Srinayu Di Bukit Randu

Srinayu Di Bukit Randu
Bab 14 | Jeruji Wungu


__ADS_3

"NAYU, kau tahu Randu ke mana?" tanya Pak Linggih. "Ketika membersihkan sesemak ia masih bersamaku, mendengar celotehannya yang terkadang tak beraturan."


Tingkah Randu memang sering kali membingungkan, tidak terkecuali hingga sesampainya di tempat ini. Hal itulah yang mungkin membuat pria paruh baya itu khawatir, apalagi ia telah mengenal sifat Randu. "Semoga saja ia tidak berbuat sesuatu yang aneh."


Pertanyaan Pak Linggih bagai angin lalu, alih-alih menanggapi, Nayu justru semakin tenggelam dalam pikirannya sendiri. Terlihat bingung tengah menghiasi raut wajahnya yang bening.


Sebenarnya, Nayu juga sudah menyadari Randu yang menghilang terlalu lama. Bahkan tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya, Nayu telah berkelililng mencari pemuda itu. Daerah pencarian terjauh adalah parit kecil tempat mereka menangkap ikan tempo hari. Ia merasa lumayan risau dengan ketidakhadiran Randu di tengah-tengah mereka. Serasa kehilangan teman bermain. Hanya beberapa jam saja telah membuatnya bosan dan uring-uringan.


Melihat Nayu yang demikian tentu saja mengundang curiga. "Nayu! Kamu baik-baik saja." Pak Linggih menggoyang tubuh anaknya. Tangannya dilambai-lambaikan di depan mata Nayu.


Nayu tersentak kaget, kemudian tersenyum nyengir kuda-orang cantik tetaplah cantik sekalipun meniru senyuman seekor kuda bahkan monyet. Giginya yang putih bersih terawat di balik bibir merah mudahnya tampak begitu memesona.


Pak Linggih semakin bingung dibuatnya. "Ada sesuatu yang kamu sembunyikan?"


Lagi-lagi Nayu tersenyum seperti tadi, tapi kali ini lebih manis. "Ah, Bapak ada-ada saja!"


"Nyengirmu itu...," sergah Pak Linggih membela diri.


Pembawaan Nayu kemudian mendadak berubah, kembali menjadi gadis yang baik dan santun, tuturnya melembut. "Aku juga sedang bingung, Pak. Aku juga tidak tahu ke mana perginya dia, dan aku juga tidak tahu sesuatu dan tidak menyembunyikan sesuatu. Apa lagi yang berhubungan dengan menghilangnya Randu."


"Yah, baiklah. Tapi setidaknya kalau ia ingin pergi jauh, ada baiknya memberitahukan kepada salah satu dari kita. Tapi ini, ia sama sekali tidak berpamitan."


"Randu kan orangnya sok misterius, Pak," balas Nayu lagi dengan polos. Memancarkan aura sesosok bayi mungil nan lucu, yang apabila orang memandangnya terbersit rasa ingin memeluk dan meremas-remas pipinya, yang begitu menggemaskan. Sayang Randu tak melihatnya, pemuda itu bisa-bisa meneteskan air liur.


"Ha... ha... Nayu... Nayu." Pak Linggih tertawa mendengarnya.


Kepanikan kecil sejenak menghilang, dan sepertinya ini memang bukan masalah besar. Paling berbahaya juga, Randu sedang tertidur di bawah sebatang pohon yang rindang. Di mana angin bersemilir kemayu, ditambah alunan musik mendayu oleh kicauan burung yang terdengar samar-samar, timbul tenggelam, jauh mendekat. Salah satu suasana yang memang digemari oleh seorang Randu, tipe manusia sentimentil. Menyaksikan terbenamnya matahari bahkan bisa membuatnya mendadak merasa syahdu, atau malah rasa sedih yang tak beralasan.


Mendapat tanggapan demikian, membuat Nayu semakin menjadi-jadi. Sosok manja kekanak-kanakannya kian menguat. "Jangan-jangan sekarang ia sedang menangis menyaksikan kancil dimakan harimau. Randu kan sebenarnya cengeng, Pak. Melankolis tepatnya." Entah darimana Nayu mendapat istilah 'melankolis' itu.


"Oh, ya...?" pancing Pak Linggih.


"Pernah ia mengubur bangkai seekor burung, kemudian setelah itu ia tiba-tiba menjadi pendiam. Aku sengaja tidak menanyakannya, tak ingin membuatnya malu hati," lanjut Nayu bersemangat.


Bukan kebencian yang membuat Nayu mengoceh habis-habisan tentang aib Randu. Ada rasa yang sulit dimengerti, sekalipun direnungi sepanjang malam, rasa itu baru dapat dimengerti ketika besok pergi jauh dan tak pernah kembali.


WANGI bunga yang menusuk, menyergap penciuman Randu. Entah dari mana asalnya, angin kembara telah membawanya hingga kemari.


"Hmm... Apalagi sekarang," ujar Randu pelan. Kekhawatiran mendapati dirinya dalam keadaan tersesat segera tergantikan oleh sensasi lainnya.

__ADS_1


Aroma itu semakin menguat, membuat Randu semakin tergoda mencari sumbernya. Lantas ia terus dan terus melangkah, menelusuri jejak wewangian tersebut. Dituntun naluri dan penciuman yang lumayan tajam, akhirnya membawanya ke suatu tempat. Taman raksasa dengan berjuta kembang berwarna ungu, terhampar luas dalam radius ratusan meter. Randu menatap tak berkedip.


Tanpa disadari, langkah kaki yang bergerak tanpa sepengetahuan sang empunya, telah membawa Randu ke tengah-tengah barisan tetumbuhan erotis tersebut. Ratusan gumpalan lembut seperti kapas sebesar buah duku beterbangan terbawa angin. Wujudnya halus menyerupai sutera. Terdiri dari sulur-sulur tipis yang mengembang membentuk bola. Di dalamnya terdapat titik hitam, tak lain biji dari tanaman unik itu.


Beberapa saat kemudian, sekujur tubuhnya perlahan-lahan terasa kaku dan kejang. Bagai terlilit rajutan benang-benang halus tapi alot. Dan tiba-tiba, tanpa sebab yang jelas, perasaannya diliputi kebahagiaan yang menggebu, disertai hawa menyejukkan dan debaran bergemuruh bersamayam di dalam dada.


Di sini tengah berlangsung peleburan antara dunia nyata dan dunia mimpi, yang akan segera melahap habis diri Randu ke dalam alam bawah sadar. Alam yang bertengger di awang-awang nirwana. Wajah Randu berseri-seri. Ia terhempas dalam senyum kedamaian, seakan hanya keindahan yang tampak dalam pandangan matanya.


"SEMAKIN sering seseorang dibicarakan, mengenai keburukan maupun kebaikannya maka, ada dua alasan utama maksud hal itu dilakukan. Ia membencinya atau menyukai orang tersebut. Bila itu merupakan rasa cinta yang perlahan mulai tumbuh, semua ucapan yang keluar dari mulut adalah tumpahan isi hati yang tak dapat lagi dibendung. Anak gadis kita tak kuat lagi menahannya, dinding-dinding hatinya mulai goyah. Ia ingin orang lain mengetahuinya. Tepatnya, lawan jenis. Tapi, di sisi lain ia tetaplah seorang gadis. Harus bisa menyembunyikan perasaannya. Mencoba tetap bertahan pada kodratnya." Papar Bu Linggih mengenai perasaan Nayu. Tampak di wajahnya kebahagian, ditandai dengan senyuman yang tersirat.


"Ia mengungkapkannya dalam bentuk peleburan antara kebencian dan cinta," tambah Pak Linggih tenang. Matanya kemudian menerawang jauh. Kembali bayangan kehidupan bahagia hadir dalam imajinasinya untuk si anak kesayangan semata wayang. Nayu bisa hidup normal, punya suami, memiki anak, harta benda berkecukupan, dan hidup bersosialisasi. Ia berencana ingin menebus kesalahannya selama ini.


Nayu yang datang dengan tiba-tiba hampir saja memergoki pembicaraan mereka berdua. "Pak, Bu..., aku ingat sesuatu."


"Ada apa, Nayu?" tanya Bu Linggih penasaran.


Nayu mengernyitkan keningnya, seakan berpikir kembali, mengingat-ingat apa yang sempat hendak diucapkannya, lantas, "Bunga Jeruji Wungu."


Mendengar apa yang dikatakan Nayu, spontan membuat suami istri itu saling berpandangan dalam keterkejutan.


"Setiap orang yang baru pertama kali mencium aromanya akan segera tertarik mencari keberadaan asal bebauannya," timpal Bu Linggih, mengingatkan kembali tentang bunga yang dimaksud. "Segera jiwa dan raga orang itu akan sepenuhnya dikendalikan oleh bunga yang mempunyai kehendak sendiri itu. Tumbuhan itu dapat mengetahui isi relung hati terdalam sekalipun."


"OH... Apa ini...? Tidak mungkin." Ketika Randu menunduk, ia tersentak atas keberadaan dirinya. Telapak kakinya menginjak kerikil-kerikil yang menyerupai pecahan kaca, berkilauan, yang membentuk sebuah jalan setapak selebar setengah meteran. Mata Randu jelalatan menelusuri jalur jalan itu. Panjang, panjang sekali seolah tak berujung.


Saat ia menoleh ke balik punggungnya, ternyata menampakkan keadaan yang serupa pula. Jalan setapak yang tanpa awal. Randu sama sekali tak sempat menyadari di mana gerangan pangkalnya, tiba-tiba saja ia telah berada di sini.


Sisi kanan kirinya hanya berupa rerumputan berwarna kuning emas. Bahkan, bila diamati dengan seksama, tampaknya memang emas sesungguhnya-lah, yang telah berwujud menjadi helaian-helaian rerumputan. Sifatnya juga unik, dapat memancarkan cahaya terang layaknya matahari, tak lain karena tumbuhan ini terdapat bubuk kekuningan di sekujur lembaran daunnya. Begitu terkena tiupan angin, sebagian akan terbang bertaburan tak tertentu, meliuk bak naga, membentuk sapuan kuas alami mirip ribuan kawanan tawon, berkerlap-kerlip indah bagaikan bercak-bercak emas.


Setelah mengamati tetumbuhan meranggas, Randu teringat kembali akan jalan setapaknya. Tanpa berpikir panjang ia meraup kerikil-kerikil mempesona tersebut. Dengan mata kepalanya sendiri, ia hampir tak dapat mempercayai apa yang ada dalam genggaman tangannya. Bola matanya seakan hendak meloncat dari kantung mata demi meyaksikan kenyataan ini... "Uh... uh... hh... ini butiran berlian!" Nafasnya tersengal-sengal. Terpukau keindahan. Ia terkejut dan takjub.


Menyadari sesuatu, lalu Randu segera mendongakkan kepalanya, mencari-cari keberadaan sang mentari. Di ufuk barat tak ada, begitu juga di ufuk timur. Di tengah padang tak berujung itu, bila diperhatikan dari kejauhan Randu tampak sedang berputar-putar ke segala arah seolah mencari-cari sesuatu. Entah ke mana menghilangnya sang raja siang itu, pikirnya.


Tanpa benda kuning keputihan menyilaukan itu, alam di sini tetap terang benderang. Seakan segala pernak-pernik alam di sini memiliki kemampuan menghasilkan sumber energi cahaya sendiri. Kerikil dan rerumputan serta ilalang. Dan langit di atas sana tanpa awan, tenggelam dalam lautan membiru nan cerah tanpa batas.


Randu berlari, terus berlari mengikuti alur jalan setapak yang unik itu. Tanpa pikiran apa pun. Tidak memerlukan perencanaan. Naluri, naluri kini yang sepenuhnya mengendalikan laju tubuhnya. Tak jelas lagi apa yang diharapkannya; jalan pulang atau menemukan kejutan lainnya. Keduanya pilihan yang sama menggoda.


Dalam hitungan waktu air dalam ember mendidih, ia sampai di suatu tempat. Sebuah istana megah menjulang tinggi, berdiri kokoh di hadapan Randu. Tanaman berbunga ungu mengelilingi sekujur sisi kaki bangunan, bisa dipastikan hingga ke bagian belakangnya pun demikian. Dan suasana di sini sepenuhnya terbenam dalam nuansa kabut putih mendayu-dayu.


RASA letih sirna entah ke mana. Sepertinya energi tak pernah habis di sini, seharusnya sejak dari tadi Randu mulai merasakan haus lapar dan lapar. Begitu hukum biologis itu datang menyerang, dalam beberapa kejapan mata maka akan segera sirna. Sepertinya asupan kalori berputar dalam siklus yang tiada henti, bekerja dengan sendirinya dan tidak mengambil cadangan dari lemak tubuh maupun bagian tubuh lainnya. Alamlah yang memberikan semua itu. Udara, sepertinya berasal dari udara.

__ADS_1


Randu terus menelusuri area istana. Mungkin inilah yang ia cari-cari; ada satu bagian yang tidak tertutup barisan tetumbuhan ungu, satu-satunya jalan masuk ke dalam lingkaran pekarangan bangunan megah tersebut.


Beberapa langkah kemudian, mendadak perut Randu diserang perasaaan mual nan hebat, seekor makhluk ganjil tengah menatapnya penuh ketertarikan. Pandangannya ramah dan tak lupa memberikan senyuman manis. Namun, semakin manis senyuman itu, semakin tampak menjijikkan. Ia memiliki hidung yang besar menyerupai bandul, seperti hidung bekantan. Mengenakan topi pesulap, atau barangkali topi hitam yang biasa dipakai para bangsawan, pelengkap setelan jas mewah. Di atas bibirnya sengaja disisakan secuil kumis model Adolf Hitler. Sekujur tubuh makhluk berwujud setengah serangga setengah manusia itu berwarna kombinasi antara hijau terang dan hijau tua.


Si tuan serangga semakin sumringah kepada Randu. Menampakkan giginya yang putih berkilauan. Gigi yang tanpa ruas. Tak ubahnya mirip mata pisau alat pemotong kuku. Semakin merekah sunggingan bibirnya semakin menaikkan debit air setinggi satu litter dalam lambung Randu.


Perasaan mual semakin menggila, Randu tak tahan lagi, ia bergegas berlari pergi.


Beberapa meter kemudian, Randu mendengar suara seseorang yang sedang menyapu menggunakan sapu lidi. Kesibukan itu berasal dari balik sebatang pohon bongsai yang lebat dan tinggi. Dari balik celah dedaunan, Randu dapat melihat warna baju yang dikenakannya. Berwarna abu-abu lusuh. Sosok itu juga tengah asyik bersenandung. Tembangnya halus nan merdu. Menggema ringan bernuansakan suasana di dalam cathedral. Itu suara seorang wanita.


Langkah demi langkah, tubuh misterius itu semakin tampak utuh. Awal mulanya hanya terlihat ujung gagang sapu berwarna coklat tua. Lalu perlahan sebagian lengan kanannya, dengan lengan baju yang disisingkan tepat di lipatan siku. Kemudian terlihat separuh badannya, hingga lantas nampak sempurna wujudnya. Ia mengenakan jubah penyihir, lengkap dengan topi lancip.


Wanita itu menoleh, begitu menyadari ada langkah kaki yang mendekat. Ia tersenyum kepada Randu. Dua tiga detik kemudian, ia menggeleng-gelengkan kepala.


Randu tetap terdiam. Tak berani mengucapkan sepatah kata pun. Makhluk hidup kedua yang ia temukan ini, masih cukup ramah untuk dipandang dibandingkan dengan yang pertama. Hanya pakainnya saja yang kurang pantas, sementara rupanya cantik lagi anggun. Dan seakan, usianya yang setengah baya itu yang justru menjadikannya tampak semakin anggun nan keibuan. Dasarnya anggun, ya tetap anggun. Sekalip pun berbalutkan karung goni.


Randu berniat untuk segera melangkah pergi, tapi langkahnya terhenti seketika, wanita tua anggun itu seperti hendak mengucapkan sesuatu. Namun urung dan tersenyum lagi. Dan kali ini ia mengacungkan telunjuknya, mengeleng-gelengkannya layaknya kepala; pertanda sebuah larangan. Namun terkesan lunak dan tak memaksa.


Randu mengabaikan peringatannya, setelah berpikir sejenak, secepatnya ia berusaha kabur. Dan ketika empat lima langkah terlampaui, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah tangisan histeris. Menjerit-jerit, meraung-raung, dan melengking tinggi. Ternyata, wanita tua anggun tadi kini tengah menangis sejadi-jadinya. Entah apa yang ia tangisi.


Suara tangisan sudah tidak terdengar lagi. Randu telah cukup jauh melangkah. Lambat laun keringatnya mulai bercucuran meski di tengah cuaca yang dingin. Keadaan organ-organ tubuhnya kembali pada kenormalan. Tenggorokannya mulai merasakan haus. Perutnya terasa perih, karena lapar yang djejali perasaan mual.


Randu kini memandangi sebuah pintu kayu. Tingginya sekitar lima kaki, berwarna putih gading, sama seperti warna dinding bangunan istana secara keseluruhan. Permukaannya halus, berhiaskan pahatan klasik, bersih tak berdebu.


"Untuk apa hanya memandanginya." Bisik Randu kecil pada dirinya sendiri. Diraihnya gagang pintu. Ia memulai dengan sebuah dorongan pelan, namun ternyata telah dapat membuat daun pintu bergeser. "Tidak dikunci, tapi..." Ia mengamati lagi daun pintu itu dari atas ke bawah. Merasa hanya mengeluarkan kekuatan sebesar menyeka debu, membuat logikanya tak bisa menerima. "Kenapa ringan sekali. Tak seharusnya bergerak."


Saat pintu dibuka selebar mungkin, Randu bergerak secara reflek mundur ke belakang dua langkah. Ambil aman, pikirnya.


Kabut. Di dalamnya berisi kabut. Hening sekali. Namun keheningan ini tak berlangsung lama, sesuatu mendesis terdengar dari arah dalam, datang berduyun-duyun bergelombang. Ketika menyadari, Randu terlambat untuk menghindar, hembusan kencang asap putih menerpa tubuhnya yang sama sekali tak terlindungi.


Kembali hening. Dingin dan syahdu.


Merasakan keadaan kembali tenang, tangannya yangtadi digunakan untuk melindungi mata turun perlahan. Kabut putih pun ternyata telah hilang tak berbekas. Maka, tampaklah sebuah pemandangan yang tak mungkin bisa berada di atas muka bumi ini.


\=\=\=\=\=


Glossary


cathedral : aula, bangunan gedung besar.

__ADS_1


bekantan : adalah jenis monyet berhidung panjang dengan rambut berwarna coklat kemerahan dan merupakan satu dari dua spesies dalam genus Nasalis. Bekantan merupakan hewan endemik pulau Kalimantan yang tersebar di hutan bakau, rawa dan hutan pantai.


__ADS_2