
"AAW!!" Randu berteriak kesakitan. Nayu menyentuh pangkal lengan kirinya.
"Kau terluka, Randu!" jelas Nayu. Ternyata harimau tadi sempat menciderai Randu, terdapat beberapa bekas cakaran yang masih mengeluarkan darah.
Randu mengacuhkan kekhawatiran Nayu, dan beranjak menjauh. "Aku telah mengalami yang lebih menyakitkan dari ini. Sebaiknya sekarang kita lanjutkan perjalanan saja." Gayanya sok cool.
Langkah Randu terhenti, Nayu menyambar pergelangan tangannya, dan langsung memondongnya menuju pohon tempat mereka berduduk tadi. Randu tidak kuasa menolak. Ia terenyuh dengan sikap Nayu ini.
"Condongkan tubuhmu ke depan," pinta Nayu. Kemudian meraih bekal air minumnya dalam sebuah kendi kecil. Menarik penyekat kayunya dan segera menyodorkannya kepada Randu.
Randu terharu diperlakukan seperti itu. Rasa sakitnya seolah tak terasa, bahkan di saat Nayu mulai membasuh lukanya.
"Lumayan parah," jelas Nayu, dan memandangi Randu dalam-dalam.
Randu tidak menanggapi. Sepertinya luka itu memang sedang tidak berarti bagi dirinya.
Nayu membuka ikat rambutnya. Sebuah selendang kecil berwarna merah, untuk membalut luka Randu.
"Jangan pikirkan lukaku. Sebaiknya kita tetap lanjutkan perjalanan. Aku tahu kau pasti sangat ingin sekali mengunjungi tempat itu..."
Nayu menatap Randu dengan diiringi beribu rasa iba.
"Tidak apa-apa. Ayo cepat! Kau tidak ingin pulang kemalaman bukan?" lanjut Randu memaksa. "Jangan buang-buang waktu."
Tapi, "Tidak perlu terburu-buru, Randu. Coba pejamkan matamu...," pinta Nayu.
"Mengapa?"
"Pejamkan saja matamu."
Randu menurut, ia pun memejamkan mata.
Sunyi. Angin lembut perlahan menggerayangi kulit wajah. Dingin sekali, tetapi tidak sampai membuat mengigil. Hanya sampai pada kesan sejuk. Bagaikan serangkaian belaian mesra, keramahan mistis hutan tak bertuan. Desah hembusannya berirama. Samar-samar, perlahan-lahan suara gemuruh air mulai tertangkap telinga Randu. Bagaikan teriakan meminta kunjungan dari seseorang. Panggilan itu semakin lama semakin jelas terdengar. Dalam renungan mata hati, suara gemuruh itu lebih mendekati jeritan akan permohonan sebuah pertolongan.
"Kau mendengarnya...?" tanya Nayu.
"Ya... Sangat jelas sekali."
"Mari...! Tak jauh di belakang kita!" bujuk Nayu buru-buru.
Hanya beberapa puluh langkah kemudian, kini dihadapan mereka tampak sebuah air terjun raksasa. Tegak kokoh bagaikan dinding kaca kasar penuh guratan dan ruas-ruas yang beralur tak beraturan. Air terjun itu memantulkan warna-warni indah. Cahaya matahari yang terperangkap ke dalam bentuk dan wujudnya yang demikian, dengan latar belakangnya yang berupa dinding terjal batu granit putih kristal-atau memang jangan-jangan terdapat kandungan kristal yang sesungguhnya, emas perak dan sebagainya-menghasilkan proses transformasi warna yang spektakuler. Air mengalir deras bak tumpahan air bah, dari atas landasan bukit lalu menukik tajam terhempas ke permukaan sungai, menghasilkan riak gelombang yang dahsyat, suara bergemuruh, laksana amukan seekor naga bumi jantan yang kecewa frustasi lantaran ditinggal pergi si betina. Meraung-raung, meratap-ratap. Sepanjang hari, sepanjang malam. Dan, inilah dia, yang dijuluki Sungai Lelehan Intan.
Berhadapan dengan kekuatan alam seperti itu, kedua tubuh manusia ini tampak begitu kecil tak berarti. Air terjun itu sungguh mampu menelan utuh mereka berdua.
Di tengah sungai terdapat sebuah pusaran, membuat aliran air sebagian terhisap ke dalamnya sepanjang waktu. Tapi tidak pernah sampai membuat sungai ini kekeringan. Selalu datang curahan air yang baru untuk menggantikan yang lama. Sungai ini berperan sebagai sebuah hulu. Namun, entah di mana bermuaranya semua air dari sini selain ke dalam pusaran.
Di seputaran air terjun serta hulunya dikelilingi oleh bermacam jenis bunga beraneka warna. Berbagai tetumbuhan dengan daun-daunnya yang hijau segar menyejukkan pandangan, dan juga mendamaikan hati.
Randu benar-benar terperangah. Pandangan matanya memancarkan rasa takjub luar biasa. Tidak percaya dengan apa yang sedang disaksikannya. Hingga tersenyum atau tertawa pun ia tak mampu lagi. Ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama, seperti saat pertama kali dirinya bersua Nayu. Semua pesona ini adalah pesona Nayu, dan juga sebaliknya.
"Ooh... Segar sekali," desah Randu. Mata terpejam, jiwa melayang.
"Kau sering mengunjungi tempat ini, Nayu?!" tanya Randu kemudian dengan bibir bergetar, dan rasa takjubnya juga belum menghilang. Seolah merasa dirinya sedang tersesat di tengah-tengah Nirwana, dan Nayu adalah bidadarinya. Sementara di lain sisi ia mulai menyadari, bahwa tebing khayalnya itu ternyata memang benar adanya. Nyata, benar-benar nyata.
Nayu menggeleng pelan. Pandangannya berkeliling menyapu hamparan pemandangan indah nan eksotik. Lalu ia berkacak pinggang, seolah ingin membanggakan tempat ini, sebagai miliknya yang sangat berharga.
"Hanya sesekali! Bersama kedua orangtuaku! Terakhir kali sekitar dua tahun yang lalu! Sudah lama sekali!"
Mereka harus selalu berteriak keras untuk dapat mengalahkan suara gemuruh air terjun.
"Seharusnya dulu kau membawa empat sekawan menuju kemari...!" tukas Randu kemudian.
Tampaknya Nayu tak tertarik membicarakannya, tentang empat sekawan. Kembali ia melemparkan pandangan ke segala arah.
"Lihat itu!" tunjuk Nayu bersemangat.
__ADS_1
Randu mengikuti arah jari telunjuk Nayu. Tampak seekor makhluk mungil berwujud seperti kera.
"Apa aku tidak salah lihat?!" Tak henti-hentinya Randu terbuai dalam ketakjuban lagi.
"Tubuhnya hanya seukuran jengkalmu, Randu! Tarsius... namanya, kata ayahku! Ia sejenis primata! Tarsius!!!"
Randu melirik Nayu. Dan Nayu membalasnya dengan senyuman. Tulus, murni, dan alami. Sealami alam bebas ini.
"Nayu...!!!" teriak Randu lebih keras lagi berusaha mengalahkan gemuruhnya air terjun.
"Iya...!?"
"Yang kudengar tadi..., aku pikir adalah jeritan rasa rindu atau kesepian! Tidak ada yang pernah menyambangi tempat ini selain kalian bertiga sejak saat itu...!" lanjut Randu sambil selintas mengalihkan pandangan ke arah air terjun. "Suatu saat nanti aku pasti akan merindukan tempat ini!"
Nayu terdiam sesaat. Kemudian berjalan mendekati tepian sungai. Batasnya sangat jelas, tidak ada landasan yang melandai. Dinding-dindingnya langsung terjal, rata-rata dua kali tinggi tubuh orang dewasa.
"Merindukan adalah karena sebuah perpisahan!" Nayu menundukkan kepala. Mengais-ngais kerikil dengan ujung jemari kakinya. Kemudian berpaling pada elang yang memekik histeris dan berputar-putar di atas kepalanya. "Apa itu berarti kau akan meninggalkan hutan ini?! Rindu pulang!?"
"Perpisahan memang melahirkan kerinduan, tapi terkadang... tidak cukup kuat untuk mengajak seseorang kembali! Apalagi manusia seperti diriku!"
Randu berjalan menyisiri tepian sungai menjauhi Nayu. Sejarak seratus langkah kemudian, tak sengaja ia menemukan anak sungai yang riak airnya lebih tenang. Posisinya menjorok keluar, membentuk lingkaran yang sedikit oval, menghindari arus sungai yang deras. Diamati dari atas akan terlihat seperti benjolan. Dan di sini, kerasnya suara gemuruh air terjun mulai berkurang.
Randu membuka bajunya. Melihat itu Nayu berlari menghampiri.
"Randu! Apa yang akan kau lakukan...!?"
"Aku ingin berenang. Kau lihat airnya... sangat jernih." sahut Randu sambil menunda pergerakannya.
Nayu merasa ini bukan ide yang baik. Ada rasa khawatir dalam dirinya. "Ya benar, tapi tidak sejernih otakmu. Kita belum tahu ada apa di dalam sungai ini. Tidak menutup kemungkinan ada binatang berbahaya di dalamnya. Ular, buaya, atau apapun itu... Lenganmu juga sedang terluka. Sebaiknya kita tanyakan dulu pada ayahku tentang keadannya. Lain waktu kan kita bisa kembali lagi ke sini."
Tapi Randu seolah-olah tidak mempedulikannya. Bahkan ia mulai mengambil ancang-ancang, bersiap-siap untuk menceburkan diri ke dalam sungai.
"Randu hentikan...!" Di saat yang menentukan, tiba-tiba Nayu melihat sesuatu. "Ada orang di seberang kita! Asap...! Asap itu...!?"
Randu terpeleset. "Aaw! Kau mengejutkanku! Dasar penakut!" teriak Randu. Untunglah ia masih sempat berpegangan pada ilalang. Nayu pun menjadi panik.
"Tidak usah! Aku masih sanggup menyelamatkan diriku sendiri!"
Nayu tampak sangat kesal dengan jawaban Randu. Benar-benar orang keras kepala dan pemarah, hentaknya membathin.
Nayu menuruti kemauan Randu, namun tetap siaga. Jikalau Randu terpeleset lagi, maka secepatnya ia akan meraih tubuh pemuda bodoh itu, pikirnya.
Akhirnya, dengan susah payah Randu berhasil merangkak ke atas.
"Orang...!? Asap...!? Mana!? Tindakanmu hampir saja mencelakaiku...!? Bercandamu kelewatan__!" Randu menggerutu habis-habisan.
Karena kesal, Nayu lantas mencengkram kepala Randu dan memutarnya ke suatu arah. Kata-kata Randu terhenti, kemarahannya lenyap seketika.
"Kau lihat itu!? Asap! Ada asap berarti ada kehidupan lain selain kita!"
Randu menatap Nayu dalam. "Kenapa ayahmu tidak memberitahu bahwa ada orang lain di sini!? Kau juga__!?"
"Aku juga tidak tahu..., kalau di sini... Setahuku tidak ada siapa-siapa selain kami..." Nayu sendiri merasa kebingungan. "Ayahku juga pasti tidak tahu menahu soal ini. Aku yakin! Jika mengetahuinya, ia tidak akan mengizinkan kita datang kemari."
"Aku ingin ke sana!" hentak Randu. "Akan kutanyai mereka satu per satu!"
"Gila...! Jangan! Jangan dulu! Siapa tahu mereka orang jahat. Ibu sering bercerita tentang manusia yang seperti itu. Mereka tega memotong leher sesama manusia, mencincang...., bahkan ada yang suka memakan dagingnya."
Randu sedikit terpengaru mendengar peringan Nayu, tubuhnya bergidik kecil. "Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang...?"
"Beritahu ayahku dulu. Itu lebih baik menurutku. Lagi pula kau atau aku tidak tahu jalan menuju ke sana. Kita dipisahkan oleh badan sungai. Ayahku yang lebih mengenal keadaan hutan... Apa kau ingin menyeberangi sungai liar ini...? Kau saja! Aku tidak berani. Aku benar-benar tidak tahu jalan lain menuju ke sana."
Pandangan Randu menyapu ke segala arah, hingga tatapannya membentur bukit di balik air terjun. Ia memikirkan sesuatu. Lantas melirik ke arah Nayu, kemudian pandangannya kembali lagi ke bukit tadi.
Nayu menggeleng-geleng keras. "Tidak! Itu juga tidak mungkin! Aku tidak ingin melakukannya! Bukit air terjun itu berbahaya sekali, apalagi keadaannya sangat rimbun oleh semak dan pepohonan, kita tidak akan mampu menerobosnya. Harimau yang menyerang kita tadi juga masuk ke sana, bagaimana jika makhluk itu masih menyimpan dendam? Kawan-kawannya pasti akan turut membantu untuk menghabisimu! Jangan Randu! Aku minta jangan!"
__ADS_1
Melihat Nayu ketakutan Randu buru-buru mengurungkan niatnya. Ia menghela nafas panjang. "Baiklah kita kembali ke rumah."
MEREKA pulang melewati jalan yang sama. Di sini tadi tepatnya, seekor harimau menyerang Nayu secara diam-diam dari belakang. Randu sekilas mengamati batang pohon yang pernah mereka duduki.
Sepanjang perjalanan Randu mengingat kembali saat-saat lengannya dibalut Nayu. Ia merasakan kasih sayang yang tulus. Perhatian sedemikian rupa, yang belum pernah ia dapatkan seumur hidupnya dari seorang wanita yang bukan muhrim-nya. Alam bawah sadarnya mengatakan saat itu Nayu adalah seorang kekasihnya. Suatu rasa yang cukup naif, mana mungkin seorang Nayu membiarkan orang terluka begitu saja tanpa memberikan pertolongan. Siapapun orangnya akan mendapatkan perlakuan yang sama. Dan, diam-diam hatinya mulai berbunga-bunga. Ada harapan yang mencoba mengusik mimpinya kembali. Sungguh tak mampu menolaknya, meskipun terbersit di hatinya perasaan ragu.
Ragu, selalu saja ragu. Begitulah Randu, orang yang penuh dengan keraguan, kebimbangan. Termasuk soal cinta. Ia tidak tahu kapan harus mencintai, dan kapan telah dicintai.
Memang, ia bukanlah orang yang luar biasa. Ia tidak memiliki pesona untuk membuat seorang gadis jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi semua yang telah mereka jalani, antara Randu dan Nayu lebih dari sekedar pandangan pertama. Melampaui beribu-ribu pandangan.
Jalan pulang kembali melewati hutan yang semakin lebat dan liar. Berada di balik pengaruh pepohonan rindang, nuansa hutan menjadi tampak gelap temaram, walaupun matahari masih bersinar cukup terang di luar sana. Seolah sengaja sedang menyembunyikan suatu rahasia penting. Menjaga kemisteriusannya dalam keanggunannya yang mematikan. Hanya beberapa pendaran sinar matahari yang mampu menerobos masuk melalui celah yang tersisa di antara dedaunan.
Senja telah terlewati, dan mulai tampak beberapa pendaran cahaya kunang-kunang mengiringi hari menyambut gelap. Rintihan jangkrik turut memeriahkan malam, namun itu hanya menambah keterasingan dalam hati. Suasananya membuat jiwa terbang melayang menembus dunia lain. Dunia entah di mana, yang jauh dari peradaban manusia.
Setelah sekian lama bersama Pak Linggih, Randu tetap masih belum terbiasa dengan keadaan semacam ini. Mungkin butuh waktu belasan tahun untuk dapat menyatukan jiwa dan raga dengan alam, dalam suatu keserasian yang saling mendamaikan. Bahkan, Nayu juga merasakan hal yang hampir serupa. Perasaan mencekam terus mengikutinya. Kenyataannya ia hanya seorang gadis biasa, hatinya tetap hati seorang manusia. Sekalipun di besarkan di tengah belantara.
Tapi apalah arti semua kengerian itu, sepertinya alam justru sedang ingin menyatukan perasaan kedua insan berlawanan jenis ini.
Nayu tiba-tiba ragu melanjutkan perjalanan. Dihadapannya keadaan semakin gelap. Dari matanya terpantul rangkaian untaian kecemasan. Ia sungguh sedang berada dalam ketakutan, menampakkan raut wajah yang hendak menangis, menyesali perjalanan ini. Hati kecilnya berteriak memanggil-manggil kedua orangtuanya.
"Tidak akan kubiarkan, siapapun... apapun itu di hutan ini mencelakaimu." Randu menggenggam erat jemari tangan kanan Nayu. Lantas mereka pun melanjutkan perjalanan sambil bergandengan tangan.
Nayu hanya terdiam menuruti hatinya yang pasrah. Hanya Randu pelindungnya saat ini, ia menyerahkan keselamatannya pada pemuda itu. Diam-diam pertarungan Randu melawan harimau besar yang ia saksikan siang tadi cukup menenangkan jiwanya. Keyakinannya, Randu dapat diandalkan. Nayu perlahan mulai merasakan kehangatan. Jiwanya terasa tentram. Walau tidak sepenuhnya.
Hari benar-benar telah berganti malam saat mereka melihat cahaya penerangan dari kejauhan. Kediaman Nayu yang sederhana nampak sudah terlihat samar-samar. Dengan berat hati Randu melepaskan genggamannya. Sebenarnya ia ingin menggenggam tangan Nayu sepanjang malam, selama mungkin, hingga dirinya tertidur, lalu bangun lagi, lalu tertidur lagi, lalu bangun lagi. Seterusnya begitu. Selamanya.
Nayu mempercepat langkahnya, berjalan mendahului Randu.
"Burungku telah terbang, kembali ke sangkarnya...," ujar Randu lirih setelah Nayu menjauh.
Ketika tinggal beberapa langkah lagi mencapai rumahnya, Nayu berteriak sambil terus berlari ringan, "Ibu aku pulang!"
Tidak ada jawaban. Nayu memanggil lagi, kali ini lebih keras, "Bu! Ibuu...!? Paaak...!?" Mungkin di belakang, pikirnya. Tapi ketika ia membalikkan badan untuk menanti Randu, tidak jauh di hadapannya tampak tiga sosok bayangan manusia sedang berjalan mendekat ke arahnya.
"Ibu, Bapak, dan... Randu...!?" pikirnya.
"Nayu kami mencarimu! Ibu dan Bapak mulai cemas, hari sudah gelap kalian belum pulang juga!"
Nayu berlari kecil, mendekat dan langsung memeluk Bu Srining yang juga langsung menyambutnya dengan penuh kasih sayang. Dibelainya kepala Nayu.
Pak Linggih tiba-tiba memotong adegan melankolis itu, "Bu obati dulu luka Randu!"
"Pulanglah si anak hilang...," gumam Randu pelan sambil mengusap matanya. Entah apa dan siapa yang dimaksudkannya dengan anak hilang itu. Digigitnya bibir serta lidahnya sendiri keras-keras.
Nayu melepaskan pelukannya, ia tersadar dengan Randu yang terluka.
Khawatir Randu yang disalahkan nantinya karena pulang kemalaman, Nayu segera bertindak, "Randu menyelamatkanku tadi...!" Ia ingin membuat nama Randu tetap baik di mata kedua orangtuanya. "Seekor harimau menghadang kami! Randu bertarung dengannya!" Celotehnya cepat dan bersemangat. Dan tentunya menggemaskan. Manja sekali.
Bu Srining memperhatikan lengan Randu yang terluka, tampak olehnya selendang merah milik Nayu. Tak pelak, Pak Linggih pun kini turut memperhatikannya juga. Karena merasa tidak nyaman Randu buru-buru melepaskannya.
"Kenapa buru-buru dilepaskan Randu? Pakai saja dulu, sementara Bu Srining membuat ramuan obat untuk lukamu," ujar Pak Linggih.
"Tidak apa-apa, Pak. Kan tidak lama... membuat ramuan obatnya," jawab Randu dengan kikuk, salah tingkah, dan sejenisnya.
Kemudian mereka semua bergegas menuju ke dalam rumah. Samar-samar terdengar Pak Linggih melantunkan pelan sebait lagu. Hanya Randu yang masih dapat menangkap liriknya, sedangkan Nayu dan Bu Srining sudah berada enam langkah di depan.
"...Sepanjang jalan kenangan, kita akan selalu bergandeng tangan. Sepanjang jalan kenangan..."
\=====
Glossary
muhrim : perempuan, laki-laki yang masih sanak saudara dekat, hingga terlarang kawin menurut Islam.
__ADS_1