zaman dahulu. Randu melirik benda itu, kepalanya dicondongkan.
__ADS_1
"Ini benih padi...," terdiam sejenak, "...hari ini kita akan menyemai bibit baru," jelas Pak Linggih.
Semoga cita rasanya nanti tak berubah, karena campur tangan Randu. Kemudian Pak Linggih melangkah keluar gubuk, diikuti Randu.
Sesaat kemudian Randu sejenak larut dalam dunia khayalnya. Kali ini ia membayangkan sebagai seorang petani yang sukses. Tangannya membentang, wajahnya terpejam dihembus angin, dihirupnya dalam dalam udara. Lalu ia membuka mata, menyaksikan lahan persawahan yang tumbuh subur, tanaman padi hijau membentang bak permadani. Tatapannya puas, merasa bangga akan hasil jerih payahnya.
Ada pertanyaan lagi dari Randu. Tak sekedar basas-basi kini seharusnya, karena terbersit di hatinya; bertekat ingin menjadi petani handal. Ia ingin menemukan bibit unggul baru, serta cara bercocok tanam yang baik. "Apa di sini ada hama yang menggangu? Atau burung nakal pemakan biji-bijian? Bagaimana bibit di sini dihasilkan...?"
"Apa kau seorang calon insinyur pertanian?" Pak Linggih balik bertanya.
"Bukan."
"Lalu..., kau sekolah jurusan apa?"
Yang ditanya lain, yang dijawab lain. "Aku dulu... ingin menjadi seorang arsitek," ujar Randu polos.
Pak Linggih menebalkan bibir bawahnya. Sayang Randu tidak melihat.
"Jadi..., ada hama pengganggu?" Randu mengulang pertanyaannya semula.
Pak Linggih mencoba menanggapi bersemangat, "Tentu ada. Kadang burung kesayangan Nayu lebih mengkhawatirkan dari hama lainnya. Anehnya, nak, di sini tak ada tikus yang berani mendekati persawahan bapak."
Randu mulai tertarik. "Mengapa bisa begitu?"
Pak Linggih berhenti melangkah. "Karena dulu, seekor kucing..." ia memperbaiki kalimatnya, "Nayu pernah menyelamatkan seekor tikus sekarat yang hampir menjadi sasaran kucing hutan..."
Randu tahu Pak Linggih sedang berolok-olok. "Haha... Tikus itu mengerti tentang balas budi. Mereka menghormati Nayu... He he..."
Setelah puas tertawa, lalu pandangan Randu menyapu hamparan lahan pertanian.
"Ayo Randu! Ikut bapak ke sana," ajak Pak Linggih dan menunjuk ke arah meja panjang di depan area persawahan. Di atasnya tersusun kotak-kotak kayu; di dalamnya terdapat tanah yang telah digemburkan. Keadaannya agak sedikit digenangi air.
NAYU tengah sibuk menanam bibit padi berusia tiga minggu di sawah. Wujudnya masih seperti rumput liar. Jarak menanamnya harus diatur sedemikian rupa. Tidak boleh terlalu dekat, karena akan mengganggu pembagian asupan makan yang diserap. Juga, tidak boleh berjauhan, karena akan menghabiskan lebih banyak tempat sebelum bibit lainnya dapat tertanam. Tangannya terlihat sangat cekatan, gerakan-gerakan itu bagai telah mendarah daging dalam dirinya, laksana merupakan satu kesatuan dengan tubuh. Sesekali bagian sisi tangannya yang dianggapnya masih bersih, menyeka rambutnya yang masih saja tergerai ke depan mengganggu pandangan, meski sebagian telah dikuncir ke belakang. Nayu mengenakan capil sebagai penutup kepala. Mengingatkan akan suasana pemukiman di pedalaman Vietnam.
Ia sudah biasa melakukannya dengan jemarinya yang tampak selalu terawat baik, bagai tak pernah menyentuh sesuatu yang kotor. Kulit putih berseri, bagai tak pernah tersentuh sengatan matahari. Wajah bening berkilau, memancarkan aura kecantikan. Selalu mengenakan pakaian yang indah-indah, yang tergolong asri bersih. Bukan kostum yang selayaknya untuk turun ke persawahan, seharusnya. Melihat penampilan kesehariannya, semua orang tentu akan menyangka ia seorang gadis manja yang menjauhi hal-hal yang kotor.
Dirinya hampir selalu mengenakan rok. Panjang semata kaki pula. Sekalipun layaknya sekarang, sedang bergumul dengan padi dan lumpur. Air yang meresap membasahi ujung roknya, menjalar hingga ke bagian lutut. Suatu waktu dia akan mengangkatnya, entah apa tujuannya, barangkali hanya sekedar memastikan keadaan kakinya, maka terlihatlah betisnya yang lentik jenjang, bening benderang di tengah lautan lumpur hitam.
Sungguh tidak pantas ia berada di situ. Naungan bertebarkan permadani dan air mancur di sisinya-lah yang lebih pantas ia dapatkan. Andai saja ada seorang pangeran yang memingitnya. Dalam istana termegah, ditemani dayang-dayang, dan disuguhi buah-buahan dan makanan mewah. Daripada dibiarkan bebas bagai tak terurus. Kasihan sekali teratai itu. Bukankah keindahan harus diperlakukan sebagaimana selayaknya.
BERSAMA Pak Linggih, Randu tengah menyemai bibit padi ke dalam kotak-kotak kayu kecil di atas meja. Setelah berumur tiga minggu, biji-biji itu akan tumbuh menjadi seperti rumput liar. Kemudian akan dipindahkan ke sawah, seperti yang sedang Nayu lakukan saat ini. Masih tersisa di dalam kantung sebagian bibit padi, namun semua wadah kotak kayu sudah habis terisi.
Randu mengamati sekeliling. Di ujung sana, tak jauh dari sisi kaki bukit, terlihat olehnya Nayu masih tetap berada di tempatnya semula. Tenggelam dalam keasyikannya.
Menunggu Pak Linggih mempersilahkan Randu membantu Nayu akan percuma. Tak pasti dan masih akan terlalu lama, bahkan mungkin tak sempat terpikirkan oleh orang tua itu. Ini saatnya seorang Randu memanfaatkan kesempatan. Momen yang beralasan, waktu yang tepat, dan tidak terlalu dibuat-buat. Bukankah saat ini Pak Linggih tahu Randu sedang meminati bercocoktanam, yang akan menjadi pokok perbincangan. Cukup dengan membenamkan rasa malu dalam-dalam, buang semua prasangka jauh-jauh, bila perlu hingga ke balik bebukitan nun di sana. Jangan pedulikan apa pun, lagipula mendekati Nayu takkan merenggut nyawa.
__ADS_1
Randu melangkah kesat dengan jantung berdebar-debar, menghampiri sang pujaan hati. Kemudian ia teringat lagi akan Pak Linggih, dilihatnya orang tua itu tengah merapikan pekerjaannya. Aman.
Tanpa sepengetahuan Randu, sebenarnya diam-diam Pak Linggih tersenyum geli.
Ragu tapi pasti, Randu melangkah mendekat. Randu beranggapan, Nayu tidak menyadari ada seseorang yang sedang hendak menghampirinya. Namun, siapa yang tahu, isi hati terdalam sang gadis. Matanya melirik kecil ke arah datangnya randu. Pendengarannya dapat merasakan desau angin yang menerpa sesosok tubuh.
"Oh... gadis Vietcong-ku...," desis Randu pelan sekali. Langkahnya terhenti, sejarak tiga langkah dari Nayu. Dan tiba-tiba mendapati dirinya tengah menggendong seorang balita. Di bahunya tersampir sepucuk senapan tua, Mosin Nagant. "Cup cup cup... Jangan menangis sayang, jangan membuat ibumu risau selagi ia bekerja."
Si anak kecil terus merengek, menangis sejadi-jadinya hingga menarik perhatian seorang wanita cantik. Tampaknya seorang ibu muda, dan ia berkata setengah berteriak kepada Randu, "Tolong manjakan ia, agar tidak menangis..."
Randu mencoba lagi; menunjukkan mimik bloon, menjulur-julurkan lidah, mendendangkan sebait lagu, hingga bersiul. Namun gagal.
"Apa aku harus berhenti bekerja...? Masa begitu saja kau tidak bisa mengurus anak kita," ujar si ibu muda kesal. "Sebenarnya bisa tidak...? Kalau tidak bisa, biar aku saja... Hei...! Bang Randu, dengar tidak? Jangan diam saja...! Bang Ran... Randu..." Randu...
"...Randu...," sapa Nayu lembut. "Apa yang kau lamunkan...?"
"Anak kita...!" jawab Randu keceplosan, antara sadar dan tidak sadar.
Nayu memainkan mulutnya, alisnya dinaikkan. Bingung akan apa yang baru saja diucapkan Randu.
Mendadak Randu bingung apa yang telah dan harus dilakukannya sekarang.
Nayu kemudian tersenyum. Bibirnya bergerak gemulai, melengkung lembut, dan merangsek masuk ke relung hati terdalam Randu.
Dengan jarak sedekat itu, pesona Nayu nampak jelas sekali. Jantung Randu seketika berdegup kencang. Cepat, cepat, dan semakin cepat. Lebih cepat dari waktu yang berputar. Sirkulasi darah seakan berlari ke sana kian kemari, berhamburan tak tentu arah.
Oh... apa yang aku lakukan..., protes Randu pada dirinya sendiri, Apa-apan ini!? Mengapa aku berkata demikian... Khayalan gila ini... memalukan... Tak masuk akal...
Lengan Nayu tersodor ke arah Randu. Laksana Dewi yang mengulurkan harapan bagi seseorang yang terpeleset; bergelantungan di bibir jurang terjal; menghadapi kematian di depan mata; merasa hampir tertelanjangi. "Kau ingin mencobanya?" tawar Nayu. "Hm..."
"Bo Boleh...? Apa tidak menganggu? Bila tidak keberatan biar aku saja yang melakukannya," balas Randu berbasa-basi, berpura-pura tak enak hati, sok gentleman. Mendadak otaknya kini mulai bisa berpikir. Kreatifitasnya perlahan terangkai apik; sosok Cassanova pun segera menghayati jiwanya; berimprovisasi layaknya Mozart yang tengah memimpin orkestra. "Dengan senang hati, nona cantik... Kau boleh duduk manis aja. Bila aku telah mahir, lain waktu, kau tak perlu repot-repot lagi melakukannya. Aku akan selalu ada untukmu."
Nayu mengangguk pelan sambil tersenyum lagi. Dan bahkan lebih lembut; seperti lembayung di senja perpisahan. Tapi, sebaiknya gadis itu tidak tersenyum lagi, karena tak ada yang mengharapkan seseorang jatuh pingsan di tengah sawah berlumpur.
Randu menyambut uluran tangan Nayu, dengan dada yang masih sedikit bergetar tak beraturan.
"Begini..., caranya. Tetap perhatikan jaraknya," jelas Nayu sambil memperagakan. "Kau lihat yang lainnya, ya seperti itulah kira-kira. Jangan lupa, kau harus memperlakukan mereka dengan lembut."
"Apa tanaman bisa merasa?" tanya Randu terkesan nyinyir. Bibirnya tersungging menjengkelkan. Lalu melirik tetumbuhan di tangannya tersebut.
"Hampir semua makhluk menerima belaian," jawab Nayu. "Andai kau mampu merasakannya..."
"Baik. Aku akan mencobanya," tukas Randu. Semoga orang tua itu tidak memperhatikanku... Terasa keringat dingin mulai mengantri di balik pori-pori kulitnya.
\=====
Glossary
Mosin Nagant : adalah senapan bolt-action yang digunakan angkatan bersenjata Kekaisaran Rusia dan kemudian Uni Soviet, dan negara-negara Blok Timur lainnya. Gerilyawan / pejuang vietnam juga sering menggunakannya di masa peperangan. Ditemukan tahun 1891, dan diproduksi mulai tahun 1892.
__ADS_1
Cassanova : Giacomo Girolamo Casanova lahir di Venesia di tahun 1725, nama seorang pria nakal. Casanova adalah seorang ahli tentang perempuan, petualang cinta.