
Kini keteguhan hati Naura hancur sudah, kekuatan hatinya yang tadinya benar-benar merasa seperti mampu menghadapi segalanya telah runtuh.
Alex sendiri tak bisa memungkiri perasaannya, ia sendiri hancur berkeping-keping saat ini. Yang bisa ia lakukan hanyalah memeluk gadisnya dengan erat, mencoba memberi kekuatan yang dirinya sendiri mulai tak ada.
"Huhuhu.... ayah... ibu..." Naura masih histeris, ia benar-benar merasa tak sanggup lagi menahan segala bebannya.
Akhirnya Naura terkulai lemas dalam pelukan Alex, Alex dan yang lainnya terkejut dengan keadaan Naura.
"Biar ku coba untuk mengobatinya!" Naga Api berusaha menyalurkan segenap kekuatannya untuk mengembalikan kekuatan Naura.
"Maafkan aku sayang!" Alex mengecup kening Naura berkali-kali. Ia tak sanggup melihat kekasih hatinya yang begitu terluka karena kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupnya.
"Ayah, ibu.. seberat inikah jalan yang harus kami lalui .!" Alex memejamkan matanya.
Ini pertama kalinya dalam hidupnya Alex menitikkan air mata. Alex merasa tak akan sanggup jika harus kehilangan lagi. Ia memutuskan dalam hati akan pergi melangkah ke depan sendirian. Ia tak ingin lagi kehilangan orang yang berharga baginya.
"Ayah, ibu.. apa yang harus ku lakukan? Aku tak ingin kehilangan lagi!" Alex menatap langit-langit tanah terkutuk.
__ADS_1
Saat Alex lengah karena perasaannya, duplikat tubuhnya dengan mudah diserang oleh jendral gerbang ketiga. Tubuhnya terpental jungkir balik ke belakan hingga memuntahkan begitu banyak darah. Orlando, Zidan dan Amel begitu terkejut dengan kejadian yang sekejap mata itu. Naga Api tak bisa hilang fokus, ia sedang berusaha sekuat tenaga untuk menyadarkan Naura.
"Puft, uhuk... uhuk!" Alex masih batuk darah, ia berusaha bangkit dan memulihkan cidera yang dialaminya.
Zidan menghampiri dan memapah Alex berdiri lagi. Orlando tiba-tiba saja menghilang, ia pergi menuju gerbang ketiga dimana duplikat tubuh Alex sedang bertarung dengan jendral gerbang ketiga.
Duplikat tubuh Alex telah hancur di gerbang ketiga, saat Alex kembali pulih ia menyadari bahwa Orlando sudah pergi ke gerbang ketiga untuk bertarung menggantikan dirinya.
"Gawat, kenapa paman Orlando tiba-tiba pergi ke gerbang ketiga?" Alex ingin pergi menyusul Orlando, namun semua orang menghalanginya.
"Cukup yang mulia! Kita harus cepat pergi melanjutkan perjalanan menuju ke gerbang berikutnya! Waktu yang kita miliki tak banyak lagi!" Naga Api menatap tegas pada Alex.
"Tak ada kata tapi! Kau adalah calon raja masa depan, kau harus bisa mengendalikan emosi dan juga hati mu!" Naga Api tak terlihat sedih ataupun ragu. Zidan dan Amel juga mengangguk setuju akan kata-kata yang diucapkan oleh Naga Api.
"Aku tahu, tapi tak ingin kehilangan siapapun lagi Bi.." Alex bergetar.
"Kita tak akan kehilangan siapapun juga saat ratu Yana bangkit lagi! Apa kau tak tahu kekuatan tersembunyi ratu?" Naga Api menatap heran Alex yang terlihat kebingungan.
__ADS_1
"Apa Bibi tahu?" Alex justru berbalik bertanya pada Naga Api.
"Huft, kekuatan ibu sendiri saja tidak tahu... bagaimana kau bisa menghadapi musuh, dasar bocah!" Naga Api menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Alex, Zidan dan juga Amel saling lirik satu sama lain. Saat ini Naura masih belum sadarkan diri, namun keadaannya sekarang sudah mulai membaik.
"Saat ibu mu terbangun nanti, kekuatan tersembunyi dalam tubuhnya juga akan ikut bangkit karena ingatan ibu mu juga telah kembali! Berbeda dengan mu yang tak bisa mati, ibu mu justru bisa membangkitkan orang yang sudah mati!" Mendengar kata-kata dari Naga Api, membuat mereka bertiga tersenyum bahagia. Itu berarti Rey dan juga Selena bisa hidup kembali.
"Kenapa kau tak mengatakan dari awal pada ku?" Alex bangkit dari tempatnya terjatuh tadi.
"Lha.. dia kan ibu mu! Ku pikir kau sudah tahu hal itu, mana ku tahu ternyata kau tetap saja seorang bocah yang tak tahu apa-apa!" Naga Api mengangkat tangan dan bahunya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹 Harapan itu hanyalah khayalan semu
Membuat bahagia dalam sekejap
Terjatuh untuk kian lebih dalam
__ADS_1
Terbawa rasa kecewa yang lebih menyakitkan
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹