Srinayu Di Bukit Randu

Srinayu Di Bukit Randu
Bab 23 | Cemburu


__ADS_3

MATAHARI kian beranjak meninggi, menggiring siang melewati seperempat perputaran waktunya. Angin-angin bebukitan mulai berdatangan. Silih berganti antara tiupan lembut dan hembusan yang besar sesekali. Dalam lingkaran angin yang bersemilir itu, Nayu dan Rei tengah mengayak tepung gandum. Ditemani dua gadis cantik nan manis yang serupa tapi tak sama—yang satu bercita rasa strawberi, sedangkan yang satunya lagi bercita rasa ceri—memastikan Menon tetap bersemangat menumbuk biji-biji gandum hingga menjadi bubuk keputihan.


Tak dapat dipungkiri, beban pekerjaan Pak Linggih dan Bu Srining sedikit banyak menjadi berkurang. Anak-anak kota yang tersesat itu cukup rajin dan memuaskan dalam urusan bekerja atau bantu membantu. Mereka rata-rata memiliki jiwa sosial yang tinggi, tak kerkecuali juga Randu.


Di ujung sana—beberapa ratus meter dari tempat Nayu, Rei dan Menon sedang berkumpul—ternyata diam-diam Randu tengah mengawasi Nayu yang begitu tampak bahagia.


"Nayu...," ucap Randu seakan penuh kegelisahan. "Kau banyak berubah sekarang. Sejak kedatangan mereka.


"Sekalipun di atas awan, aku akan tetap begini. Kebahagiaanku tak pernah berlangsung lama, selalu saja ada yang merenggutnya dari gengamanku. Aku pecundang sejati!


"Aku manusia biang sial. Hidupku dalam kutukan. Hidupku sama sekali tak memiliki pilihan. Sebaliknya mulai esok aku tak mengkhawatirkan apa pun lagi... Toh takkan mengubah keadaan. Sekeras apapun aku berusaha, kenyataannya... selalu mengecewakan. Seakan semuanya memang telah berada dalam kehancuran, jauh sebelum aku menemukan kenyataannya."


Praak! Batang kayu sepanjang lengan, berdiameter sebesar kepalan tangan, terbelah dua hanya dengan satu tebasan. Randu mengayunkan parangnya dengan begitu keras sekali. Sepenuh tenaga. Pelampiasan amarah terpendam.


"Si kurus itu ternyata memiliki tenaga yang luar biasa," ujar Kori, yang sedari tadi memerhatikan gerak gerik Randu.


"Bukannya merasakan kelelahan, tenaganya malah makin menggila," timpal Zillian. "Terik matahari seakan menjadi sumber energi baginya."


"Apa kira-kira rahasianya... bisa sehebat itu?" tanya Kori iseng.


Zillian berpikir. Lumayan serius. Samar-samar Keningnya berkerut. "Cinta," jawabnya singkat kemudian.


 


HARTA berharga harus segera diselamatkan. Bila memungkinkan membawanya jauh terbang menembus langit ketujuh. Meletakkannya di peraduan singgasana tertinggi. Hingga burung sekalipun tak dapat menggapainya. Sepertinya, diam-diam Rei mulai takut akan kehilangan Menon.


"Kau betah di sini?" tanya Rei ringan kepada Menon. Tubuhnya disandarkan pada sebatang pohon rambai. "Aku ingin pulang, aku rindu ayah dan ibuku. Walaupun, sejujurnya di sini cukup menyenangkan..." lanjut Rei lagi. "Kita sudah terlampau lama menghilang. Orang-orang pasti mulai panik, bertanya-tanya di manakah gerangan keberadaan kita. Berita kehilangan pun pasti sudah tersebar luas."


Menon mengangguk-angguk pelan, namun wajahnya menampakkan keraguan. Hati kecilnya masih ingin bermain-main lebih lama lagi di tempat ini. Ada rasa yang begitu mengikat bathin. Sebuah ikatan yang membuat kecanduan.


"Anehnya... mengapa sampai sekarang belum ada yang menemukan kita? Begitu rumitkah medan pebukitan dan hutan belantara ini? Kita tidak sedang terperangkap di dalam gua ataupun di antara timbunan semak belukar, atau barisan pepohonan. Kita berada di suatu pemukiman. Tanah yang cukup lapang dan langsung menghadap langit." Menon lalu mengalihkan perhatiannya, memandangi bebukitan yang mengelilingi mereka. Sejauh mata memandang hanya membentur nuansa kehijauan dan gelap. "Aku yakin sekali tidak banyak yang tahu tempat kediaman Pak Linggih ini. Ini bukan suatu tempat yang sederhana... Kita seperti sedang tersesat di alam lain."


Apa yang diucapkan Menon, terdengar sedikit menggelikan bagi Rei. Betapa pemuda tampan di dekatnya ini, ia kenal begitu kental dengan pengaruh kehidupan modern. Pemikiran semacam ini amatlah aneh bagi seorang Menon. Tentang sosok hantu ataupun makhlus halus lainnya pun sangat tidak dipercayai Menon, apalagi khayalan tak masuk akal seperti yang baru saja diungkapkannya tadi.


Rei tersenyum kecil. "Hm..."


"Tapi, satu yang pasti, aku yakin sekali kita masih berada di kisaran garis lintang nol derajat."


"Apa kita bergeser ke arah lintang selatan...?"


"Bisa saja, Rei."


Keduanya kemudian larut dalam pikiran masing-masing. Entah rencana apa selanjutnya yang akan mereka lakukan. Walau bagaimanapun, mereka merasa harus tetap pulang. Hingga akhirnya Rei tidak ingin bertele-tele lagi dengan niatnya ini. "Lalu kapan kita pulang...?"


Pertanyaan ini tentu saja tidak mudah dijawab oleh Menon. Namun ia merasa harus sedikit menghibur Rei dengan menanggapinya. "Kau pernah bertanya kepada Pak Linggih, bagaimana caranya keluar dari hutan ini? Aneh. Seperti kataku tadi..., kita bisa masuk tapi tak bisa keluar."


Rei kembali bersemangat, ia semakin yakin Menon berpikiran sama dengannya. Segera pulang. "Belum. Pak Linggih, Bu Srining, Nayu ataupun Randu juga belum pernah memberitahukan jalan keluarnya. Tapi kenapa ya...? Setidaknya mereka bertanya kepada kita, kapan kita ingin pulang, atau menawarkan bantuan sebagai pemandu jalan."


Menon segera menimpali, "Bukan begitu, Rei. Tindakan diam mereka cukup beralasan. Tidak sopan rasanya bertanya tentang hal demikian. Mereka tidak ingin membuat kita merasa diusir."


Rei mengangguk-angguk pelan. "Lalu kapan kau akan menanyakannya?" kejar Rei penasaran.


Menon menatap Rei dalam-dalam. Benaknya mengatakan bahwa gadis ini benar-benar ingin pulang. Menon sendiri dilanda kebingungan, ia benar-benar tidak tahu pasti kapan akan pulang.

__ADS_1


Sebelum mendapatkan jawabannya, Menon mulai menggerakkan bibirnya hendak mengucapkan sesuatu, "Mm... e..." Tapi, sayang hujan deras turun dengan tiba-tiba. Mereka pun bergegas berlarian menuju rumah.


Entah dengan disadari atau tidak, tiba-tiba telapak tangan kanan Menon menghinggapi kepala Rei. Sambil berlarian Menon berusaha terus melindungi kepala Rei. Seakan dengan penuh kasih sayang, sepenuh hati.


Degup jantung Rei bertambah kencang seiring semakin cepatnya langkah kaki mereka. Sprint jarak menengah ini ataukah sesuatu yang lain yang memacu denyut jantungnya sedemikian rupa? Ia sendiri tak tahu. Masih sempat dalam pelarian ini bagi Rei untuk sekedar mengamati mimik wajah Menon. Tampak olehnya, pemuda gentleman itu sedang menatap lurus ke depan, seolah tidak menyadari dirinya yang sedang diperhatikan.


 


MELIHAT kedekatan Rei dan Menon, akhirnya dapat membuat Nayu gusar. Masih terbayang dengan jelas adegan romantis dua hari yang lalu, saat Menon dan Rei berlarian di tengah guyuran hujan. Pemandangan itu bagaikan jalinan kawat berduri yang melilit erat jantung hatinya.


"Hati-hati!" sergah Menon sambil menyambar tubuh Rei secepatnya. Hampir saja Rei terpeleset ke dalam kubangan lumpur.


Bersama dengan yang lainnya mereka tengah melintasi area persawahan. Anak-anak muda itu bercengkrama riang satu dengan yang lainnya. Terutama Rei sendiri, ia mabuk kepayang dalam gurauan. Apalagi saat ini dengan senang hati Menon meladeninya. Wajahnya berbinar-binar cerah. Bentuk bulan sabit di bibirnya hampir selalu menghiasi wajahnya, beserta tawa yang sulit mereda bila telah muncul di permukaan. Apalagi sekarang Rei nampak semakin lucu dan menggemaskan. Sesekali ia menoleh kepada siapa saja yang ada di sekelilingnya, diselingi celoteh-celoteh ciri khasnya yang ternyata belum juga hilang. Namun telah termodifikasi untuk menjadi lebih menarik dan menyenangkan. Lalu, sifat kekanan-kanakan nan manja, justru akan menjadi pemanis yang begitu memikat ketika sedang berpadu dengan sosok gadis seperti Rei.


Sayang Kori tak seberuntung Rei saat kemalangan datang menghampiri. Pemuda ini dari tadi terus tersihir oleh lekuk menggoda pada kisi-kisi wajah Rei. Selagi sinar matanya terperangkap pelak dalam ruang dan waktu pemikat yang tidak sengaja dibangun Rei, kakinya tak sengaja salah mendapatkan tempat pijakan. Kori baru tersadar saat mendapati dirinya tengah kelimpungan kehilangan keseimbangan. Lantas ia pun jatuh terjerembab ke dalam petak sawah. Merusak kedamaian kawanan padi, membuyarkan ketenangan air berwarna keruh kecoklatan muda. Katak-katak berlarian.


Mendadak semua yang ada di situ mengalihkan pandangannya ke satu titik ketika mendengar suara gaduh tersebut. Semua mata pun kini tertuju pada Kori.


Lumpur hitam kecoklatan melumuri kepala, badan, serta wajahnya. Kori terbaring di tengah sawah. Malu, kehilangan harga diri, kerbau dungu, keledai, rabun siang, serentatan kata semacam itulah yang kini tengah mengambil alih perasaannya. Tak ada tempat bersembunyi, kecuali memasukkan kepala dalam-dalam ke bawah lumpur. Dan berlari pun juga percuma saja. Ia hanya mampu duduk terdiam dalam kepasrahan, cemas, dan ketakutan. Keadaan Kori sangat mengecewakan. Tentunya hanya bagi Kori. Tapi, bagi yang lain, itu 'mu'jizat'. Bahan lelucon dadakan.


"Santai saja anak kerbau, tetaplah berendam, tidak perlu panik begitu. Anggap saja kami tidak ada," ledek Zillian tanpa ampun. "Terus lanjutkan saja!"


Semua tertawa terbahak-bahak. Tak terkecuali Randu, ia sejenak melupakan berbagai pikiran naif dan posesifnya. Bahkan sentimentil dan melankolisnya pun seakan ikut tertumpah dalam kubangan sawah bersama tubuh Kori yang naas. Hilang lebur dalam pekatnya lumpur.


Zillian sang provokator tak berhenti sampai di situ. Bak seorang politikus jahat ia terus memanas-manasi situasi yang sudah panas. "Hm... Jangan-jangan otakmu sedang berpikir bahwa Rei adalah seekor kerbau betina muda. Bukan begitu...? Dari tadi aku memerhatikan pandangan genit matamu melihat Rei yang berjalan berlenggak-lenggok ha ha... Embeeek...! Oh, maaf salah. Itu tadi suara kambing, ya? Tapi aku tidak tahu, bagaimana suara kerbau, apalagi kerbau jantan yang sedang mandi lumpur."


Kori hanya bisa terdiam. Ia bingung, linglung. Tak tahu harus bagaimana bereaksi. Seluruh organ tubuhnya seolah tengah dilucuti kemudian dipajang di etalase toko; usus, hati, limpa, jantung, dan yang lainnya. Saat itu semua orang dapat melihatnya, memberikan penilaian tanpa dihalang-halangi.


"Ha ha ha...," Menon akhirnya membuka suara, seuntai jenis tawa yang menyakitkan tentunya.


Randu yang dari tadi belum berkomentar, akhirnya ikut bersuara. Suara yang filsuf, puitis, spirit, namun parau dan satir. "Seorang alim pernah berkata begini: 'Aku lebih baik berjalan di belakang seekor harimau daripada harus berjalan di belakang seorang wanita.' Nasihat itu terbukti hari ini."


Mendengar ucapan Randu, ditambah beberapa rangsangan pujian-pujian tersirat dari Zillian, diam-diam telah membuat hati Rei berbunga-bunga indah. Ketika Menon memperhatikan gelagatnya itu, Rei nampak kemalu-maluan. Benarkah aku telah sedemikian memesona, pikir Rei percaya tak percaya. Segala sanjungan yang secara langsung maupun tidak langsung ia terima itu telah membuatnya tersenyum tersipu-sipu..


Sebelum gunung meletus sebaiknya para penduduk melarikan diri mencari tempat perlindungan. Atau bila memungkinkan, tuangkan cairan es ke dalam lubang magmanya bernaung. Itulah yang dilakukan Nayu. Ia menyelematkan pertikaian tak sepadan ini, satu lawan banyak, yang bisa saja berakhir dengan bentrokan fisik.


Tanpa berdiskusi dengan yang lain terlebih dulu, Nayu langsung mengambil inisiatif mengejutkan. Sebuah terobosan dalam hal perdamaian. Dengan gagah berani ia melangkah mendekati Kori, mengorbankan seperempat roknya terendam air dan sekujur tubuhnya terkena cipratan lumpur. Lalu segera mengulurkan tangannya sambil tersenyum lembut pada Kori. Tatapan matanya tulus ikhlas, walaupun hatinya saat ini sedang mendung.


Menyaksikan tindakan Nayu membuat yang lainnya tak tega berpangku tangan. Diawali oleh Randu, pemuda itu langsung turut menceburkan diri ke dalam sawah. Melangkah secepatnya untuk memberikan bantuan sebelum Nayu dapat membuat Kori berdiri sepenuhnya. Lalu satu detik kemudian disusul Zillian. Menon baru saja hendak turut ambil bagian, namun segera mengurungkan niatnya. Sesuatu mengganjali hatinya untuk bertindak.


"Maafkan aku, sobat. Maaf... Aku hanya bercanda. Mohon jangan diambil hati," ujar Zillian buru-buru meminta maaf. Matanya mencuri-curi pandang memerhatikan gelagat wajah Nayu. Tak dilihatnya kemarahan, Zillian merasa lega.


"Aku juga minta maaf," tambah Randu. Kemudian dipeluknya Kori. Pemandangan yang lumayan mengharukan. Sekali lagi ia mengucapkan permintaan maaf dengan lebih tulus, "Mohon maafkan perkataanku tadi, Kori."


Dan segera setelah Randu melepaskan pelukannya, tiba-tiba Zillian juga langsung memeluk Kori.


Dalam sekejap kemarahan Kori terluluh lantakkan. Padahal sejak tadi ia telah berniat melayangkan pukulan. Jika itu terlaksana, entah siapa yang paling menarik minat hati Kori. Kemungkinan besar Zillian, karena yang lain hanya sekedar ikut-ikutan.


Nayu terheran-heran menyaksikannya. Ia tertegun kaku hingga tak dapat berkomentar sepatah kata pun. Pemandangan itu membuat air mata Nayu merengek-rengek minta dikeluarkan. Jadilah genangan air yang tampak berkaca-kaca menyelaputi bola mata Nayu yang bulat indah. Membuatnya berkilauan laksana kemilau bola kristal.


Randu, Zillian, dan Kori saling berpandangan puas. Mereka merasa telah melakukan hal yang tepat. Namun, tiba-tiba Kori merasakan ada yang kurang. Lantas ia menatap Nayu dengan penuh harap. Matanya memelas memohonkan sesuatu. Sementara jari-jari tangannya bergerak-gerak gelisah. Jantungnya perlahan-lahan berdegup kencang.


Nayu keheranan melihat gelagat Kori. Ia mulai merasa khawatir. Ditatapnya Randu dan Zillian penuh tanda tanya.

__ADS_1


"Sepertinya ia butuh pelukan juga darimu, Nayu," jelas Ziliian.


"Sepertinya begitu...," tambah Randu.


Ternyata Kori mengharapkan sebuah pelukan juga dari Nayu, tanpa malu-malu Kori mengangkat kedua tangannya bersiap untuk menyambut pelukan. Nayu tak kuasa menahan senyum, hingga harus mengulum bibirnya lebih dalam lagi.


Kori masih terus berharap, tatapannya lugu penuh harap.


 


KEDEKATAN Menon dengan Rei berhasil membuat Nayu semacam sadar diri. Nayu pun cenderung berusaha menghindar dari Menon. Sikapnya seolah acuh tak acuh.


Di siang hari yang sepi, ketika matahari pada puncaknya, panas dan kering, tak sengaja Nayu berpapasan dengan Menon. Tak ada sesiapa pun, hanya mereka berdua di lahan perkebunan itu. Namun kali ini, Nayu tak kuasa untuk menghindar.


Langkah demi langkah terlalui, jarak antara keduanya semakin dekat. Lambat laun, garis-garis wajah satu sama lain mulai saling terlihat semakin jelas.


Berberapa saat lagi, tubuh mereka berdua akan bertemu dalam satu garis yang sejajar.


Nayu mulai dirundung perasaan salah tingkah. Bola matanya bergerak-gerak gelisah, seolah ingin segera melarikan diri meninggalkan sarang dan tuannya. Lentik bulu matanya juga tak siap melindungi dari pertemuan ini. Sementara Menon, bibirnya tampak bergetar-getar halus, seolah hendak mengatakan sesuatu. Tak sabar rasanya ingin segera menyapa Nayu. Agar mendapatkan jawaban memuaskan atas sikap Nayu terhadapnya akhir-akhir ini. Menuntaskan segala kesalahpahaman yang mungkin telah terjadi diantara mereka.


Sedikit tidak lazim, Menon yang selama ini terkenal flamboyan mendadak menjadi penakut terhadap wanita. Ia tak kalah gugupnya dengan Nayu. Garis sejajar antara dirinya dengan Nayu mendekati detik-detik pertemuan. Satu langkah berlalu...


Dua langkah...


Tiga langkah...


Empat langkah...


Dan tiba saatnya langkah yang kesembilan.


Mereka memperlambat langkah masing-masing.


Keduanya terdiam.


Hampir saja Menon lupa akan sifat unik wanita. Mungkin sifat yang kali ini termasuk ke dalam kategori peribahasa jinak-jinak merpati, atau benci-benci tapi rindu. Tapi sesungguhnya di situlah sebenarnya cinta dahsyat bersemayam. Pada Nayu, terbukti gadis itu tidak berusaha segera menghindar secepatnya. Bahkan terkesan menunggu.


"Nayu...," sergah Menon tiba-tiba. Kemudian melompat ringan mendekati Nayu dan langsung meraih pergelangan tangan kirinya.


Inilah saatnya memetik hasil panen, setelah sekian lama terawat dan diberi pupuk. Selanjutnya, hanya tinggal menikmati. Keduanya merasa tak ingin lagi menyembunyikan perasaan masing-masing. Keduanya kini saling berhadap-hadapan. Keduanya saling melemparkan tatapan mesra. Amukan kemarau yang sempat menghantam benih cinta mereka, telah menimbulkan rasa dahaga yang tiada terkira, hanya air kasih sayanglah yang dapat menjadi penawar.


Menon mendekatkan bibirnya ke daun telinga Nayu, hingga nyaris bersentuhan. Kemudian membisikkan serangkaian kata-kata, disertai lembutnya hembusan nafas yang menggerayangi bulu-bulu halus di seputaran daun telinga Nayu. Menciptakan sensasi menggelitik geli di kulit sensitif tersebut, dan merangsang gairah percintaan.


"Aku mohon Nayu, jangan perlakukan aku seperti itu lagi... jangan acuhkan aku," ungkap Menon memelas. Kemudian, dipandanginya dengan lembut dan hangat mata Nayu. "Rei... kuanggap tak lebih dari adik. Tapi kau...


"Telah membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Sejak saat itu hari-hariku selalu dipenuhi mimpi dan harapan," lanjut Menon.


Bukan karena penjelasan tak berbobot itu yang membuat hati Nayu luluh, melainkan karena sesungguhnya ia tak pernah benar-benar marah terhadap Menon. Hanya sekedar sikap manja seorang perempuan yang butuh perhatian lebih.


Ingin rasanya Nayu mengungkapkan isi hatinya pula, bahwa perasaan semacam itu juga yang ia rasakan di saat pertemuan mereka pertama kali. Namun saat ini seluruh tubuhnya seakan membeku. Anak panah cinta yang menembus tepat di tengah hatinya, menebarkan racun mematikan ke seluruh aliran darah. Nayu bagaikan seekor merpati yang terkapar pasrah di atas tanah. Lemah tak berdaya. Hidup dan matinya telah menjadi milik sang pemburu. Dicabuti bulu-bulunya pun, seekor burung yang telah tak berdaya tak akan kuasa menentangnya, hingga termasuk ketika diasapi berputar-putar di atas panas arang yang membara, menjadi burung panggang.


Bingung apa yang harus dilakukan, Nayu memilih segera berlari meninggalkan sang pangeran, membawa serta cinderamata cinta yang menjadikan bunga-bunga di taman hatinya bermekaran indah. Jantungnya berdebar-debar, lalu tiba-tiba ia tersenyum simpul, kemudian tertawa kecil, dan tersenyum lagi, malu-malu. Nayu mulai tak dapat menguasai dirinya. Ia kelimpungan oleh perasaan yang maha dahsyat ini, hingga membuatnya serasa ingin menangis saja. Nayu dimabuk cinta.


Menon mengamati kepergian Nayu yang menghilang perlahan-lahan dari pandangannya. Ia tahu betul perasaan gadis itu. Nayu tidak lagi membencinya. Harapannya telah tercapai dengan sempurna. Hari-hari esok akan menjadi hari-hari yang penuh kemesraan layaknya sepasang kekasih.

__ADS_1


 


 


__ADS_2