Srinayu Di Bukit Randu

Srinayu Di Bukit Randu
Bab 22 | Gusar


__ADS_3

BU SRINING tengah sibuk memindahkan padi dari nampan kayu besar ke dalam sebuah keranjang rotan. Sementara Pak Linggih mengerjakan bagiannya-memisahkan padi dari sekam-memasukkan gabah-gabah kering ke dalam mesin penggilingan padi sederhana. Di sampingnya terlihat tumpukan gabah yang masih menggunung, menunggu giliran untuk diolah.


"Anak itu, akhir-akhir ini lebih sering menghabiskan waktunya di kolam. Peliharaannya itu seakan telah menjadi sesuatu yang amat berharga." Sambil terus mengayuh tuas roda penggerak mesin penggilingan padi yang masih bekerja dengan cara manual, Pak Linggih menyempatkan diri berkomentar tentang Randu.


Mendengar ucapan suaminya, lantas Bu Srining melihat ke arah kolam. Di sana, Randu tengah berdiri tegak memunggungi kolam. Gayanya seperti seorang punggawa kerajaan yang sedang menjaga gerbang istana.


"Apa yang ada di dalam pikirannya? Jangan-jangan ia masih trauma saat ikan-ikannya di kolam menjadi santapan beramai-ramai," tebak Bu Srining setengah bercanda.


"Mencuci otaknya sendiri, barangkali," balas Pak Linggih asal.


"Ada baiknya kau mengajaknya berkeliling," saran Bu Srining kepada suaminya. "Sepertinya, kedatangan empat orang itu tidak membuatnya bahagia. Sebaliknya, ia justru merasa semakin tersudutkan."


Pak Linggih menoleh ke arah Bu Srining, mencoba mencerna maksud perkataan istrinya. "Sebelum ia tiba di sini, aku pikir, sebelumnya ia memang sudah punya masalah. Tapi aku tidak tahu pasti, jalan hidup seperti apa sebetulnya yang telah ia alami di kota sana?"


Setelah berhasil mengumpulkan padi secukupnya, Bu Srining kemudian melangkah pergi. Sebelum menjauh sepatah kalimat sempat ia lontarkan, "Sesuatu yang amat menyakitkan."


 


MELIHAT Randu sendirian, terpikirkan oleh Kori untuk menemani. Lantas ia pun mendekat, meskipun sempat ragu.


Sedang apa Randu?" tanya Kori.


Mendengar ada yang memanggil namanya, Randu pun menoleh.


"Hei Kori," balas Randu ramah. "Ke mana yang lainnya?"


"Rei sedang menyulam bersama Nayu, yaa... seperti biasanya. Sementara Zillian..., aku tadi sempat berpapasan dengannya. Sedangkan Menon aku tidak tahu ke mana dia."


"Semoga kalian betah berada di sini."


Kori diam sesaat lalu, "Sebenarnya aku ingin pulang..."


"Apa tuan rumah di sini kurang baik melayani tamu?"


"Sama sekali bukan. Aku hanya rindu pulang," begitu alasan Kori kepada Randu. Sepertinya Kori tidak sedang berdusta. Lagipula tidak ada untungnya. Tidak ada alasan kuat yang mendukung hal itu.


Sejenak perhatian mereka berdua teralihkan oleh ulah seekor ikan yang tiba-tiba menyembul ke permukaan air. Seekor serangga malang mungkin telah menjadi santapannya, atau mungkin itu sebuah protes, penghuni air di bawah sana merasa isitirahatnya terganggu oleh suara manusia.


"Pasti rindu seseorang?" tanya Randu sok tahu. Akhir-akhir ini topik semacam itu seolah menjadi begitu penting di tempat ini. Rindu, asmara, belahan jiwa dan sejenisnya. Cinta, tentang cinta.


Kori tersenyum tersenyum kecil mendengar pertanyaan Randu yang terkesan menghakimi. "Aku tidak terlalu yakin. Tapi, yang pasti aku memang rindu pulang."


"Kalau begitu pastilah kehidupanmu di sana sangat menyenangkan, hingga kau merasa semuanya sangat berarti. Dibandingkan terkucil di tempat ini bersama kami..."


"Lumayan menyenangkan, seperti prasangkamu."


"Aku iri padamu..."


Kori mengerling. Diam-diam hati kecilnya tertawa sendiri. "Apakah pernah orangtuamu berpikir untuk meninggalkan kediaman kalian sekarang...? Tempat ini... Belantara ini...?"


"Orangtuaku...?" Randu belum mengerti maksud perkataan Kori.


Ada yang salah, pikir Kori. "Ya. Maksudku Pak Linggih dan Bu Srining..."


Sangat mengejutkan apa yang baru saja diucapkan Kori. Randu sama sekali tidak menyangka. Selama ini Kori belum tahu menahu tentang jati dirinya. Tiba-tiba ia teringat pada Rei, ternyata gadis itu tidak banyak bercerita kepada teman-temannya tentang siapa dirinya. Terutama sekali kepada Kori.


"Aku juga sama seperti kalian. Tersesat. Lalu menemukan sebuah kehidupan di tempat ini," jelas Randu berterus terang.


"Oh, Tuhan." Kori tampak terkejut mengetahui kenyataan itu. Sementara, Randu semakin dalam memperhatikan gerak-geriknya. "Dan Nayu...?" lanjutnya bertambah penasaran.


"Tentu saja Nayu bukan adikku."


Saat mereka mulai menemukan topik yang hangat untuk dibicarakan, terlihat Pak Linggih yang tengah berjalan mendekat.


"Apa kalian sedang membahas tentang memancing?" tanya Pak Linggih setibanya di dekat Randu dan Kori.


"Ee... iya sedikit banyak...," jawab Kori buru-buru.


"Sudah lama kita tidak pergi memancing bersama-sama Randu," tukas Pak Linggih kemudian. "Seakan kita ini selalu disibukkan oleh urusan masing-masing."


"Aku ingin sekali melakukannya lagi," balas Randu bersemangat.


Pak Linggih tersenyum dalam raut wajahnya yang tenang. Lalu pandangannya terlempar jauh ke beberapa sudut. Terakhir ia menengadahkan kepalanya ke atas langit biru yang cerah. "Tapi, kali ini aku ingin mengajakmu melakukan hal yang lain. Dan ini takkan kalah serunya dengan memancing. Jantung akan lebih berdebar-debar, bahkan membuat detaknya sejenak terhenti."


Terdengar menarik apa yang ditawarkan Pak Linggih.


"Aku tidak sabar," ungkap Randu semakin bersemangat agar Pak Linggih segera menjelaskan rencananya.


 


NAYU sengaja melirik ke arah Menon. Ditatapnya si wajah dewa tersebut dalam-dalam. Ada lekukan yang sangat menarik di beberapa sudutnya. Garis-garis menawan yang dimiliki Menon benar-benar seperti kutub magnet yang telah menarik kerlingan bola mata Nayu yang bulat indah.


"Kau ingin mencobanya?" tanya Nayu pada Menon yang tak sadar dirinya tengah diamati. Sementara Menon sendiri juga tengah terpesona oleh ayunan jemari lentik Nayu memainkan alat rajutan.

__ADS_1


"Menon...?" tanya Nayu lagi.


"Eh ya..."


"Ehm melamun... Bagaimana...? Mau mencoba?"


"Bila kau tidak merasa keasyikanmu terganggu," jawab Menon seramah mungkin.


"Sekali-kali tak apa. Asal jangan keseringan kau mengusik ketenanganku saat sedang bermesraan dengan benda ini," canda Nayu manis. "Ngomong-ngomong... apa kau tahu cara menggunakannya?"


Sesekali Rei mengalihkan perhatiannya pada perbincangan Menon dan Nayu, lalu kembali lagi pada kesibukannya.


Menon menghentikan laju tangannya yang baru saja hendak menjangkau peralatan merajut. Ia tersenyum kecil. Ingatannya kembali pada masa saat ia duduk di bangku sekolah. "Dulu aku pernah belajar beginian di sekolahan... Moga saja aku masih mengingatnya."


"Kapan itu?" kejar Nayu penasaran..


"Eee... anu... di bangku SLTP," jawab Menon. "Tapi aku lupa saat berada di kelas berapa... Kira-kira... Mmm..." Menon terus berusaha mengingatnya, keningnya mulai berkerut-kerut. Ditambah lagi kelihatannya ia semakin kikuk.


Melihat Menon yang terlalu menganggap penting pertanyaannya, Nayu segera memotong sambil tersenyum kecil, "Ah sudahlah. Tidak perlu terlalu rinci."


Tak disangka pemuda sekelas Menon dapat mengalami salah tingkah. Memang tidak terlalu berlebihan gugupnya. Setelah dapat menguasai diri barulah Menon dapat berujar dengan tenang, "Kau benar."


Nayu sengaja tidak mengingatkan kembali tawarannya tadi, ia menunggu Menon berhenti memperhatikan wajahnya.


"Mm... Apa aku masih memiliki kesempatan mencobanya," ujar Menon begitu tersadar dari ketertegunannya.


"Tentu saja." Nayu kemudian melirik Rei. "Rei, sepertinya muridku bertambah satu lagi."


Tanpa mengalihkan pandangannya, Rei menjawab, "Tapi aku rasa harus ada syaratnya."


Menon dan Nayu saling bertatapan.


"Apa itu Rei?" tanya Nayu.


Rei mengangkat kepalanya. Menatapi satu per satu wajah dua orang yang ada di dekatnya itu lalu, "Menon kau harus memakai rok."


Mendengar syarat yang sadis dari Rei, Nayu sontak tertawa lepas. Dan Rei sendiri pun jadi ikut-ikutan tertawa atas ulahnya sendiri. Sementara Menon hanya mampu menganguk-angguk pelan sambil tersenyum malu-malu.


Tidak jauh dari mereka, terlihat Randu sedang melintas. Tampaknya, ia hendak menuju ke arah belakang rumah. Sebelum akhirnya tubuhnya menghilang, takdir menyempatkan Randu dan Nayu saling bertatapan. Rei tertarik menyelidiki arah pandangan Nayu, tapi terlambat, dilihatnya tidak ada siapa pun di ujung sana.


Entah setan apa yang merasuki Randu, tiba-tiba ia kini menjadi sosok pendengki dan sirik. Hatinya seakan penuh amarah dan caci maki. Di belakang rumah Randu berjalan sambil menendangi batu-batu kerikil yang jelas-jelas tak pernah bersalah padanya. "Paling juga guyonan tak bermutu. Norak dan garing," hentak Randu. Ia merasa bisa menebak isi pembicaraan ketiga orang itu. "Menon sebaiknya kau memakai rok bila ingin merajut."


 


"Harum sekali, Bu," puji Nayu tiba-tiba dari belakang.


Bu Srining menoleh dan tersenyum. "Apa pernah ibu memasak tidak enak?"


Nayu tersenyum kecut. Tapi tanpa cemberut. "Seingatku tidak pernah."


"Seingat ibu... pernah," bantah Bu Srining lembut. "Kau lupa?"


"Ee... Aku yakin. Belum pernah."


Bu Srining menoleh lagi. "Waktu ibu pergi sebentar, dan kau ibu tugaskan menggantikannya."


Nayu menatap langit-langit rumah, seakan dari sanalah ia mendapatkan jawaban. Kemudian, samar-samar ia mulai mengingatnya. "Oo... Itu... Itukan karena kesalahanku. Ibu tidak memasak sendirian."


"Tidak juga." Bu Srining kemudian berusaha menjelaskan duduk perkaranya, "Karena saat itu kau sedang berada di bawah pengawasanku. Oleh karena itu, tetap saja itu merupakan kegagalan ibu sebagai juru masak." Bu Srining tertawa pelan karena merasa berhasil mencandai anaknya.


"Semoga ayahmu pulang membawa hasil buruan," tukas Bu Srining kemudian tentang hal yang lain.


"Memangnya ayah sedang berburu?" kejar Nayu seperti tak percaya.


Bu Srining melangkah ke sudut kanan dapur. Di situ terdapat rak kayu, di atasnya tertata rapi berbagai bahan baku memasak dan bumbu-bumbuan. Ia merogoh beberapa tomat kecil di dalam tabung kayu setinggi satu jengkal, setelah itu kembali menuju masakannya lagi. "Ayahmu pergi bersama Randu dan Kori. Ibu tidak bertanya langsung pada ayahmu. Tapi ibu melihat ayahmu membawa senapan anginnya."


Nayu mengangguk pelan. "Semoga berhasil ayah," timpalnya mendo'akan.


"Haloo..." Rei yang imut tanpa disangka tiba-tiba telah berada di belakang ibu dan anak ini. Mungkin beberapa kalimat perbincangan sempat didengarnya. Tapi tidak ada masalah. Tidak yang patut disembunyikan kali ini.


Dengan senang hati Nayu menyambut kehadiran Rei. "Hei, Rei." Kemudian ia mendekat, meraih lengan Rei dan menariknya. "Kau harus belajar memasak pada ibuku. Dijamin kau tidak akan menyesal."


Rei tersenyum malu-malu.


Rei sedikit tergoda mendengar rayuan Nayu yang begitu meyakinkan. Jauh di dalam hatinya, ia ingin sekali mencobanya. Betapa aura kewanitaannya tengah menggebu-gebu akhir-akhir ini. Nayu memang perayu ulung, salah satu kesuksesannya, berhasil membujuk Rei untuk belajar menyulam.


Bu Srining tersenyum pada Rei. "Sini, sayang."


Rei benar-benar bahagia sekali dengan suasanasemacam ini. Awalnya ia memang kikuk mendapati dirinya mengagumi hal yangsebelumnya dianggap tabu bagi dirinya; mulai dari merajut hingga memasak.


 


WAKTU terasa berjalan begitu cepat, Rei masih belum menyadari anugerah yang terus berkembang dan pesona yang kian bersinar dalam dirinya. Mungkin membutuhkan suatu masa yang panjang sekali. Atau mungkin hari ini.

__ADS_1


"Aku takut Nayu." Seketika Rei menghentikan langkah kakinya. Terbayangkan olehnya bagaimana reaksi menggelikan dari teman-temannya. "Mereka pasti akan tertawa terbahak-bahak, bahkan berguling-gulingan di tanah."


Nayu tak ingin Rei menyerah begitu saja. Usaha mereka selama ini akan menjadi sia-sia. Nayu mencoba menerka isi hati Rei, "Siapa yang paling kau khawatirkan? Zillian...?"


Rei terkejut, matanya mendelik, kemudian menggeleng kepala sekali. "Bukan."


"Menon?" tebak Nayu lagi. Kali ini tak ada reaksi bantahan dari Rei. Ia menundukkan kepalanya. Dalam. Tatapannya seakan mencoba menembus lantai papan rumah panggung tempatnya berpijak. Mendadak gelagatnya menjadi seperti seorang anak gadis pingitan yang pemalu saat mendengar nama si lelaki dambaan hati disebutkan.


Keduanya terdiam. Nayu hanya bisa berharap cemas. Tak ada lagi kata-kata untuk meyakinkan Rei.


Akhirnya... "Baiklah," ujar Rei.


Dan ketika Nayu menoleh, Rei telah melangkahkan kakinya.


Tak ada siapa pun di ruang depan. Lengang sekali. Padahal Rei telah mempersiapkan hatinya semantap mungkin untuk bagian ini. Sementara, Nayu tetap mengawasi dari belakang.


Sebelum akhirnya melangkah lagi, Rei menyempatkan diri melirik Nayu. Menatap cemas sosok yang telah dianggapnya lebih dari sekedar sahabat itu.


Aku mendukungmu... Selalu bersamamu... Takkan kubiarkan siapa pun menyakitimu. Garis-garis wajah Nayu seolah berkata demikian. Ingin rasanya Nayu segera mendorong Rei keluar, sebelum keraguan Rei kembali menyerang.


Namun, pada akhirnya, dengan sendirinya Rei pun kembali melangkahkan kakinya lagi. Kali ini langkahnya lebih mantap.


Sejurus kemudian Rei telah berada di tengah ambang pintu.


Pertama, sinar cahaya mentari pagi yang menyambutnya. Benda itu saja telah dapat membuatnya merasa malu.


Rei telah bertekad. Lantas, ia memberanikan diri membalas pandangan yang menyilaukan itu.


Di ujung pelupuk matanya melintas serombongan titik-titik dedebuan. Materi-materi halus itu tampak melayang-layang lembut seakan tanpa beban. Rei merasa mereka juga tengah menatap dirinya, seolah mengerti benar perasaan terdalam di hatinya saat ini. Apa aku tampak bodoh teman kecil? Bathinnya bertanya lirih.


Tidak. Jawaban itu yang melintas dalam pikiran Rei.


Di luar sana Rei mulai dapat menangkap suara orang berkata-kata. Iramanya naik turun seakan sedang diombang ambing semilirnya angin.


Siapa saja mereka? Tanya Rei pada debu. Salah satunya dapat ia kenali; Kori. S etidaknya ada tiga sosok yang sedang berbincang-bincang di luar sana.


Tanpa disadari, selama dalam lamunan, langkah kakinya telah membawa Rei ke anak tangga pertama.


Tidak ada kesempatan untuk membalikkan tubuh. Rei benar-benar telah tertangkap basah. Semua pandangan mata kini tertuju padanya. Ada Zillian, Randu, juga Kori seperti yang diduganya tadi.


Sejenak Rei merasa kehilangan dirinya. Pikirannya mendadak kosong. Mati rasa.


Setelah ia mendapati kembali dirinya yang sempat hilang, kemudian ia memandangi orang-orang yang ada di hadapannya.


Gelombang ketakutan tiba-tiba mulai berdatangan, seperti tumpahan air bah yang tak terbendung mengalir bebas menghantam hati kecilnya. Wajahnya kaku dan bibirnya memucat.


Andaikan Rei menyadari, bahwa semua sosok pria yang ada di hadapannya saat ini, sejak dari tadi juga sedang lupa diri. Mereka terperangah.


"Hai," Rei menyapa dengan kikuk. Seyumnya kecut tapi manis. Lihat diriku, pinta Rei dalam hati. Bagaimana...?


Tempo hari saja ia telah begitu memesona. Hanya mengandalkan rambut tanggung setengah bahu, dengan dipermanis benda ajaib ditangannya; kain sulam beserta benang halus yang meliuk-liuk indah melingkari jemari lentiknya. Dan sekarang, Rei memakai rok panjang berwarna kekuningan. Atasannya baju kurung sepinggang, berenda, berwarna biru muda berkerah sempit. Untaian rambut tanggungnya berayun-ayun menawan oleh sapuan lembut angin bebukitan.


Hampir saja Rei segera akan menangis, mereka pasti sedang menganggapku orang aneh. Rei menyesali tindakannya. Seharusnya sadar diri, ia takkan pernah pantas berpenampilan seperti ini.


Yang di atas sana memang bijak, tahu persis kapan harus bertindak. Termasuk menggerakkan hati hamba-hamba-Nya. "Rei...," ujar Randu lembut tapi terdengar jelas. "Kau telah membuat kami lupa diri. Kau bagai bunga yang sedang merekah indah-indahnya di musim semi. Menantang anggun di tengah terik mentari."


Rei seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Perkiraan hujan hinaan yang didapat, ternyata hujan pujian. Ia pun tak dapat menyembunyikan rasa bahagia. Wajahnya berseri-seri, merona-rona merah, dan senyumnya yang malu-malu melengkung manis di bibirnya. Tapi, itukan Randu, yang lainnya belum tentu.


Zillian masih terdiam kaku. Dan sepertinya ia tidak mendengarkan perkataan Randu. Ia sibuk dengan penilaiannya sendiri tentang Rei. Pujian-pujian mengalir di saluran syaraf kepalanya. Tapi tak sampai keluar, semuanya pupus setibanya di tenggorokan, terbentur harga diri.


Kori tertunduk menatap bumi. Pemuda ini berusaha keras menguasai diri, menentang perasaannya. Ia lalu mencoba mengalihkan pandangan ke segala arah. Kemudian memastikan keadaan di sekelilingnya. Jangan sampai seseorang dapat menguak isi hatinya, pikirnya khawatir.


Tiba pula saatnya giliran Menon yang bereaksi. "Aku tak ingin membohongi diri sendiri. Kau cantik sekali. Begitu anggun memesona." Lalu dengan tenang melangkah untuk mendekati Rei. "Aku hampir tak percaya... ini engkau."


Nayu yang dari tadi terus mengawasi, kini baru dapat bernafas lega setelah melewati dengan cukup gemilang detik-detik yang menegangkan. Nayu sangat terharu. Tak terasa air matanya mengalir pelan di pipinya yang memikat. Nayu bahagia jika Rei bahagia. Rei berhasil menggapai impiannya, meskipun itu berarti Nayu bakal mendapat saingan.


"Apa kau akan terus terdiam kaku di situ...? Tak tertarikkah menembangkan sebuah lagu untuk kami?" celetuk Zillian tiba-tiba "Ayolah gadisku yang manis... Tunjukkan pada kami, bahwa selain rupawan, engkau pun memiliki suara yang merdu."


Rei mendelik mendengar perkataan Zillian. Tapi ia sedang percaya diri saat ini. Ia yakin Zillian juga sedang mengagumi dirinya, bukan mengolok-olok.


Rei menuruni anak tangga sembari mencoba menanggapi semua pujian dengan rendah hati. "Kalian ini apa-apaan sich? Bajuku kotor semua, makanya aku meminjam baju milik Nayu."


"Aku berharap kau lebih sering berpakain seperti itu" Pinta Randu, entah tulus atau sekedar basa-basi.


Rei mempercepat langkahnya. Berniat pergi menjauhi kerumunan yang membuat dadanya terasa sesak disertai berdebar-debar. Sementara senyumnya tak dapat hilang.


"Mau ke mana Rei...!?" sergah Randu. "Kau tak ingin mendengar tanggapan Kori?"


Kori terperanjat mendengarnya. "Aa... A A..." Mulutnya tergagap, tak tahu apa yang harus diucapkan, pujian ataukah pembelaan diri.


"Ah! Sudahlah! Kalian semua terlalu berlebihan. Lebih baik sekarang aku memberi makan ikan-ikan di kolam... dan menyirami bunga-bunga," balas Rei sambil tetap berlalu pergi.


 

__ADS_1


 


__ADS_2