
"LINGGIH! Sudah lama kau tidak keluar 'gerbang'?" Setelah berucap Bu Srining kembali menuju dapur.
Di ruang berkursi, Pak Linggih sedang menikmati rokok racikannya sendiri. Di atas meja berserakan berbagai macam benda; tembakau, cengkeh dedaunan, penggilingan rokok, korek api berbahan bakar pohon damar, dan benda kecil lainnya. Pandangannya menatap lurus lorong yang hampir persis di hadapannya. Di dalamnya terlihat cukup gelap, tapi di seberangnya, di ujung sana terang sekali oleh pendaran cahaya matahari.
"Bu! Ini koreknya, telah kuisi bahan bakarnya. Sebaiknya kau nyalakan cahaya di lorong...," pinta Pak Linggih. Ia lantas menoleh setelah beberapa saat istrinya belum juga keluar. "Kau tahu sendiri bagaimana perasaanku terhadap lorong itu..."
Bu Srining melirik meski terhalang dinding.
"...Bila gelap," tambah Pak Linggih pelan dan menghisap oga-nya
Tahu-tahu Bu Srining telah melintas di samping Pak Linggih, dan langsung memungut korek api, lalu berjalan menuju lorong.
Pak Linggih hanya memandangi. "A__"
"Bila lorong itu membuatmu tak nyaman, kenapa dulu kau membangunnya?" potong Bu Linggih sambil melangkah kembali menuju dapur.
Tak ada pembelaan dari Pak Linggih. Pandangannya kembali tertuju pada lorong. Berderetan di setiap sisi yang saling berhadapan lentik cahaya api merah kekuningan dari lampu minyak yang berpijar menerangi kegelapan di dalam sana. Asap hitam menguap gemulai dari ujung-ujung lidah api yang sebenarnya tampak lirih bila diamati dalam-dalam, diresapi dengan keheningan hati dan kebeningan pikiran. Seperti mempertontonkan tarian kesedihan, kemuraman, bahkan ketakutan mencekam.
Lamunan yang hampir terancang membuyar seketika saat terdengar dari arah dapur suara penggorengan beraksi. Kemudian disusul aroma menggiurkan. Namun Pak Linggih seperti tidak tergoda mengendusnya. Ia mencoba kembali lamunannya, tapi kali ini ia sedang memikirkan sesuatu yang lain.
Setelah puas melamun, Pak Linggih mengutarakan buah pikirannya. "'Gerbang' itu selalu terbuka. Untuk kita semua. Apa sudah waktunya kita keluar dari keterpencilan ini? Apakah salah kita mencoba kehidupan normal kembali?"
Bu Linggih terus memasak, tapi tetap mendengarkan setiap perkataan suaminya.
"Mungkin sudah terlambat mengembalikan kebahagiaan Nayu sewajarnya, yang telah hilang. Tapi belum terlambat mencegah masa depannya agar tidak semakin kelam. Aku merasakan ada sebuah harapan," lanjut Pak Linggih.
Dari balik celah dinding dapur, Bu Linggih memeriksa keadaan di luar. Dilihatnya Nayu masih di sana, di luar, di sekitar lahan pertanian, sedang menemani Randu menggali tanah.
TIDAK seperti biasanya, seusai makan malam, kantuk menyerang Randu lebih awal. Sungguh berat untuk ditolak, bulu matanya terasa seperti dililit dan dihubungkan dengan untaian kerikil. Tidak ada ruginya menuruti kehendak malam, timbangnya kali ini.
"Lebih baik segera kurebahkan saja tubuhku ini." Randu beranjak berdiri dan berjalan ke belakang, hendak menuju kamar tidur yang memang telah diperuntukkan menjadi miliknya.
__ADS_1
Tak ada jalan lain demi menghindari tiga anak beranak yang tengah berkumpul di ruang belakang. Dan malam ini terasa begitu kikuk melintas di hadapan mereka semua. Rasa tak enak hati tiba-tiba menghampirinya.
"Aku merasa tidak kuasa melawan kantuk ini," ujar Randu diiringi senyum simpul khas dirinya. Berpelin-pelin, berkulum-kulum, bersungut-sungut mengggelikan, seperti orang mau pinjam uang.
Nayu hanya mengerling sedikit selintas. Dagunya bertopang pada kedua lututnya yang dinaikkan ke atas kursi. Selimut lebar hampir menutupi seluruh bagian tubuh. Malam ini ia tampak kedinginan. Sedangkan Pak Linggih dan Bu Srining, ekspresinya datar.
Tidak satu pun di ruangan itu yang mengomentari Randu; mencegah ataupun sebaliknya, menyarankannya untuk tidur. Semakin menambah salah tingkah saja suasana ini. Kembali Randu menambah senyumnya, yang terlihat semakin dibuat-buat. Sungguh terlihat lucu. Kecut, asam, manis.
Sebaiknya dirinya langsung merangsek masuk ke kamar, jangan sampai menambah kesalahan. Itu keputusan tepat, pikirnya.
Belum sempat seluruh tubuhnya tenggelam di balik dinding, terdengar suara yang parau melantunkan seuntai kalimat, "Aku kira, salah tingkah hanya milik anak gadis saja."
Sungguh tepat perkataan yang baru saja dilontarkan itu. Lihat saja raut wajah Randu, memerah seperti kepiting rebus. Rasa malu sendiri melekat erat di lubuk hatinya. Tapi malu pada apa, ia sendiri tidak tahu. Ia merasa salah tingkah tak beralasan. Hendak melangkah ragu, tetap di situ juga sama saja. Tapi akhirnya, ia memutuskan untuk lekas-lekas melangkah pergi.
Ooh..., memalukan... Tapi buah pikiran yang menggantung di hatinya tak cukup kuat mencegah matanya semakin berkunang. Biasanya, hal semacam itu mendadak seketika mengubahnya menjadi keterjagaan sepanjang malam. Kepalanya terbenam di atas bantal, dan tak butuh waktu yang lama telah tenggelam dalam peraduan.
HENING. Perlahan mata randu terbuka. Ia masih dapat mengingat sesuatu dari alam bawah sadarnya. Kepalanya ternyata terus bekerja sepanjang tidur, menjadikan otak kanannya terasa tidak nyaman. Ia mencoba menghilangkannya dengan memukul-mukul ringan kepalanya. Kemudian pandangannya tak sengaja membentur ukiran-ukiran di kayu balok penyangga atap rumah. Wujudnya menyerupai ekor merak yang sedang menguncup, ujungnya membentuk lengkungan-lengkungan lentik, seperti gulungan ombak. Terpatri kukuh dengan corak yang sama di setiap beberapa jengkal.
"Kepercayaan aneh," hentak Randu sambil terbangun seketika mendudukkan tubuh. Ia segera menutupi mulutnya. Lalu menyapu sekeliling, memastikan tidak ada yang mendengar apa yang baru saja diucapkannya dengan lumayan keras tadi.
Randu beranjak dari tempat tidur dipan kayunya. Sesaat bingung apa yang hendak dilakukannya.
Sebetulnya, ia penasaran dengan waktu yang sedang berputar. Dengan memberanikan diri jendela kamar sedikit dibuka.
Pemandangan di luar hanya menampakkan kesunyian. Tentu demikian, ini hutan. Lalu mencari-cari keberadaan sang rembulan. Dari letak posisinya, Randu dapat memperkirakan pukul berapa sekarang waktu seharusnya. Setidaknya, tengah malam masih sekitar satu dua jam lagi.
Sayang sekali jam tangannya tak lagi berfungsi sesampainya di tempat ini. Tak ada retakan ataupun bekas benturan yang dapat dijadikan penyebab kerusakannya. Tidak pernah pula seingatnya kemasukan air. Mungkinkah alam di sini yang sengaja menghentikannya?
"Kompas kecilku juga tak berfungsi," gumamnya sambil memandangi kompas yang menyatu dengan tali jam tangannya. "Hehee... Bagaimana jika seandainya tiba-tiba bulan pun berhenti berputar?"
Perasaan aneh tiba-tiba menyerangnya, ia segera buru-buru menutup jendela. Angin malam di sini memang teramat menusuk. Tidak hanya menyerang tulang sumsum, tapi juga urat saraf.
__ADS_1
Randu duduk termenung di atas dipan. Tak ada hiburan sama sekali. Jangan berharap dapat Menonton film atau acara televisi lainnya. Keadaan ini cukup menyiksa bagi seorang yang mempunyai kebiasaan acap terbangun di malam hari.
Sebenarnya hiburan itu ada. Bahkan memang lebih tepat dinikmati saat malam. Randu menolehkan sedikit pandangannya ke arah dinding. Tatapannya menerawang, membentuk sebuah garis lurus menuju satu ruangan lagi di seberang sana, yang dipisahkan oleh sebuah lorong di antara keduanya. Sebuah kamar yang berukuran sama persis dengan kamar yang tengah ditempatinya kini. Kamar itu milik Nayu.
Siapapun yang merusak kesuciannya, sekalipun hanya di dalam otak kecil... akan kubunuh. Termasuk aku sendiri...
Kepala Randu berguncang. Sepertinya ia memukul keningnya keras sekali-ketika aroma erotis yang pernah melekat di hidungnya tempo hari muncul kembali, menghadirkan siluet lekuk tubuh yang dianugerahi kesempurnaan-bertubi-tubi bahkan hingga merata di sekujur kepala
Kantuk enggan segera datang kembali. Ini domba yang keempat ratus sembilan puluh enam yang dihitungnya, dan jumlahnya akan terus bertambah.
...Lima ratus dua puluh satu, lima ratus dua... "...puluh dua..." Tiba-tiba telinganya menangkap suara pintu yang terbuka dengan perlahan. Terdengar hati-hati, seolah tak ingin diketahui orang lain.
Tubuhnya seketika mendadak kaku. Lewat tengah malam seperti ini waktunya bagi kejahatan beraksi. Sesuatu dari masa lalu mengusiknya; pecundang. Kata itu memecut hatinya, membuat tubuhnya yang sempat kaku kini dapat bergerak. Ia mengamati lemari kecil di sudut kamar, terpikirkan sebuah ide sederhana. Ia menaiki lemari tersebut.
Jiwanya tak mampu bereaksi, haruskah terkejut atau keheranan. Dari balik celah dinding papan, dalam keadaan berdiri berjinjit, ia melihat tiga sosok manusia. Tanpa diperintah pikirannya mulai berkelana. Kemudian dengan berhati-hati ia beranjak turun.
Di atas ranjang tubuhnya terbaring lemas, sementara pikirannya digumuli kebingungan disertai ketakutan mencekam. Lengan kirinya melintang di atas kening.
Itu pasti akan merajamnya sepanjang malam. Tempat ini mulai dirasakan tidak nyaman, ada misteri yang pasti tidak bersahabat. Terbersit di sanubarinya sebuah pelarian. Sejauh mungkin, walau dengan arah yang tak pasti, di saat ini juga. Tapi ia tidak menemukan caranya, dan keberaniannya juga tengah menciut.
SERBUAN sinar matahari dari luar menghujani wajah Randu. Di sisi jendela kamar yang-entah kapan-telah terbuka, sesosok tubuh tengah berdiri tegak menatapnya. Tangan dilipat di bawah dada dan selengkung senyum ramah.
"Sebentar lagi matahari tegak di atas kepala," ujar Nayu sembari memeloti Randu yang masih belum tersadar sepenuhnya.
Sama sekali tak membangkitkan kemarahan Randu. Kekesalan yang ditampakkan Nayu justru membuatnya terlihat begitu lucu dan menggemaskan. Apalagi saat ia menggembungkan pipinya dan mulut yang menguncup menggerutu.
"Ia manis sekali. Aku kembali mengalami seperti di surga. Bidadari dan cahaya benderang...," bisik Randu halus pada dirinya sendiri.
\=\=\=\=\=
Glossary
__ADS_1
oga : pipa tembakau; hokah