
TIDAK disangka-sangka justru di tempat terpencil seperti ini seseorang dapat belajar banyak hal. Mencoba sesuatu yang baru, yang bahkan di luar kebiasaan dan jauh dari karakter aslinya. Di dalam kamar, pagi ini, Nayu tengah asyik menyulam, hingga tiba-tiba terdengar suara pintu kamarnya yang memang tengah terbuka lebar diketuk sesorang. Dari lengannya yang ramping, yang menyembul dari balik tirai, dapat dipastikan ia seorang wanita.
"Ya silahkan masuk," sambut Nayu ramah.
Kini jelas siapa gerangannya orang tadi, setelah ia memasukkan kepala dan setengah bagian tubuhnya ke balik tirai.
"Apa aku mengganggu...?" tanya Rei bukan sekedar berbasa-basi. Masih ragu-ragu untuk langsung melangkah masuk. Ia tahu pasti kelihatannya Nayu sedang sibuk.
Buru-buru Nayu membantah prasangka hati Rei, "Tidak. Sama sekali tidak. Ayo sini," bujuk Nayu sambil menepuk-nepuk permukaan kasur empuknya.
"Hee..." Rei menyambut gembira ajakan Nayu. Ia menyibak tirai lebih lebar lagi, membuat hiasan gantung berupa tiga bilah pipa logam berayun-ayun, saling berbenturan antara yang satu dengan lainnya, menimbulkan suara gemerincing. Lantas melangkah masuk.
Sebenarnya sudah sejak dari tadi ia mengamati Nayu. Memanfaatkan celah kecil antara sisi pintu dan tirai brukat tipis berwarna merah yang sesekali terbuka dihembus angin. Apa yang sedang dikerjakan Nayu perlahan menumbuhkan rasa ketertarikannya terhadap seni kemayu tersebut. Bukankah aku juga seorang wanita? pikirnya.
"Haii," sapa Rei manis.
"Iya, Rei...," balas Nayu.
Rei sedikit salah tingkah, dan untuk menutupinya ia berpura-pura tertarik pada hiasan gantung di atas pintu.
"Benda itu dapat membawa keberuntungan. Juga baik buat kesehatan. Yah begitulah, kalau menurut ibuku," tukas Nayu melihat gelagat Rei memperhatikan benda tersebut.
Rei mengangguk pelan. "Emm... Kalau menurut ibumu, ya... Berarti ada pendapat lainnya...?"
"Pendapat Randu," jawab Nayu lugas.
"Randu...?!" kejar Rei bersemangat sekali.
Nayu mengulum senyum dan menatap Rei nakal.
"Apa katanya?" lanjut Rei sambil mengambil posisi duduk di samping Nayu. Digenggamnya pergelangan tangan Nayu, dan digoyang-goyangnya pelan.
"Dia bilang..." Nayu berusaha merangkai kalimat sembari memandangi cara Rei tersenyum yang begitu menggemaskan, "...logam itu dapat memperlancar... mm... pa ya, lupa lagi... sir... siruk... sirkul__"
"Sirkulasi," sambung Rei.
"Ya, benar. Memperlancar sirkulasi udara. Jadi..., ya... baik sekali buat kesehatan. Pada pemakaian teknik tertentu, logam juga dapat memperlancar peredaran darah."
"Em... Masuk diakal, membawa keberuntungan, kalau sakit kan bagaiama bisa cari rezeki. Dan kalau kurang udara ya... sakit. Peredaran darah juga kacau. Hee..." Rei tertawa sableng. Sementara Nayu tetap tampil dewasa.
"Kau pernah menyulam?" tanya Nayu kemudian.
"Tidak," jawab Rei jujur dan polos, membuat tampaklah wajahnya yang kemalu-maluan. Ia bahkan belum pernah menyentuh peralatan menyulam sama sekali.
"Kau harus mencobanya," rayu Nayu ringan. "Perasaanmu akan menjadi tenang. Pikiranmu yang kusut akan menjelma menjadi sulaman indah yang tertata rapi. Kau sejenak bisa melupakan semua permasalahanmu."
"Apa aku pantas...?" Terbayang olehnya bagaimana teman-temannya nanti terkejut, mendapati dirinya dengan kebiasaan barunya ini. Tapi Rei merasa dirinya harus segera melakukan perubahan. Merasa ada yang sedikit kurang pantas dengan keadaannya selama ini. Kesadaran itu terbersit begitu saja. Memang benar selama ini Rei sosok yang tomboi. Tingkah lakunya lebih mirip seorang anak laki-laki. Bermain pun lebih nyaman bersama para lelaki. Baginya berteman dengan wanita itu sangat merepotkan sekali. Seumur hidup, seingatnya barangkali hanya sekali dua kali ia memakai gaun, dress, atau rok, kecuali tentunya saat di sekolahan.
Sesuatu yang amat indah kini perlahan ingin keluar menampakkan wujudnya. Sesuatu yang menyangkut kelembutan dan kegemulaian seorang srikandi. Belum terlambat kiranya, jika ingin memulainya sekarang. Rei kembali memperhatikan Nayu dan kain sulamnya setelah sejenak melamun.
Nayu mengerti apa yang ada di dalam benak Rei. Cukup beralasan rasa ketidakpercayaan dirinya, dan itu bukanlah dosa. "Buat dirimu menjadi pantas. Maka pandangan orang-orang terhadapmu juga akan mengikuti perubahan itu. Mudah saja bukan?"
Nasihat yang cukup masuk akal, menambah keyakinan di dalam diri Rei. Tak sabar rasanya, melihat dirinya sendiri yang baru nanti di hadapan cermin. Melihat reaksi orang-orang saat menatap keanggunan dirinya. Merasakan kebanggaan yang luar biasa. Menjadi bintang pujaan. Layaknya Nayu. Sensasi seperti yang Nayu rasakan. Rei ingin menjadi Nayu?
"Kapan kau bisa mengajariku?" Rei menjadi tidak malu-malu lagi menampakkan minatnya. Setidaknya untuk saat ini. Barangkali, inilah awal mula semua keinginannya tercapai, metamorfosis seekor kepompong lucu nan imut menjadi seekor kupu-kupu cantik. Kalau bisa imutnya tidak hilang. Kupu-kupu cantik nan imut. Lebih sempurna.
Nayu menatap Rei dengan serius. Memastikan gadis imut satu ini tidak sedang bergurau. "Kau bisa memulai sekarang juga." Nayu menunggu reaksi yang meyakinkan dari Rei.
__ADS_1
"Bila kau tidak keberatan, Nayu," sahut Rei gembira.
Nayu harus memikirkan permulaannya, yang baik, terpenting membuat Rei merasa nyaman terlebih dahulu. Tidak perlu langsung mengajarinya teknik-teknik menyulam yang rumit. Terpikirkan olehnya sebuah ide sederhana. "Ini pegang," pinta Nayu.
Rei sempat kebingungan. "Begini cara memegangnya...?" tanya Rei ragu.
"Tidak usah bingung," tegas Nayu. "Pegang saja semaumu. Rasakan benda ini ada di tanganmu. Kau harus mengenali mereka terlebih dahulu. Biarkan diri kalian saling mengenal."
Rei tersenyum simpul. Tampak sekali ia masih kekanakan, bahkan dalam segala hal. Begitu hijau. Hanya mengikuti nalurinya, bukan pengalaman yang mengendalikan dirinya.
"Rei aku mau ke belakang dulu... Sebentar saja," ujar Nayu meminta izin kepada Rei.
"Tidak lama kan?" balas Rei resah. Merasa tidak nyaman bila harus sendirian dengan peralatan menyulam di tangan.
"Tidak akan," yakin Nayu.
Saat hendak kembali menuju kamar, di ruang belakang yang sepi dan rada gelap, Nayu berpapasan dengan Menon, yang nampaknya sedang mencari sesuatu. Atau barangkali seseorang.
Mereka saling bertatapan tanpa satu kata pun terucapkan. Baik Nayu maupun Menon, sama-sama merasakan kekikukan. Namun, jauh di dalam sana, hati mereka masing-masing telah saling berbicara.
"Ada apa, Menon?" tanya Nayu mencoba memecah kekakuan.
"Sepertinya aku kehilangan Rei."
Nayu tersenyum mendengarnya. Awalnya ia sempat ragu untuk memberitahukan keberadaan Rei. Namun pikirnya, semua ini lama-lama juga akan terungkap. Bukankah Rei memang ingin dilihat orang-orang perubahan pada dirinya.
"Dia di sana," tunjuk Nayu ke arah kamarnya. Lalu secepatnya menyilangkan telunjuk di depan bibir merah delimanya.
Kening Menon mengernyit. Pasti ada sesuatu yang tak biasa, tebaknya. Dan matanya semakin dalam menatap Nayu.
Menyimak tatapan Menon, Nayu mengerti, itu sebuah pertanyaan. Rasa penasaran yang ingin segera mendapatkan kejelasannya. "Kau lihat saja sendiri. Sini... Kau bisa memanfaatkan celah itu. Tapi, hati-hati jangan sampai ketahuan." Nayu melingkarkan lengannya pada pinggul Menon, dan memondongnya menuju pintu kamar.
"Bagaimana apanya, Nayu...?" ujar Rei kebingungan. Seingat dirinya, Nayu belum mengajarinya apa pun.
"Perkenalanmu dengan alat-alat menyulam?" jelas Nayu singkat.
"Ooo... Ya lumayan. Peralatannya terdiri ram, jarum, benang mm... serta kain tentunya." Rei beranjak berdiri, tak sabar menjemput Nayu yang langkah sebenarnya memang hendak mendekat. "Ayo Nayu, langsung saja ajari aku." Rengek Rei sambil menarik-narik lengan Nayu.
Nayu seperti memiliki seorang adik sekarang. "Ya ya baiklah."
Menon melihat pemandangan yang menakjubkan. Kenyataan yang tidak mungkin terjadi. Rei belajar menyulam. Dan ia sangat senang sekali, Rei berminat pada seni khusus kaum hawa itu. Rasa haru tak dapat ditepis di dalam dadanya. Cukup menyesakkan. Rei...
Di dalam kamar, Rei memulai pelajaran pertamanya. Saat Rei sedang asyik mencoba, sesekali Nayu memperhatikan daerah sekitar pintu. Namun, tampaknya tidak ada lagi tanda-tanda keberadaan Menon. Hanya gerakan tirai yang melambai gemulai di tiup angin. Begitu hening. Tak ada siapa pun.
Ingatan Nayu kembali pada masa-masa sebelumnya. Tidak ada siapa pun selain dirinya dan kedua orangtuanya. Ia sering duduk bermenung sendirian, di satu-satunya ruangan yang terdapat kursi. Ditemani suasana remang-remang yang dikarenakan kurangnya cahaya, terkadang ia melamunkan tentang berbagai hal; tentang dirinya, mimpinya, dan dunia luar. Dunia yang sengaja disembunyikan dari dirinya. Namun sekarang, semua berubah. Berawal dari kedatangan Randu yang begitu mengejutkan. Masih terbayang jelas bagaimana pemuda itu menatapnya saat pertama kali. Sejak saat itu, hari baru pun mulai dijalaninya. Malam tak sesuram dulu lagi, siang tak lagi disesaki kejenuhan. Kehidupannya mulai berhiaskan warna baru. Nayu akhirnya punya teman. Tempat berbagi rasa, tempat membicarakan segala hal. Berbicara sesama anak muda, sesama teman sebaya. Suatu kondisi ia dapat menjadi dirinya sendiri di usianya saat ini. Semua itu tentunya tidak dapat dilakukan dengan orangtuanya. Tak berhenti sampai Randu, kemudian disusul kedatangan empat orang asing lagi, yang kini semakin hari semakin terasa tidak asing lagi.
TIGA hari berlalu sejak Rei mendapati hobi barunya. Menyulam. Dan kini tangannya tak lagi kaku menyentuh benda yang sebelumnya tampak mustahil dapat akrab dengan dirinya.
"Kau cepat belajar Rei," puji Nayu saat melihat hasil jerih payah murid semata wayangnya itu.
Rei senang sekali mendapat pujian yang terdengar tulus itu, wajahnya berseri-seri, dan tentu saja semangatnya pun bertambah.
Tidak hanya semangat, kepercayaan diri Rei juga bertambah. Ia tidak lagi menyembunyikan atas apa yang ia yakini dan ia senangi, bersama Nayu, ia duduk di atas tangga teras rumah yang terdiri dari tujuh sirip itu. Mereka menempati anak tangga ketiga dari bawah. Keduanya sama-sama sedang larut dalam suatu kesibukan khas perempuan. Perlahan tapi pasti, tampaknya di sini, di hunian yang jauh dari keramaian pedesaan, terlebih lagi perkotaan, akan bertambah lagi seorang bidadari.
Walaupun tidak terlalu panjang, rambut Rei cukup dapat untuk diikat. Tapi saat ini ia lebih suka membiarkannya terurai, merasa seakan telah mampu melambai indah layaknya mahkota kebanggaan Nayu yang menjuntai indah menggapai punggung.
__ADS_1
Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba makhluk bernama Zillian melintas tepat di hadapan kedua gadis muda itu. Ia mendapati pemandangan yang belum pernah ditemukannya di kota sana. Menyaksikan Rei dan Nayu dalam keadaan sedemikian rupa, menimbulkan sensasi tersendiri saat memandangnya. Bayangkan, dua gadis manis cantik tengah asyik bercengkrama, tersenyum tertawa, sembari menyulam, bernuansakan belantara raya hijau, dengan latar rumah panggung klasik. Rambut mereka melambai tertiup angin. Burung-burung berkicau. Aroma alam yang segar. Eksotis, tepatnya barangkali.
Aku harap ini bukan dosa, renung Zillian menenangkan sekaligus membela dirinya sendiri. Nayu tentulah cantik, tapi kini Rei... oh dia begitu... Zillian merasa takjub. Gadis itu mempunyai 'rasanya' sendiri.
"Hm..." Nayu sengaja membatukkan diri.
Seketika decak kagum dan lamunan Zillian buyar berantakan. Padahal, lamunannya baru saja dimulai. Membayangkan dirinya bersanding di tengah-tengah mawar melati, yang mana semuanya indah.
Zillian salah tingkah, malu hati sendiri. Buru-buru ia menyelamatkan harga dirinya dengan berbalik menyerang Rei. "Rei, apa aku tidak sedang bermimpi beberapa hari ini?" ledeknya, "Apa kau tidak alergi menyentuh mainan semacam itu?"
Rei terdiam cemberut. Sama sekali ia tak tertarik menanggapi cemoohan Zillian dengan serentetan kalimat bak curahan hujan sebagaimana yang biasanya acapkali Rei lakukan terhadap orang yang menyerang dirinya.
Sebetulnya, Rei semakin menawan dengan mimik merajuk seperti itu. Imut menggemaskan.
Menyesal Zillian berkata demikian, mendadak hatinya berubah simpatik. Aiiih kenapa aku menyakiti perasaannya..., Zillian mendesah jujur. Ini karma namanya. Ia semakin bertambah kagum pada teman lamanya itu. Ada apa gerangan? Apa aku masih waras? Hati kecilnya berujar lirih, Ingin sekali aku memeluknya, memanjakannya, menemaninya bermain sepanjang hari...
Tak ingin menambah buruk keadaan dirinya, Zillian berniat hendak langsung pergi saja tapi, tiba-tiba datang Kori.
Dengan langkah santai Kori menghampiri Zillian dari arah belakang, dan membisikkan sesuatu, "Mudah-mudahan firasatku benar, kau masih menyukai wanita. Karena dengan begitu kita dapat terus berteman, sobat. Jadi... pilih Nayu atau Rei?"
Sementara, Nayu dan Rei tidak memedulikan kehadiran dua orang yang kini menjadi aneh tersebut.
Zillian memiringkan kepalanya, tapi tidak sampai melihat wajah Kori. "Jangan cari gara-gara idiot! Apa maksudmu?!"
"Sekarang aku percaya kau masih normal. Hm... Tapi jangan senang dulu, bisa saja kau memiliki dua channel, alias kanan kiri ok, AC DC alias arus bolak balik," jawab Kori.
"Aku masih normal, dan ini berita buruk, kau akan dapat saingan...," balas Zillian.
Kori tersenyum sinis. "Lebih baik aku dapat saingan, walaupun itu akan memperlambat jalanku. Setidaknya aku tidak kehilangan sahabat lama yang telah lebih dulu hadir."
"Oo... jadi kau juga mulai tertarik pada gadis tomboy itu?" Giliran Zillian yang menyerang Kori.
"Tidak! Itu tadi hanya untuk memancingmu saja. Sekarang justru aku yang mengetahui rahasiamu itu."
"Jangan salah sangka dulu!" hentak Zillian pelan, kemudian melirik hati-hati ke arah Nayu dan Rei.
"Berarti kau sakit. Aku harus tetap menjaga jarak denganmu. Kau tidak suka wanita," ujar Kori santai sambil berlalu pergi.
"Sialan!" Umpat Zillian.
"Cepat sembuh, yaaaa...!" Dari kejauhan Kori melambaikan tangan.
Teriakan Kori menarik perhatian Nayu. Sedangkan Rei seolah tak peduli, ia tampak masih kesal.
Zillian teringat kembali akan keberadaan Nayu dan Rei. Setelah mengamati sejenak, ia sedikit mendekat. "Jangan dengarkan omongannya. Aku sehat dan baik-baik saja."
Namun, Nayu dan Rei hanya menanggapinya dingin. Cukup dengan sedikit mengangkat kedua bahu. Tak menoleh sama sekali.
Setelah Zillian pergi, Nayu dan Rei tertawa cekikikan. Berbisik-bisik tak jelas sambil menahan senyum yang kemayu. Dan tak lama kemudian, seorang yang tidak dapat disangkal akan pesonanya datang mendekat. Langkahnya tenang penuh keyakinan.
Belum diketahui dengan pasti maksud kedatangann Menon ini. Mungkin hanya sekedar ingin berbincang-bincang, tebar pesona, atau ingin sedikit mengumbar rayuan dan candaan. Dan untuk melakukannya, ia tak perlu menguras banyak tenaga, karena sosok ini secara alamiah telah memiliki daya tarik yang fenomenal. Tapi apa pun maksud kedatangannya, tak ada yang dapat menolak kehadirannya. Di mana pun Menon berada, ia selalu menjadi impian, harapan, dan pujaan bagi kaum hawa.
Berawal dari senyumannya yang menenangkan sekaligus menyenangkan, lalu terus dan terus meningkat hingga pada tahap khayalan dan halusinasi, sementara sepasang sayap putih mengembang anggun di atas bahunya yang lebar, beserta selaput cahaya yang berpendar keemasan nan megah menyelubungi sekujur tubuhnya. Laksana Dewa 'Menon' Cinta turun dari khayangan yang siap membawa terbang sang dewi.
Senyuman disambut senyuman. Kehadiran Menon diterima dengan baik..
Dengan percaya diri, Menon mengambil posisi duduk di anak tangga kedua, cenderung segaris di bawah Nayu. Dari situ, ia dapat menikmati dengan leluasa kemolekan wajah Nayu dan Rei. Ada rasa strawberi juga cery, ditambah semerbak wewangian yang harum merona. Sungguh sajian yang sangat istimewa.
__ADS_1