Srinayu Di Bukit Randu

Srinayu Di Bukit Randu
Bab 19 | Dunia yang Sempit


__ADS_3

REI yang nakal tengah sibuk menjahili seekor katak. Menghalang-halangi binatang yang hidup di dua alam itu menggapai parit-yang bermuara di pesawahan-selebar sepuluh inci.


Lahan irigasi buatan Pak Linggih begitu tertata rapi. Seolah dibuat dengan perencanaan dan perhitungan yang matang. Benda-benda berkreatifitas tinggi juga banyak ditemukan. Tak heran jika Pak Linggih sekeluarga mampu bertahan dalam keterkucilan.


Kegigihan katak hijau penghuni sawah ini patut diacungi jempol. Ia tidak menyerah begitu saja menghadapi kesewenang-wenangan seorang Rei. Gerakannya sedemikian lincah, Rei berhasil dibuat kalang kabut. Betapa tidak, sesekali makhluk mungil itu mencoba memberikan perlawanan. Ia berbalik arah mengejar Rei, menampakkan giginya yang hampir tak berarti bagi makhluk seukuran manusia.


Tak lama kemudian Randu melintas. Wajahnya tak karuan. Bebatuan di tanah yang jelas-jelas tak memiliki salah padanya menjadi korban akibat dari suasana hatinya yang sedang mendung, bahkan akan tampak turun hujan disertai geledek menderu. Cukup sekiranya hanya dengan satu hentakan kecil angin saja, semua itu terjadi.


Kemarahan Rei akhirnya tidak tertahankan, konflik ini menjadi serius. "Hei! Pangeran kodok!" hentaknya kasar sambil berkacak pinggang.


Salah paham tidak terhindarkan, Randu bergegas menghampiri Rei.


Jarak Randu dan Rei hanya tinggal beberapa meter lagi. Dengan satu lompatan besar saja Randu akan berhasil menggapai Rei.


Tidak sengaja tiba-tiba pandangan Rei menangkap sosok Randu yang semakin mendekat. Ada apa, pikir Rei.


"Kau bilang apa tadi?" tanya Randu dengan amarah tertahan, namun siap meledak kapan saja.


Awalnya Rei sempat bingung, "Aku...?!"


"Ya, kamu!" ulang Randu tegas bak seorang komandan tentara.


Rei merasa tidak pernah menyapa Randu, ataupun berkata sesuatu yang berhubungan dengan pemuda yang sedang buruk suasana hatinya itu. Bahkan tadi Rei sama sekali tidak menyadari ada seseorang yang sedang melintas di dekatnya, jika saja Randu tidak menghampirinya.


"Oo... o... ow... Aku mengerti sekarang." Rei tersenyum simpul sambil menunjuk-nunjuk wajah Randu dengan sebatang ranting kecil sepanjang kira-kira satu meter. "Kau salah paham. Ini perlu diluruskan."


Rei menarik lengan Randu, dan mengajaknya menemui musuhnya tadi. Randu juga dipaksa membungkuk seperti keadaan dirinya.


"Lihat itu!" tunjuk Rei.


"Ya aku lihat. Lalu...?!"


"Dia biang keroknya."


"Kau kira aku kurang waras!" hentak Randu. Matanya setengah melotot. "Mempercayai bahwa katak bisa bicara... Sinting!"


"Hu... Bukan. Bukan itu maksudku," ujar Rei dengan mulutnya yang bersungut-sungut imut. "Ok! Begini saja... Ini memang sulit dipercaya." Rei menegakkan tubuhnya yang sintal. "Bagaimana ya...?" Lalu Rei berteriak lantang karena kesal tidak mudah merangkai kata yang tepat. "Katak sialan itu membuatku kesaaaal...!!!"


Randu seketika terdiam, pandangan matanya tidak berkedip menatap Rei, membuat Rei menjadi khawatir.


Lalu, "Hua... ha... ha...," Randu tertawa terbahak-bahak. Keras sekali.


Rei sempat bingung, hingga perlahan-lahan ia menyadari sesuatu, hal yang baik. Bibirnya mulai tersungging kecil, lalu ia pun ikut tertawa. Semakin keras. Semakin menggila.


"Oh... Tuhan, bagaimana ini bisa terjadi?" Randu masih tetap tertawa sambil memegangi perutnya.


"Ini hanya salah faham, Randu." Tegas Rei dengan nada lembut.


Di atas tanah Rei terduduk lemas. Mulutnya terkatup payah, berusaha menahan tawa. Kisah pertemuan yang manis sekali.


KORI mendadak mencegat langkah Zillian. Tidak jauh dari mereka, Nayu dan Menon sedang berduaan. Sepasang insan itu tidak melihat kedatangan dua orang ini.


"Sebentar... sebentar...," sergah Kori.

__ADS_1


"Ada apa?" Zillian penasaran dibuatnya.


"Kau menyukai Nayu?" Pertanyaan yang mungkin aneh dan terlalu dini terlontar dari mulut Kori.


"Semua laki-laki normal menyukainya. Apa maksudmu?" Kini Zillian yang balik bertanya.


"Hm... Maksudku apa kau berniat mendekati Nayu selayaknya kau sedang jatuh cinta padanya...? Intinya kau ingin menjadikan Nayu kekasihmu...?"


Akhirnya Zillian mengerti maksud pertanyaan sobatnya itu. "Oooh... Baiklah... Baiklah... Sebaiknya kita pergi, tak usah mengusik mereka. Beruntung sekali Menon punya teman yang pengertian seperti kita."


Zillian langsung melangkah pergi, dan Kori mengikuti.


"Semoga tidak kau yang patah hati," sindir Zillian.


"He... Aku tahu diri," dengan santai Kori menepis ledekan Zillian.


"Aku rasa begitu. Bersaing dengan si tampan itu bukan ide yang baik. Sebelum menyimpan rasa terlalu jauh, dan akhirnya patah hati, lebih baik mundur. Apalagi takluk oleh sahabat sendiri. Sebaiknya kita berdua membuang jauh-jauh pikiran itu," Zillian membenarkan pendapat Kori lalu, "Mungkin kau akan mendapatkan kesempatan nanti, setelah Nayu mendapat julukan mantan pacar sahabat."


Plak!


Sebuah pukulan kecil hinggap di bahu Zillian.


"Prinsip percintaanku; tak akan pernah memacari bekas pacar teman sendiri," timpal Kori sambil bersungut-sungut.


HARI ini dunia tampaknya menjadi sempit bagi dua orang ini. Tadi mereka urung untuk menghampiri Menon dan Nayu. Dan kini, begitu melihat keakraban Randu dan Rei, sepertinya mereka harus melakukan hal yang sama lagi.


"Sepertinya sekarang sedang musim percintaan," celetuk Kori. Apa mau dikata, begitulah image dunia yang terbentuk di mata Kori maupun Zillian saat ini. Begitu mudahnya mereka menghakimi keadaan, hanya dengan selintas pandang.


"Aku butuh alasan kuat untuk tidak mengganggu mereka," ujar Kori peluh, seakan itu hal yang penting. Ia terdiam sejenak, dan mulai berpikir.


"Tidak ada alasan yang kuat." Kori pun melangkah hendak menuju ke arah Rei dan Randu.


Sebelum terlambat, dengan sigap Zillian menahan Kori. Sambil memegangi bahu Kori, Zillian mengemukakan pendapatnya. "Hei! Hei! Tahan dulu...! Apa kau tidak kasihan pada si tomboy itu. Mungkin ini hari keberuntungannya menemukan belahan jiwa. Dan, dapat melupakan Menon. Kau tahu sendiri bagaimana tergila-gilanya dia."


Mendengar penjelasan Zillian, Kori sepertinya dapat mengubah keputusannya. Cukup masuk akal apa yang dikatakan Zillian, Rei pantas dikasihani. "Benar. Aku jadi tak tega."


"Ayo lekas pergi. Sebelum mereka melihat kita." Zillian menarik paksa Kori, dan Kori hanya menurut saja.


Dua orang ini kemudian pergi menjauh. Entah apa yang akan dilakukan selanjutnya. Tempat yang asyik untuk berkumpul bersama-sama telah menjadi tempat memadu asmara. Mungkin. Sementara matahari bersinar dengan teriknya, membuat gumpalan otak di dalam kepala terasa seolah hendak mencair.


"Bagaimana jika mereka hanya mengobrol biasa, dan mungkin juga sedang menunggu kehadiran kita? Apa kita telah salah sangka. Aku ragu..." Diam-diam di hati Kori masih menyisakan keraguan. Semua yang mereka lihat belum tentu seperti apa yang terlihat. "Ini konyol."


"Itu hanya perasaanmu saja," balas Zillian berusaha menyangkalnya.


"Ya, begitu juga dengan pendapat kita yang salah tadi. Itu juga hanya perasaan kita saja." Sungguh menjenuhkan bila begini keadaannya. Bayangan tentang hari yang ceria hilang begitu saja; sangat menyenangkan sekali dapat berkumpul bersama. Tidak seperti ini. "Huuu..."


"Sudahlah jangan menggerutu. Kita buat acara sendiri saja," bujuk Zillian.


"Berdua...?! Membosankan!"


"Kita ke hutan. Bagaimana?"


"Untuk apa?!"

__ADS_1


"Lihat saja nanti." Sebenarnya Zillian juga bingung apa yang dapat mereka lakukan.


BIBIR hutan telah jauh terlewati. Di balik barisan pepohonan dan rindangnya dedaunan mulai dapat terlihat untaian-untaian buah berwarna merah yang tampak menggiurkan, namun saat menerawang lebih jauh ke dalam sana, suasana tampak lumayan menyeramkan.


"Cuaca panas seperti ini, jambu air akan terasa manis. Bagaimana menurutmu?" ujar Kori sambil menunjuk apa yang dimaksudkannya.


"Ya, ide bagus. Lalu kita bisa bermesraan di sana," timpal Zillian asal-asalan, dan memicingkan matanya yang memang sipit.


"Monyet-monyet betina kesepian di dalam sana lebih menggairahkan dibanding harus bercumbu denganmu," balas Kori kesal.


"Kupersilahkan kau dulu yang mencobanya," balas Zillian.


Sembari saling caci maki mereka terus menerobos masuk ke kedalaman hutan.


Akhirnya mereka pun berhasil menjangkau lokasi. Namun langkah kaki mereka mengejutkan kawanan kera yang sedang nangkring di pepohonan Ara. Mengusik acara makan siang yang tengah khidmat, hingga harus membuat kera-kera itu berlarian tunggang langgang sembari menjerit-jerit-jangan—jangan-jangan berisikan makian dan sumpah serapah: ‘Semoga Tuhan menimpakan azab yang pedih lagi kejam kepada kalian!’—ketakutan.


Merasa kesal, Ziliian mengacung-acungkan 'samurai-nya.'


"Untung mereka tidak mendengar perkataanmu tadi, Kori. Bisa-bisa mereka naik birahi, dan mempersilahkanmu dengan senang hati untuk melampiaskan hasrat biologismu itu."


"Setidaknya monyetnya betina," sahut Kori acuh tak acuh.


Ada tumbuhan berbunga indah di samping kiri Zillian, berwarna merah keorange-orangean. Di pangkal kelopaknya memantulkan kerlap-kerlip cahaya, yang berasal dari serbuk berwarna putih mengkilap. Sungguh bunga yang unik. Ada kemungkinanan tanaman langka. Melihatnya Zillian tidak bisa menahan tangannya yang usil. Setangkai di antaranya berhasil ia petik. Tidak berhenti sampai di situ, ia terus mencabuti dua tiga tangkai lagi. Zillian benar-benar sedang jenuh.


Dari belakang, tiba-tiba Zillian menyelipkan setangkai bunga di telinga kanan Kori.


Merasa ada sesuatu menempel di telinganya, Kori segera meraihnya. "Brengsek!" Ada beberapa tipe laki-laki yang akan sangat sangat tidak terima diperlakukan layaknya perempuan. Apalagi Kori bukan seorang kemayu. Perlakuan ini adalah penghinaan serius baginya. "Kenakan saja olehmu setan." Cacinya sambil melemparkan bunga tersebut ke arah Zillian.


"Ha... ha... tapi kau kelihatan sangat pantas mengenakannya Kori." Zillian begitu bangga dengan kejahiliaannya. "Kau tampak cantik memesona."


"Jangan kira aku tak berani menghajarmu!" Kori memasang kuda-kuda, tangannya terkepal.


"Ya... iya... maaf! Sudah sana ambil yang banyak jambu airnya."


"Aku takkan memberimu. Kalau mau ambil saja sendiri." Kori masih kesal.


Di hadapan pohon jambu air Kori terdiam sejenak, memandangi struktur batang pohon hingga ke pucuk tertinggi. Ia sedang mengatur strategi agar lebih mudah untuk memanjat.


Zillian sudah tidak sabar dengan Kori yang terlalu banyak berpikir. "Sini, aku saja duluan! Dasar tidak pernah memanjat pohon, ya?!"


Demi harga diri, Kori secepatnya mendahului Zillian. "Ya! Ya! Kau saja yang tidak sabaran. Kelaparan ya?"


Kelihatannya Kori mengalami kesulitan. Dengan bersusah payah terlebih dahulu barulah ia dapat mengangkat kedua kakinya dari tanah. Keberhasilan tidak lama, kakinya menyentuh bagian pohon yang berlumut, lantas tubuhnya pun terpeleset. Di saat yang tepat Zillian berhasil menghadangnya, tak sengaja telah dalam keadaan membopong Kori. Beruntung sekali. Meskipun jarak Kori dari bumi belum terlalu tinggi, terjatuh ke bawah akan menyebabkan cidera kecil yang akan mengganggu berhari-hari. Tapi niat baik tidak selalu ditanggapi dengan baik.


Masih dalam keadaan setengah memeluk tubuh Kori, Zillian menanyakan keadaan sahabatnya itu. "Kau tidak apa-apa?" Dan Zilian yang memang suka menjahili orang memanfaatkan kesempatan ini, Kori yang tidak menyangka sebelumnya mendapat belaian lembut di kepala.


Kori terperanjat, dan langsung melompat menjauh ketakutan sambil berteriak. "Aaa...!!! Ternyata kau...!" Ia masih belum percaya apa yang baru saja terjadi. Sekujur tubuhnya merinding, bergidik ngeri. Ia seperti baru saja bertemu hantu. "Sejak kapan?" Kori mengoceh tak terbendung. "Pasti sudah lama. Masalahnya, belum bertahun-tahun kita berada di tempat terpencil ini, tidak mungkin kau berubah secepat itu. Lagipula, di sini juga ada wanita. Rei, Nayu."


"Ha... ha.... ha...," Zillian justru tertawa puas melihat Kori ketakutan setengah mati seperti itu.


"Hei mau ke mana...!?" Zillian buru-buru memanggil Kori yang langsung bergegas pergi. "Hei...! Kau menanggapinya serius...? Aku masih normal. Ayolah...! Kenapa begitu perasa sekali dirimu. Ini tidak seperti yang kau kira!" Zillian mulai panik.


Bila diperhatikan baik-baik, tampaknya usia Zilian dan Kori lebih muda dari Randu maupun Menon. Dan lebih tua dari Nayu ataupun Rei.

__ADS_1


__ADS_2