Srinayu Di Bukit Randu

Srinayu Di Bukit Randu
Bab 1 | Muslihat Sang Waktu


__ADS_3

TAKSI berwarna biru donker memperlambat gerak lajunya, berhenti tepat di depan sebuah halte bus sederhana. Angin malam segera bertiup, lembut sekali, menyambut ramah kedatangan seorang pria muda yang baru saja beranjak keluar dari mobil sedan tersebut. Sejenak sosok itu ragu melangkahkan kakinya—memikirkan bakal tindakannya yang bisa saja adalah sebuah kesalahan terbesar dalam hidup—ketika hendak menuju halte. Seberkas koran bekas yang melayang pelan mencoba menghalanginya. Lembaran yang banyak mengungkapkan berbagai hal melalui kata-kata bisu yang tertera di tubuhnya itu, kini menjadi tak berarti layaknya sampah. Tapi, saat ini jika bukan benda itu, siapa lagi yang peduli dengan kedatangan dirinya, jiwanya tengah diremas-remas kegundahan. Seakan telah mengetahui niat buruk yang jauh terpendam di dasar lubuk hati. Namun tidak berlangsung lama, untuk apa memedulikan selembar koran bekas butut, keputusannya sudah bulat.


Keadaan halte sangat menyedihkan, satu dari dua buah bola lampunya sudah tidak berfungsi sama sekali, sementara yang satunya lagi hanya mampu berkedap-kedip pesakitan. Tapi cukup lumayan jika hanya sekedar untuk menarik perhatian seekor serangga malam yang kini tengah memuja-mujanya. Tiang besi penyangga atap tampak mulai karatan, diperburuk lagi oleh kursinya yang terasa agak reot dan berhiaskan aneka rupa coretan tak karuan. Mulai dari semprotan cat pilok, ukiran tanda tangan, torehan simbol, bekas tapak sepatu, hingga kata-kata nyentrik; 'kasih ibu kepada beta', 'Nurmala mohon rindukan aku selalu', 'cucok ruwo', 'belahlah dadaku' dan sejenisnya. Menambah keprihatinan yang mengharu biru terhadap kursi berwarna biru itu. Masih ada lagi, pada barisan kursi paling ujung terdapat genangan air berwarna kuning kecoklatan, yang merupakan hasil curahan hujan melalui lubang kecil di atap plafon. Di lantainya yang mulai retak-retak, juga berserakan bermacam jenis sampah. Ada kulit kacang, kulit buah duku, bungkus permen, puntung rokok, dan yang paling menjijikkan, sebercak air ingus kekuningan yang tampaknya segera akan mengering.


Seandainya di sekitar sini terdapat lebih banyak rumah-rumah penduduk, setidaknya kesuraman itu pasti akan sedikit berkurang. Kenyataannya, bangunan yang berdiri lebih banyak didominasi oleh bangunan perkantoran yang akan berubah sepi saat menjelang malam, dan hanya menyisakan sedikit penerangan bahkan, terkadang dibiarkan bergelap gulita. Lokasi tepat di belakang halte itu sendiri terdapat bangunan bekas kantor pos yang sudah tidak terurus lagi. Terlihat angker dan sadis. Tiada satu pun cahaya yang bersinar di sana. Pekarangannya mulai ditumbuhi semak belukar dan tanaman meranggas. Masyarakat juga sering menjadikannya sebagai tempat pembuangan sampah. Siapa pun yang memandanginya, terutama pada malam hari pasti akan merasakan kesan mistis. Membangkitkan imajinasi menyeramkan. Suara rintihan wanita juga tawanya, tangisan bayi, gumaman senandung nina bobok layaknya seorang ibu pada si bayi, pecahan kaca, gemerentang benda jatuh, bisikan-bisikan halus. Tak perlu memejamkan mata. Di dalam benak, di dalam kepala, tersirat begitu saja.


Bulan merangkak semakin meninggi, pertanda malam bertambah larut. Tak ada tanda-tanda kehidupan selain serangga malam, jerit pilu jangkrik, dan keluhan cecurut yang mencicit sesekali. Pengusir gelap lainnya hanya tampak beberapa lampu jalanan yang bersinar remang-remang. Sebagian berhasil menyentuh sisi-sisi bagian dalam halte, memberikan penerangan ala kadarnya. Sinarnya tak lagi dapat diandalkan, namun tetap memaksakan dirinya yang terus menua selalu berpijar. Dengan kemurahan hati sang rembulan, tugas mulia benda-benda tak bernyawa itu sedikit cukup terbantu. Sepanjang malam bahu membahu berjaga hingga menunggu datangnya pagi. Namun, bila kebetulan rembulan sedang sakit, habislah sudah.


SATU jam ia diombang-ambing penantian, belum satu pun bus malam melintasi halte. Di bawah dirinya bernaung, air yang mengalir di dalam selokan terdengar cukup jelas. Sementara, waktu menunjukkan pukul 00.13 dini hari, saatnya bulan berada di puncak kemegahannya, waktu untuk kodrat para manusia pada lazimnya tertidur lelap. Tidak heran jika malam begitu sunyi, bahkan terasa mencekam. Belum lagi keadaan cuaca yang akhir-akhir ini sukar ditebak.


Raut wajahnya semakin tak menentu, dan nafasnya sesekali berhembus kencang, disertai keluarnya uap asap putih tipis. Keramahan malam ini tengah menguji tubuhnya. Betapa dinginnya. Dirinya pun semakin merapatkan pelukan jacket hitam yang tengah membalut tubuhnya di malam ini.


Beberapa bagian persendian mulai terasa penat, karena itu punggungnya ditegakkan, dan kedua tangannya difungsikan sebagai dongkrak, yang bersangga pada tepian tulang pinggang. Di saat yang hampir bersamaan, tak sengaja jemari tangan kanannya menyentuh benda keras yang terselip di balik lingkaran pinggang celana jeans biru abu-abunya. Benda yang sempat terlupakan itu, membersitkan rencana lain yang tak terduga, jika kematian memang lebih baik, pikirnya gila.


Tak sulit mengeluarkan sebilah pisau dari persembunyiannya. Bergagang coklat muda, begitu pula warna sarung yang melindungi bagian mata pisau. Tak ada ukiran sama sekali. Bentuknya sekilas mirip badik.


Sejenak ia termenung, tatapan matanya jauh menembus langit. Kemudian ia membuka  resleting sebuah tas ransel besar berwarna hitam. Di dalamnya ada panci, kuali mini, thermos, korek api, minyak tanah, kopi, mie instan, sikat gigi, senter, dan beberapa helai pakaian. Semacam perbekalan yang dibutuhkan untuk perjalanan jauh ke tengah hutan. Barangkali pemuda ini adalah seorang petualang alam liar. Atau mungkin buronan mertua. Diobok-oboknya dalaman tas tersebut, namun sepertinya, ia tidak menemukan benda yang cari.


Riuh rendah jeritan jangkrik cs kembali terdengar bersama deru arus air selokan, si pemuda berusaha menenangkan dirinya sendiri; memejamkan mata, berkali-kali menghirup udara segar, dan menghela nafas panjang. Sekali lagi dirinya mencoba berpikir jernih, menyelami kegelapan di dalam kalbu, berharap menemukan sebutir intan permata di sela-sela kisah hidupnya yang pernah tertoreh. Namun, tak jua menemukan alasan yang memuaskan.


Setelah lima menit yang menegangkan, inilah keputusannya. Genggaman tangan kirinya perlahan menarik suatu sarung pelindung.


Mata pisau yang tajam berkilau menempel tepat di pergelangan tangan kirinya. Saling melintang dengan urat nadi besar. Sekalipun hanya sebuah gesekan kecil, akan menyebabkan saluran darah yang menyerupai selang kecil yang kenyal nan alot itu menyemburkan cairan berwarna merah pekat segar.


Teriakan dari dalam got terdengar histeris. Tapi apalah artinya, itu hanya sekumpulan tikus yang tengah dimabuk asmara.


 


"APA PUN masalahmu, ini bukan jalan terbaik...!" Seorang pria muda berkata dengan nada berapi-api, bola matanya berkaca-kaca. Mengingatkan akan sosok seorang kandidat pemimpin ketika sedang berpidato; mengumbar semangat, janji-janji hari esok kan lebih indah, aman sentosa bla... bla... bla. Sekarang ia tengah mencoba berusaha memerdekakan seseorang dari belenggu kerinduan bayang-bayang kematian. Rambutnya bergaya mohawk, dicat merah. Sekujur tubuhnya dihiasi berbagai macam pernak-pernik ciri khas kaum funkyman; kalung rantai sepeda, gelang baja berduri, cincin di semua jemarinya, dagu ditindih, sapu tangan merah yang diselipkan di kantung celana belakang, juga sederetan anting-anting di kedua daun telinganya, bahkan di alisnya juga. Lengkap semuanya hingga ke ujung kaki, malah jumlahnya berlebihan. Orang ini telah menjadikan tubuhnya selayaknya toko aksesoris. Namun, ibarat pepatah, kulit luar tak selalu mewakili isi di dalamnya, atau jangan melihat buku dari sampulnya, begitu pula dalam menilai seorang funkyman.


"Setuju..." Pemuda putus asa yang tadi hendak mengiris lengannya sendiri, mengakui bahwa tindakannya salah.


"Itu pasti!" tegas si funkyman.


Tapi, "Aku tak begitu yakin," sergah pemuda putus asa mendadak berubah pikiran dalam sekejap.


"Hidup sesingkat ini kau tidak sanggup menjalaninya," cibir funkyman.


Sesuai julukannya, funkyman, mungkin bagi orang ini, segala permasalahan hidup juga akan tampak lucu, funky. Tak ada yang memberatkan dalam hidup ini. Hidup ini simple. Hidup merupakan hal yang menyenangkan. Penuh canda dan tawa. Lucu, selucu penampilannya.


"Singkat padat, namun berkualitas," hentak pemuda putus asa.


"Ha ha ha... Pintar bicara." Seolah funkyman merasakan ada hal yang lucu. "Tapi jalan pikiranmu dungu... Bagaimana kau tahu ini telah berakhir?"


"Saat ia menyukai pria beruntung itu," secepatnya pemuda putus asa menyambar pertanyaan. "Kehadiranku di sana hanya untuk menyaksikan kemesraan mereka berdua. Sementara aku... di saat menggigil kedinginan, pikiranku dihujani bayangan tentang pose mesra mereka berdua saat sedang melepas birahi. Seolah sudah cukup bahagia dengan kopi hangat dan sebatang rokok di tangan. Belum lagi nyamuk-nyamuk nakal. Lebih baik aku pergi jauh__"


"Sejauh akhirat," potong si funkyman.


"Tadinya aku hanya berniat bersembunyi dari dunia ini. Salah satunya, di tengah hutan belantara... Tidak perlu jauh-jauh, di pulau ini juga masih banyak hutan besar. Lebih bagus lagi bila dilengkapi pegunungan ataupun pebukitan. Oo ya..., satu lagi, danau."

__ADS_1


"Hm... Hanya gara-gara wanita... Cinta..."


Pemuda putus asa menggeleng-gelengkan kepala seolah tak setuju. "Sebenarnya... lebih dari itu... Panjang... panjang sekali bila diceritakan... Tapi, ah sudahlah... yang terpenting aku ingin kabur dari dunia ini. Aku lelah."


Si funkyman mencondongkan kepala, hingga membuat cincin-cincin kecil yang bergelantungan di daun telinganya itu berayun-ayun. "Mmm... Bukankah kalian memang ingin menuju ke hutan belantara...?"


Pemuda putus asa selintas mengusap daun telinganya. "Temanya berbeda. Bukan hendak mengucilkan diri. Beda dengan niatku malam ini."


"Ha ha ha...," si funkyman tertawa tak jelas. "Kenapa tidak begini saja. Sesampainya di hutan kau menghilang dari rombongan, anggaplah dirimu sengaja tersesat. Aku tahu persis belantara di sana, cukup memenuhi persyaratan untuk mewujudkan niatmu..." Lalu ia memandangi langit malam yang cerah, kata-kata rahasianya seakan sedang bersembunyi dan berceceran di balik awan putih kelabu yang tengah berarak. "Bahkan kau mendapatkan dua kesempatan, merebut kembali gadis impianmu dan... jika gagal, tinggal melanjutkan rencana kedua. Rencana B. Rencana cadangan. Apa pun namanya itu, terserah kau. Rencana Z juga boleh."


"Masuk diakal," timpal pemuda putus asa bersemangat, "Benar-benar tak terpikirkan olehku."


Pria berpenampilan funkyman tampak bangga, idenya lumayan dapat menghibur. Kemudian wajahnya berubah serius. "Hidup ini pilihan. Karena itu kau harus menyiapkan lebih dari satu pilihan. Rencana A dan rencana B. Mau ditambah rencana Z juga boleh."


Tak tanggung-tanggung pujian yang didapatkan si funkyman dari Randu, "Jenius...!"


"Hmm..., bila diibaratkan dalam peribahasa, 'Jika ingin mati, persiapkan peti terbaik'. Sekalipun ingin berputus asa, cari jalan terbaik. Waktu dan tempat terbaik. Kau tahu kenapa...?"


"Tidak."


"Karena kesempatan terakhir seringkali datang di saat-saat terakhir. Di saat genting. Di saat waktu menyisakan sepersekian detik. Maka, selalu sisakan satu peluru di saat hendak melalui jalan pulang, karena perburuan belum benar-benar berakhir sebelum menginjak tangga rumah."


"Tapi, seingatku rumahku tak bertangga..."


"Itu hanya peribahasa." Dungu. Funkyman menggaruk kepala.


"Ya aku tahu."


"Serius, aku bercanda."


"Iya aku percaya."


"Tapi kenapa menggaruk-garuk kepala tadi."


"Apa kau ingin merasakan telapak sepatu kulitku ini...?"


Perbincangan kembali serius.


"Namun sayang..., semuanya sudah terlambat. Rombongan sudah berangkat satu hari yang lalu, saat fajar menjelang," ujar pemuda putus asa lemas.


Semisterius kedatangannya, si funkyman masih menyimpan sebuah kejutan. "Bagiku tidak ada kata terlambat...." Lalu sejenak mengawasi keadaan sekitar. Melihat kanan kiri, seperti gaya seorang maling. Sebelum berucap, ia memandangi si pemuda putus asa dalam-dalam, tak ingin kata-katanya ini terlewatkan sedikit saja. Lantas berbisik pelan, "Ini bukan sekedar peribahasa. Aku berbicara tentang makna yang sebenarnya. Makna secara harfiah... Aku bisa membalikkan waktu untukmu..."


Pemuda putus asa mulai beranggapan funkyman misterius ini seorang yang tidak waras. Mungkin itu benar. Perlahan ia menyadari ketidakberesan ini.


"Apa pekerjaanmu? Seorang filsafat...? Ha ha ha... penampilanmu sama sekali tak mendukung." Merasa waktunya habis tersia-siakan, si pemuda putus asa sedikit bersikap tegas, "Maaf! Aku masih cukup waras menanggapi omongan tak masuk akalmu." Terbayangkan oleh pemuda putus asa, obat-obatan macam apa yang telah ditenggak si funkyman ini. Takaran dosis yang telah dijebloskan ke dalam tubuhnya. Tapi, aku tak lebih baik dari dirinya...


Malam yang dingin terasa hangat oleh pembicaraan dua orang pria muda sebaya yang barangkali boleh disebut hangat.


Pria berpenampilan funkyman hanya manggut-manggut mendengar tawarannya dilecehkan. Ia begitu tenang menerima penolakan dari kawan yang baru saja dikenalnya beberapa menit yang lalu itu. "Segala sesuatu perlu dibuktikan. Bila ini hanya omong kosong, kau juga tidak akan mengalami kerugian berarti. Sebaliknya, bila hal itu bisa terjadi, kau bisa memetik manfaatnya," dan sekali lagi funkyman mencoba kembali tawarannya, "Bagaimana ma__"

__ADS_1


Belum sempat si funkyman menyelesaikan kalimatnya, sebuah bus datang dari arah timur. Kesempatan ini digunakan oleh pria berjaket hitam untuk menunda dulu rasa putus asanya. Ia bergegas melarikan diri. Untuk sementara waktu semangat hidupnya hadir kembali.


"Sepertinya pembicaraan kita harus segera diakhiri. Menunggu bus malam bukan sesuatu yang mudah dan menyenangkan. Dalam satu jam kedepan belum tentu ada kendaraan yang melintas di depan halte ini. Tidak dapat bus untuk kabur ke tempat pengasingan, terpaksa aku pulang saja. Selamat tinggal, kawan!" Pemuda putus asa yang tadi berniat mengakhiri hidupnya, segera menutup perbincangan dengan berpamitan pada teman bicaranya itu.


Funkyman belum mau menyerah, untuk kesempatan yang keterakhirkalinya, ia berteriak sekeras-kerasnya, "Jika kau berubah pikiran, cukup katakan saja dalam hati! Aku dapat mendengar keinginanmu. Ya... di dalam hatimu...!"


"Tidak usah repot-repot. Tapi walau bagaimanapun kau pantas mendapatkan ucapan ini... terima kasih banyak, kawan!"


 


SEKITAR pukul 04.15 subuh, mata Randu yang tengah terpejam mendadak terbuka oleh suara panggilan telepon selluller miliknya, yang diletakkan di tepian siku-siku dinding kamar. Dalam keadaan setengah sadar ia meraba-raba permukaan karpet merah, yang menjadi satu-satunya pemisah lantai keramik putih dengan kasurnya. Setelah beberapa gerakan sembarangan, benda yang dicari akhirnya dapat ditemukan.


"Ya...?"


Di dalam handphone terdengar seseorang berbicara terburu-buru, "Hei! Apa kau yakin membatalkan keikutsertaanmu bersama kami?"


"Apa maksudmu...?" Sepertinya Randu belum mengerti apa yang baru saja diucapkan si penelpon. "Bukannya kalian telah berangkat satu hari yang lalu...?"


"Ternyata kau belum tersadar sepenuhnya. Apa harus kutunggu kau mencuci muka terlebih dulu...? Sekarang hari Senin, tanggal 3 Oktober. Sekitar satu jam lagi kita berangkat. Apa kau lupa rencana kita!?" Balas si penelpon.


Senin, 3 Oktober...? Randu semakin bingung. "Bukankah sekarang sudah tanggal emp__"


"Cepat putuskan. Kau ikut atau tidak? Aku tidak benar-benar yakin kau tidak tertarik bergabung, karena itu aku menghubungimu lagi. Berharap kau berubah pikiran," desak si penelpon. "Jangan terlalu memikirkan persiapan. Seadanya."


Berubah pikiran...? Secepatnya Randu memutuskan—ia teringat kembali perkenalannya dengan seorang pria misterius beberapa jam yang lalu—tak ingin semuanya menjadi benar-benar terlambat. "Ya aku ikut ... Pasti ... Tunggu saja di sana..." Namun, ada yang aneh..., pikirnya.


TAMPAK sebuah rombongan sedang bersiap-siap untuk keberangkatan. Satu per satu barang-barang dinaikkan ke dalam bagasi belakang Land Trooper berwarna hijau tua.


Syukurlah, sampai juga. Randu mempercepat langkahnya.


"Itu dia...!" pekik seseorang sambil menunjuk ke arah Randu. Seorang gadis cantik nan mungil. Namanya Dira.


"Kehadirannya cukup melegakan," ungkap Janur. Pemuda ini yang menelpon Randu. Meminta Randu mempertimbangkan kembali keputusannya, yang sempat akan membatalkan keikutsertaannya.


"Aku di sini, kawan," tukas Randu begitu mendekat.


"Keputusan tepat...," timpal Janur.


"Kita akan terbang jauh, Randu!" sorak Dira bersemangat. "Jauh... jauh sekali!"


"Bila tidak ikut, kau akan menyesal seumur hidup," tambah seorang pria berumur lima puluhan. Perawakannya kurus, setelannya rapi, dan berkumis lebat. Lalu meraih barang bawaan Randu. "Hanya ini saja bawaanmu...?"


Dira masih terus tersenyum-senyum bahagia. Merekah-rekah indah, laksana mawar menyambut belaian mentari pagi. Sesuatu yang berhari-hari sempat mengganjal di hatinya, pagi ini lenyap sirna.


"Ya, itu saja," jawab Randu. "Terima kasih, Pak Malih."


Janur antusias menyambut kedatangan Randu, begitu pula Dira yang tadi pertama kali melihat kemunculannya. Yang lainnya..., hanya menatap dalam kebisuan. Randu!


\=====

__ADS_1


Glossary


cecurut : tikus


__ADS_2