
Alex mengajak Zion pergi ke taman samping rumahnya. Alex meminta Zion berubah seperti manusia normal, karena sekarang manusia biasa tak akan bisa melihat Zion.
"Hey paman, berubahlah menjadi manusia dan bisa terlihat, kalau kau tak terlihat nanti aku disangka gila oleh orang - orang sekitar karena berbicara sendiri." Alex mengerucutkan bibirnya tanda ia sedang merajuk. Zion yang melihat tingkah Alex terkekeh geli, bagaimana bisa ia sedari tadi selalu mengikuti keinginan anak kecil ini, ia justru bertambah gemas dan mencubit pipi Alex yang gembul itu. Dia merasa sangat bahagia saat bersama Alex. Zion pun menuruti keinginan Alex, mereka berdua bermain dan bersenda gurau. Tak sadar ada empat mata yang menatap tajam ke arah mereka. Alex yang bisa merasakan kehadiran Yana dan Morgan pun menoleh tersenyum pada mereka. Sementara Zion diam termangu melihat kedatangan Yana dan Morgan.
"Apa yang kau lakukan dengan putra ku". Morgan menarik Alex agar mendekat padanya. Morgan khawatir Zion ingin menculik Alex dan mengancam Yana untuk menikah dengannya. Morgan mengepalkan tangannya menahan amarah. Alex yang sadar ayahnya sedang mengamuk langsung menghadangnya. Dia berdiri di depan Zion, memblokir serangan ayahnya. Morgan yang melihat itu semakin murka.
"Minggir Alex, apa yang kau lakukan..?" Morgan masih berusaha menahan amarahnya. Dia tak ingin memperlihatkan sisi buruknya pada Alex putranya.
"Ayah bisakah kita bicarakan baik - baik, jangan berkelahi lagi".
"Paman jika ibu ku lebih memilih ayah kau tak boleh mengganggu hubungan mereka lagi, tenang saja aku punya bibi yang sangat cantik, kau pasti akan jatuh cinta padanya." Mata Morgan dan Zion adu pandang begitu lama, seakan mereka berbicara lewat mata. Akhirnya Morgan dan Zion mengangguk tanda setuju dengan usulan Alex. Sebenarnya Zion tak rela tapi ia benar - benar tak bisa menolak permintaan anak itu.
"Aku setuju, tapi ada syaratnya". ion menatap Morgan meminta persetujuan darinya.
__ADS_1
"Apa?". Tanya mereka bertiga serempak.
"Meski aku tak bersama Yana bisakah aku tetap bermain dan menjadi pamannya Alex, karena aku juga sudah tau pasti apa jawaban Yana.". Zion menatap mereka bertiga bergiliran.
"Aku benar - benar tulus hanya ingin menyayangi Alex, aku bahkan tak tau apa yang terjadi..". Lanjut Zion.
Yana menatap Morgan meminta persetujuan darinya. Akhirnya Morgan menatap Alex dan Zion bergiliran. Lama terjadi keheningan di sana. Hanya mata mereka yang saling melirik. mata Alex mengatakan agar ayahnya setuju, Yana pun berharap Morgan setuju karena bagaimanapun Zion adalah sahabatnya, ia tak ingin ada pertarungan yang akan menyakiti orang - orang terdekatnya lagi. Ditambah sekarang ada Alex yang menjadi prioritas utamanya. Jika kekuatan dan asal usul Alex menyebar pasti akan banyak orang yang mengincar nyawanya. Menginginkan kekuatan yang ada di tubuh Alex. Dengan adanya Zion akan semakin banyak yang melindungi Alex. Keamanannya akan bertambah. Zion pun berpikir demikian Yana yang hanya memiliki setengah kekuatan sukunya sudah menjadi incaran banyak orang apalagi Alex yang sepenuhnya menguasai kekuatan dua suku itu. Pasti musuh dengan kekuatan lebih tinggi pula yang akan mengincarnya. Morgan pun sudah memikirkan hal itu, tapi ia juga masih cemburu pada Zion. Tiba - tiba Alex menggenggam tangan Morgan, saat itulah Morgan sadar bahwa sudah ada Alex di antara cinta mereka, ia sudah tak perlu khawatir karena untuk sekarang keamanan putranya lebih penting.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Ku mencoba untuk merelakan mu...
Ku coba raih cinta yang lain...
__ADS_1
Mencoba menyingsing fajar...
Merengkuh bahagia yang terabaikan...
Menuntun cinta yang baru...?
Ku buka hati untuk yang lain....
Ku buka lembaran putih....
Kan ku tulis selain nama mu...
Selain cinta mu....
__ADS_1
Untuk dia sang bidadari hati yang sesungguhnya menunggu ku...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁***