Srinayu Di Bukit Randu

Srinayu Di Bukit Randu
Bab 29 | Nasib Empat Sekawan


__ADS_3

PAK LINGGIH menghentikan langkahnya, dan segera diikuti yang lainnya. Di situ ada Menon, Kori, Ziliian dan Rei. Diamatinya keadaan hutan, di atas sana tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Angin bertiup dengan wajar, dan juga tak ada kabut sama sekali. Kicau burung kemudian terdengar. Saling sahut menyahut. Merdu sekali, seakan hendak mengatakan bahwa keadaaan baik-baik saja.


Sekali lagi Pak Linggih mengingat kembali jalan yang telah dipilihnya ini. Suara jangkrik yang lirih membantu peredaran darah di kepala, menyusup ke dalam telinga menyejukkan pikiran, dengan cepat Pak Linggih dapat meyakinkan dirinya sendiri.


Pak Linggih berbalik ke belakang, menatap satu per satu keempat anak muda yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri itu. Terpantul raut kesedihan dari wajahnya, pria tua ini merasakan kehilangan. Ia bahkan merasa tak tega harus melepaskan kepergian mereka tanpa panduannya, hingga menemukan perbatasan terluar. Kawasan yang dapat dianggap benar-benar aman, untuk tidak lagi membuat pemuda-pemudi luar biasa ini tersesat.


"Baiklah, anak-anak, di sini saja batas kebersamaan kita. Aku tidak dapat mengantar kalian lebih jauh lagi," tukas Pak Linggih.


Menon bergerak maju menyalami Pak Linggih dan memeluk orangtua itu erat-erat. Lalu diikuti Zillian, Kori, dan tak terkecuali Rei yang tak dapat lagi menahan tetesan air mata, pipinya telah basah sedari tadi. Hidungnya yang kecil mancung terisak-isak. Tampak kekanak-kanakan. Pantas saja bila orang-orang memandangnya sebagai babygirl, babyface, atau bahkan baby oh baby.


"Maafkan aku jika ada kesalahan, Pak...," ujar Rei lirih sambil berusaha membersihkan wajahnya dari air mata yang berlinangan. Tangisan sedu sedannya semakin tak tertahankan, memancing air mata Kori turut keluar dari balik kelopak matanya. Zillian terus memperhatikan sambil berusaha sekuat hati menjaga kestabilan emosi, wajahnya nampak sendu. Hanya Menon yang terlihat sedikit tegar dan tenang.


Empat sekawan memantapkan langkahnya, meskipun tetap tak bisa mencegah Rei dan Kori untuk tidak melihat ke belakang lagi sesekali.


 


"SUDAHLAH, Rei." Hibur Menon sambil mengusap-ngusap lembut bahu Rei dan memeluk tubuh kecil gadis itu dari samping. Setidaknya itu cukup menenangkan.


"Rei, aku mohon jangan bersedih lagi." Zillian melihat mata Rei mulai basah lagi, padahal sempat reda. "Suatu saat nanti kita pasti akan mengunjungi mereka kembali."


"Benar Rei, bila tidak ada orang yang bersedia menemanimu, aku yang mengantarkanmu. Berdua saja kita cukup," tambah Menon.


Kori tidak ingin ketinggalan, ia ingin menunjukkan kesetiakawanannya. "Tenang kawan-kawan aku juga akan selalu turut serta. Bukankah kita empat sekawan yang solid...?"


Zillian menegaskan kembali semuanya, dan mengacungkan 'samurai' di tangannya tinggi-tinggi. "Itu janji kami!" tukas Zillian bersemangat, membuat Rei menjadi lebih percaya dan mulai menjadi lebih tenang. "Benarkan kawan-kawan?"


"Aaaarkh...!"


Tepat di saat Kori menoleh ke belakang ingin meng-iya-kan perkataan Zillian, sesuatu dari bawah menarik Zillian hingga terjatuh, lalu menyeret tubuhnya, meluncur deras menerabas semak belukar, menghantam ranting dan batang pepohonan tanpa ampun.


Kori terdiam, tubuhnya mendadak kaku. Dadanya bergetar keras, seakan sanggup merontokkan jantungnya sendiri. Ia tak mampu bersuara. Matanya masih terus terbelalak tajam. Ia masih belum bisa mempercayai apa yang telah dilihatnya. Kejadiannya begitu cepat.


Rei dan Menon mendengar teriakan Zillian, tapi tidak sempat melihat kejadiannya langsung. Begitu menoleh, Zillian sudah tidak ada di tempat.


Naluri segera bekerja dengan cepat, sesuatu yang menakutkan pasti tengah menimpa seorang teman mereka itu.


"Kori, ada apa!? Mana Zillian?" tanya Rei panik.


Kori memaksakan dirinya untuk berbicara, lidahnya terasa keluh sekali, "A... a a... aku tidak tahu..." Dadanya bergerak naik turun, nafasnya tersengal-sengal.


"Bagaimana bisa kau tidak tahu? Apa yang menyerangnya...? Harimau?!" Rei mulai menebak-nebak, menuding binatang buas sebagai pelakunya. "Atau serigala!?"


Kori tidak bisa menjawab, pertanyaan-pertanyaan Rei justru semakin membuatnya bingung.


"Koriiii...!?" hentak Rei panjang. Suaranya melengking.


Kori hanya bisa mengangkat tangannya, dan menunjuk ke suatu arah; posisi Zillian terseret begitu cepat dalam sekejap.


Menon yang lebih tenang beranjak mendekat. Mencoba menenangkan Kori sesaat, membiarkannya mengambil nafas panjang terlebih dahulu.


"Kori... tenang dulu, tatap mataku..." Menon menggosok-gosok bahu dan dada Kori. Setelah Kori mulai dapat mengendalikan diri, Menon melanjutkan, "Katakan saja semampumu... Apa yang dapat kau lihat tadi?"


"Zill... Zillian ti tiba-tiba terjatuh, dan langsung... ter... seret ke arah sana," jelas Kori terbata-bata.


Semua saling berpandangan.

__ADS_1


"Tali...?" Rei semakin tidak mengerti. Dan ternyata wajahnya telah pucat.


"Aku tidak melihatnya... tapi, tampaknya karena itu... Bisa juga temali akar, ini kan hut__"


"Aaaaaaaarkh...!"


Belum sempat Kori melanjutkan kata-katanya, sementara keterkejutannya juga belum menghilang sepenuhnya, tiba-tiba teriakan histeris terdengar dari kejauhan, menyayat-nyayat hati, menggema hingga kemari. Tak dapat dibayangkan penderitaan berat nan sadis macam apa yang tengah menimpa orang itu.


Ketegangan bertambah dahsyat, hati diliputi ketakutan mencekam, membuat nyali menciut cucut. Semuanya menjadi panik, tak terkecuali Menon, dirinya juga mulai gentar. Sekuat apa pun berusaha untuk tenang, raut wajahnya yang ketakutan tak dapat disembunyikan. Rei pun semakin terpengaruh, ia mulai menangis tersedu sedan. Dirinya ingin segera pulang, cepat-cepat keluar dari hutan belantara ini.


Tak ingin membuang waktu, Menon segera memerintahkan Rei dan Kori untuk mengambil langkah seribu, "Tinggalkan tempat ini! Ayo, ke arah sana!" Menon mendorong keras tubuh Kori yang masih terdiam. "Cepaaaat...! Rei, lari! Tetap waspada! Dan juga jangan sampai kita terpisah!" Mereka tak lagi memikirkan nasib Zillian.


 


KEDUA temannya terus mempercepat langkah, sementara Menon melakukan hal sebaliknya, ia pun semakin ketinggalan. Dirinya hendak melakukan aksi heroik, menjadikan dirinya sebagai umpan, juga tameng yang diharapkannya dapat menahan atau sekedar memperlambat akan serangan susulan. Ia tahu itu, instingnya membisikinya seperti itu, sesuatu yang telah menghabisi Zillian tidak akan menghentikan aksinya begitu saja sebelum menghabisi mereka semua. Selama masih ada yang hidup, semuanya tetap akan menjadi mangsa.


Di hadapan mereka sepertinya padang rumput..., pikir Menon merasa kedua temannya telah aman begitu di kejauhan tampak tanah lapang.


"Menooon...!" Tiba-tiba ada yang memanggilnya. Terdengar sangat menderita, dan jauh sekali. "Menooon....!"


"Zillian!" Balas Menon. Ia terdiam sekian detik, sejurus kemudian segera merubah arah, ia berbalik mencari asal suara Zillian.


"Menooon...! Menooon...!" Suara itu terdengar lagi, dan terus menggema.


 


"MANA Menon...!?" tanya Rei begitu menyadari Menon tidak ada di belakang mereka.


Kori membalikkan tubuhnya, memandangi barisan pepohonan yang telah berhasil mereka lewati, memperhatikan setiap celah yang tersisa. Bayangan Menon tidak jua tampak di pelupuk mata.


Merasa sebagai satu-satunya lelaki sekarang, memaksa Kori menuntut dirinya sendiri untuk lebih tegar dan kuat. Kewajibannya sekarang melindungi Rei seorang diri. Ia lalu cepat-cepat mengambil keputusan. "Kita keluar dulu dari semerawutnya hutan ini, menuju padang rumput yang sekarang tinggal beberapa langkah lagi di hadapan kita!" Padang rumput yang luas dianggap Kori lebih aman. Akan lebih mudah mengamati segala sesuatu yang mencoba mendekati mereka.


Di padang rumput, mereka berdua memanfaatkan kesempatan ini untuk mengumpulkan tenaga. Kori lalu mengeluarkan botol minuman dari tas ranselnya. "Rei, minumlah dulu."


Rei langsung menyambarnya, menenggak air itu dengan terengah-engah. Ia bahkan baru kini menyadari tenggorokannya merasakan dahaga yang amat sangat. Belum sepenuhnya botol diturunkan dari mulut, Rei buru-buru berbicara, "Ooh, Tuhan! Ini tidak dapat kupercaya, hari ini ada yang mati... Zillian! Aku tidak mempercayai semua ini. Zillian..., Kor... Zillian! Ia... ia... mati, Kori!" Rei kembali menangis, dan kali ini tampak lebih histeris. Gadis ini menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Tidak ada yang dapat dilakukan oleh Kori, ia hanya bisa menatap sahabatnya itu dengan pasrah. Di dalam hatinya ia terus berdoa, memohon perlindungan kepada yang kuasa. Baru sekarang dirinya menyadari, bahwa mereka sangat membutuhkan pertolongan Sang Pencipta, menyesali kelalaian mereka selama ini dalam beriman dan bertakwa, di saat yang mungkin saja sudah terlambat.


Lambat laun Rei mulai bisa mengendalikan emosinya, ia mulai berpikir taktis. "Kau yakin aman di sini...?" Diamatinya padang rumput dan ilalang yang berlenggak-lenggok anggun ditiup angin. Ada daun-daun berguguran yang melayang mencari tempat mendarat. Debu-debu yang berterbangan tak tentu arah mencari tujuan. "Kori, kau amati bagian Kiri... Aku sisi kanan."


"Menurutku, yang menyerang Zillian memanfaatkan rimbunnya belantara. Mereka mengintai kita dari tempat yang tersembunyi," jelas Kori yang telah dapat menguasai diri. Otaknya mulai dapat bekerja lebih baik.


Setiap gerakan yang mencurigakan, memancing detak jantung menghasilkan adrenalin lebih banyak. Pusaran angin—yang terpusat—di satu titik pada kerumunan ilalang berhasil membuat mereka terkecoh. Kori mendadak memasang kuda-kuda. Dan Rei tak sengaja menumpahkan air dalam botol, ia mengarahkan botol itu dalam keadaan miring seumpama hendak melempar batu ke sasaran tembak.


"Bodoh! Kau menumpahkannya," hentak Kori melihat air berceceran hampir tak terbendung. "Cepat tegakkan kembali!" perintahnya lagi secepatnya melihat Rei masih belum juga sadarkan diri.


"Hanya tersisa secangkir," desah Rei penuh sesal. "Bodoh! Bodoh...!? Kau yang bodoh!" Mengenai hal ini, Rei tidak mau sepenuhnya disalahkan. "Bila kau tidak memasang kuda-kuda silat sabuk kuningmu itu, aku takkan melakukan kecerobohan yang tidak perlu seperti ini!" tukas Rei menyentak kalbu.


"Aku tak mengajakmu untuk ikut-ikutan panik, pengecut!" balas Kori sangat tak mau kalah, "dan jangan kau hubung-hubungkan dengan sabuk kuning pencak silatku! Tak ada hubungannya, itu gerakan alami!" Kori diam-diam menyadari, kuda-kudanya tadi sangat jelek dan mudah dipatahkan. "Kau yang menumpahkan__aakh...!"


Kori terdiam seketika. Ia kelihatan mengalami sesak nafas, pandangan matanya terlihat bertumpu pada suatu titik, mengarah ke dadanya. Rei mendekat hendak memastikan keadaan Kori, mengira sahabatnya terkena serangan jantung, namun langkahnya terhenti saat Kori memandanginya miris.


"Lari..., Rei..." Kori tersenyum. Sangat manis. Semanis warna cairan merah pekat segar yang mengalir lewat celah mulutnya. Terlebih lagi saat Kori menampakkan gigi-giginya yang putih, ia tampak menawan sekali. Warna putih itu mendapatkan pasangan warna yang serasi sekali, begitu kontras. Merah putih.


"Aakh!" Kori mengerang kesakitan lagi. Kaki kanannya tertekuk, hampir saja ia roboh. Setelah punggung, kini bagian persendian di belakang lutut yang tertembus anak panah sepanjang satu setengah kaki. Hari ini ia ingin menjadi seorang ksatria, ksatria yang amat tangguh, ia ingin tampak kuat, karena itu ia tetap bertahan, memaksakan berdiri tegak. Ia sangat bangga sekali hari ini.

__ADS_1


Ancaman tidak berhenti sampai di situ. Sesuatu yang sangat menakutkan datang bergelombang mendekat. Belasan anjing hutan merangsek maju penuh nafsu menyerbu disertai gonggongan yang penuh suka cita, bersemangatkan tarian koboi di atas kuda liar tunggangan. Hewan-hewan pemangsa itu akan segera menikmati perayaan pesta yang lebih meriah dibandingkan saat merayakan musim kawin.


Rei mundur perlahan. Air matanya jatuh berlinangan. Tangannya tetap berusaha ingin menjangkau Kori, sementara tangan yang lainnya mencengkram erat baju bagian dadanya. Menggengam kosong jantung hatinya. Tak terbayang betapa beratnya guncangan bathin yang menimpa gadis imut nan cantik ini. Pertunjukan yang sangat menyayat hati terjadi tepat di hadapannya, terekam jelas sekali di dalam kepala, terpampang tanpa ada yang menghalangi.


Untuk yang keterakhir kalinya, dengan tenaga yang masih tersisa, Kori berteriak lantang, suaranya menggelegar bagai geledek termurka, "Reiii...!!! Lariiiiiii...!!!"


Teriakan itu berhasil memecut Rei. Ia berlari sekuat tenaga, melaju secepat mungkin.


Kori mencabut anak panah dari balik bagian belakang lututnya. Lantas menjadikannya sebagai senjata. Ia merasa harus segera mengambil tindakan. "Hei! Kemarilah!" tantangnya kepada hewan-hewan itu. Ia memutar-memutar anak panah yang telah berlumuran darah. Kori mencoba mengalihkan perhatian, mencegah anjing-anjing itu mengejar Rei. Beberapa langkah lagi, gerombolan anjing hutan yang tampak kelaparan itu akan menghampiri dirinya. Hewan liar itu semakin mengganas. Pertarungan seru meski tak seimbang antara dua spesies berlainan jenis sepertinya tidak dapat dihindari.


Dugaan Kori meleset, saat berpapasan dengannya, anjing-anjing hutan yang sedang berlomba-lomba berlarian itu tidak tertarik padanya. Mereka melewati Kori begitu saja. Sasaran yang dituju sekarang adalah Rei yang tengah berlari pontang-panting, menangis haru biru, ketakutan, dengan nafas tersengal-sengal.


Penglihatan Kori semakin kabur, matanya berkunang-kunang, tubuhnya berayun-ayun lembut. Sebelum akhirnya roboh ke tanah ia masih sempat melihat anjing-anjing hutan mengejar Rei dengan kecepatan penuh. Kori sudah tak berdaya, ia sudah tak sanggup melakukan sesuatu, hanya mampu menitipkan harapan terakhir pada waktu dan nasib.


 


PULUHAN kelebatan kelelawar mengejutkan Menon. Bayangan-bayangan hitam itu melaju ke arahnya. Mengurungnya dalam suatu alur perlintasan. Ia tertunduk, melindungi wajah dan kepalanya dengan kedua tangan, sambil menahan sakitnya pekikan mencicit yang memekakkan telinga.


Tetesan darah yang diduga berasal dari tubuh Zillian, menuntunnya memasuki gua yang gelap. Dengan berbekal sebuah senter kecil ia memberanikan diri untuk menelusuri ke kedalaman gua.


Keadaan kembali tenang. Hening Sunyi. Suasana di dalam sini mengesankan lokasi bekas penambangan. Di satu sisi tergeletak sebuah wadah berupa nampan kayu. Bagaimana tempat ini dibangun, sepertinya merupakan hasil karya tangan manusia. Sepanjang jalan, permukaan lantainya terdapat lubang-lubang yang cukup besar, yang mengandung genangan air berwarna coklat kehitaman. Meskipun suram dan lembab, anehnya di sini tidak ditemukan nyamuk. Penghuni gua yang baru menampakkan diri, hanya gerombolan kelelawar tadi. Dan mereka bukan hewan penghisap darah, mereka memakan jenis buah-buahan.


Setelah mengumpulkan keberanian yang sempat tercerai berai, Menon melanjutkan penyelidikan. Samar-samar terdengar suara gemericik tetesan air. Menon berniat menemukannya. Seraya melangkah, telapak tangannya sempat menyentuh dinding gua. Permukaannya terasa licin dan berlumut, namun disertai butiran-butiran halus seperti pasir pantai. Berbeda dengan tekstur saat di permulaan mulut gua tadi, yang kasar dan terdapat retakan-retakan pecahan-pecahan tak beraturan.


Menon merasa telah cukup jauh berjalan, jika dalam beberapa langkah lagi juga tak menemukan sesuatu, ia memutuskan untuk kembali ke mulut gua.


Lorong semakin sempit dan memasuki medan yang menikung, membuat Menon terpaksa harus menghentikan langkahnya, bahkan terbersit niat untuk menghentikan pencarian sampai di sini saja. Namun, tepat di saat ia mematikan lampu senternya, cahaya remang-remang tertangkap oleh pandangan matanya. Cahaya itu berwarna jingga keemasan. Tampak bergoyang-goyang menimbulkan bias bayangan riak gelombang di permukaan dinding. Tampaknya penerangan itu berasal dari nyala api, pada obor atau sejenisnya.


Hati dan kekuatannya telah dipersiapkan sedemikian rupa, untuk menghadapi segala kemungkinan terburuk. Memasang mata dan telinga baik-baik, jangan sampai ada yang terlewatkan, itu berarti memberikan kesempatan pada maut.


Sejenak ia ragu, membayangkan sosok jahat seperti apa di dalam sana yang barangkali sengaja tengah menunggu kehadirannya.


Semakin dekat cahaya itu semakin terang, dan akhirnya tampak jelas sebuah api obor tergantung di dinding gua. Sepertinya tidak hanya satu, masih banyak yang lainnya, yang sengaja dipasang sepanjang lorong sebagai penuntun dalam kegelapan.


Dipandu cahaya-cahaya obor Menon terus menelusuri perut gua. Rasa ingin tahunya mengalahkan rasa takut yang berkecamuk. Ditambah lagi, ini mungkin merupakan kesempatan untuk menemukan Zillian, yang bisa saja masih hidup dan membutuhkan pertolongan sesegera mungkin.


Udara terasa sangat pengap sekali, dan tercium bau tak sedap yang sangat menusuk. Tengik, apek. Apa ini sebuah tempat pemujaan..., tebak Menon. Tapi tak tercium bau amis darah. Terbayangkan olehnya; manusia primitif, hidup di zaman sekarang ini, tersembunyi dengan aman di tengah belantara, jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Tak tersentuh budaya, apalagi hukum. Bertahan hidup dengan cara mereka sendiri, yang mungkin saja kaum kanibal. Sejenak ia bergidik membayangkan nasib Zillian. Kini ia merasa, menemukan Zillian dalam keadaan hidup dan baik-baik saja kemungkinannya sangat kecil sekali.


Sejurus kemudian, Menon menemukan sebuah ruangan. Sejauh mata memandang hanya menampakkan kegelapan yang remang-remang. Melewati sebuah pintu, ia melangkah masuk lebih dalam lagi sembari kembali menyalakan senternya, dan segera disambut oleh makian hewan pengerat. Mereka mencicit marah, merasa terganggu dengan hadirnya cahaya. Sekarang tampak jelas, tak ada apa pun di dalam sini. Kosong dan hampa. Menon masuk perangkap!


Perasaannya tak nyaman, Menon buru-buru hendak melangkah keluar. Namun, tepat di ambang pintu, tubuhnya hampir saja hangus terbakar oleh semburan api yang sangat ganas seperti ledakan tabung gas.


Berkat kesigapannya, Menon berhasil menghindar dan segera mundur beberapa langkah.


Jalan keluar telah tertutup oleh kobaran api yang menyala-nyala merah penuh amarah.


Menon dipermainkan oleh rasa takut yang amat sangat. Api segera menjalar dengan cepat, merambati sekujur perut gua. Dari atas langit-langit, terjadi tetesan api yang bagaikan lelehan plastik. Barulah ia mengerti, bangunan gua ini ternyata mengandung endapan minyak bumi yang mudah terbakar saat terkena percikan api. Pantas saja teksturnya yang berwarna kehitaman terasa licin saat tersentuh tangan tadi. Sementara, serbuk yang terasa agak kasar tak lain merupakan semacam unsur belerang.


Asap hitam mulai memenuhi ruangan, membuat sulit bernafas, menimbulkan gejala batuk-batuk disertai sakit kepala.


Menon memegangi dadanya, ia merasakan nyeri sekali di daerah jantung. Tubuhnya perlahan-lahan terasa lemas dan bibirnya membiru.


 


 

__ADS_1


__ADS_2