Srinayu Di Bukit Randu

Srinayu Di Bukit Randu
Bab 27 | Bukit Randu


__ADS_3

TATKALA membuka mata menjelang pagi hari, dalam keadaan berbaring miring ke kanan menghadap jendela, pandangan Nayu membentur sesuatu yang unik. Sesuatu dengan warna putih yang mendominasi, tampak jelas terlihat, meski keadaan kamar masih kurang cahaya. Begitu menyadari, Nayu terkejut dan sontak langsung duduk terbangun. Mengusap-usap matanya beberapa kali, memaksa dirinya untuk segera terlepas dari perasaan bangun tidur sesegera mungkin.


Nayu bergegas berdiri, lalu berlari menghampiri sebuah meja.


Di atasnya, terdapat sebuah wadah berbentuk persegi panjang. "Apa ini?" gumamnya.


Bentuk dan susunanannya mengingatkan akan sesuatu, berupa tiruan pebukitan. Hampir seluruh permukaannya diselimuti kapas putih. Pada salah satu bukit mini tersebut, berdiri kaku patung seekor burung.


"Srinayu...!" pekik Nayu tertahan, sembari menutupi mulutnya dengan menangkupkan kedua telapak tangan. Dan matanya terbelalak tajam. "Srinayu di bukit randu..."


Miniatur di hadapan Nayu itu, mewakili wujud asli dari alam di sini. Tepatnya, di seputaran kediaman Pak Linggih sekeluarga. Pebukitan di sini banyak didominasi koloni hutan kapas alias hutan randu.


Pandangan mata Nayu merayapi badan pebukitan, kemudian terus turun ke dataran rendah, hingga mendapati sebuah taman bunga. Di tengahnya terdapat sebuah kolam mungil, sebagaimana keadaan aslinya. Jantung Nayu mulai berdegup kencang. Ia bergegas keluar kamar, tepat di saat Rei—yang tadinya masih tertidur di sebelah Nayu—membuka mata.


Nayu berlari terbirit-terbirit, seperti seorang yang tengah mengejar keberangkatan kereta api yang membawa serta sang belahan jiwa. Berharap masih sempat menemuinya untuk yang keterakhirkalinya. Mengungkapkan semua penyesalan, memaparkan isi hati, lalu mengucapkan salam perpisahan.


Nafasnya tersengal-sengal, sambil terus memandangi taman bunga di hadapannya, hingga sinar matanya berhasil menerobos masuk menyentuh permukaan air kolam, melalui celah yang hampir tak tersisa.


Selanjutnya ia berjalan mengitari sisi-sisi taman, sesekali kembali berusaha menembus pandang ke balik taman.


Kepalanya dinaikkan, kakinya menjinjit setinggi mungkin. Tanpa disadari, tangannya yang juga mulai gelisah tengah menyibaki tangkai, ranting dan dedaunan. Tak puas, Nayu segera menerobos barisan rapat tetumbuhan yang baginya mulai menyebalkan itu, masuk ke dalam lingkaran taman bunga.


Tak lama kemudian, Rei tiba bersama Menon, sengaja hendak menemui Nayu.


Setelah puas mengaduk-aduk seisi taman, Nayu keluar, dan segera menghampiri Rei dan Menon, yang memang tengah menuju ke arahnya.


Rei dan Menon dapat melihat dengan jelas kegelisahan yang tergambar di wajah Nayu.


"Kalian melihat Randu?" sergah Nayu tanpa basa-basi langsung melemparkan pertanyaan. Tatapannya penuh selidik, seakan ia mencurigai Rei dan Menon menyembunyikan sesuatu.


Rei kebingungan melihat tingkah Nayu. "Tidak..." Apa yang sebenarnya dikhawatirkan Nayu, yang tiba-tiba menyerang perasaaannya di pagi hari ini, pikirnya penasaran. "Ada apa, Nayu?"


"Randu menghilang... Ia pergi!" jawab Nayu dengan mata tajam.


Merasa tidak ada yang aneh, Rei dan Menon saling melempar pandang.


"Randu kan memang sering menghilang... seperti biasanya. Menjelang matahari sepenggala nanti dia juga akan kembali," jelas Rei yakin. "Dan terkadang juga, setelah makan siang ia pergi lagi. Atau tetap di sekitar sini melakukan beberapa pekerjaan rumah."


Mendengar perkataan Rei, Nayu merasa sedikit tenang, walau tidak setuju sepenuhnya. Nayu merasa lebih memahami akan perasaannya, ini tidak seperti biasa. Sesungguhnya jauh-jauh hari ia sudah bisa merasakan keganjilan ini. Lalu ia bergegas pergi meninggalkan Rei dan Menon, yang kemudian lagi-lagi saling berpandangan keheranan.


 


DI RUANG lesehan, Kori berjalan gontai hendak menuju pintu keluar. Begitu sinar matahari menyapanya, terasa cahaya itu terlalu amat menyilaukan baginya. Ia baru saja bangun tidur. Malangnya, dengan penampilan yang masih kusut dan belum tersadar sepenuhnya, ia harus langsung berhadapan dengan Nayu yang telah bersemangat.


"Ke mana Randu?" tanya Nayu dengan bibir yang terlihat begitu indah pagi ini. Wajahnya masih tampak alami, belum tersentuh satu olesan riasan pun.

__ADS_1


Nayu memainkan bibirnya tak sabar ingin segera mengulangi pertanyaan, membuatnya terlihat semakin menggemaskan. "Randu...? Ke mana Randu?"


Bukannya segera menjawab, Kori malah tertegun kagum, terperangah, terpesona oleh serangan mendadak yang tiba-tiba telah menantinya tanpa disangka-sangka. Dalam kesempatan yang sempit Kori buru-buru berusaha merapikan rambut cepaknya yang belum dapat disisir, menarik bajunya ke bawah, dan mengetes pita suaranya, "Hm...."


"Kori...!?" bentak Nayu keras.


Kori terperanjat, dan megap-megap. Tak urung membuat Nayu menjadi salah sangka.


"Kori, katakan sesuatu! Kau pasti mengetahuinya...!?" Nayu mendekat, merapatkan tubuhnya, lalu menggoyang-goyang kedua bahu Kori, dan mengunci pandangan mata Kori. "Kori!? Kori...!? Katakan sesuatu! Katakan saja ada apa sebenarnya...!?"


Kori panik, nafasnya mulai terasa sesak. Terpaksa ia membuang muka ke samping, menghindari pandangan dan bau harum khas Nayu. "A a Aku... tidak tahu...," jawabnya terbata-bata. Suaranya bergetar.


Nayu tidak percaya begitu saja. Semakin Kori ketakutan, membuat Nayu semakin bertambah curiga. "Randu mengatakan sesuatu padamu!? Akui saja...! Cepat!" desak Nayu, dan kembali mengguncang-guncang tubuh Kori. "Kau pasti menyembunyikan sesuatu dariku!"


Kori pucat basi, apa yang telah terjadi, pikirnya, "Na... Nayu tet te... tenang dulu! Kau membuatku ketakutan," mohonnya polos.


Nayu mengendurkan tekanannya terhadap Kori, kemudian menarik nafas dalam-dalam.


Setelah Kori kelihatan lebih tenang, ia melanjutkan kembali. Nadanya pelan dan dilantunkan selembut mungkin, dan kedua telapak tangannya menangkup pipi Kori. "Kori..., dengarkan aku baik-baik..."


Kori berkeringat dingin, seluruh tubuhnya bergetar keras, dan nafasnya yang sesak semakin terasa sesak. Ia tak berani menatap mata Nayu. Ia benar-benar tidak tahu harus bersikap bagaimana menghadapi semua ini.


"Kori...! Lihat aku!" Nayu kembali memaksa kasar, wajahnya didekatkan, dan harum nafasnya menyergap penciuman Kori, membuat pemuda itu merasa sedang mendapatkan perlakuan percobaan pemerkosaan. "Kori...! Katakan yang sesungguhnya! Jangan mempermainkanku! Aku mohon..., Kori. Katakan...! Kori...!?"


Pendengaran Kori mendadak tuli, kata-kata Nayu seakan lenyap ditelan kembali oleh mulut Nayu yang bergerak-gerak menggoda. Jalan pikirannya kini telah benar-benar buntu. Kori hanya bisa merasakan bahwa hasrat biologis mulai menjalari sekujur tubuhnya dengan cepat, dan tak dapat terbendung. "Aku tak kuat", desah Kori. Di bawah selangkangannya, tampak rembesan air merambat perlahan di permukaan celananya.


Nayu melihat ke bawah, dan baru menyadari bahwa tindakannya mungkin telah kelewatan hingga membuat Kori sangat ketakutan dan mengeluarkan air seni dalam celana.


Nayu melepaskan dekapan telapak tangannya yang halus dari pipi Kori, dan bergerak mundur beberapa langkah.


"Maafkan aku, Kori," ujar Nayu iba.


Sekarang barulah Kori dapat bernafas lega, berangsur-angsur denyut jantungnya kembali normal.


Menyadari celananya yang basah, Kori bergegas berlari ke belakang.


"Mereka menyembunyikan sesuatu... Randu dan Kori," jelas Nayu menunjuk kepergian Kori.


"Oh, begitu..," timpal Zillian cengengesan.


Rei menatap Zillian tak mengerti. Merasa diperhatikan Zillian pun mendekat.


"Nayu membuat Kori birahi...," bisik Zillian kepada Rei.


Rei merasa tak nyaman Zillian berbisik padanya, Nayu memandang curiga mereka berdua.

__ADS_1


"Menjauhlah, idiot... kau membuat Nayu menaruh curiga pada kita berdua!" balas Rei pelan tapi ketus.


Siapa yang berada di pihakku? Tak ada yang dapat dipercaya... Nayu melangkah pergi, membawa tanda tanya besar dalam kantung hatinya.


 


KIRA-KIRA pukul sepuluh pagi, Rei berteriak memanggil-manggil Nayu.


"Nayu...! Nayu...!"


Nayu tersentak. "Randu telah pulang...!?" gumamnya. Bergegas ia keluar kamar, buru-buru ingin segera menemui Rei yang masih belum kelihatan batang hidungnya.


"Mana, Randu-nya...?" sergah Nayu langsung bertanya begitu bertemu Rei.


Rei menyipitkan sebelah matanya, dan tersenyum menggoda. "Bukan itu... Ayo ikut aku!" Lalu membalikkan tubuhnya. "Ayo...!" pintanya sekali lagi sambil menoleh ke belakang, merasakan Nayu masih diam mematung.


"Baiklah... baiklah...," balas Nayu buru-buru.


Mereka berdua kemudian berlarian menuju tempat yang ingin diperlihatkan Rei.


"Itu yang kumaksudkan...!" tunjuk Rei begitu sesampainya di hadapan taman bunga. "Indah bukan? Randu memang hebat."


Ratusan burung Srinayu berlalu lalang di atas kolam dan tanaman hias hasil maha karya seorang Randu. Mereka silih berganti menghinggapi bunga-bunga, menari-nari indah, mengepak-ngepakkan sayapnya. Ada juga yang terbang mengambang di tempat bagaikan helikopter. Berkicau saling sahut menyahut.


"Sejak kapan Srinayu menggemari bunga?" tanya Nayu pada dirinya sendiri, tak percaya menyaksikan pemandangan yang tak biasa itu. Indah. Sangat indah. Merupakan karya yang agung, benar-benar telah direncanakan dan diatur sedemikian rupa.


"Apa...?" tanya Rei tak mengerti.


Nayu menoleh. "Maksudku... burung-burung itu sebenarnya tidak menghisap sari bunga. Bila sekedar ingin meminum air yang tergenang di dedaunan, mereka takkan bersemangat sekali seperti itu.


Perlahan-perlahan pandangan Nayu menangkap bandul-bandul kecil berwarna merah bergelantungan. Dan di saat itu juga dari atas kepalanya meluncur seolah dari alngit sebutir buah keremunting yang jatuh ke tanah, di dekat ujung kakinya.


"Bagaimana bisa...!?" pekik Nayu tak percaya. "Kapan ia melakukannya!?"


"Nayu, ada apa lagi?" Rei kembali dibuatnya penasaran.


Nayu menarik lengan Rei dan memondongnya mendekati kolam. "Tadi pagi... aku sama sekali tidak menyadarinya... Perhatikan batang dengan buahnya yang kecil-kecil berwarna merah itu...! Itu buah keremunting. Randu menyelipkannya di antara tanaman hias. Masih banyak lagi... Rei...! Lihat itu...! Di sana...! Bahkan di sebelah sana pun pasti ada, di sepanjang barisan tanaman hias yang mengelilingi kolam." Serasa Nayu ingin segera menangis. Ia benar-benar tak dapat menahan rasa harunya menyaksikan semua ini.


Nayu benar-benar merasa tak kuat lagi. Air mata mulai menggenangi bola matanya yang bening, yang membuat benda bulat indah itu semakin tampak bercahaya, berkaca-kaca, berkilauan.


"Srinayu menyukai buah keremunting, sangat menyukainya sekali, dan Randu tahu itu," dengan bangga Nayu mengatakannya kepada Rei, bahkan kepada siapa pun, karena itu ia melihat-lihat sekeliling, mencari-cari sosok lainnya yang mungkin saja ikut hadir, selain Rei.


Nayu merasa kehilangan sesuatu, sebelum sesuatu yang dirindukannya itu belum benar-benar sudah pasti pergi. Atau memang, ia benar, sesuatu itu telah pergi dan takkan pernah kembali lagi. Randu menghilang, membawa serta cintanya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2