
PAK LINGGIH menghampiri Nayu. berdiri tegak di samping belakang kirinya, kemudian, bertanya ringan, "Apa kolam sebesar itu masih terlalu kecil baginya?"
Sejenak Nayu menoleh ke balik pundaknya. "Ia ingin melanjutkan impiannya."
"Mimpi yang mana?" tanya Pak Linggih pura-pura tak tahu. "Susah payah taman bunga nan indah itu dibangunnya sendiri..., lalu sekarang dimusnahkannya begitu saja."
Nayu menoleh lagi. Menyunggingkan senyuman, sedikit menampakkan gigi-gigi putihnya. "Sebuah danau," jawabnya singkat. Dilihatnya wajah sang ayah, masih terpantul raut-raut ketidakmengertian. "Kolam itu ukurannya akan diperluas hingga menjadi sebuah danau," tuturnya pelan nan santun. Kali ini Nayu berharap sekali ayahnya dapat mengerti Randu.
"Benar-benar sebuah mimpi," tukas Pak Linggih sembari membelah kelapa jadi dua bagian lalu melempakannya ke dalam nampan kayu. "Ia akan merombak habis semua taman itu."
Nayu terkekeh manis, dan menyibak rambutnya ke samping, hingga tampaklah telinganya yang bening berkilau. Kemudian memberikan sedikit pembelaan untuk Randu, "Tidak juga... bila ayah mau membantunya." Nayu menggigiti bibirnya.
"Jika ia tak menolak niat baikku. Mengizinkan ayah masuk ke dalam mimpinya. Jangankan danau, istana megah beserta peterana-peterananya yang indah sekalian pun akan ayah dirikan untuknya." Dan, membelah kelapa bundar yang ketiga.
Nayu tersentak lagi dalam tawa. Sumringah merona merah bibir serta pipinya, karena baginya, kalimat yang didengarnya mengandung keindahan pujangga. "Kata-kata ayah puitis sekali. Ayah terdengar seperti Randu."
"Hah... Benarkah? Bagian yang mana, sayang?"
"Kata-kata yang Ayah puitis."
"Puitis...?" Ternyata anaknya telah banyak belajar, dengan bertambah banyaknya manusia di sini, pikir Pak Linggih bangga. Namun sayang, mereka telah pergi. Hanya satu yang tersisa.
"Ya... Puitis."
"Iya, Ayah tahu. Maksud Ayah..., memangnya Randu sendiri bagaimana?"
"Dia kan suka bersyair, dan ingin menjadi seorang penyair. Sejak dulu katanya, sejak ia masih kecil."
"Bukannya ia ingin menjadi insiny__ ahli bangunan. Ya, Nayu, ahli bangunan. Orang yang pandai merancang rumah. Dari rumah kecil hingga rumah yang berukuran sangat besar sekali. Bahkan, ada yang mampu membuat rumah sebesar bukit itu."
"Tidak. Bukan. Ia ingin jadi penyair. Ada suatu tempat yang bisa mewujudkan keinginannya itu... Ia bilang... namanya... universitas."
"Universitas...?!!!"
"Universitas. Jurusan Sastra."
"MASIH jauh, Nayu...!?" tanya Randu tidak sabar.
Sebenarnya Randu mengharapkan perjalanan mereka lebih jauh lagi. Lebih menelusuk ke dalam belantara, hingga menemukan tebing khayal perbatasan antara dunianya kini dengan dunia lainnya yang kaya warna. Suatu dunia terasing. Dengan sayap pengharapannya ia akan membawa Nayu terbang melintasi dinding-dinding terjal namun indah itu menuju nirwana tempat kerinduannya bernaung. Semakin jauh jalan yang ditempuh semakin banyak butiran mutiara yang terkumpulkan di serambi hatinya. Mutiara itu memancarkan aura kemilau, yang mana masing-masing memiliki warna yang berbeda, yang mampu menerangi dan menjelaskan tentang jiwa serta asa yang hilang. Mutiara warna yang terselip di antara pepohonan, sesemak sendayan, bebatuan, kerikil, pepasiran, air, udara, serta yang terselubung di balik gerak, tutur kata, maupun desahan nafas.
Nayu menghentikan langkahnya. "Apa kau takut?!"
Randu mengernyitkan keningnya. Pertanyaan itu terdengar lucu bagi Randu. "Tidak ada yang perlu kutakutkan," jawabnya yakin.
Nayu tersenyum. Manis. "Kecuali manusia serigala," godanya.
Randu terperangah, seperti baru kali ini melihat Nayu tersenyum.
Memang kali ini berbeda. Ia sedang berbicara dengan Nayu di tengah hutan. Hanya mereka berdua. Tanpa Pak Linggih dan Bu Srining, tanpa iringan empat sekawan, tanpa siapa pun. "Hanya diriku dan dirinya." Seakan bidadari ini miliknya seutuhnya.
Randu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Selain ketombe, turut merontokkan beberapa butir buah khayalnya juga.
Di hadapan, tanah mulai membukit. Pohon-pohon berdiri anggun, melambai nyiur ramah. Berdaun hijau segar, memantulkan cahaya-cahaya keputihan. Daun-daun yang kering kecoklatan berserakan di tanah rerumputan. Ranting-ranting yang sudah rapuh turut berserakan di antara dedaunan. Hampir tidak ditemukan permukaan dengan bebatuan ataupun kerikil.
Di sebelah kanan Nayu terdapat sekumpulan pohon pinus sebagai petunjuk arah. Dari situ terdapat jalan setapak yang sudah lama tidak dilalui untuk mencapai sungai yang berjuluk Sungai Lelehan Intan mengalir lembut. Tempat tujuan akhir mereka.
Nayu menoleh ke arah Randu, bermaksud memberitahukan jalan itulah yang akan dipilih. Randu menurut saja, mengangguk pelan seraya tersenyum. Ia memang menyerahkan perjalanan ini kepada gadis ayu itu. Hutan belantara liar ini sangat tak beraturan bagi Randu.
"Aku mengikutimu saja Tuan Putri. Aku mengawalmu dari belakang."
Nayu tersenyum kecil, tersipu-sipu, kemalu-maluan. Seumpama kerlap kerlip bintang kecil nun jauh di sana dimalam yang carut marut.
"Aku serius." Yakin Randu sekali lagi mendapati Nayu belum jua bereaksi menanggapi ucapannya dengan kata-kata. Senyum Nayu multi tafsir baginya. Sulit sekali, barangkali butuh pengorbanan nyata untuk meyakinkan pualam rimba itu. "Tak kubiarkan apa atau siapa pun menyakitimu! Sehelai rambutmu pun takkan kubiarkan tergores, apalagi sampai terlepas dari mahkotanya!"
Nayu terdiam, terpaku memandangi Randu. Hilang suara, hilang kata-kata, hilang dirinya sendiri. Duhai wanita, apakah demikian adanya, mudah sekali termakan pujian.
"Izinkan aku yang berjalan di depan. Tunjukkan arahnya saja...," pinta Randu sambil melewati Nayu. Nadanya lembut, selembut bulu-bulu halus ditengkuk. Dibuat semirip mungkin seperti tutur kata para ksatria bangsawan di zaman kerajaan dahulu kala.
"Tapi, posisi yang aman kau di belakangku atau di depanku?" Penting. Keselamatan Nayu itu penting. "Aku tidak bisa melihat bahaya yang mengancammu bila kau di belakangku. Jadi sebaiknya..." Randu tampak berpikir lagi.
__ADS_1
Lagi-lagi Nayu hanya tersenyum menanggapinya, seraya melangkah mendahului Randu. Mereka pun berganti posisi seperti sebelumnya.
"Begitu saja ko' repot, ya...?" gumam Randu pelan seraya ikut tersenyum.
Ada waktu bekerja, ada waktu untuk melepaskan lelah. Nayu merasa sudah saatnya tungkai-tungkai kakinya yang terasa lunglai mendapatkan belas kasih. "Randu kita istirahat dulu. Aku mulai lelah." Ujung pelupuk matanya sekilas menangkap rebahan sebatang pohon. Nayu berjalan mendekat dengan langkahnya yang kemayu.
Randu masih berdiri, layaknya pengawal ia harus memastikan terlebih dahulu bahwa keadaan benar-benar aman dan terkendali. Melihat kanan kiri, depan belakang, atas bawah, dan tak ketinggalan silang dan serong. Harimau, serigala. Buaya, Beruang. Ular, Elang. Sisanya barangkali cecurut.
Nayu merapatkan kedua tungkai kakinya. Kemudian, merapikan rok panjangnya yang tampak sedikit kusut. Kedua pasang jari-jari tangannya disatukan dan diletakkan di atas lutut. Tak lupa terlebih dahulu menyibak rambutnya yang tergerai lemas. Dan, akhirnya disempurnakan dengan terpaan halus angin kembara, menciptakan pemandangan spektakuler, rambut Nayu berayun-ayun lembut, memancarkan aura kecantikan seorang wanita. Inilah yang disebut-sebut 'The Real of Anggun Memesona.' Tampak Randu sesekali mencuri pandang.
Tatapan mata Randu tertangkap basah. "Kau ingin duduk di sini? Apa ingin tetap berdiri di situ...? Hanya batang pohon ini tempat terbaik saat ini."
Randu tidak bereaksi. Mungkin masih merasa malu, karena ia ketahuan. O ow kam mu ket ta huan...
Mengorbankan jari-jarinya yang halus lembut Nayu menyeka pelan permukaan batang pohon di sisinya. "Duduklah!"
Seperti sedang dalam pengaruh sihir segala sihir, Randu bergerak mendekat. Linglung limbung, pikiran kosong, tanpa perlawanan, hingga sadar-sadar mendapati telah terduduk begitu saja di samping Nayu. Lalu, sunyi.
Mata Nayu menyapu keadaan hutan sekitar. Kemudian, menundukkan kepala dan mengamati jari-jarinya yang lentik. Kukunya lumayan panjang, tapi bersih dan mengkilap. Tiba-tiba ia memulai percakapan, sebuah pertanyaan yang mengejutkan Randu, "Kau punya teman...? Di kota sana tentunya...?"
Kilatan lampu kamera photo putih keperakan yang sangat menyilaukan terasa menyambar pupil mata Randu. Kejadiannya begitu cepat, mendadak, tanpa sepengetahuannya, tanpa aba-aba, dengan tiba-tiba. Sangat mengejutkan, membuat isi kepalanya berhamburan kocar-kacir. Sejenak Randu merasa kosong seketika. Hilang sesaat.
"Randu...!? Rand...!? Randu?!"
"Aku...!?"
"Kita hanya berdua di hutan ini, Randu," jawab Nayu seraya memandangi Randu keheranan.
Randu butuh waktu untuk berpikir, menunggu jawaban yang bijak di balik kilauan cahaya yang masih tersisa di dalam kepalanya. Sementara Nayu dengan sabar menunggu. Ketika cahaya itu telah benar-benar memudar, bergantikan nuansa temaram, barulah ia dapat melihat jelas barisan huruf yang tersusun. Meskipun dalam keadaan berantakan, ia mencoba merangkainya, "Pada dasarnya ada..."
Nayu berusaha menembus relung hati Randu, tapi kembali auranya yang pekat hitam teramat rapat membentenginya. Nayu kehilangan jejak.
"Pada dasarnya? Pada permukaannya tidak...?" timpal Nayu sedikit menggoda.
"Mungkin pada permukaannya."
"Ha... Kini pada permukaannya!" Nayu protes. Tenyata gadis ini tidak sependiam yang Randu bayangkan sebelumnya. Inilah warna dari salah satu mutiara-mutiara yang berhasil Randu temukan. Nayu sedikit senang bercanda tapi tidak terkesan genit atau centil.
Nayu tertawa kecil, lalu tersenyum. Selalu manis. Namun kali ini ia berusaha menyembunyikan senyumannya.
"Lalu orangtuamu, jagoan...?" Tanya Nayu kembali berpindah topik.
"Aku bukan jagoan!" tolak Randu keras, keberatan dirinya dianggap seperti itu.
"Ya terserahlah. Ee... Bagaimana tentang orangtuamu, bukan jagoan?" ulang Nayu. "Dasar polos."
"Hey! Aku tidak polos!" Randu tersinggung. Ia sama sekali tidak dapat menerima hinaan itu. Tapi, "Terserah kau sajalah... Kedua orangtuaku masih ada. Mereka dalam keadaan baik-baik saja saat ku tinggalkan."
Hening sesaat. Kesempatan itu dimanfaatkan angin kembali bersemilir lembut di antara mereka.
"Ehm... separah itukah keadaanmu. Seperti yang aku bayangkan. Kau tahukan maksudku...?" Nayu mendongak ke atas sejenak. Lalu, "Orang terkucilkan."
Langit runtuh, bumi berguncang, gunung-gunung beterbangan, lautan bergejolak, halilintar sambar menyambar.
Bila Nayu memang benar-benar berminat membahasnya, Randu terpaksa pasrah. "Lebih parah dari itu...," ujarnya lirih, "Orang-orang bahkan telah membenciku sebelum aku sempat membuka mulut. Mereka melihatku seperti tengah melihat binatang ******. Binatang ****** yang sama sekali belum pernah menggigit mereka. Seingatku, aku tidak pernah memperkosa nenek mereka."
"Hah...! Memperkosa...?!"
"Itu hanya istilah."
Nayu tersenyum simpul. "Ya..., aku tahu."
"Hampir seisi dunia membenciku. Aku ada, karena merekalah yang membuat aku ada. Perlahan-lahan mereka menggiringku menjadi apa yang mereka bayangkan, sesuai prasangka-prasangka mereka. Mereka menciptakan sebuah lingkaran setan untukku. Aku lebih dibenci dari seorang pembunuh sekalipun..., lebih dibenci dari pecandu narkoba, pemerkosa, pecinta sesame jenis, *******, maling..." Randu terdiam, wajahnya tampak serba salah.
"Apa karena itu alasanmu hingga kau sampai berlibur ke tengah hutan dan pada akhirnya tak sengaja terdampar ke istanaku...?" lanjut Nayu. Sementara, hati kecilnya mulai berpikir bahwa Randu adalah seorang pelarian. Pemuda ini penuh luka, tebaknya lumayan yakin.
"Iya," jawab Randu begitu saja. Acuh tak acuh, seolah tak menyimak pertanyaan.
"Oh... buruk sekali."
"Lalu, kalian sendiri... mengapa sekeluarga berada di tempat seperti ini? Hanya kalian bertiga...?" Rasakan pembalasanku bawel, pikir Randu. "Di tempat yang sangat terpencil ini...? Jangan-jangan kalian... dibenci masyarakat ya...?"
__ADS_1
Di saat Randu berpikir ia berhasil membalasnya, justru sebaliknya. Randu kecewa, Nayu tetap tenang, tidak menampakkan kemarahan sedikitpun.
"Seperti halnya kita terlahir ke dunia, keadaannya memang sudah demikian adanya. Takdir... tak membutuhkan alasan bahkan penjelasan. Belantara ini adalah rumahku, istanaku, dan juga surgaku."
Randu manggut-manggut.
"Tapi akhir-akhir ini aku tidak menganggap mereka sebagai teman lagi." Pembicaraan Randu melompat mundur. Seolah ini sesuatu hal yang sangat penting, yang harus dijelaskan, sejelas-jelasnya. Atau, ini hanya sekedar luapan perasaan. Mulai merasa nyaman dengan Nayu sebagai tempat untuk berkeluh kesah.
Nayu hanya mengangguk, tak ada ucapan pengiring sepatah kata pun.
Tiba-tiba seekor burung hinggap di sebatang pohon kara, tepat di hadapan Nayu. Namun, hanya singgah sejenak, lalu pergi. Tapi cukup menarik perhatian.
"Matanya bulat. Di pinggirannya dikelilingi lingkaran merah dengan sedikit bintik-bintik kebiruan muda bekerlipan cahaya. Bulunya berwarna merah beralur keperakan, bebercak hijau, memendarkan warna-warna pelangi saat terkena saputan sinar matahari. Lalu... ekornya... panjang tapi tidak lebat. Ada bulu.... satu bulu ekor yang mencolok, menjulur lebih panjang dari yang lainnya. Keseluruhan penampilannya, seperti wanita dewasa yang anggun pembawaannya," papar Nayu berpanjang lebar. Tapi, sepanjang kata-kata yang diucapkannya, tidak sekalipun ia melirik Randu.
"Namamu berasal dari burung itu...? Srinayu?"
Nayu mendelik, seperti tingkah mata penari kecak. "Rupanya nama burung itu sama ya di tempat asalmu?"
Randu menggeleng. "Sama sekali tidak. Aku bahkan baru mengenalnya di hutan ini."
"Kalau begitu darimana kau tahu tentang asal-usul namaku...?"
"Ayahmu," jawab Randu pelan namun tanpa membersitkan keraguan-raguan.
"Oh... ternyata kalian lebih akrab dari yang aku kira." Nayu mangut-mangut, di hatinya berhiaskan beribu prasangka.
"Tidak juga."
Lalu, mereka berdua membisu untuk sesaat.
Tanpa disangka-sangka tiba-tiba Nayu menanyakan hal yang merupakan bagian vital dari semacam benteng pertahanan seorang Randu, "Kau punya seseorang yang berarti...!?"
Randu menatap Nayu tajam, bagai anak panah yang kepanasan demi melihat anak kancil yang tengah tertawa terbahak-bahak.
Nayu merasa ucapannya salah, pupil mata Randu semakin meruncing. Gadis ini mulai merasakan ketakutan.
"Randu, maafkan ucapanku...!" Nayu buru-buru ingin segera memperbaiki keadaan. Wajahnya memelas ketakutan. Kasihan sekali, sesaat lagi ia pasti menangis. "Aku mohon maaf!"
Seketika Randu melompat maju dengan cepat, hendak menerkam. Terlambat...
"Randu! Maaf...!" Nayu memekik ketakutan.
"Aaaaaaaghh!!! Eeerrrghhh!!!" Seekor harimau belang berbulu lebat, urung melanjutkan gerakan atas niat busuknya. Ternyata dari tadi binatang buas itu tengah mengincar tubuh molek Nayu penuh nafsu dari balik semak belukar.
"Aaaaaaakh...!" Nayu memekik ketakutan sambil melompat mundur.
Randu dan harimau itu kini saling berhadapan dengan posisi tarung masing-masing. Telapak tangan kiri Randu menekan permukaan tanah untuk menopang tubuh, sementara tangan kanannya yang mengepalkan tinju berada di tepian pinggul. Dan, kedua kakinya dalam posisi merangkak. Gayanya meniru harimau lapar itu juga. Randu ikut-ikutan. Penjiplak.
"Nayu mundurlah perlahan...! Jangan membuat gerakan yang mengejutkan!" Saat ini bukan keselamatannya yang ia khawatirkan. Nayu lebih berharga daripada nyawanya sendiri. Inilah mutiara warna yang bernuansa heroik. Mutiara Pahlawan.
Nayu bergerak mundur perlahan. Tiba-tiba punggungnya tak sengaja membentur batang pohon di belakangnya. Ia menjerit, "Aaaakhh...!"
Bertepatan dengan jeritan Nayu, harimau lapar itu langsung menerkam Randu. Cepat sekali gerakannya.
Randu berkelit. Dengan liukan tubuh yang manis ia berhasil menghindar dan memutar arah. Sekarang Randu berada di belakang punggung si harimau. Ini kesempatan emas untuk memberikan pelajaran kepada bintang buas itu agar tahu siapa Randu sebenarnya. Randu melompat tinggi dan mengarahkan tinjunya.
Tepat sekali. Tengkuk harimau itu terkena pukulan telak.
Harimau itu terguling dan terpental kurang lebih dua meter. Ia mengaum kesakitan. Tubuhnya memasang ancang-ancang serangan lagi. Saat ingin melakukan gerakan melompat ia terhuyung. Binatang buas itu terpaksa mengurungkan niatnya. Kepalanya mungkin sedang berkunang-kunang akibat terkena pukulan tadi. Kegagahannya pun menciut.
Randu berjalan mendekat. Ketika harimau itu menyadari, Randu telah berada tepat di hadapannya. Kedua lengan Randu disilangkan di balik pinggang. Menampakkan aura berwibawa, Mutiara Kepercayaan dan Harga Diri.
Harimau sial itu mundur perlahan seraya merangkak merendahkan diri. Setelah sejauh beberapa meter, ia bergegas melarikan diri secepatnya dan menghilang dalam pelukan hutan belantara. Randu terus memandangi kepergian harimau belang tadi hingga benar-benar lenyap dari penglihatan.
\=====
Glossary
sendayan : tumbuhan sejenis alang-alang
__ADS_1