
"AKU melihat kepergian mereka tadi. Tapi kupikir..., mereka tidak akan jauh."
"Aku tidak melihatnya sama sekali. Dan aku baru menyadarinya ketika mereka sudah tidak ada di tempat semula sewaktu kita mandi di sungai," timpal Janur, "Aku bahkan menyangka mereka hanya berjalan-jalan di sekitar pemandian... Tidak terlalu menakutkan, bukan...? Apa yang menimpa mereka?" Jawaban dari Randu menjadi patokan suasana hati Janur.
"Aku harap tidak terjadi apa-apa pada mereka." Namun, tersirat keraguan dari sorot mata Randu. Lalu, "Mengapa kau mengajak kami ke hutan ini?"
Janur menghentikan langkahnya, dan hendak menjelaskan. Tapi Randu kembali melanjutkan, "Kau kumpulkan sekelompok manusia yang tidak sepenuhnya saling akur. Apa rencanamu?"
Janur menghela nafas panjang. "Aku benar-benar ingin menaklukan hutan ini. Aku butuh team..." Ia terdiam sesaat. "Seperti yang orang-orang bicarakan..., kau tahu sendiri reputasi tempat ini. Semua menghindarinya, hanya orang berjiwa petualang sejati yang berkeinginan menembus misteri yang mungkin tersimpan. Ya... Aku dan Omix. Selebihnya orang-orang ini, yang pasti mempunyai ambisi dan tujuan tertentu. Semua menolak, kecuali mereka__"
"Aku di sini karena Dira," potong Randu mengejutkan. Keberaniannya membocorkan yang terpendam dalam hatinya muncul begitu saja. Janur satu-satunya orang yang dapat membuat Randu sedikit terbuka, juga tentunya cukup dekat dengan Randu.
"Sebaiknya kau mulai menunjukkan sikap lebih padanya. Kau tidak tahu dengan pasti akan perasaannya." Tentang perasaan Randu mendadak menjadi hal yang penting. Hilangnya dua orang teman seakan terlupakan begitu saja.
Randu sejenak berpikir, tersirat keengganan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dan..., "Aku selalu ada untuknya, apa itu tidak memberikan arti baginya? Sepertinya ia hanya menganggapku seorang kakak."
Janur mendekat, kali ini ia mencoba bersikap lebih serius. "Itulah kesalahanmu, kau hanya memberi perhatian. Terlalu lama. Yang kutahu kau terus melakukan itu. Bagaimana kau tahu ia tidak menunggu. Kau terlalu pesimis. Rasa percaya dirimu tak sepatutnya menghilang."
"Menunggu...?" tanggapan yang sebenarnya tidak menunjukkan rasa tidak mengerti. Randu butuh penegasan dari Janur.
"Wanita... wanita itu menunggu, kawan. Sebesar apa pun perhatianmu tetap membutuhkan suatu 'pamungkas'. Sebagian besar wanita, terutama yang baik-baik, menerapkan hal itu. Bukan wanita gampangan yang lebih dulu mengungkapkan perasaannya pada seorang laki-laki. Sungguh bagi mereka hal itulah yang membuat mereka merasa terpuji, dihargai, disanjung bagai seoarang putri. Bahkan itu tepatnya sebuah kodrat. Mereka menunggu itu, menunggu sebuah kebahagiaan." Penjelasan yang panjang dari Janur. Ungkapan yang berani membeberkan kesalahan Randu. Kelemahan seorang Randu. Pria muda yang memendam trauma cinta mendalam, bertubi kekecawaan menghantam palung hatinya.
"Tidak mungkin. Ia bahkan mungkin hanya memanfaatkanku, ia tahu aku seorang pecundang sejati yang bisa dipermainkan. Aku telah menjadi manusia bodoh. Ia telah melakukannya padaku, dan aku selalu menerimanya, menerimanya karena perasaan bodoh ini!" Randu menghela nafas. "Perasaan bodoh yang seharusnya hanya pantas hadir dalam mimpi." Suaranya pelas dan parau.
"Perasaan rendah diri, merasa tak pantas, bukan yang terbaik. Jangan menghakimi diri sendiri sebagai pecundang. Semua itu yang menghalangimu! Tuhan terlebih dahulu mempertemukan kita dengan beberapa orang yang keliru, sampai akhirnya kita bertemu dengan orang yang tepat. Untuk bertemu dengan orang terakhir kita harus melalui beberapa orang itu, bila tidak, tidak ada yang kau lalui. Bila memang Dira bukan yang terakhir, justru inilah kemenanganmu, kau telah melewati satu langkah, satu orang. Dan... kita juga tidak pernah tahu, mungkin saja itu langkah terakhir. Dira memang jodohmu."
Randu terdiam, memikirkan semua perkataan Janur. Perkataan yang entah masuk akal atau tidak teruntuk dirinya. Kejadian malam itu, bersama Dira, tentu belum hilang dalam ingatannya. Kesempatan itu terbuang sia-sia, ia lepaskan begitu saja burung pasrah dalam genggaman. Lalu, mulai melangkahkan kakinya, bermaksud menyudahi percakapan dan menyudahi aktingnya, untuk kembali melanjutkan pencarian.
ADRIAN menghentikan langkahnya, ia merasa menemukan sesuatu. Menurunkan posisi tubuhnya, berjongkok, mengamati semak belukar yang telah terpotong-potong. Irisannya menujukkan bekas tebasan sebilah benda tajam. Samar membentuk sebuah jalan perlaluan.
Di hutan ini hanya ada rombongan mereka. Tidak salah lagi, ini jalan yang digunakan Cawang dan Dira. "Ini jejak mereka, aku yakin sekali. Tidak ada orang lain di tengah tempat ini selain kita," cetus Safril.
"Aku rasa begitu."
Headtounge di pinggul Safril berbunyi, keberadaan mereka masih dalam jangkauan frekuensi radio komunikasi. Suara janur terdengar berisik, tapi cukup jelas untuk tertangkap pendengaran, "Halo.... Apa kalian menemukan petunjuk...?"
Tepat di saat Safril hendak menjawab panggilan itu, tiba-tiba Adrian menghalanginya.
"Ya... Masuk...!? Silahkan! Halo...?" Janur terus memanggil-manggil, terdengar terputus-putus dengan noise yang cukup tinggi.
"Kenapa...!?" Safril bingung akan sikap Adrian. "Dira yang hilang! Kau tahu bagaimana arti Dira bagiku!?"
"Takkan terjadi apapun pada Dira. Kita pasti tentu akan menemukannya. Dalam keadaan baik-baik, tetap menarik dan enak dipandang mata."
"Lalu...?! Apa yang ada di otakmu?!" Safril menatap Adrian tajam.
DI BASECAMP, Omix tampak dengan tenang menunggu. Pria ini pada dasarnya tidak mudah panik. Tatapannya seakan menembus ke kedalaman hutan, dengan wajah tanpa ekspresi. Ia lebih memikirkan bagaimana seharusnya melakukan pencarian. Sesekali ia mengusir nyamuk-nyamuk lapar yang telah mengganggunya sejak dari tadi. Kopi hangat dan rokok menjadi teman yang cukup ampuh untuk menahan kebosanan.
Perlahan tampak dua bayangan sosok manusia sedang bergerak menuju ke arahnya. Adrian dan Safril.
Setelah keduanya mendekat, Omix tidak segera bertanya. Sengaja menunggu, agar Adrian dan Safril memberikan penjelasan.
"Kami tidak menemukannya..." berhenti sejenak, "...sekalipun kami mendapati bekas jejak mereka," terang Adrian. Wajahnya tampak cemas dan kaku. "Jejak itu..."
Omix dengan tenang mendengarkan. Menyimak setiap detail pembicaraan. Tidak lama berselang, Janur dan Randu pun tiba kembali di tempat perkemahan.
"Kami tidak menemukan apapun," langsung saja Janur memberitahukan hasil pencarian mereka. "Kalian...?"
Adrian mengulangi penjelasannya. "Kami menemukan jejak mereka, tetapi setelah kami telusuri akhirnya jejak itu perlahan menghilang. Lalu...."
Janur dan Randu serius mendengarkan.
"...kami memutuskan untuk kembali ke sini," lanjut Adrian.
"Bawa aku kembali ke sana." Tidak disangka tiba-tiba Randu begitu bersemangat untuk memulai pencarian kembali.
Semua menatap Randu.
"Aku akan menemanimu," Omix menawarkan bantuannya. "Dan aku ingin salah satu dari kalian ikut kami lagi," lanjutnya sambil menunjuk ke arah Safril dan Adrian.
Tapi Adrian punya ide lain. "Biar kami berdua saja yang menemani Randu. Aku mengingat sebagian perjalanan, sisanya Safril yang mengingatnya." Strategi yang masuk akal.
"Kalian yakin," tanya Omix ragu.
Adrian mengangguk, tampak begitu yakin.
__ADS_1
"Silahkan," lanjut Omix yang tak ingin terlarut dalam perdebatan.
Adrian menepuk bahu Randu berusaha menghilangkan kecemasannya. Ketegangan wajah Randu pun dibalasnya dengan senyuman lembut.
RANDU mulai merasa tidak sabar, dari tadi Adrian maupun Safril belum menjelaskan arah tujuan mereka. Bahkan, perjalanan terasa seperti berputar-putar saja.
"Aku harap kalian tidak salah jalan," ujar Randu memulai percakapan.
Randu benar-benar merasa khawatir, ia juga merasa bersalah. Bagaimanapun kehadirannya di sini karena permintaan gadis itu, untuk melindunginya, memastikan keadaannya tetap baik-baik saja. Tapi sekarang, ia merasa gagal. Bayangan menakutkan semakin menjadi-jadi di dalam benaknya.
"Aku juga merasa begitu," balas Safril, dan di sambut pelototan Adrian.
Randu melihatnya, kejanggalan sorot mata Adrian. Mereka seperti menyembunyikan sesuatu. Namun, hanya tatapan biasa, pikirnya kemudian.
"Karena itulah aku dan kau yang turut pergi. Kau hanya mengingat sebagian jalan, separuhnya lagi aku. Bukan begitu, Safril...," tegas Adrian kepada Safril.
Randu mengangguk setuju.
Namun Safril tetap merasa kebingungan. "Tapi aku masih ingat dengan pasti, tidak ada bagian ini tadi."
"Sebentar lagi kita menemukan jejaknya," jawab Adrian sambil menahan geram. Geraham Adrian bergemeretak, namun tak ada yang memperhatikannya. "Bersabarlah."
Semua tampak hampir sama, di sana sini hanyalah hamparan semak belukar yang dikawal pepohonan. Baru saja beranjak dari tengah hari tapi terasa sudah begitu larut. Apalagi ditambah suasana yang buram berkabut. Hawa dingin menyebabkan perasaan mencekam semakin mencuat ke permukaan. Membersitkan di hati Randu, telah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
BAGI yang menyayangi Dira semua ini sangat mengkhawatirkan hingga..., kelelahan yang amat sangat sering kali membuat orang kehilangan akal sehat dan lepas kontrol. Emosi di dalam diri akan segera mengambil alih kendali, dan akan menunjukkan kekuasaannya.
"Dira kau membawa pengawal amatiran, dia benar-benar tidak bisa mengawasimu dengan baik. Sekarang kau rasakan sendiri apa yang terjadi," cetus Safril mengejutkan.
Randu mendengar dengan jelas perkataan Safril, Adrian sendiri hampir berang. Tentu ini belum waktunya. Semuanya akan gagal. Strategi kotor dan licik yang disusun Adrian. Cinta memang dapat membuat banyak hal menjadi berantakan. Namun, Randu berusaha untuk tetap sabar dan mencoba menenangkan suasana. Untuk dirinya sendiri dan juga Safril. "Cawang akan menjaganya..."
Usaha Randu gagal, Safril mengulangi lagi pelampiasan kata-katanya, dengan sedikit modifikasi, agar lebih menyentak. "Dira, kau membawa orang yang penuh dengan kesialan. Hampir semua manusia menjauhinya..., kenapa kau bawa manusia aneh ini!"
Tampaknya Randu terpancing.
Tangan Randu menyentuh pundak kiri Safril dan menariknya kasar ke belakang. "Siapa yang kau maksudkan...?"
"Kau! Siapa lagi kalau bukan kau!" Safril tidak bisa lagi menahan kekesalannya.
Randu terkejut sekali mendengar perkataan orang di hadapannya ini. Ia benar-benar tidak percaya telah mendengarnya; 'Manusia Aneh.'
Ucapan Safril terpotong oleh sebuah pukulan yang mendarat di batang hidungnya. Ia mendapatkan jawaban yang mengejutkan dari Randu.
Safril mengusap hidungnya. Darah segar mengaliri jemarinya. Ia panik sekali dan jantungnya terasa panas.
Setelah sempat terjatuh, Safril bergegas bangkit berdiri dan langsung merangsek Randu dengan sangat bernafsu.
Sebuah tendangan asal-asalan mendarat di perut Randu hingga membuat pemuda itu terhuyung-huyung setengah terjatuh.
Melihat kesempatan emas, Safril melompat menerkam Randu. Pergulatan tidak bisa dihindari.
Di saat yang tepat Randu memanfaatkkan tenaga Safril. Mendorongnya kuat hingga terlempar beberapa meter. Tapi Randu tidak melanjutkan serangan. Ia berniat menghentikan perkelahian ini.
Sayang, sebaliknya Safril berdiri lagi dan berniat melanjutkan perkelahian, dengan nafsu membunuh yang justru bertambah besar.
Adrian bergegas melompat memotong pergerakan Safril dan memeluknya erat-erat. "Ini belum saatnya," bisik Adrian pelan penuh kekesalan.
Safril seolah tidak mendengarkan nasihat sahabatnya ini, bahkan bertambah berang. "Ini belum berakhir manusia abnormal!"
Lagi-lagi sebuah perkataan yang sangat tepat bagi Randu. Tidak dapat ditahan lagi, emosinya kembali memanas sekian derajat, melampaui batas ambang normal. Sekelebat tubuhnya melesat menuju ke arah Safril yang tengah dipegangi Adrian. Segera saja tendangan yang manis berupa teknik cangkulan menutupi hampir seluruh wajah Safril dan..., hidung lagi. Darah segar kental kembali mengucur deras. Safril terduduk di tanah.
Belum berhenti sampai di situ. Selanjutnya, Randu mencengkram kerah baju Safril yang tengah meringis kesakitan. Sementara, tangan kanannya terangkat ke atas, tampaknya sebuah pukulan akan segera dilepaskan.
Prakk..!!! Hantaman yang telak, siapa pun dapat mendengarnya. Terdengar mengerikan. Ngilu. Dua benda yang hampir sama kerasnya saling berbenturan.
Randu memegangi kepalanya. Ia terhuyung-huyung sesaat, sebelum akhirnya roboh ke tanah. Dalam keadaan setengah sadar, ia melihat sebatang kayu di tangan kanan Adrian. Sangat menyakitkan. Dari belakang. Oleh seorang teman, meskipun bukan sahabat. Tapi kenapa...!? Tatap Randu tak mengerti.
Dalam pandangan kaburnya, Randu tampak kebingungan. Apa yang baru saja terjadi sangat tidak disangka-sangka. Sinar matanya menyentuh bola mata Adrian, lalu Safril. Kosong.
"Tidak perlu bingung manusia aneh, dengan senang hati aku akan menjelaskannya. Kau lupa beberapa tahun yang lalu? Saat awal kedatanganmu di kota itu...!"
Randu terus memegangi kepalanya, terasa ada cairan yang mengalir di antara sela jemarinya. "Aa... Aku...!? Aku tidak mengerti...?" ujar Randu lirih. Sementara, hari makin pekat saja bagi dirinya, semakin membutakan penglihatan.
"Kau adalah pecundang itu...! Seharusnya kau bisa menyelamatkan kehormatannya! Aku pria yang berpapasan denganmu saat kemalangan itu terjadi...," jelas Adrian lagi.
Kata-kata Adrian masih dapat tertangkap telinga Randu. Ia mencoba menjangkau kembali lembaran-lembaran usang di dalam relung hatinya, dalam pikirannya. Di situ tertulis sepenggal kisah masa lalu, sesuatu mulai dipahaminya. Kehormatan... Samar-samar ingatannya mulai menangkap serentetan bayangan-bayangan: teras rumah, jendela, selintas wajah gadis muda, malam...
__ADS_1
Lima tahun yang lalu. Malam itu, malam keduanya di kamar kontrakan yang baru saja tiga hari ditempatinya. Ia masih seorang pemuda yang sangat polos pada saat itu. Bahkan terkadang hingga saat ini.
Di malam yang cukup tenang itu Randu sedang sendiri. Ia duduk melamun di atas kursi plastik berwarna biru tua. Posisinya menghadap ke arah jendela, ke arah teras. Meski waktu baru menunjukkan pukul 9.35 malam, tapi ia telah mematikan lampu. Kantuk datang lebih awal, sebentar lagi ia berniat hendak beranjak ke peraduan.
Tiba-tiba lamunannya tersadarkan oleh tiga orang yang melintas di hadapan kamarnya. Dua orang lelaki dan seorang gadis. Ketiga orang tersebut hendak menuju ke kamar paling ujung, yang letaknya dengan kamar Randu hanya dipisahkan oleh satu kamar penghuni lain.
Setelah puas melamun, berpetualang ria, Randu beranjak dari kursinya. Kasur empuk, bantal, dan guling terlihat semakin menggirukan saja. Namun, di saat itu juga ia mendengar teriakan. Suara seorang perempuan. Serupa rintihan, dan teriakan lemah yang memelas untuk sebuah penolakan. Instingnya mulai bekerja, mengatakan ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.
Awalnya ia sempat ragu. Tapi kemudian, ia memberanikan diri untuk keluar. Perlahan ia membuka pintu kamarnya, sepelan mungkin agar tidak terdengar oleh siapa pun. Langkahnya berhati-hati.
Setelah melewati selang satu kamar, terdengar lagi suara mencurigakan itu. Suara perempuan yang merengek-rengek minta dilepaskan, entah dari ancaman apa. Sesekali terdengar pula suara kekehan laki-laki, yang penuh ejekan dan kemenangan. Gelak tawa yang mengumbarkan rasa puas. Terdengar berkuasa sekali.
Otaknya yang sebenarnya tidak bodoh segera menyadari apa yang sedang terjadi. Namun, ia tetap bingung apa yang harus dilakukan. Mendobrak masuk ke dalam, ataukah lebih tepat jika berpura-pura saja tidak tahu.
Ia semakin kebingungan, keadaan di dalam sana menjadi bertambah buruk. Seseorang di dalam sana pasti sangat membutuhkan pertolongan, seorang gadis yang mungkin tidak berdosa.
Keputusan yang akan membuatnya menyesal suatu saat nanti, akhirnya ia pilih. Tubuhnya yang tadi membungkuk dengan telinga menempel di daun jendela, kini berdiri tegak. Lalu ia membalikkan tubuhnya, hendak beranjak pergi. Bila memungkinkan pergi sejauh mungkin. Dan berpura-pura tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Kaki Randu mulai bergerak, ketika tiba-tiba ia menangkap gerakan selintas bayangan di samping kanannya. Di hadapan deretan kamar-kamar kontrakan, di luar pagar setinggi satu meter, seorang pria berlari tergopoh-gopoh, wajahnya cemas. Sesampainya di pintu pagar orang itu langsung melaju masuk ke halaman teras rumah kontrakan. Langkahnya memburu sesuatu.
Mereka berdua berpapasan, sejenak saling bertatapan. Namun, lidah sama-sama beku membisu. Randu menundukkan kepalanya dan beranjak pergi sesegera mungkin, menuju kamarnya. Kemudian masuk dan mengunci pintunya rapat-rapat dari dalam.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu yang roboh, layaknya diterjang sebuah tendangan. Yang segera disambut jeritan histeris, dan tangisan yang sejadi-jadinya.
Berangsur-angsur keadaan di luar mendadak menjadi ramai. Ternyata warga mulai berdatangan. Randu ketakutan, berbagai perasaan menghantamnya. Wajahnya seketika memucat, jantungnya berdebar kencang, seluruh tubuhnya gemetar. Barulah ia sadar, ia telah mengambil keputusan yang salah.
"Gadis itu lebih dari kekasihku! Ia tunanganku! Kami akan segera menikah! Kau benar-benar pengecut! Kau bisa mencegahnya saat itu! Menyelamatkan kehormatannya! Kau bukan laki-laki! Kau pecundang!" Tidak puas hanya sekedar meluapkan kata-kata, Adrian meraih kerah baju Randu, memelototinya tajam, menantang mata Randu yang berkunang-kunang. Nadanya kini pelan, tapi sangat dalam menyentuh relung hati Randu, "Kau tidak akan pernah sanggup melindungi siapapun! Apalagi seorang wanita! Sekalipun ia kekasihmu!"
Darah di kepala Randu terus mengalir seiring hujatan-hujatan yang menghantam bathin. Kata-kata menyakitkan itu terus berulang-ulang, berputar-putar di dalam kepalanya. Selayaknya dongeng yang dibacakan sebelum tidur.
Celotehan Adrian diakhiri dengan terpejamnya mata Randu. Randu kehilangan kesadaran, ia benar-benar terpukul. Jiwa dan raganya.
***
SUASANA lengang membisu. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Apa yang tersembunyi di balik jantung hati mereka cukuplah dapat terwakilkan melalui wajah alam malam ini. Mendung berawan, gelap, dan dingin. Bintang-bintang menghilang entah ke mana. Rembulan pun bersinar teramat redup laksana tengah terjangkiti virus duka lara. Hanya kawanan menyerupai asap di atas sana yang begitu 'mensyukuri' keadaan ini; gumpalan awan hitam berarak riang, yang perlahan-lahan mulai menelurkan butir-butir halus rerintikan hujan.
Cawang memperhatikan teman-temannya satu per satu. Dari yang terdekat dengannya hingga yang nun jauh di ujung sana. Cukup sulit menyelami perasaan terdalam meski di permukaan terlihat jelas garis-garis kegelisahan tertoreh. Tak mudah menemukan insan yang nyaman diajak berbicara di tengah keadaan seperti ini.
Janur? Pemuda itu kini lebih memilih mengasingkan diri. Ia kembali dituntut, memecahkan kebuntuan keadaan.
Ujung-ujungnya, perhatian Cawang beralih kembali pada gadis manis yang sebenarnya juga terlihat sedang murung sekali. Inilah pilihan terbaik dari yang tersulit; Dira.
Cawang dapat mengerti apa yang dirasakan Dira. Dilihatnya gadis itu sedang menatap kosong permukaan bumi. Tertunduk lesu tak bersemangat, sementara, hatinya berkecamuk tak karuan. Seakan semua ini karena kesalahannya.
"Dira... Dira..." sapa Cawang bernada ragu, "Dira...!?" sekali lagi.
Panggilan untuk yang ketiga kalinya berhasil membuat Dira menoleh. Saat pandangan mata mereka berpapasan, hati Cawang merasa terenyuh. Bola mata Dira telah berkaca-kaca, cairan tipis tampak membasahi pipi mulusnya.
Dira menatap Cawang dalam-dalam. Ingin rasanya dirinya memeluk pemuda badung di hadapannya itu. Melampiaskan tangisan dan penyesalan bertubi-tubi.
"Malam kian meninggi...," ujar Dira lirih akhirnya berucap. Tatapannya menunggu, berharap dan memohon agar Cawang dapat melakukan sesuatu. Dira seakan telah lupa bagaimana keadaan Cawang sendiri saat ini. Cawang yang selalu dapat diandalkan kini benar-benar tak berdaya. Takkan sanggup menerobos kedalaman hutan, menapaki bebukitan, menyeberangi aliran sungai dan memanjat pepohonan. Tentunya demikian, dengan kaki cidera.
"Apa pun yang terjadi, semuanya akan baik-baik saja. Seperti apa yang menimpa kita..." ragu-ragu Cawang mencoba menenangkan gundah gulananya Dira, "dengan kakiku ini... kenyataannya kita bisa berkumpul bersama kembali, meskipun sempat membuat yang lainnya merasa khawatir. Demikian pula nasib Randu... dia akan baik-baik saja. Aku tahu Randu, dia bukan orang biasa. Dia kuat, lincah dan cekatan, juga cerdas. Sesulit apa pun rintangan, dia akan mampu mengatasinya. Dia anak ajaib."
Lama Dira mencerna maksud perkataan Cawang. Namun perlahan-lahan berhasil sedikit meredakan rasa cemas yang berkecamuk di dalam dada. Semuanya akan baik-baik saja.
"Justru yang membuatku bersedih jika kau begini. Murung..., membisu... Aku mudah terbawa suasana," tambah Cawang lagi. "Dira...?"
Sebelum Cawang melanjutkan lagi, Dira telah menampakkan suasana hati yang setidaknya sedikit berbeda. Sebuah senyum kecut dari Dira. Lumayan.
"Semoga saja. Kita harus yakin. Bukankah keyakinan yang membuat kita tetap tegar menjalani hidup ini," kali ini giliran Dira yang mencoba mencairkan suasana tegang, membangkitkan semangat. Entah demi Cawang atau dirinya sendiri.
Cawang mengangguk-angguk pelan mendengarnya. "Ya... ya...," timpalnya sembari tersenyum.
Tiba-tiba seseorang menyalip perbincangan, "Benar, kawan-kawan. Semuanya akan baik-baik saja."
Dira dan Cawang serentak menoleh ke belakang mencari asal suara.
Sesosok tegap gagah tengah berdiri tegak memandangi Cawang dan Dira. Sinar rembulan redup keperakan yang jatuh menimpa wajahnya masih dapat memperlihatkan kekuatan jiwa yang tampak di bola matanya yang berkilauan. Sementara, rambutnya yang hampir menutupi bahunya yang lebar, melambai-lambai tenang tertiup angin malam pebukitan. Ia laksana malaikat penolong yang memberi kekuatan baru.
Di saat-saat seperti ini, setiap orang seharusnya tetap berkumpul, berdekatan, menjaga kebersamaan, sekalipun itu hanya diam membisu; saling memberikan kekuatan moral. Kehadiran satu orang saja sungguh dapat mengusir sekian derajat rasa sepi. Dalam kondisi tertentu, sepi-lah yang dapat melahirkan berbagai perasaan negatif. Kesepian dapat membunuh umat manusia. Baik yang menyebabkan kematian lahiriah maupun batiniah. Kecuali, sepinya orang beriman.
"Dira..., mau kubuatkan secangkir teh hangat?" tawar Omix ramah yang baru saja mulai bergabung. Bila malam dapat lebih terang sedikit lagi, tampaklah senyumannya, yang juga akan membahagiakan.
Dira mengangguk pelan tapi yakin. Ia merasa memang membutuhkan seteguk minuman hangat.
"Aku juga mau secangkir kopi..., bila kau tidak keberatan," sambung Cawang sambil mengedipkan mata kepada Omix.
"Tentu saja," balas Omix segera.
__ADS_1