
MISTERI. Teka-teki. apa yang dilakukan Pak Linggih sekeluarga tempo hari, ketika Randu memergoki mereka pulang di lewat tengah malam, masih belum terpecahkan. Pertanyaan yang belum terjawab itu terus bersemayam dalam benak Randu, membuatnya sulit menentukan ke mana sikapnya akan diarahkan. Berkali-kali berusaha menepis prasangka buruk. Ia telah mencoba dari berbagai sudut pandang. Kejadian itu menjadi aneh, karena dialami di negeri antah berantah ini. Sebuah tempat di tengah-tengah hutan belantara. Bumi di balik bukit.
Di tepian kolam hasil karyanya, Randu duduk memandangi air yang telah memenuhinya secara alami. Raut wajahnya menunjukkan rasa tidak puas akan sesuatu. Ada yang terasa kurang.
"Butuh waktu agar airnya bening!" sergah Bu Linggih setengah berteriak. Tidak jauh dari kolam perempuan paruh baya itu sedang menjemur pakaian, jaraknya sekitar dua puluh meteran dari Randu. "Ikan apa yang ingin kau ternak?!"
Randu tersenyum, menoleh ke arah Bu Linggih. "Aku ingin bermacam-macam ikan..., juga udang, dan apa saja yang memungkinkan."
Berselang beberapa saat, Nayu datang dan langsung mendekati ibunya. Ia membawa sebakul pakaian yang telah dicuci bersih. Mendengar apa yang dibicarakan Randu dan ibunya, ia tidak bisa untuk tidak ikut campur. "Sekalian buaya." Nadanya terkesan ketus.
Bu Linggih tak bereaksi, mungkin karena ia sedang asyik dengan pekerjaannya. Sedangkan Randu sedang memikirkan sebuah tanggapan. Seakan sesuatu yang serius. Buaya...? Bukan hal yang mustahil. Tentunya karena ia adalah seorang Randu.
Kulit buaya banyak kegunaannya, terutama untuk membuat berbagai kerajinan, seperti tas, dompet, ikat pinggang, sepatu dan masih banyak lainnya. Dan lagipula kulit buaya harganya sangat mahal di kota sana. Maka, terpikirkanlah oleh Randu untuk menjadi peternak buaya. Mata pencaharian yang cukup menjanjikan. Sesekali aku akan keluar hutan pergi ke kota... Setiap pulang aku akan membawakan Nayu oleh-oleh... Baju, alat-alat rias dan kecantikan... lulur, cream pemutih..., juga laptop agar ia tak lagi gagap teknologi. Dan tersenyum sendiri.
"Bapak ke mana, ya?" tanya Randu kepada siapa pun.
Lagi-lagi Nayu bertingkah seperti menyimpan dendam. "Apa ia bapakmu?"
Baru saja ia membayangkan hal-hal yang indah tentang dirinya dan Nayu, namun harus kecewa menerima tanggapan yang tak mengenakkan hati itu.
Dan, kontan saja Bu Linggih terkejut mendengarnya, ia buru-buru menegur anak kesayangannya itu, "Hush! Tidak boleh begitu. Kalau bicara itu yang sopan."
Tapi, Nayu justru tertawa cekikikan mendapat peringatan dari ibunya. Meninggalkan pekerjaannya ia berlari mendekati Randu.
Bertambah hari Nayu semakin bahagia, ia tidak dapat menyembunyikan keriangannya. Mungkin caranya yang salah untuk sekedar menunjukkan kebahagiaannya..
"Bapak memancing," ujar Nayu ketika tiba di samping Randu.
"Memancing?" Mendengar jawaban itu tentu saja membuat Randu sedikit terkejut. Dan ia juga mendadak melupakan perkataan Nayu tadi, yang lumayan kasar. "Kenapa tidak mengajakku...?"
"Tadi malam kau bilang sedang tidak enak badan...," timpal Nayu, "...jadi, ya... ia tidak mengajakmu. Lagi pula kau kan tadi masih tidur."
Bu Srining terlihat tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.
Randu tidak terima begitu saja. "Kenapa tidak membangunkanku?" kejar Randu. "Sejak bangun tadi, hingga sekarang aku merasa baik-baik saja. Aku benar-benar sudah baikan! Bahkan aku sanggup mendaki bukit besar itu...!" Tunjuknya mengarah ke balik punggung Nayu.
Nayu mengangkat dan menelentangkan kedua telapak tangannya. Melihat Randu kecewa, Nayu menemukan cara untuk mengobatinya, "Sebaiknya kita pergi ke parit kecil saja. Di sana juga banyak ikannya... dan udang. Memang, bukan tempatnya untuk mencari ikan yang besar."
"Ide yang baik, Nayu," tiba-tiba suara Bu Srining terdengar dari arah belakang. Kepalanya sedikit dijulurkan untuk melihat isi kolam. "Tidak perlu sampai menunggu hingga esok atau lusa. Tidak masalah bila diisi dengan sesuatu hari ini. Apa saja."
"AKU ingin membuat danau dengan tepian yang melandai, seperti pantai. Tidak curam begini," ujar Randu bersamaan dengan pelepasan ikan terakhir ke dalam kolam.
__ADS_1
Nafsu besar tenaga kurang. Ungkapan ini sebetulnya pantas untuk Randu. Danau yang ia bayangkan, hanya menghasilkan kolam seukuran setengah lapangan basket.
Nayu mencoba memasuki alam pikiran Randu, tentang impian pemuda itu. Sepertinya, daya khayalnya tak pernah habis, bagai mata air yang mengalir terus menerus.
"Danau...?" tanya Nayu kebingungan.
"Iya danau. Sebagaimana rencana awal." Tegas Randu. Melihat Nayu kebingungan, Randu menyadari sesuatu, "Iya iya aku akui ini bukanlah danau, hanya sebuah kolam kecil... Danau itu mustahil... Sekarang aku sadar, tidak mudah membuat sebuah danau yang besar. Seperti dalam impianku... Kau meragukan hal itu bukan?" Randu memandangi wajah Nayu.
Nayu tersenyum ragu. "Tentu saja."
Randu mencoba menjelaskan, agar idenya lebih bisa diterima. Sedikit pembelaan diri. "Tapi setidaknya miniatur dari sebuah danau."
Nayu merendahkan kepalanya, kemudian membuat tatapannya terkesan tajam. Dan bibirnya sedikit dimiringkan.
"Tiruan dari sebuah danau," ralat Randu, melihat Nayu masih tampak kebingungan.
Nayu mencoba mencerna dan membayangkan bentuknya. "Oh... begitu." Ia kemudian langsung mengerti. Kecerdasan otaknya tidak ikut terkurung oleh barisan bebukitan, terbukti satu kosakata baru 'miniatur' menambah khazanah ilmunya hari ini.
Randu mengagumi daya nalar Nayu. "Tepat sekali, say. Kini hanya tinggal masalah ukurannya saja. Danau bisa memiliki luas lima kali dari kolam kita ini."
"Kolam kita?" timpal Nayu.
"Lalu say?"
Pertanyaan satu ini tentu saja membuat Randu bingung untuk menjelaskan.
Dan Nayu tak ingin hanya menunggu, butuh rangsangan lagi untuk membuat Randu membuka mulut. "Aku yakin itu bukan salah satu bentuk tempat tinggal makhluk air lagi. Aku pikir itu sebuah panggilan atau julukan."
Randu mendadak gugup. "Girl... ehm... anu...," Randu terdiam sejenak, berusaha menyakinkan dirinya sembari memilah-milah kalimat yang tepat. Ia tidak ingin dari satu kata ini nantinya menimbulkan kesan yang tak diinginkan. "Ee... itu...semacam sapaan, sebagaimana aku menyapamu, seperti ini contohnya.... Hai, Nayu! Hai, say...!"
Masih terlihat rasa penasaran dari sinar mata Nayu. Randu bisa merasakannya.
"Hallo?" tegur Randu untuk menyadarkan Nayu yang tengah tampak melamun tatapan kosong.
"Dari tadi sebenarnya aku sudah yakin sekali itu sebuah panggilan. Tapi..., artinya Randu...? Terjemahkan mentah-mentah saja padaku."
"Ah, sudahlah tak penting dibahas."
Nayu tidak menyerah. "Bagiku penting, Randu. Biar kutebak. Say... apa kau mengganti namaku...? Ya, dari Nayu, Nay, huruf depannya kau ganti dengan S, kemudian menjadi Say. Bukan begitu?"
Keduanya terdiam beberapa saat.
__ADS_1
Tiba-tiba... "Haha... Ya, kau benar, Nayu." Jawab Randu lega.
Namun Nayu terus memandangi Randu dengan penuh selidik.
"Tidak... tidak... bukan itu." Nayu tak percaya begitu saja.
"Sungguh, Nayu, itulah jawabannya."
"Jelaskan!" Pinta Nayu sembari melipat tangan di dada.
"Jelaskan?"
"Ya, jelaskan. Mengapa kau menggantinya?"
"Hanya iseng, Nayu."
"Ooo... jangan-jangan... itu sebuah olokan." Tatapan Nayu semakin penuh selidik. "Ya... ya... itu sebuah olokan, sebuah ejekan." Nayu kemudian langsung balik badan dan beranjak pergi.
"Nayu...! Tunggu, Nayu...! Panggil Randu, namun tak berhasil mencegah langkah Nayu. "Nayuuu...!"
"Say... say... itu..."
Nayu semakin menjauh.
"Aduh... Nay...."
Terus melangkah.
"Say itu...! Potongan... Awalan kata sayaaang!" teriak Randu panjang.
Langkah Nayu terhenti seketika.
"Aduh... Mati aku... Apa yang barusan aku ucapkan...!" Maki Randu pada dirinya sendiri. "Terlalu cepat aku mengungkapkan perasaan!"
Tapi hanya berhasil sesaat, sejurus kemudian gadis itu kembali melangkahkan kakinya.
"Nayu..." Panggil Randu putus asa.
"Oh Tuhaan... belum tentu ia juga suka padaku. Jauh panggang dari api." Randu meratap menghadap langit.
Pandangan pemuda lugu itu terus mengawal kepergian Nayu yang kian menjauh. Ia menganggap dirinya telah membuat suatu kesalahan fatal. Tapi apa semua itu benar? Belum tentu. Nayu pergi membelakangi Randu dengan wajah yang menjadi kemerahan delima, memapah bibir yang tengah tersungging manis. Tinggallah angin yang berpapasan dengannya, menyaksikan betapa gadis itu sedang tersipu malu. Ia beberapa kali menunduk ke tanah, danberusaha menutupi mulutnya. Seandainya Nayu bisa menembus perut bumi, di dalam kegelapan sana ia akan melampiaskan tawanya; tentang ucapan Randu, tentang rasa bersalahnya Randu, tentang tak percaya dirinya Randu.
__ADS_1