Srinayu Di Bukit Randu

Srinayu Di Bukit Randu
Bab 28 | Menyerah


__ADS_3

SUDAH lewat tengah hari Randu juga belum kembali. Di atas tangga muka rumah Nayu duduk sendiri, dan tak berharap seorang pun mengganggunya. Nayu tak mampu berbuat apa-apa. Ia hanya bisa terdiam, menunggu, pasrah, membisu seribu bahasa. Ia juga sengaja menikmati suasana ini. Suasana yang melahirkan perasaan melankolis. Sesekali pandangannya terlempar jauh memandangi belantara dan bebukitan. Ia berharap laki-laki yang bersemayam dalam benaknya sejak pagi tadi muncul dengan tiba-tiba. Bahkan sempat dirinya berhalusinasi melihat siluet tubuh Randu.


Rei belum benar-benar mengerti apa yang sedang berkecamuk dalam pikiran Nayu. Apa yang dikhawatirkannya? Dari belakang ia memperhatikan, mencari tahu yang sebenarnya, melalui gelagat yang ditampakkan Nayu. Kenapa ia tiba-tiba begitu mengkhawatirkan Randu...?


Menon datang dari arah depan, tersenyum pada orang yang telah dianggapnya sebagai kekasih itu, dan bersiap-siap hendak mengambil posisi duduk di samping Nayu. Rei berniat mencegahnya, tapi tak tahu bagaimana. Ia tahu, saat ini Nayu sedang ingin menyendiri. Lalu Kori datang menyusul, langkahnya cepat, membuat Menon terpaksa menunda pergerakannya.


"Tahan dulu! Aku mau lewat," sergah Kori sambil berlalu pergi menaiki tangga.


Nayu dan Menon tampak mulai berbincang. Namun, Rei tak dapat mendengarnya dengan jelas, hanya gumaman yang ia tangkap.


"Ayo anak-anak makan siang...," panggil Bu Srining setengah berteriak dari dalam.


Rei bangkit berdiri, ia sudah tahu apa yang harus dilakukannya; membantu Bu Srining menata hidangan.


Seperti sudah hapal jadwal makan siang, Zillian kemudian muncul tanpa diundang. Tanpa basa-basi, tanpa permisi terlebih dahulu kepada Nayu dan Menon, ia langsung melewati tangga dan masuk ke dalam rumah.


Kedatangan Zillian seperti setan lewat saja. Nayu dan Menon sama sekali tak memedulikannya. Tak ada tegur sapa sama sekali.


"Mana Randu?" tanya Zillian ketika telah duduk di dekat Rei.


"Aku rasa kekhawatiran Nayu tidak berlebihan, nyatanya batang hidung anak aneh itu sama sekali belum kelihatan," timpal Rei pelan.


"Apa masih di hutan?" tanya Zillian tentang keberadaan Randu sekali lagi.


"Aku rasa begitu, bila tidak, di mana lagi...?" Lalu Rei menatap Zillian serius, dan membisikkan sesuatu. Kata-katanya dipilih dengan hati-hati, "Zill..., jika ada Nayu, sebaiknya... jangan menyinggung tentang Randu... untuk sementara ini..."


"Kenapa harus begitu...?" protes Zillian.


"Turuti saja perkataanku ini!" tukas Rei dengan nada perintah. Matanya memicing. "Sebaliknya... sebisa mungkin kita alihkan pikirannya dari memikirkan Randu."


Demi perdamaian dan kenikmatan makan siang, akhirnya Zilllian terpaksa mengalah. "Baiklah baiklah... aku akan tutup mulut."

__ADS_1


 


TAK ada yang lebih khawatir dari Nayu. Ia telah memikirkannya sedari pagi, menumpuk dan terus menumpuk hingga petang hari ini. Randu belum jua kembali, bagaimana ia bisa tenang. Terlihat sekali raut kegelisahan di wajahnya yang manis.


"Tenanglah Nayu, sebentar lagi dia juga pulang," ujar Bu Srining lembut berusaha menenangkan.


Tidak sesederhana itu, Nayu teringat kembali akan miniatur pebukitan yang ditinggalkan Randu di atas meja di kamarnya. Terutama seputaran bagian tengahnya, yang terdapat sebuah kolam.


Srinayu yang menikmati buah keremunting di antara bunga-bunga indah, dan Srinayu di atas bukit Randu. Itu sebenarnya sebuah teka-teki yang telah terpecahkan, namun ia tak memiliki keberanian untuk mengakui kebenarannya, di dalam hatinya, pada dirinya sendiri.


Nayu berusaha berkilah. "Apa aku tampak sedang memikirkan Randu...?"


"Hm... Bukankah semua orang kini mengkhawatirkannya...? Kau kan juga temannya. Malah ia teman sebaya pertamamu. Justru malah mengherankan jika kau tidak memikirkannya. Ibu sendiri pun sangat khawatir," timpal Bu Srining sambil tersenyum. Harga diri Nayu sedikit terselamatkan.


Nayu tak membantah.


Pak Linggih muncul dari balik pintu tengah, datang mendekat, dan langsung angkat bicara. "Randu... terkadang tak bisa ditebak. Ia pemuda yang unik, juga tangguh. Aku yakin dia baik-baik saja, hanya sedikit lebih larut untuk pulang dari biasanya."


 


Sesekali terdengar pekikan burung gagak, yang terkenal sebagai burung pembawa berita duka. Bu Srining yang telah lama tinggal di hutan pun masih dapat merasa merinding mendengar suara burung itu. "Apa telah terjadi sesuatu pada anak itu...? Pak...?" ungkap Bu Srining tak ingin lagi menutup kekhawatirannya. "Aku cemas sekali... Ini hutan... Bukan perkotaan... Dan ini pun telah larut malam."


Pak Linggih sendiri tidak yakin akan bakal jawabannya; mengatakan Randu baik-baik saja atau mengatakan memang telah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Randu. Ia hanya berani memaksakan dirinya untuk tidak berprasangka buruk untuk sementara waktu ini. Menekankan pada hatinya berkali-kali, semuanya akan baik-baik saja, dan tidak akan lebih buruk dari perangkap tanaman berwarna ungu tempo dulu.


"Sebaiknya kau mulai mencarinya," desak Bu Srining kepada suaminya, "Harus."


Nayu menoleh. Diamatinya baik-baik percakapan keduaorangtuanya.


Merasa ada yang mengawasi, Bu Srining melirik sejenak ke arah Nayu, namun tak berani menatapnya. "Mau menunggu apa lagi...? Kali ini banyak yang akan menemanimu. Ada Zillian, Menon dan Kori. Pencarian akan menjadi lebih ringan."


Nayu sangat berharap sekali ayahnya benar-benar melaksanakan saran ibunya. Ke mana pun Pak Linggih bergerak dan berbicara, Nayu terus memperhatikan. Kumohon, ayah... Teriakan burung gagak seakan tengah memanasi dirinya untuk meminta ayahnya agar segera melakukan sesuatu.

__ADS_1


Dan akhirnya, Kegelisahan Nayu sedikit terobati, saat Pak Linggih memutuskan hal ini; "Ayah akan mencarinya.... Tolong katakan pada Zillian untuk menemaniku."


Pak Linggih dan Zillian menembus kegelapan, menerobos masuk ke tengah belantara, berbekal dua buah lampu obor—yang satu telah dinyalakan dan yang satu lagi sebagai cadangan, tak ketinggalan sebotol minyak bahan bakar tambahan tergantung di sisi pinggang Pak Linggih—menuju kawasan bekas lahan tanaman ungu. Jeruji Wungu. Bunga itu menjadi kandidat tersangka utama.


 


NAYU jatuh sakit. Itulah akhir cerita pamungkas dari perasaannya terhadap Randu. Menon tidak dapat menceriakan Nayu lagi. Menon merasa dirinya tidak dibutuhkan lagi. Menon gagal menempati ruang terdalam di hati Nayu, di suatu tempat yang gelap, yang hampir tak tersentuh cahaya sama sekali. Kegelapan adalah milik Randu. Menon tidak kuasa menggeser kedudukan Randu di situ. Menon tipe pecinta yang lurus. Ia takkan sanggup menjalani lika-liku asmara yang berkelak-kelok, naik turun menukik tajam, remang-remang, temaram, hingga yang terparah; gelap gulita. Menon bukanlah pemuda yang menggemari cinta semacam itu.


Cinta Nayu pada Menon tidak sedalam kekuatan cinta—unik—yang ditinggalkannya pada Randu. Nayu tidak dapat bertahan dengan cinta yang meledak-ledak, meluap-luap, menggebu-gebu, penuh hasrat erotis, seperti yang ia jalani bersama Menon. Nayu merasa hampa dengan cinta seperti itu. Betapa kesedihan lebih indah dibandingkan hari penuh canda tawa. Kesempurnaan seorang Menon dapat dikalahkan oleh kekurangan yang dimiliki seorang Randu.


Merasa tidak ada yang harus dipertahankan lagi, Menon memutuskan untuk keluar dari rimba, kembali ke kota. Malam ini juga Menon mengungkapkan niatnya.


"Pak Linggih..., mewakili semuanya, aku ingin memberitahukan pada Bapak sekeluarga... Kami hendak pulang." Menon berhenti sejenak, mengamati reaksi Pak Linggih. "Kami sudah terlalu lama tinggal di sini. Kami tidak ingin membuat orangtua, sanak saudara, teman-teman kami menjadi sedih dan khawatir karena kami tak jua kunjung kembali..."


Pak Linggih manggut-manggut mendengarnya. Namun, sebenarnya Pak Linggih merasa keberatan, bila Menon dan kawan-kawan memutuskan pergi sekarang, di saat Nayu sedang jatuh sakit. Tentulah Nayu membutuhkan suasana yang dapat mengusir sepi, orang-orang yang dapat menghiburnya, terutama dari yang namanya teman. Setidaknya Nayu tidak merasa jenuh berlama-lama berbaring di tempat tidur. Ada Rei yang menemani, dan yang lainnya. Bukankah akan memberikan kekuatan moral untuk Nayu agar cepat sembuh, untuk dapat kembali bermain di luar, dan menjalani berbagai kegiatan yang menyenangkan. Pada dasarnya semua manusia membutuhkan hal semacam itu. Tapi, tampaknya keputusan Menon sudah bulat, sementara Pak Linggih tak ingin menghalang-halangi. Begitu juga dengan Bu Srining yang hanya bisa mendengarkan tanpa berkomentar. Namun, jauh di lubuk hati ibu itu sedang terenyuh.


"Sekiranya Pak Linggih dapat memberikan gambaran peta jalan keluar dari hutan, itu sudah cukup membantu. Pak Linggih tak usah bersusah payah mengantar. Begitu saja, kami sudah sangat berterima kasih sekali kepada Bapak," papar Menon terdengar formal.


Pak Linggih manggut-manggut lagi. "Tentu, tentu saja bisa. Aku bahkan berniat akan memandu kalian hingga ke batas aman."


Menon dan kawan-kawan senang sekali mendengarnya. Mereka, empat sekawan, saling berpandangan puas. Terbayang bagaimana keadaan kota sekarang, sejak sepeninggalan mereka. Lalu lalang kendaraan bermotor, gedung-gedung bertingkat dan gemerlapnya dunia malam. Tapi, sejauh mana pun mereka akan pergi, tempat ini akan selalu dikenang. Itu pasti.


"Suatu saat nanti... bila ada waktu dan kesempatan serta umur panjang, kami pasti akan berkunjung lagi kemari. Sebenarnya kami sangat senang tinggal di sini tapi... Menon dan kawan-kawan tetap harus pulang dulu."


"Ya, lebih baik begitu," timpal Bu Srining membenarkan ucapan Menon. "Kami dengan tangan terbuka akan menerima kedatangan kalian kembali nanti. Jangan sungkan-sungkan mengisi waktu liburan kemari." Walaupun sesungguhnya bukan hal yang mudah menemukan kediaman Pak Linggih ini. Empat sekawan pun secara tak sengaja menemukannya, dan tak mengingat jejaknya.


Kori pun tak ingin ketinggalan, ia mengungkapkan rasa penyesalannya. "Dan kami mohon maaf yang sebesar-besarnya... mengenai Randu. Kami tidak dapat lagi membantu mencarinya."


Mendengar perkataan Kori, semuanya menjadi terdiam, suasana berubah menjadi kaku. Rei merasa ingin sekali memukul-mukul kepalanya sendiri. Sedangkan Zillian mengangguk-angguk pelan, merasa tepat apa yang dikatakan Kori, hampir saja mereka lupa meminta maaf mengenai masalah itu. Dan Menon, mimik wajahnya terlihat hampir datar-datar saja.


"Jadi kapan kalian akan berangkat?" suara serak parau Pak Linggih memecah kebekuan sesaat suasana.

__ADS_1


Kori memandangi Menon, dan Menon menoleh ke arah Zillian. Lalu semuanya saling berpandangan, saling melempar keputusan.


Setelah rembuk singkat usai, Menon kembali menghadap ke arah Pak Linggih. "Besok... Besok, Pak Linggih." Kemudian melihat sekilas ke arah Bu Srining. "Malam ini juga kami akan bersiap-siap."


__ADS_2