
NAYU kelihatan sedang sibuk. Atau sengaja ingin terlihat demikian. Mulai dari mencuci piring, menyapu lantai, mengurus lahan pertanian, hingga menyirami bunga-bunga indah di pekarangan rumah. Setidaknya begitulah keadaannya ketika Rei tiba-tiba menghampirinya.
"Pagi, Nayu," sapa Rei lembut.
Nayu menoleh. Seulas senyum ia sunggingkan. Pertanda ia siap memulai awal sebuah persahabatan. Di samping kirinya Rei berdiri tegak sambil menyilangkan kedua lengannnya di bawah dada.
"Pagi juga," balas Nayu ramah sekali. Kemudian berbasa-basi bertanya, "Bisa tidur dengan nyaman tadi malam?"
"Sangat nyenyak sekali," jawab Rei segera. Lalu memperhatikan keadaan sekitar. "Ada yang bisa kubantu?"
"Em...," Nayu bingung menanggapi pertanyaan itu. Lalu ia tersenyum lagi, bahkan lebih manis. "Apa ya...? Ee... temani aku ngobrol saja. Itu juga membantu."
Rei gembira sekali mendengar jawaban seperti itu. Memang sedari awal ia telah menyukai Nayu, berharap sekali dapat berteman. Bahkan diam-diam telah mengaguminya. "Dengan senang hati. Aku bisa berhari-hari tidak melakukan apapun bila sedang mendapatkan teman bicara."
"Hi... hi...," Nayu tertawa kecil mendengarnya. "Berbicara tentang apa saja?"
Rei sejenak berpikir. Menyimak lukisan awan putih di langit. "Bisa apa saja. Terkadang tentang sesuatu yang tidak penting sekalipun."
"Itu namanya hobi bicara," balas Nayu.
Rei tertawa lagi. "Bunga apa itu, Nayu?"
"Semendara Wilis: Cempaka Biru."
"Cantik sekali... dan yang itu...?"
Perlahan pembicaraan menjadi semakin hangat. Kekakuan tidak lama bertahan. Mereka bercengkrama layaknya teman lama. Begitu mudah terjalin. Saling sahut menyahut. Mungkin karena mereka sama-sama perempuan, sebaya lagi.
ZILLIAN terbangun dari tidurnya. Mengambil posisi duduk dan menggosok-gosok kedua belah matanya, kemudian memandangi selarik sinar yang berhasil menerobos masuk melalui celah jendela. Dilihatnya Menon dan Kori masih berada di dekatnya, tengah asyik berbincang-bincang sembari memperhatikan dirinya yang mulai terjaga.
Tanpa menyapa kedua orang temannya terlebih dahulu, Zillian beranjak berdiri dan hendak melangkah pergi. Tapi, segera terhenti oleh sapaan Kori. "Mau ke mana...? Ini bagianmu," tunjuk Kori ke arah segelas minuman. Sepertinya segelas air teh, atau mungkin coklat seduh.
"Tapi sudah dingin. Tidak senikmat meneguknya ketika masih hangat," tambah Menon.
"Tidak masalah," jawab Zillian singkat. Kemudian beranjak pergi. "Aku mau cuci muka dulu."
"Sebaiknya begitu," balas Kori lagi. "Dan ingat..., ada juga sarapannya."
Sekian lama Menon dan Kori berbincang-bincang, Zillian belum jua kunjung kembali. Sebenarnya kedua orang ini juga sudah bosan terus duduk di sini. Tadinya, niat mereka ingin berjalan-jalan di sekitar kediaman Pak Linggih, dan sengaja menunggu Zillian terbangun untuk kemudian mengajaknya turut serta.
__ADS_1
"Sebaiknya kita keluar, aku mulai bosan. Di luar sana sepertinya menarik," ujar Kori mengungkapkan suasana hatinya.
"Aku juga," balas Menon.
DI LUAR, Menon dan Kori mendapati Rei dan Zillian sedang bersama Nayu. Mereka bertiga tengah asyik memberi makan ikan di kolam. Ternyata Zillian sudah lebih dulu beraksi. Melihatnya, Kori segera mempercepat langkah. Berlari kecil seperti takut akan ketinggalan suatu pertunjukan. Ada yang menarik di sana. Sesuatu atau mungkin seseorang.
"Hai...," sapa Kori beberapa meter sebelum mendekat. "Sedang apa kalian?"
Tidak lama kemudian Menon pun menyusul. "Apa kami terlambat?"
"Hampir saja." Rei tersenyum simpul sambil menunjuk ke arah kolam. Gadis ini bertipe wajah imut, babyface. Ia nampak lebih muda tiga tahun dari usianya saat ini, yang telah menginjak sembilan belas tahun. Bukan tidak mungkin, mengingat dirinya adalah seorang yang periang dan kekanak-kanakan, itu membuatnya awet muda.
"Aku kira sesuatu yang menarik," Kori merasa sedikit kecewa.
Mendengar ucapan Kori, Rei merasa tidak setuju. "Hah! Apa menurutmu memberi makan ikan yang saling berebutan menyantapnya, tidak menarik?! Apa kau tidak melihat, mereka begitu lucu dan menggemaskan!?"
"Ya benar... Lumayan lucu sih. Tapi... tidak seheboh yang aku bayangkan." Kori sedikit membela diri.
"Lalu... Kau ingin bagaimana?" Sergah Rei. Gadis ini sepertinya serius menanggapi. Begitulah, akhirnya pertengkaran kecil tak dapat dihindari. "Apa kau ingin membakar ladang, atau rumah Nayu?"
"Aku masih waras idiot!" balas Kori lagi tidak mau kalah.
Serempak semuanya menoleh, begitu juga Nayu. Ini kesempatan baginya untuk memandangi Menon, daripada harus mencuri-curi pandang. Hanya, sebaiknya jangan terlalu lama.
"Membakar ubi atau ikan," lanjut Menon tenang, kemudian membalas tatapan Nayu. Membuat gadis itu—entah kenapa—sedikit salah tingkah
Lalu Kori mendekati Nayu-dengan bergaya seperti seorang teman lama yang sudah akrab. "Apa ikan di kolam itu boleh di...."
Belum selesai Rei berucap, Nayu langsung mengerti, lantas bergegas pergi.
Tidak jauh di sana, Randu sedang mencabut rumput. Sebetulnya ia juga memperhatikan kerumunan itu, dan ia juga menyadari Nayu yang tengah tergopoh-gopoh berjalan cepat menuju ke arahnya.
Sebelum sempat Nayu mengutarakan maksudnya, Randu segera berkata, "Beri mereka sedikit hiburan. Membakar ikan di pagi hari cukup menyenangkan."
Nayu terkejut mendengarnya, bagaimana Randu bisa tahu. Tapi ia tidak ingin terlalu memikirkannya, saat ini hatinya sedang amat gembira dan berbunga-bunga. Betapa tidak, ia mempunyai banyak teman sekarang. Senyumnya merekah indah, seindah bunga di alam bebas, dan itu ditujukan kepada Randu sebagai tanda terima kasih. Tapi ada yang aneh, Randu tidak terpukau oleh pemandangan maut itu. Tidak seperti biasanya.
"Mau ke mana...?!" sergah Randu tiba-tiba seperti hendak mencegah kepergian Nayu.
"Kan... Menangkap ikan di kolam...," jawab Nayu bingung.
__ADS_1
Lalu bak malaikat yang selalu mengintai isi sanubari seseorang, Randu berujar, "Jalanya di belakang rumah kita. Bukan ke arah sana."
Nayu kembali tersenyum, kali ini nampak kemalu-maluan. Tapi Nayu tidak segera menuju ke tempat yang disarankan Randu. Gadis ini masih terdiam. Ada perasaan malas untuk melangkah menuju rumahnya.
"Baiklah aku akan mengambilkannya untukmu. Kau segera temani mereka saja!" Namun di balik segala tahunya Randu ini, ia nampaknya sedang tidak bersemangat. Wajahnya pucat dan lesu.
Tampak wajah Nayu kebingungan.
Sambil melangkah Randu bergumam pelan, "Setelah ini apa lagi yang mereka inginkan dariku?"
Di belakang rumah Randu berpapasan dengan Pak Linggih. Wajahnya yang pucat dan lesu tak bisa disembunyikan, lantas Pak Linggih bertanya, "Apa kau sakit, Randu?"
Randu tersenyum kecut, kemudian menjawab, "Sepertinya begitu Pak Linggih. Orang bilang ini penyakit malas. Aku hanya harus melawannya dengan banyak bergerak. Aku yakin dengan begitu tubuhku akan segar kembali... Tidak ada yang patut dikhawatirkan."
Penjelasan Randu tidak membuat orangtua yang telah banyak makan asam garam ini percaya begitu saja. Dari pandangan matanya, terlihat ia mencoba menyelidiki. Kecurigaannya bukan tanpa alasan. Beberapa hari ini Pak Linggih banyak mengamati. Mulai dari pembawaan Nayu yang semula sempat pendiam kini tiba-tiba berubah periang, dan kemudian berlanjut pada Randu, yang malah sebaliknya; menjadi super pemurung, seperti tukang kredit yang nestapa karena kredit macet.
"Dewina...," desah Pak Linggih menyebut nama seseorang. Bayang-bayang sosok dengan nama Dewina kembali menyeruak memenuhi kepalanya. Di mana pun ia berada akan selalu menjadi pujaan kumbang-kumbang; seloyang lapis legit yang akan selalu diperebutkan; roman yang selalu diperbincangkan sepanjang zaman. Sosok itu sulit sekali untuk terlupakan. Bertahun waktu mencoba mengikis torehan namanya, bermil-mil jarak berusaha memisahkan, berjuta pepohonan menghalangi bayang-bayangnya, bahkan dengan berlapis-lapis pebukitan dan gunung-gunung yang menjulang tinggi. Namun, ia si lembayung berwarna semarak sewaktu-waktu dapat hadir kapan saja. Dimulai dari terbit hingga terbitnya lagi matahari, bersama hadirnya angin kembara, embun pagi, hujan, kemarau, bintang-bintang, rembulan. "Oh... Dewina."
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menemukan benda yang dicari. Setelah mengambil jala yang tersanding di dinding belakang rumah, Randu bergegas pergi. Ia kembali lagi menggunakan jalan yang sama saat menuju ke belakang rumah tadi. Tidak jauh darinya, di sisi kiri belakang rumah-sepuluh meter dari samping dapur-terlihat Pak Linggih masih sibuk dengan pekerjaannya. Berbagai macam benda tergelak di atas meja. Sebagian sengaja disusun rapi dan sebagian lainnya nampak berserakan. Ada biji-bijian yang merupakan bibit tanaman, dan tiga tumpukan pasir menggunung setinggi satu jengkal. Tangan kanannya nampak sedang menggenggam sebatang sendok. Tidak salah lagi orangtua ini sedang meracik tanah dengan berbagai macam campuran.
"Ada sedikit pesta kecil untuk para tamu," ujar Randu seolah ditujukan kepada Pak Linggih, namun tidak menghentikan langkahnya.
"Hmm...," Pak Linggih terbatuk pelan. "Buatlah suasana sehangat mungkin." Sepatah kalimat yang lebih mirip nasehat dilontarkan. Tapi, tatapannya tetap terarah pada pekerjaannya. Tidak peduli apakah Randu masih bisa mendengarkan ucapannya atau tidak. Sementara instingnya mengatakan anak itu terus pergi menjauh.
"RANDU, di sebelah kananmu...! Cepat! Oh, kau membiarkannya kabur begitu saja..."
"Hei mas, semangat, donk! Kok lemes begitu!"
Randu mendengar suara perempuan-yang menjengkelkan, bercampur baur dengan ocehan para pria.
"Aduh, payah!"
"Iya... nih..."
"Ya... Perutku mulai keroncongan nih..."
Begitulah. Ternyata suasana menjadi lebih cepat akrab dari dugaan. Semua berbahagia, kecuali satu orang.
Entah bagaimana perasaan bagi seorang yang sesuatu miliknya dijadikan santapan yang dinikmati beramai-ramai. Bahkan tak terpikirkan olehnya, secepat ini hasil jerih payahnya dipanen. Belum lagi menyangkut harga dirinya, yang kini lebih mirip seorang kacung, disuruh-suruh, dibentak-bentak sedemikian rupa. Rinai tawa seakan menjadi pelengkap penampilannya yang bodoh. Di telinganya terkadang muncul dengan tiba-tiba kalimat bisikan setan. Penuh cacian dan hasutan; 'Lihat bagaimana dirimu kini?! Masih seperti dulu. Sekalipun terkubur ke dalam perut bumi, kau tetap seorang pecundang. Seakan dunia berbahagia menikmati dan membiarkan dirimu terus dan terus digerogoti'.
__ADS_1