
Morgan dan Alex berjalan menuju restauran tempat Yana berada sekarang. Semua mata tertuju pada mereka berdua. Semua orang menatap kagum pada mereka,mereka berdua terlihat begitu tampan. Di restauran matanya tertuju pada seorang wanita yang di depannya ada pria yang melamarnya. Morgan tersenyum menyeringai.
" Maaf Doni aku tak bisa menerima mu, aku sudah menikah dan memiliki suami dan anak". Yana langsung menolaknya, dalam hati Morgan ia merasa bangga pada istrinya itu. Dia tetap setia menunggu Morgan meski apapun yang terjadi.
"Huh Yana jangan berbohong, selama dua tahun aku selalu melihat mu sendiri bersama putra mu". Doni kekeh ingin menikahi Yana.
" Doni aku benar - be...". Kata - kata Yana terpotong oleh suara seorang pria di belakangnya. Suara yang selama dua tahun ini ia rindukan.
"Sayang siapa dia, berani - beraninya melamar istri ku di saat aku masih hidup." Ucap Morgan melirik sinis ke arah Doni. Alex turun dari gendongan Morgan.
"Paman Doni perkenalkan dia ayah ku yang baru pulang dari luar negri." Alex mengeraskan suaranya yang membuat semua orang di restauran mendengar suaranya. Yana terpaku di tempatnya, ia menutup mulutnya, matanya berkaca - kaca seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Sayang kenapa diam saja, apa kau tak merindukan ku". Morgan merentangkan tangannya, matanya pun berkaca - kaca saat melihat istri kecilnya itu. Istri yang begitu ia rindukan selama ini. Yana berlari memeluk Morgan dengan erat. Dia menangis dalam pelukan suaminya. Tak peduli kini mereka menjadi tontonan banyak orang. Mereka berpelukan sembari menangis melepas rindu yang begitu hebat. Tiba - tiba baju Yana ditarik dari bawah.
__ADS_1
"Aku juga mau di peluk kalian" Alex merengek ingin dipeluk Morgan dan Yana.
Yana mengajak mereka pulang, dan menyuruh anak buahnya hari ini restauran gratis bagi siapapun yang ingin makan di sana untuk merayakan berkumpulnya keluarga mereka. Morgan pun menceritakan perbuatan Alex yang membuatnya bisa bertemu dengan Yana.
Sesampainya di rumah Yana,Alex tertidur dalam gendongan Morgan. Kini Yana dan Morgan memiliki waktu berdua. Yana menceritakan apa yang terjadi padanya dua tahun lalu. Mereka tak sadar ada dua pasang mata yang sedari tadi mengikuti Morgan dan mengawasinya. Tiba - tiba di belakang pria yang mengawasi Morgan dan Yana muncul suara.
"Paman apa kau ingin memisahkan ayah dan ibu ku lagi". Tiba - tiba Alex berada di belakang Zion. Ya selama ini Zion secara sembunyi - sembunyi mengikuti Morgan, karena ia yakin cepat atau lambat Morgan pasti bisa menemukan Yana, dan benar saja kini Morgan menemukan Yana, saat Zion sedang memikirkan cara untuk merebut Yana dari tangan Morgan, Alex telah menemukannya, padahal Morgan dan Yana atau siapapun tak akan bisa menyadari keberadaannya karena batu leluhur yang dimiliki Zion.
" Nak.., kau bagaimana bisa melihat ku.." Alex tertawa mendengar pertanyaan Zion.
" Huft benar yang kau katakan, tapi kau anak kecil benar - benar tidak sopan ya pada orang tua, pasti ini menurun dari ayah mu, karena ibu mu adalah orang yang lembut."
"No... no... no... paman, kau salah, ibu ku selalu bilang kita harus bersikap sesuai dengan sikon, dan aku sekarang sedang begitu paman..!"
__ADS_1
Zion merasa gemas dengan putra Yana. entah apa yang terjadi padanya tapi ia merasa bahagia berada di dekat Alex. Zion ingin memeluk Alex. Padahal awalnya ia sangat membenci Alex. Karena keberadaan Alex ia gagal menikahi Yaya kecilnya tapi sebaliknya, saat bertemu Alex justru ada rasa sayang yang tiba - tiba muncul dalam hatinya.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
Malaikat kecil tak bersayap....
Senyum mu hiasi hari ku....
Jemari mungil mu begitu hangat...
Menyentuh relung hati yang gersang...
Hadir mu bawa bahagia...
__ADS_1
Memberi cahaya bagi gelapnya hati....
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝***