
SEMUA telah berpencar menuju ke arah masing-masing. Menon dan Nayu memilih arah barat. Randu dan Kori kebagian arah utara. Rei dan Zilllian bersikeras meminta arah timur, merasa diri sebagai orang timur.
Nayu dan Menon tidak mengalami kesulitan berarti, belum terlalu jauh berjalan mereka sudah menemukan sesuatu yang dapat dipetik, meskipun hanya buah jambu monyet.
Rei dan Zillian belum menemukan apapun, selain buah seri, yang tak menarik minat. Bila ingin yang lebih baik, mereka harus berjalan sedikit lebih jauh. Karena sesungguhnya pada arah mereka itulah terdapat banyak ragam tanaman dengan buahnya yang segar dan unik.
Nasib Randu dan Kori hampir tak jauh berbeda dengan apa yang dialami Rei dan Zillian. Buah-buahan yang ditemukan, mereka anggap tak layak petik; nanas, pisang kepok, kelubi, dan buah kesemek. Tapi pada saat menemukan buah nanas, sempat terjadi sedikit perbedaan pendapat.
"...Seharusnya kita memetiknya," Kori tak setuju atas penilaian Randu. "Nanas buah yang menyegarkan, bagaimana bisa kau mengatakan ini hanya kesia-siaan. Lagipula buah nanas ini berbeda dengan yang sering kujumpai di kota sana. Kelopak mahkotanya lebih mekar dan indah. Sisiknya, dari luar tampak merah delima, tidak kekuningan seperti pada umumnya. Aku yakin rasanya pasti lebih enak. Ini nanas istimewa. Kau juga pasti belum pernah merasakannya, bukan?"
Penjelasan Kori dirasakan masuk akal, tapi Randu mempunyai pertimbangan lain. "Hari masih siang, perjalanan kita masih cukup jauh. Berat buah nanas sebesar itu akan memperlambat langkah kita, apalagi jika kau petik sedikitnya dua buah."
"Tapi kau setujukan, nanas ini memang layak dipetik, andai saja perjalanan kita hanya sampai di sini?" kejar Kori.
Sebenarnya Randu ragu, tapi ia terpaksa harus mempercayainya. "Benar sekali."
Tak ingin mempermasalahkan soal nanas lebih lama lagi, maka Randu langsung melangkahkan kakinya sambil berkata menyenangkan hati Kori, "Dalam perjalanan pulang nanti, aku janji kita melewati jalan ini lagi, dan buah nanas kebangganmu itu pasti akan kita bawa pulang. Masing-masing kau dan aku... dua buah."
KEADAAN kini memihak Rei dan Zillian. Kemenangan hampir bisa dipastikan milik dua anak muda itu. Perjalanan panjang mereka tak sia-sia. Insting yang diilhami lebih rimbunnya pemandangan di arah timur, dan ditandai burung-burung yang terbang melayang-layang sambil menari-menari, sejak dari tadi diam-diam ternyata sudah menjadi perhitungan matang seorang Rei. Di sini layaknya taman buah-buahan yang siap panen. Mulai dari durian, rambutan hutan, manggis, duku, pluntan, ara, semuanya tersaji lengkap, bahkan anggur pegunungan. Tinggal memilih sesuka hati buah mana yang ingin dipetik. Tanpa banyak berpikir, Rei dan Zillian segera berlari berhamburan.
"Ngomong-ngomong... aku masih belum memahami apa yang dimaksud Randu dengan... 'Pendapat orang kebanyakan, bahwa yang dimaksud buah yang enak..." Ungkap Rei. "Standar penilaiannya rancu..."
Zillian tertawa sebelum menjawab. "Aku pun begitu, Rei sesungguhnya... Ya... Tapi masa bodohlah, yang penting kita bermain. Daripada jenuh."
Bila lomba ini dalam rangka memperebutkan juara untuk menemukan bunga terindah, tak ada yang dapat menyaingi apa yang ditemukan dua orang berikut ini.
Begitu pandangan mata Nayu membentur nuansa semarak warna-warni, gadis itu langsung terdiam takjub. "Sudah lama sekali ooh...," desahnya pelan. Sekilas Menon melirik ke arahnya.
Tujuan utama menjadi terlupakan untuk sementara. Kalbu mereka tidak dapat menolak keindahan ini begitu saja. Menon tak henti-hentinya terkagum-kagum, kepalanya berkali-kali tampak menggeleng-geleng.
"Apa semua ini tumbuh dengan sendirinya...?" tanya Menon benar-benar ingin tahu.
"Bila kau menyangka ini ulah ayahku, kau salah. Mereka penduduk asli hutan ini. Bahkan mungkin lebih dulu menempati hutan ini, dibandingkan kami sekeluarga."
Menon mengangguk.
Ada kemungkinan kawasan ini merupakan salah satu ekosistem bunga atau tanaman hias terlengkap di dunia, yang juga merupakan tipe ekosistem hutan hujan pegunungan. Beragam jenis tumbuh semarak menghiasi badan pebukitan, menghampar hingga radius ratusan meter. Di antaranya, terdapat pelbagai jenis anggrek hutan, semisal: anggrek tanah, jenis Didymoplexis sp. dan jenis Malaxis sp., dan anggrek epifit (Eria sp). Menyebar ke selatan, sedikit demi sedikit tergantikan barisan Bunga Bintang (Rhizanthes zepelii). Ke arah utara, pemandangan segera di kuasai oleh koloni Meranti (Shorea sp). Bergeser ke arah barat—mengapit keberadaan Nayu dan Menon—hingga tenggara, dapat ditemui flora lainnya: Ramin (Gonystylus bancanus), Mabang (Shorea pachyphylla), Kebaca (Melanorrhea walicchii), Kantong Semar (Nephentes sp), bahkan yang berukuran besar seperti Bunga Bangkai (Amorphopalus sp) dan Bunga Fatma Raksasa (Rafflesia tuan-mudae).
"Keberadaan bunga-bunga ini...," ujar Menon masih terkagum-kagum, "Layaknya taman firdaus."
Nayu tersenyum kecil, tapi begitu tampak luar biasa manisnya. Mungkin karena dikelilingi bunga-bunga. Atau ada sesuatu yang membuatnya bangga hingga aura kecantikannya terbuka dan bebas berpendar. "Dari beberapa bunga-bunga inilah asal sebagian wewangian yang melekat pada tubuhku ini. Kami meracik parfum sendiri."
Menon memperhatikan Nayu dengan seksama. Semuanya. Dari atas hingga ke ujung kaki. "Tanpa bunga itu pun, kau akan tetap menebarkan keharuman... karena kau sendiri adalah bunga. Bunga terindah di antara yang terindah."
Pujian Menon membuat Nayu salah tingkah. Matanya mengembara ke sana kemari mencari cara untuk dapat mengalihkan topik pembicaraan; batu, kerikil, kelopak bunga aneka warna, kumbang, hingga kupu-kupu, tak satu pun memberikan bantuan. Nayu semakin salah tingkah.
"Bahkan dirimu lebih menawan dari taman alami nan indah ini. Semuanya." Menon terus menyerang Nayu bertubi-tubi dengan pujian. "Di sampingmu... membuat orang akan selalu merasakan kehangatan. Kau laksana matahari bagi alam belantara ini.
"Kau juga paru-paru belantara ini... Tanpamu, semuanya hanya sekedar benda mati."
Nayu tertunduk malu. Tubuhnya mendadak tak berdaya. Menon telah merapalkan mantra-mantra penakluk jiwa, membuat sanubari hilang kuasa.
Belum lagi hilang rasa yang membuat darah Nayu bergejolak, tanpa sempat disadari, dari belakang Menon telah memeluk tubuhnya. Begitu erat, seperti sedang melepaskan kerinduan yang teramat dalam, menumpahkan segala isi hati melalui denyut jantung yang saling berdekatan.
__ADS_1
Hembusan halus nafas Menon menerpa daun telinga Nayu, menimbulkan hasrat terlarang yang membuatnya tersengal-sengal. Dadanya naik turun. Tak sadar matanya perlahan terpejam. Detak jantungnya semakin tak beraturan. Nayu terperangkap dalam konflik bathin yang hebat. Ia hampir tak tahan lagi, kepalanya menggeleng pelan. Akhirnya, dengan lembut ia menyingkirkan kedua belah lengan Menon yang tengah melingkari tubuhnya.
Sebelum dirinya berubah pikiran, Nayu sengaja menjauh beberapa langkah. Tampak ekpresi kekecewaan di wajah Menon. Ia tidak menyangka akan ditolak seperti itu.
Sementara di tempat lain, dengan alam yang dihadapinya, Randu dan Kori mulai beraksi.
"Lihat itu!" sergah Randu bersemangat.
"Ya, aku melihatnya," balas Kori. "Hijau yang sangat menyegarkan. Terlebih bila dijadikan segelas juz."
Itulah yang Randu maksudkan; nanas bukan tandingannya, jika mau berusaha lebih keras, terus menjelajah ke arah yang tak terduga. Sambil memandangi apel-apel segar di dahan pohon, Randu tersenyum bangga dan mengangguk-angguk puas.
"Pohonnya rendah sekali. Kita tidak perlu memanjat, Randu." Dengan mudah Kori dapat menggapai dan memetiknya. "Ranum sekali," tukas Kori lagi setelah menggigit dan mengunyahnya rakus. "Manis sekali. Segar. Rasanya beda... Beginilah rasa buah yang masak di pohon. Sungguh sangat berbeda."
Randu tergoda untuk ikut mencicipi. Setangkai apel diraihnya.
"Ini belum terlalu matang, tapi rasanya sudah hampir sempurna," ujar Randu memberikan penilaian.
Kori lalu memperhatikan buah apel dalam genggamannya. "Aku rasa begitu. Lihat, di sana masih ada beberapa pohon lainnya. Pasti ada yang telah benar-benar masak."
Kori berlari kecil mencari buah di pohon yang lain. Randu tak segera mengikuti, ia teringat kembali akan pohon akasia yang berusia puluhan tahun. Ketinggiannya telah mencapai puluhan meter, dan tumbuh di dataran yang membukit. Membuatnya menjadi semakin jangkung. Tetapi tetap saja, setinggi-tingginya menara alami itu, diamati dari sini, puncaknya selengan lagi bakal tidak kelihatan. Seakan-akan hendak ditenggelamkan oleh ganasnya ombak belantara.
Belum lagi selesai urusan Kori dengan apel, ia kini dikejutkan oleh sebatang pohon persik, yang letaknya tak jauh beberapa meter darinya. Tepatnya ke arah barat tenggara.
"Buah persik?" gumam Kori. "Sudah lama aku memimpikannya." Kori tertawa girang melihat pohon itu. Untuk sementara waktu, apel dilupakan terlebih dahulu. Buah persik memang belum tentu lebih enak dari apel, tapi setiap orang memiliki obsesinya sendiri-sendiri.
HAMPIR saja jenis yang satu ini terlewatkan. Buah sebesar bagian hitam mata, berwarna merah gelap. Menon tak mempedulikan keberadaannya, jika saja Nayu tidak berteriak kecil kegirangan.
Menon sejenak mencari-cari apa yang dimaksudkan Nayu. Pikirannya sedikit ragu, saat pandangan matanya menyaksikan buah-buah kecil berwarna merah kehitaman. Ukurannya sedikit lebih besar dari buah seri, namun lebih kecil dibanding buah anggur. Permukaan kulitnya kasar, dan memiliki mahkota di pangkal tangkainya. Bijinya banyak, kecil-kecil terasa seperti pasir kerikil dan lebih keras dibandingkan buah seri. Sebagian orang yang pernah berpengalaman mencicipi buah ini, tak menelan bijinya, konon karena takut terkena serangan sembelit ataupun usus buntu. Tapi buah ini dapat membuat orang kecanduan, tidak hanya burung Serindit, Kutilang, maupun sekumpulan monyet yang mengidamkannya.
Dengan cekatan Nayu memetik beberapa butir lagi, lalu mengunyahnya dengan terburu-buru.
Saat pecah dalam gigitan, buah Keremunting tersebut akan mengeluarkan carian merah seperti darah. Bila terkena baju, noda yang satu ini sulit sekali dihilangkan. Dan bila mengenai bibir, bibir akan memerah.
Mengamati bagaimana Nayu menikmati buah itu, membuat Menon jadi tergiur, tenggorokannya bergerak naik turun.
"Coba rasakan," saran Nayu, mengerti apa yang sedang dipikirkan Menon.
Menon menempelkan dulu buah itu sedikit di ujung lidahnya, baru kemudian menggigitnya setengah bagian. Setelah yakin tak berbahaya, lalu ia memasukkannya lebih jauh lagi ke dalam mulut, dan mengunyahnya.
Betul saja. Rasanya unik, sedikit kesat, berpasir, lalu perlahan serasa menggelinding diantara sela-sela bulir-bulir permukaan lidah yang kasar.
Satu buah... dua buah... tiga buah..., Menon menjadi ketagihan. Ia seperti orang kelaparan. Mulutnya, juga dagu, basah oleh carian merah. Begitu pula Nayu. Mereka berdua seperti sepasang makhluk penghisap darah yang tengah melahap santapannya. Mereka saling memandang, tersenyum, tertawa cekikikan, saling tunjuk.
Tak sengaja cairan buah-buahan itu menciprati hidung mancung lancip milik Menon. Dan Nayu, entah secara sadar atau tidak sadar mendapati dirinya tengah berusaha membantu membersihkannya. Ia mengusap hidung Menon beberapa kali.
Sebelum Nayu sempat menurunkan tangannya, Menon telah lebih dulu menangkap pergelangan tangan putih halus langsing itu. Bagai gigitan ular berbisa, pergelangan tangan Nayu mendadak mati rasa, hingga tak mampu lagi digerakkan. Karena sistem peredaran darah juga telah ikut terkontaminasi, sekujur tubuh Nayu pun turut menjadi lemas lunglai, membuatnya pasrah begitu saja saat rangkulan tangan kiri Menon meraih bagian tengkuknya, menariknya beberapa sentimeter, hingga mulut mereka saling bertemu.
RANDU dan Kori terpisah. Entah bagaimana jalan ceritanya bisa terjadi. Tanpa disadari, mereka berdua telah kehilangan jejak satu sama lainnya.
Kira-kira ke arah utara, meskipun hanya melalui celah yang tersisa di antara dedaunan, mendung di atas sana masih dapat terlihat lumayan jelas. Awan hitam kelabu itu menimbulkan perasaan cemas dalam diri Randu. Perasaan cemas yang hampir sama seperti saat orangtua mengetahui anaknya tengah bermain di alam bebas, di bawah ancaman awan kehitaman yang bergulung-gulung, dan kilatan halilintar disertai suara gemuruh saling sahut menyahut. Yang hati takkan pernah tenang sebelum berhasil menemukan si buah hati, dalam keadaan baik-baik saja, tak kurang satu apa pun. "Nayu...", gumamnya tertahan.
__ADS_1
Naluri menuntunnya mencari jalan sendiri, melangkah dan terus melangkah, tak lagi menghiraukan keberadaan Kori. Hingga akhirnya, takdir membawanya ke suatu tempat.
Tak sengaja Randu menangkap suara rinai canda tawa. Ia yakin sedang tidak berhalusinasi. Penasaran, ia mengikuti asal suara itu. Melangkah perlahan dengan hati-hati. Sepertinya tidak jauh, hanya saja pandangan terhalang semak dan pepohonan.
Tawa ganjil kembali terdengar. Begitu manja dan bernada genit. Lalu desahan halus yang dapat membuat bulu kuduk merinding tubuh bergidik. Hati kecilnya perlahan-lahan merasakan kegelisahan yang amat sangat, bagai tengah diremas-remas setangkup jemari kasar lagi berduri.
Randu memandangi sebatang pohon yang tinggi besar berdaun lebat. Kemudian, memanjatnya.
Dari balik dedaunan, di atas pohon, sinar mata Randu membentur suatu pemandangan. Sebuah pertunjukan menyakitkan teruntuk dirinya sedang berlangsung; sepasang insan yang tengah terbakar api birahi saling berlomba-lomba melampiaskan hasrat terlarang. Dari ketinggian seperti ini semuanya dapat terlihat dengan sangat jelas, tak salah lagi; Nayu dan Menon!!!
Randu mati jiwa dan raga. Lidah keluh membeku, tubuh terdiam kaku. Mendadak dunia berhenti berputar.
Ingin rasanya ia berlari pergi. Pergi sejauh-jauhnya, menghilang dari muka bumi ini, melampiaskan semua kekesalan dengan berteriak sekeras-kerasnya. Atau sebaliknya, menghampiri pasangan itu. Menangkap basah mereka berdua dan mungkin sedikit memberi pelajaran. Tapi apa daya, ia bahkan menjadi tak berkuasa atas dirinya sendiri. Ia juga merasa tak berhak melakukannya.
"Randu! Randuuu...! Di mana kau...?!" Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggi-mangil namanya dari kejauhan. "Randu...!"
Teriakan Kori terdengar semakin mendekat. Hal itu sedikit banyak dapat membuat diri Randu kembali tersadar dari kungkungan kegelapan. Setidaknya memberinya kesempatan untuk menenangkan dan mengendalikan diri.
"Randu! Ziiill...! Rei...!?" Suara Kori terdengar lagi. Dekat, dan semakin dekat.
Nayu menurunkan bajunya yang sempat bergulung menumpuk di atas dada. Sepasang gumpalan kembar yang putih kenyal sudah tidak terlihat lagi sebagaimana disaksikan oleh Randu tadi. Begitu pula dengan roknya yang semata kaki kembali menjuntai ke bawah, menutupi penampakan dua batang tungkai indah. Berbeda dengan keadaan sebelumnya, kini yang tampak adalah seorang perempuan anggun.
Sebelum akhirnya Kori tiba, Menon masih menyempatkan diri untuk mengecup penuh kasih sayang kening Nayu. Di satu sisi dunia berhenti berputar, di sisi lain dunia berputar begitu cepat.
Kori tidak menemukan Randu, tapi menemukan Menon dan Nayu. "Hai! Sedang apa kalian?" tanyanya tidak berusaha menutupi rasa penasaran.
"Kau sendiri, Kori?" balas Nayu bertanya, "Dan, Randu...?"
"Tadinya tentu saja aku sedang mencari buah-buahan untuk memenangkan kompetisi. Tapi sekarang aku sedang mencari anak itu. Entah ke mana dia menghilang? Kami tidak sengaja terpisah..." Kori teringat kembali akan pertanyaannya. "Kalian...?"
Menon berinisiatif mengambil alih jawaban, "Apa kau lupa...? Kami juga salah satu peserta." Lalu Menon memperlihatkan sesuatu di dalam genggamannya. "Kami tak sengaja menemukan ini..."
"Buah Keremunting," tambah Nayu.
Kori menjulurkan kepalanya. "Keremunting...?" Nama itu terdengar asing baginya. Menon pun baru mengetahuinya beberapa saat yang lalu dari Nayu tentang buah yang dimaksud.
"Iya..., ke-re-mun-ting" Nayu kembali mengulanginya, kali ini sengaja mengejanya perlahan dan sejelas mungkin. Ia juga mengusahakan agar gerak bibirnya dapat terbaca.
Kori menggelengkan kepala. Bibirnya sedikit melengkung ke bawah. Ia tetap saja merasa tidak pernah mendengar nama buah seperti itu.
Nayu tersenyum ringan. "Sudahlah Kori tidak usah terlalu dipikirkan, wajahmu bingung begitu. Kasihan kepalamu jadi pusing. Nanti juga kau akan akrab dengan buah ini. Cita rasanya cukup lumayan."
"Sepertinya buah yang menarik," yakin Kori pada dirinya sendiri.
Selintas Menon menoleh ke arah Nayu. Sebagai balasan, sebuah senyuman terlengkung manis di bibir merah delima alami Nayu. Sementara di atas pohon, dalam persembunyiannya yang tetap aman, Randu masih disesaki seribu satu macam jenis rasa sakit. Mulai dari tusukan paku beton, jarum tumpul, tombak trisula, irisan gergaji karatan, sayatan sembilu, tebasan golok berapi, lilitan kawat berduri, hujaman anak panah beracun, sengatan ribuan lebah bahkan jutaan, gigitan ular berbisa, dibakar hidup-hidup, dikebiri, hingga diperkosa. Lengkap, semuanya ada.
Tak lama kemudian hujan turun. Lebat sekali. Angin juga bertiup sangat kencang, menerbangkan dedaunan yang telah berguguran di tanah dan menjatuhkan yang sudah rapuh, yang masih bergelantungan di pepohonan.
"Sebaiknya kita segera pulang," sergah Kori panik. Ia tak biasa menghadapi situasi mencekam seperti ini. Kegelapan dan belantara yang mengamuk.
Menon langsung menarik lengan Nayu, dan mengajaknya berlari untuk segera meninggalkan hutan. Dari belakang Kori segera mengikuti.
Nayu masih sempat memikirkan teman-temannya yang kemungkinan masih berada di tengah hutan. "Bagaimana dengan yang lainnya!?" tanyanya berteriak, berusaha mengalahkan dahsyatnya suara halilintar.
"Mereka juga pasti sedang melakukan hal yang sama seperti kita, mencari tempat perlindungan... atau jangan-jangan sedang dalam perjalanan pulang ke rumahmu. Semuanya akan baik-baik saja, tidak akan tersesat, selama pohon akasia kita itu tetap tegak berdiri!" jawab Menon juga dengan berteriak lantang, berusaha menenangkan resah hati Nayu.
__ADS_1
Sambil berlari Nayu menoleh ke belakang menatap ke ketinggian, mencari-cari pohon yang dimaksud. Namun, atap dedaunan masih terlalu rindang memayungi mereka, juga penuh dengan dahan dan ranting yang saling bersilangan tumpang tindih. Baginya, tak tampak sama sekali pohon itu.