Srinayu Di Bukit Randu

Srinayu Di Bukit Randu
Bab 5 | Demi Dira


__ADS_3

ARUS sungai mengalir lumayan lembut, dihiasi helai dedaunan berguguran. Kicau burung sesekali terdengar, diselingi jeritan panjang jangkrik yang lirih memenuhi udara seisi hutan. Di beberapa sisi badan sungai terdapat bebatuan, ada batuan besar dan kecil. Hujan tidak pernah turun dalam beberapa hari ini, air sungai sangat jernih hingga tak mampu menyembunyikan ikan-ikan yang sedang berenang. Begitu pula pasir di dasar sungai yang berwarna putih kecoklatan terlihat dengan jelas.


"Randu..., maafkan kesalahanku tempo hari," ujar Omix tulus.


Randu menoleh. Bingung sesaat lalu, "Aku juga, Mix."


"Tidak. Kau tidak salah. Akulah yang tidak sopan padamu."


Randu mengalihkan pandangan. Memandangi alam sekitar yang eksotik, mencoba menelusuri kembali pertengkarannya dengan Omix. "Seharusnya aku yang terlebih dahulu meminta maaf. Telah merusak suasana..., karena kekhilafanku."


Ada baiknya salah satu dari mereka mengalah, bukan tidak mungkin akan kembali terjadi keributan bila terus begini. Meskipun ini dalam rangka saling meminta maaf.


Omix manggut-manggut. "Kalau begitu..., kita lupakan saja kejadian itu. Bagaimana...?" Tatap Omix lekat-lekat tak mau lepas. Dan Randu segera melengkungkan senyumnya, dengan manis dan ramah.


 


"KENAPA kau tidak ikut menceburkan tubuhmu juga ke dalam sungai, bersama manusia-manusia itu?"


Cawang dan Dira duduk berdampingan sembari sesekali memperhatikan yang lainnya, tengah berendam di dalam sungai. Mereka sendiri sama sekali tidak tertarik untuk turut serta.


"Kau ingin aku mati kedinginan?! Dasar bodoh!" entak Dira.


"Oo..." Cawang menganguk-angguk. "Kuperhatikan mereka tampak begitu menikmatinya__"


"He... karena mereka kesurupan."


Cawang melirik Dira. "Termasuk manusia aneh itu juga...? Ya, kesurupan."


Dira mengernyitkan alisnya. "Maksudmu, Randu?"


"Lalu siapa lagi?" jawab Cawang cepat. "Aku tidak yakin ia menikmati air itu, ataupun sebaliknya. Ia sendiri dingin seperti es, entah apa yang ia rasakan?"


"Dingin...?"


"Diiingiin...," tegas Cawang dengan nada yang mengalun.


"Iya, aku pikir juga begitu. Dia memang jarang tersenyum. Mm...tapi.., tidak juga. Tepatnya, kepribadiannya bercabang-cabang. Terkadang ia sedingin es, di lain waktu ia sosok periang, yang ramah dan menyenangkan." Lantas dipandanginya Randu, yang berada di jarak sepuluh meteran, di dalam sungai.


"Bagiku, dia seperti gedebong pisang... Seperti benda mati, seperti manusia tanpa rasa, seperti__"


"Ah! Sudahlah, aku mulai bosan. Lebih baik kita kelilingi hutan ini. Mau kan jalan-jalan denganku?"


Cawang menjadi dungu mendengar tawaran itu. Namun, ia lekas-lekas menyetujui ide menyenangkan tersebut, dan tentang Randu segera terlupakan, "Oh... mau tentu saja."


Dira tersenyum.


"Kita berdua...?" Tatap Cawang penuh selidik.


Dira langsung membalas kesal, "Kau ingin mengajak mereka semua?!"


"Ow! Tidak tidak, ayo." Cawang bergegas berdiri dan langsung menarik pergelangan tangan Dira. "Kita kencan, horee.....!"


"Kencan kepalamu!"


"Terserah kau, apapun itu namanya." Cawang nyengir seperti tak berdosa. "Ngomong-ngomong kau tidak takut kalau aku nanti tiba-tiba..."


Dira bengong, tatapan matanya meminta penjelasan.


"...Birahiku memuncak."


"Adaauw!" Cawang berteriak cukup keras, lantaran Dira memukul kepalanya.


"Lepaskan tanganku!" tampaknya Dira benar-benar marah. "Kalau tidak mau..., ya, tidak apa-apa!"


Cawang ketakutan. Takut kebahagiaannya akan segera berlalu begitu saja. Lantas ia bergegas menarik Dira lagi, dan nyengir. "He..., Ayuk, ayuk! Cihuuuy!"


Dira tahu siapa Cawang. Pemuda ini tidak berbahaya dan tidak sebejat itu. Cawang orang yang baik, hanya saja pembawaannya yang terkadang sedikit bodoh, membuatnya menjadi tampak buruk. Namun itulah yang membuat Dira betah bergaul dengan Cawang.


Dari sungai, setidaknya satu dua orang ada yang melihat kepergian Dira dan Cawang. Tidak ada mimik wajah cemburu. Hanya seorang Cawang, tak ada yang perlu di khawatirkan.


 


DI TENGAH perjalanan...


"Kenapa kau berhenti!?" protes Cawang.


Mata Dira melotot. "Dasar bodoh!"


"Bodoh?! Lalu apa kau jenius!?"


Pertengkaran aneh terjadi lagi.

__ADS_1


"Apa kau tidak melihat di depan mata burammu!?"


Cawang menggaruk kepalanya, kebingungan, lalu, "Semak belukar!"


"Ya...iya itu, maksudku." Dira sedikit lega. "Kau ingin aku menerobosnya?"


"He.... Biar aku sang pangeranmu yang melakukannya."


"Kacung."


"Budak! Budak cintamu, Dira."


Dira membungkukkkan tubuhnya, lalu mengayunkan tangan seperti seorang pelayan mempersilahkan tamunya. "Silahkan pangeranku..."


Cawang nyengir lagi dibuatnya. Walaupun itu hanya sebuah guyonan, tapi membuat Cawang menjadi bersemangat melaksanakan perintah Dira.


"...Pangeran Kodokku! Maaf aku tadi belum selesai," lanjut Dira.


"Huu...!" gerutu cawang, namun sambil terus melangkah membabat semak belukar.


Tiba-tiba mereka melihat seekor elang hinggap di sebatang pohon yang tingginya kira-kira lima meteran. Daunnya tampak tak begitu lebat. Sebatang pohon yang lanjut usia.


 


"RANDU! Kau mau secangkir kopi!?! Hangat!" tawar Omix berteriak keras, membuyarkan lamunan Randu yang berada sekitar empat puluh langkah darinya.


"Kopi...?" gumam Randu, dan bergegas menuju Omix.


Tampak kecemasan di wajah Randu. Ia sedang memikirkan sesuatu. Kegalauan berlebihan tapi cukup beralasan.


"Apa yang kau lakukan di sana?" Omix segera bertanya. Ia sebenarnya juga cukup mengerti orang ini, tapi kali ini ia tidak menahan rasa penasarannya. Secangkir kopi hangat disodorkannya kepada Randu. Namun, ketika ia hendak membalikkan badannya, kembali untuk mengurusi kerjaannya...


"Kau melihat Dira dan Cawang?" tanya Randu.


Omix tidak dapat menjawab, ia bahkan baru menyadari kedua orang itu sejak tadi ternyata belum kembali. Omix malah balik bertanya lewat tatapan matanya.


Randu mengernyitkan keningnya, dan dibalas Omix dengan mengangkat bahu serta tangannya.


 


LALU cawang bertanya, "Menurutmu kira-kira apa yang akan ia lakukan?"


"Kau yakin?"


"Mungkin..."


Tak lama datang seekor burung putih kecil mendekati elang itu. Berputar-putar dan berteriak-teriak histeris.


"Dan burung itu...?" Cawang bertanya lagi.


Keduanya lalu terdiam. Ada yang aneh menurut pemikiran mereka masing-masing.


"Elang itu akan memakan..." pikir Dira keras tentang apa yang akan terjadi.


"...Bayi burung!!!" Dira dan Cawang sontak berteriak hampir bersamaan.


"Elang itu akan memakan anak burung putih itu!" terang Dira panik


"Aku rasa begitu," jawab Cawang polos dan tampak bloon.


"Dan kau hanya diam saja...!?" Balas Dira lagi.


Cawang menatap Dira meminta saran. Lantas Dira mengarahkan pandangannya ke arah puncak pohon.


"Oh... Tidak. Kau ingin aku memanjat...?"


"Apa kau tega melihat elang besar itu melahapnya?! Mencabik-cabik tubuh mungilnya!" Dira melakukan gerakan mencakar-cakar di hadapan muka Cawang, menyeringaikan gigi-giginya, lalu mulutnya dikembungkan. Memperagakan cara elang ketika sedang menyantap makanan. Tentu saja Dira yang imut sama sekali tidak tampak menyeramkan, sebaliknya ia malah terlihat menggemaskan. Lucu sekali wajahnya itu. Dan Cawang terpana.


Dira mendorong tubuh Cawang sambil merengek.


Tak tahan terus didesak, Cawang pun segera berlari ringan mendekati pohon sambil berteriak, "Ya, aku akan memanjatnya! Demi burung itu dan engkau!"


Lautan kusebrangi, gunung kudaki, dan pohonpun kupanjati. Demi Dira. Begitulah ungkapan yang tepat buat Cawang. Dengan susah payah Cawang berhasil mendekati elang itu. Ia mengibas-ngibaskan tangannya. "Aku sang pembasmi kejahatan! Pergi kau...!" Untunglah ternyata elang itu takut kepada manusia. Terutama sejenis Cawang. Burung itu melesat pergi, kepakan sayapnya yang lebar menghembuskan riak angin di wajah Cawang.


Cawang terpaku memperhatikan kepergian sang elang. Jangan pernah kembali.


Pemuda ini tidak segera turun, tapi malah menatap Dira bangga, mengangkat tangannya, mengarahkan genggamannya ke atas. Perasaannya sedang berkobarkan semangat kemenangan.


Dira terlihat sedang tersenyum. Tapi ini spesial. Sebagai tanda terima kasih, ia buat senyumnya lebih menawan. Kemudian dengan menggoda ujung hidungnya bertemu dengan sungut atas, menjadikan bibirnya yang merah delima tampak mekar segar, bagai jeruk mandarin di belah dua. Ditambah mata yang menyipit genit. "Oooh... sungguh manis...," desah Cawang terpengarah. Ia begitu takjub memandanginya, hingga lupa daratan, daratan yang sesungguhnya.


"Ayo turun, pangeranku!" bujuk Dira.

__ADS_1


"Segera, putriku!"


Dira masih tetap tersenyum, Cawang tidak kuasa mengalihkan pandangannya. Gerakannya menjadi rusuh, grasak-grusuk, terburu-buru dan, tak pelak Cawang pun menginjak dahan yang rapuh.


Tubuhnya melesat ke bumi, mengejar patahan dahan yang telah lebih dulu menghujam ke bawah. Dan keduanya di saat yang hampir bersamaan terhempas menumbuk bumi, menerbangkan debu dan dedaunan.


"Aaaaw!" Cawang melolong kesakitan.


Dira sangat terkejut dan bergegas langsung menghampiri.


"Cawaang...!?" Dira kebingungan, panik. "K ka... kamu... ee...!"


Cawang terus meringis kesakitan. "Kakiku...!" tunjuknya sambil memegangi persendian pergelangan kakinya.


"Cawang!? Cawang...!?" Dira terus memanggil-manggilnya, meminta penjelasan atas keadaannya itu. "Kamu tidak apa-apa..., Cawang...?!"


"Apa aku kelihatannya sedang baik-baik saja?!"


"Oooh... Ini salahku! Maaf, Cawang, Maaf! Aku tidak bermaksud... Hikz...!" Dira merasa sangat bersalah, dan kelihatannya segera akan menangis. Matanya mulai nampak sebak oleh air mata.


Cawang masih mampu mengontrol dirinya—ia memperhatikan mimik wajah Dira—rasa sakit segera ia tahan. "Mudah-mudahan hanya terkilir biasa," hiburnya.


"T t ta... tapi tidak patahkan?!" sebuah pertanyaan bodoh.


"Aku tidak tahu. Mm... maksudku pasti tidak patah," jawab Cawang berbohong tidak ingin Dira merasa khawatir.


"Sepertinya aku tidak bisa berjalan," lanjut Cawang.


Bagaimana ini, pikir Dira. Bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan. "Sebaiknya aku memanggil yang lainnya...? Kau tetap di sini. Bagaimana...?"


Cawang ragu, mereka telah cukup jauh berjalan menembus hutan. Ia mengkhawatirkan keselamatan Dira sendirian di tengah perjalanan. "Kita tunggu saja sampai rasa sakit ini sedikit mereda."


 


JANUR menampakkan dirinya. Dari tadi sebenarnya ia lumayan menyimak sebagian besar isi pembicaraan Omix dan Randu


"Aku juga mulai mencemaskan mereka berdua. Semoga mereka baik-baik saja, dan secepatnya segera kembali," tukas Janur.


"Benar. Hari masih cukup siang. Paling juga mereka sedang keasyikan menikmati pemandangan, dan memetik buah-buahan segar, hingga lupa waktu," hibur Omix berusaha menghilangkan rasa cemas.


"Semoga saja Cawang masih waras, aku sendiri bisa menjadi serigala di samping gadis itu." Safril!


Janur menatap tajam ke arah Safril yang baru saja muncul dengan tiba-tiba. Ternyata orang ini juga telah mendengarkan perbincangan seputar Dira dan Cawang.


"Kau berlebihan Safril!" bantah Omix keras.


Randu kemudian memondong Janur menjauh sejarak empat lima langkah.


"Hutan ini lebih menakutkan dari perkiraanku sebelumnya. Mereka hidup...," bisik Randu.


Perhatian Omix dan Safril segera beralih pada Randu dan Janur. Mereka mengawasi gerak gerik dua orang itu. Fokus. Berusaha untuk dapat mencuri dengar isi pembicaraaan.


Lalu, setelah melalui pembahasan singkat, "Kau yakin...?" tanya Janur sekali lagi.


Randu mengangguk pelan. Namun, karena tatapan Randu lah yang lebih membuat Janur yakin. Sesuatu yang buruk tengah menimpa Cawang atau Dira. Mereka butuh pertolongan.


Tidak ingin membuang waktu lagi, ia segera memberikan isyarat bagi semuanya untuk melakukan pencarian.


Perkataan Randu selalu mendapat perhatian Janur. Janur sang pemimpin, Randu sang penasihat. Bagai perpaduan raja dan perdana menteri.


Adrian menghampiri Safril. Entah apa lagi kini yang akan dijejalkan pada kawannya itu. Mimik wajahnya tersenyum keji. Benar-benar manusia bejat untuk sebuah berita kehilangan dua orang teman. Safril sendiri diam-diam bergidik melihat ekspresi Adrian, persis seperti seringai serigala.


 


SETELAH mempersiapkan perlengkapan, semuanya berkumpul. Janur membagi kelompok.


"Aku dan Randu akan mencari ke arah utara dari sungai, lalu melanjutkan ke timur. Sedangkan kalian berdua, Adrian dan Safril ke selatan lalu menuju barat. Dan Omix... kau tetap berjaga di sini... Bagaimana? Ada saran?"


Tidak ada reaksi dari yang lainnya, berarti semua setuju.


"Baiklah. Menunggu apa lagi? Kita mulai," tukas Adrian.


Omix dan Safril mengangguk tanda setuju.


"Jaga dirimu di sini baik-baik," nasehat Safril pada Omix. "Kabari kami segera jika mereka sudah pulang, ya?"


"Ya. Pasti. Kalian sudah mendapatkan batre cadangan?"


"Kami rasa ini cukup," jawab Adrian. Sementara, Randu dan Janur sudah lebih dulu memulai pencarian.


Tepat jam dua sore barulah Adrian dan Safril mulai bergerak. Perlahan-lahan menghilang di balik rindangnya rimba belantara. Sementara, matahari di atas sana masih bersinar cukup terang. Tak ada awan hitam yang berniat mengganggu. Namun hawa sejuk tetap tidak mau pergi meski di tengah teriknya kawalan sinar mentari. Membuat hutan ini terkesan semakin sunyi, begitu dingin, tak berperasaan. Keengganan memberitahukan keberadaan yang tersembunyi.

__ADS_1


__ADS_2